Skip to main content

Decluttering Day 5: Facing My Biggest Fear

 


Sejujurnya tadi malam saya nyaris tidak bisa tidur memikirkan jigsaw puzzle pengaturan ruang, antara keinginan dan ketakutan. Saya ingin memindahkan meja kerja ke ruang tengah, itu artinya mungkin harus menggeser meja kopi yang sekarang suka dipake buat bikin juice ke dapur. Berarti saya harus menggeser meja oven, dan oven akan disatukan semeja dengan juicer. Nantinya, meja dapur akan pindah ke kamar depan. Mungkin untuk tempat duduk si teddy bear, atau mungkin juga untuk meletakkan prototype pajamas. Maka sebagai gantinya, saya akan membeli drawer set untuk menggantikan posisi meja kerja di kamar. Di situlah saya akan letakkan cermin, tanpa harus dipaku ke tembok. 


Seolah-olah puzzle sudah teratasi, tapi ternyata..


Saya bangun dengan keputusan baru. Sebagaimana setahun yang lalu di Kupang, NTT, saat saya justru membatalkan Pulau Rote dan langsung potong kontur menyambangi Raijua. Badai, angin barat, you name it. Yang jelas, bahwa seseorang bisa bangun tidur dan berubah pikiran, itu mungkin sekali terjadi. Makanya menikah itu bukan sekedar cinta-cintaan. Tapi juga ada komitmen dan tanggung jawab yang menyertai, karena jika pikiranmu berubah haluan dan perasaanmu padanya hilang dalam semalam --dan itu sangat mungkin terjadi no matter how madly in love you are now--, well, setidaknya ada komitmen dan tanggung jawab yang mengikat kalian berdua.


Sejak membuka mata, aplikasi pertama yang saya buka adalah tokopedia. Kembali melihat berulang-ulang kali laci set yang hendak saya beli dengan begitu yakinnya. Keyakinan yang semalam sangat menggelora itu, sampai sudah top up ovo dengan nominal yang mencukupi, buyar dan hilang tanpa jejak. Kini saya ragu untuk membeli laci set itu. 


Hati saya terbagi antara laci set, atau meja berlaci dengan design lebih stylish dan harga beda dikit. Pagi tadi, saya habiskan bimbang antara dua pilihan; set laci yang nanti bisa dipakai untuk tempat mainan anak, atau meja stylish yang gayanya sangat modern dan saya suka. Hati saya cenderung kepada si meja. Walau saya tidak suka the good looking guys, tapi saya sangat suka the good looking furnitures. Meskipun saya tidak pernah juga sebegitu ingin memiliki mereka. 


Tapi.. kalau memang harus beli, dan harus harus harus sekali, sebisa mungkin the good looking furnitures lah yang saya bawa pulang. Jika dibandingkan, si meja stylish ini seperti cowok tinggi jangkung tegap dengan bentuk badan terjaga karena menjaga asupan kalori, sedangkan si set laci seperti cowok biasa-biasa saja, tidak gemuk tapi juga tidak kurus, badan tidak begitu berbentuk, dan lebih woles terhadap hidup.


Di sinilah ujian memilih saya diuji. Seperti kata Marie Kondo di dalam bukunya, and I quote:

"... one of the magical effects of tidying is confidence in your decision-making capacity. Tidying means taking each item in your hand, asking yourself whether it sparks joy, and deciding on this basis whether or not to keep it. By repeating this process hundreds and thousands of times, we naturally hone our decision-making skills. People who lack confidence in their judgment lack confidence in themselves. I, too, once lacked confidence. What saved me was tidying."


Dalam proses berpikir yang panjang tadi, sebangun tidur, tanpa beranjak dari kasur, tidak cuci muka, sikat gigi apalagi bikin sarapan, saya menyadari sebuah pola. Marie Kondo juga bilang, ketidakmampuan seseorang dalam melepaskan disebabkan oleh dua hal; keterikatan dengan masa lalu atau ketakutan akan masa depan. 


