Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

New Year Resolution: Minimalism - A Mind Changing Moment

Sekali lagi, kalendar masehi berganti. Orang-orang turun ke jalan, merayakan pergantian tahun dengan kembang api, nyanyi dan tari. Sembari berkata dalam hati, bahwa akal pikiran dan kebiasaan, akan mulai di reset hari ini.

Tahun baru, pribadi baru, semangat baru, padahal tidak ada yang membedakan antara 1 Januari 2018 dan 22 Maret 2018 (except that's when my birthday is), karena keduanya adalah sama. Sama-sama hari yang baru. Tidak peduli dengan itu, setiap orang tetap saja membuat resolusi tahun baru. Tidak ada kan yang membuat resolusi minggu baru, bulan baru. Tidak. Hanya pada pergantian tahun seseorang akan mulai me-setting tujuannya hidupnya. (Tapi masih saja ada orang yang tidak percaya pada keterhubungan antara pergerakan tata surya dengan kepribadian manusia. red: Astrology).

Pergantian tahun sebagai permulaan dari pergantian resolusi hidup, menunjukkan adanya ketergantungan pribadi/karakter manusia terhadap posisi tata surya. Saat bumi menyempurnakan perjalanannya, saat po…

Sembunyi lalu Menepi

Di balik topeng-topeng, tawa dan palsu. Kita semua bersembunyi. Menyembunyikan sepi, di dalam deru dan derai kalimat serta kata. Sesekali berinteraksi, "Hei, lihatlah dia. Bahagia dan sempurna", seolah sempurna adalah kata yang tepat tuk gambarkan kebahagiaan. Padahal, kita tak pernah diajarkan tuk memandang wajah hanya dari tampilan luarnya.***Dia perempuan. Dia tangguh dalam laku. Dia indah dalam paras. Dan dia pandai dalam tutur.
Lembutnya menenangkan, siapapun yang melihat senyumnya yang menawan. Bahagia adalah miliknya, begitu ia berujar setiap pagi. Menjalani hari, yang tidak pernah sama lagi. Saya berjalan di antara rak toko penjual buku. Sebuah sampul bertuliskan kisah remaja, menarik saya tuk membuka isinya. Api dan air. Dia yang periang, bersama dia yang dingin. Tampak serasi dalam untai kata, namun tidak dalam cerita nyata.Faktanya, dia perempuan, yang tangguh dalam laku. Tidak bisa luluhkan dingin yang beku. Menatap dari jauh, sejauh apa yang ia bisa tahu. Harap …

Housemate

House, is the four wall. But home.. Is two eyes, and a heartbeat.***Lying down here in the dark, twenty minutes to midnight. I remember back inthe day I first moved here, to the house that changed my mind and the way I see.. Life.Six months, and I feel like know her for decades. The soul, the vibe, and the click we share, is nothing to compare with what I've experienced before. I never thought it would be this mind-blowing to met her, moved in, and then leave in the blink of an eye. "Came all of a sudden, and then leave.. All of a sudden" she said, while sipping her ice tea, in our last dinner together as a housemate. I have packed my stuff (half-heartedly), so tomorrow I move out to the other house. ***Moving on.. Has been a great part of twenties life. We moved on from college life, to early-adult life. Leaving all the memories and the people we've known for years behind. And love life? Sure.. Many people happened to left their loved ones and ends up separatedly. T…

Moving Out in Light

Give your self time alone, you will be surprised at who you find.As for today.. I found my self brushing every corner of the house. Windows, dish-washer (and I regret it later for leaving it on porcelain cleaner liquid. :'( I have to remove the stain tomorrow.. Hope it'll be). I brush every inch of dust, and paint marks on the floor. Not even a tiniest mark will be on the floor.I surprised at how I give the house such a treat. Why? Here's why.I'm not a tidy person. Never in my life, my friends known me as a Hilma-clean-and-tidy-kind-of-girl. I lived in dormitory back in highschool, and I was once granted with the dirtiest room for the entire girl's building (not proud). Yeah, there's an award for cleanest and dirtiest room, and there were a prize too. We got broomstick, anyway. After highschool, I moved from one rent room to another. It was always a messed, because I'm so busy living my life, that I forgot to clean up. I only did when I got enough time or w…

Manusia Hemat Energi

Energi itu jelas mahal. Orang sekarang berlomba-lomba menciptakan teknologi hemat energi, the so-called environment friendly. Agar kita tidak melulu ketergantungan dengan bahan bakar, dan membuat bumi semakin rusak.Tapi bukan Energi itu yang saya maksud disini. Ini adalah tentang menghemat energi seseorang, dalam menghadapi khalayak ramai. Lingkungan sosial, yang terkadang bisa menjadi senjata pembunuh paling sadis.Society, begitu artikel-artikel menyebutnya, adalah sumber tekanan terdahsyat yang bisa diterima oleh seseorang. Harus ada energi lebih yang kita keluarkan, untuk bisa tampil baik-baik saja di depan mereka. Society menuntut kita untuk berlaku baik, sopan, meskipun sedang sedih harus tetap bahagia, ramah, dan norma-norma terkemuka lain yang sering diajarkan dalam mata pelajaran PKK. Energi yang dikeluarkan oleh seseorang ketika pura-pura bahagia, tentu berbeda dengan energi yang dia keluarkan ketika dia betulan bahagia. Padahal sudah lumrahnya bagi manusia untuk tidak melulu…

Mengosongkan Gelas, Berjalan dalam Seimbang

Apakah kita sudah sepakat bahwa hal-hal paling berharga justru datangnya bukan karena dibeli dengan uang?Jika ya, saya ingin cerita sedikit tentang hari-hari saya yang belakangan terkesan 'menua' oleh beberapa teman. ***Akhir tahun menjelang, saya -sebagaimana penduduk dunia lain- bersiap menyambut tahun yang baru. Awal tahun yang selalu dipenuhi harapan, misteri, dan praduga. Jika boleh sedikit tengok ke belakang, akhir tahun selalu saya rayakan bersama teman-teman. Dengan merekalah saya mengikrarkan janji-janji untuk bisa hidup dengan lebih baik lagi. Tahun lalu, saya habiskan waktu di Jogja. Membawa adik perempuan yang menolak keluar rumah untuk menyaksikan pesta kembang api. Jadilah saya saksikan bersama segerombolan kawan SMA, yang kini sudah berpencar mulai dari Surabaya hingga Manado. Dua tahun lalu saya habiskan di rumah seorang sahabat di Tangerang. Keluar rumah untuk ikut ramai di jalan, lalu terjebak selama empat jam di tengah kemacetan. Paginya, kami membuat kue ba…

6 Months of Minimalism

Dan saya tidak ingin dianggap sama lagi. Semua orang berubah, begitupun saya.. Terlebih sejak memutuskan untuk menjadi minimalist. Jadi sudah.. Jangan lagi mengasosiasikan orang lain yang sedang berubah, dengan perilakunya yang dulu. Dia sudah bukan seperti itu. Jangan ingatkan kepadanya, tentang bagaimana dulu dia bersikap padamu. Sudah, tutup saja lembar yang sudah berdebu.***

Pesta Diskon Akhir Tahun!!!

"Beli 2 Gratis 1"
Padahal kita hanya butuh 1, dan berakhir dengan membeli 3."Belibanyaklebihhemat"
Padahal kita hanya butuh sedikit, tapi jadi membeli lebih banyak (dan mengeluarkan uang lebih banyak) supaya bisa menganggap uang yang dikeluarkan lebih sedikit, dibanding biasanya."Belanja 1.000.000 dapatcashback 500.000"
Yang harus digunakan setelah pembelanjaan berikut dengan minimal transaksi 1.000.000. Padahal tadinya kita hanya menganggarkan kebutuhan senilai 1.000.000 tapi jadi membayar sebesar 1.500.000 (dan belum tentu barang-barang selanjutnya adalah yang dibutuhkan). ***Percayalah, saya adalah perempuan yang suka sekali belanja. Sampai sekarang pun masih. Bahkan saya menemukan proses healing dengan mengelilingi dan memasuki semua outlet di dalam mall. Sampai sekarang pun masih.Hobi itu saya jalani sejak tingkat akhir masa kuliah. Sejak punya penghasilan sendiri melalui kerja paruh waktu di sebuah studio film dokumenter. Saya jadi berani window sh…