Mungkin saya tidak punya kesulitan dalam hal melepaskan.. to be honest with you now, I barely.. barely feel anything toward my possessions. Kalau dibilang, does it spark joy? Rata-rata ya biasa saja. Benda-benda itu bagi saya hanya I don't like it, or, I don't feel anything. Rata-rata semua masih saya simpan ya karena memang masih dipake tiap hari. I mean.. I don't feel that my mixer whisks spark joy, but I can't get rid of them. Bentar lagi lebaran cuy, masa iya beli mixer lagi, kalau body mixer dan tatakannya dari segi warna, design dan merk sih ya spark joy banget lah jelas. Sampai-sampai saya takut, jangan-jangan saya ni memang bener-bener sudah heartless. Kalau sulit jatuh cinta sama orang ya okelah, tapi kok ya sama barang-barang juga ga ada perasaan apa-apa. Sampai saya solat, lalu tiba-tiba teringat dengan selendang rajut berbahan wool berwarna peach yang paling saya suka. Lagi solat nih, tiba-tiba ingat dia ga ada di mana-mana. Sama sekali tidak ada di semua tempat yang sudah di declutter. Mata saya terbelalak, baru rakaat ketiga sudah deg-degan, saking takutnya syal itu hilang. Sambil berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir dipakai, dan baru pas duduk antara dua sujud saya sadar, syal itu terakhir dipakai saat lebaran sewaktu mengejar foto langit sore bertahtakan Gunung Salak di 1 Syawal.


Memang ya dasar syaitan. Paling bisa menggoda manusia. Kan malu, ketahuan. Masa lebih mementingkan syal rajut ketimbang Tuhan :(

Mim kamu fail.. big time, Mim.. :(

Atuhlah..


Menstruasi sudah selesai, tapi baper dan dikit-dikit nangisnya masih aja. Perjalanan kali ini memang emosional sekali.


Eh iya, balik lagi. Mungkin saya memang tidak punya kesulitan dalam hal melepaskan, tapi saya terlalu takut akan masa depan. Dan selalu mempertimbangkan orang-orang yang belum nyata adanya, di dalam setiap keputusan yang saya ambil.


Seperti set laci tadi. Kenapa saya harus sudah mempertimbangkan kalau itu nanti bisa beralih fungsi jadi lemari mainan anak. Anak saja belum punya. Berarti saya tidak living in the moment dong. Tidak memilih karena memang I want it, tapi karena maybe it can be useful one day. 


That one day mentality yang selama ini terus menerus menghantui saya. Sebagaimana ketidakmampuan saya melepaskan dus kulkas dan mesin cuci, karena entah kenapa rasanya saya akan pindah dari rumah ini dengan membawa serta mereka. Dan saya takut jika nanti diperjalanan mereka akan kena debu, kena batu, dan tidak nyaman, jadi masih saya simpan dus sebesar itu yang sangat teramat tidak sedap dipandang. Walau sudah diatur sedemikian rupa supaya tidak terlalu terlihat.


Atau sewaktu beli juicer pertama kali, saat saya bimbang antara beli juicer merk hurom atau russel hobb. Saya justru memilih russel hobb karena ada paket bundling dengan coffee maker. Waktu itu mikirnya, siapa tahu nanti punya suami yang juga doyan kopi, jadi ga perlu repot bikin kopi dua kali tinggal teken tombol, langsung jadi. Padahal, setelah itu, coffee maker cuma dipake dua kali (dari awal beli sampai sekarang). Dan juicer nya juga sekarang akhirnya saya beli lagi yang merk hurom demi citra dan kenyamanan. 


This is why I don't wanna be a leader, I am a terrible decision-maker. Saya yang dibalik-balik layar saja lah.


Akhirnya kebimbangan antara laci set dan meja tampan tadi, malah menjadi sebuah perjalanan meditasi rebahan yang berujung pada sebuah keputusan yang gak baru-baru amat; I should chose what I want right now. Tidak untuk siapa tahu nanti besok, atau mempertimbangkan orang lain yang belum jelas bagaimana karakternya, untuk men judge saya dengan keputusan saya. Jadilah saya batal membeli keduanya, dan justru membeli sebuah laci set yang lain, yang lebih modern dan anggun.. (kalau ini ibaratnya seperti young lady dengan karir ciamik), dan sebuah lemari sepatu. Ya.. -_- I'm not proud with my last decision. But in my defense, saya sudah lama butuh rak sepatu. Sudah lama juga mencari yang designnya seperti itu, dengan cermin di depannya. Rata-rata yang diinforma itu ga ada kacanya. Atau kalaupun ada, saya maunya yang bentuk penyimpanannya kotak biasa bukan berbentuk seperti si sepatu-sepatu itu harus dipaksa berdiri ketika rak ditutup.