Coincidence? Think Not

Kali ini saya ingin bercerita tentang hari-hari belakangan yg sungguh amat mind blowing sekaligus bikin napas tertahan, tak henti berucap syukur sambil geleng-geleng kepala.Jadi begini..Akhir tahun semua serba padat. Jadwal padat, penerbangan padat, kondangan pun padat. Seolah-olah setiap orang ingin buru-buru menyelesaikan sesuatu untuk berganti di tahun yang baru. Padahal selesai tidak selesai, tahun baru tetaplah hari yang sama. Sama-sama 24 jam, tidak bertambah atau berkurang walau semenit.Saya pun ikut-ikutan hectic mengatur jadwal disana dan disini. Ada dua project penting (yang melibatkan urusan administrasi di negeri tetangga), dan rapat tahunan staff yang amat menentukan posisi prestasi di tahun selanjutnya.Semua itu harus saya siapkan, mulai dari kebutuhan personil hingga scheduling. Jadilah saya mengatur seperti ini;11-14 Desember project A, 12-22 Desember project B. Namun krn sy terlibat di project B, dan harus ikut rapat tahunan tanggal 17-20 Desember, maka saya dan bos a…

Normal

People have their own definition on what is normal. Some chose to refuse being normal, some stay in their normal life while complaining, and some others, try their hardest to be normal.But.. What is normal? Define normal!We have different opinion about normal, but the tv said that normal is when you have a big house, pretty face (white skin, tall and slim), luxury car, and a few friends to hang out with. So our teenager started to act as on tv. And people tend to use the word 'normal' to describe the life they never had. For example, a man who travel a lot for work, will define 'normal' as the way of settling down, have a steady job, a house, a wife and kids, grow old and die. Some people refuse the idea of being that 'normal' but in the opposite side, there are people (who travel a lot for work) craved for that kind of 'normal' life. What is being 'normal' for me? In this post I'll share to you my journey of finding 'normal' with mi…

Komorebi

Saya senang dengan orang-orang, yang meski hatinya sudah dihancurkan berkali-kali, ditertawakan bahkan selalu menjadi bahan bercandaan, tetap mau bangkit berdiri, dan berusaha mencintai dengan serius menggunakan kepingan-kepingan tersisa.Jika kalian mengenal orang dengan ciri demikian, berikan cinta kalian pada mereka melalui hal-hal sederhana, sesederhana bertanya kabar dan bertegur sapa dalam satu atau dua menit kesempatan. Mereka tidak kesepian, mereka memiliki cinta terbaik yang mungkin kamu bisa kebagian. Karena telah memberi sedikit perhatian, yang mungkin mereka butuhkan. Beruntunglah, kalian yang dicintai mereka. Karena ditengah-tengah reruntuhan masa lalunya, mereka menggenggam erat harapan masa depan yang akan dijaga sebaik mungkin. Termasuk kalian.

Change!

Saya selalu dibuat terkagum dengan cara Semesta bekerja. Keajaiban-keajaiban kecil yang saya jumpai sehari-hari, membuat saya selalu yakin bahwa tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Mungkin bagi para penganut Tak-bertuhan akan menganggap probability sebagai kunci, namun probability pun tidak akan bisa menjelaskan, mengapa peluang-peluang itu muncul dan saling cross path satu sama lain. Semesta tidak se-gamble itu bermain peran. ***Sejak menulis post yg berjudul Growing Pain, jauh di dalam hati sebenarnya saya semakin merasa gelisah. Tapi karena saya tidak tahu apa sebabnya, maka gelisah itu saya buang jauh-jauh. Saya netralisir dengan berbagai cara, termasuk kembali pada Yang Maha Kuasa melalui cara-cara yang Dia suka. Satu pertanyaan yang membuat saya tidak tenang adalah 'untuk apa semua ini?' Yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan serupa; untuk siapa, akan kemana, dan seterusnya.Mungkin karena pengaruh usia yang masih (belia) middle twenties inilah saya sepe…