Jadinya harus top up lagi ovo nya, dan check out walau saya freak out setengah mati.


Di sinilah saya nangis lagi. Berasa sih sepinya kalau seperti ini, when you're about to make a big decision in your life, and none's there to consult to.

Jadi tadi habis checkout, saya nangis-nangis lagi ngadu ke Allah. Duh..

***


Saya pikir kategori terakhir ini akan mudah; kitchen utilities. Karena mereka setiap hari dipakai, hampir tiap hari sejak pandemi ini saya masak.. sebuah perubahan yang jangankan mereka, saya pun kaget sendiri. Mima.. masak.. kayak sama mustahilnya dengan Nobita pacaran sama Shizuka.


Tapi ternyata, setelah dibongkar semua, dan mendapati dengan sedih bahwa yang disimpan di dalam box ternyata mengakumulasi debu juga.. sekarang saya harus menulis ini dengan kondisi ruang tengah yang sama berantakan dengan kemarin. Padahal seharian tadi sudah lumayan tertata dengan semua items sudah punya rumah.


Sekarang, saya kebingungan bagaimana menyimpan mereka lagi, supaya tidak kembali teronggok terlupakan, dan malah jadi kotor di sudut bawah.


Lagi-lagi satu-satunya solusi yang menyeramkan melintas; ya furnitur baru. Tapi dapur itu sakral bagi saya.. dan rasanya.. kalau sudah pasang kitchen set, seperti sudah permanen saya tinggal di sini. I am scared about that. Truly.. really scared. So I cry (again).. 


Sepertinya saya akan tetap pada pendirian, menunggu hati ini dilemesin sama Allah, supaya bisa pesen kitchen set seantusias waktu pesen ranjang. Hingga waktunya tiba, saya akan tetap seperti ini. Memutar otak, dengan metode penyimpanan yang ada sekarang, walau resikonya ada barang-barang yang harus terlupa. Tapi mungkin.. disiasati sedikit supaya tidak terlalu terlupa.


Yang jelas ada satu hal yang saya syukuri: pernah waktu saya tiba-tiba kepikiran mau beli sebuah rak stainless steel, yang tadinya untuk taruh oven dan lain-lain, tapi berbentuk rak terbuka. Karena saya masih takut beli barang sebesar itu, jadi saya tanya mama. Waktu itu jawaban mama, jangan, nanti debu. Dan waktu itu pikiran saya 'ya kan berarti tiap hari harus dilap biar jangan debu. Lagian rumah-rumah jaman sekarang modelnya memang terekspos gini appliancesnya'. Walau menggerutu, saya nurut saja dan urung beli.


Sekarang baru saya buktikan sendiri. Rak terbuka serupa yang saya beli secara impulsive karna nemenin temen nyari meja setrikaan sekarang terbukti mengakumulasi debu yang lumayan jijik. Rak itu bagian pertama dan kedua nya adalah barang-barang yang saya pakai sehari-hari jadi tidak terlalu berdebu. Bagian paling bawahnya ini yang jarang dipakai. Dan ternyata debunya.. wew.


Jadi sudah tidak bisa lagi mengandalkan rak-rak terbuka, no matter how stylish it is.

***

Meja kerja tetap akan dipindahkan ke luar, tapi meja kopi urung digeser ke belakang. Saya masih suka juicing di ruang tengah, dan belum rela kalau si maroon ini kena sinar matahari semi-langsung.

So..

The jigsaw puzzle is still on.. and boy.. this is longer than I thought. Six days.. 

***

Bogor, 16 Januari 2021

I hope I don't have to do this anymore. And therefore, I no longer be tempted by the discount, or bonus bag, bonus tshirt whatsoever that came with a product. I know how marketing works, and I know what I want. Marketers must hate me now. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Archived

Show more