Little act of kindness

Dealing with depression, is not always expressed as being sad, gloomy and anxious. It can be happy, fearless, and cheerful attitude. Yeah,. You never know what someone is going thru unless they told you. So be kind. Use only good word or remain silent. You will never know how a 'wow, you gain weight!' Comment can affect a lot to somebody. Try not to put some comment about physical body, beside its not important at all, and has no value worth to waste energy. Maybe this guy you talk about his pain, his past, is not showing you his sadness. Otherwise, he tell you as if everything alright, he moved on, and he take the lesson. But really.. You never know, maybe in the middle of the talk, when there's a silent gap, he hold his tears so deep with a bright smile. He can be a she too.***People remember little thing we take to them. As for today, I remember the feeling when baby sitting next to me in the plane was touching me, and smile. He hold my fingers with his tiny little hand…

2017

Hari ini saya dibuat takjub oleh indahnya sungai jernih yang mengalir ke laut. Meski berada di hilir, jernihnya masih bisa menampakkan dasar air yang berpasir dan dihuni ikan-ikan kecil. Maha Besar ciptaan Tuhan, Dia yang menganugerahkan ini semua dengan cuma-cuma, dan kita yang terlalu sibuk meninggalkan-Nya untuk dunia. 
***
Tahun akan segera berakhir, pesta-pesta diskon dan bonus-bonus belanja sudah mulai menggema dimana-mana. Tiket pesawat mulai sulit di dapat, dan di saat yang sama harga-harga semakin melangit. 
Setiap toko, setiap outlet berlomba menjanjikan kebahagiaan dengan menampilkan harga se rendah mungkin. Semakin banyak anda beli, semakin hemat uang yang dikeluarkan. RIP logic. 
Sambil menulis ini saya teringat sebuah spanduk di satu ruko, yang saya baca sambil menunggu pesanan nasi goreng di godok oleh abang super berkeringat dan hanya pakai kaos dalam warna putih (ehem -_-). Daripada membayangkan yang tidak-tidak seperti keringatnya menetes indah di adukan nasi goreng…

Get A Job!

Between life and responsibility,.. You will need a.... Job!***Or at least that's what they're gonna say. You need a job to pay for the rent. You need a job to keep the food on the table. You need a job so you don't look like a broke. People will running after their college graduation, to a news with tittle 'Job Vacancy' or 'We're Hiring', while.. as a matter of fact.. Most of the newly graders, are not ready for the company. Yeah, you bet. I've work with plenty of millennials (and I am millennial my self), and I know how annoyingly lazy they are.Whoops, no offense. Be proud if you're excluded. Somehow there's an exception for every general judgment. But face it. Millennials are lazy. Despite of what they say about saving energy, thinking and whatever. They are, fuckin lazy. Why?First, they were never know how it feels like to struggle for life. They have everything they need since pre-school. School until college, are a normal routine they j…

Minimalism dalam Islam

"Dijadikanterasaindahdalampandanganmanusiacintaterhadapapa yang diinginkan, berupaperempuan-perempuan, anak-anak, hartabenda yang tertumpukdalambentukemas dan perak, kudapilihan, hewanternak, dan sawahladang. Itulahkesenanganhidup di dunia, dan di sisi Allah-lahtempatkembali yang baik.Katakanlah, "Maukahakukabarkankepadamuapa yang lebihbaik dari yang demikianitu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisiTuhanmerekasurga-surga yang mengalir di bawahnyasungai-sungai, merekakekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, sertarida Allah. Dan Allah MahaMelihathamba-hamba-Nya." (QS Ali 'Imranayat 14-15)***Petikan ayat suci di atas menunjukkan betapa agama (dalam hal ini Islam), juga telah mengajarkan tentang konsep minimalism. Hadir di tengah-tengah kehidupan kita dalam bentuk pedoman, buku petunjuk, yang sering dianggap Kitab Suci. Karena memang demikian. Kitab dari Sang Maha Suci. Hanya mungkin kita sering lupa membaca pedoman/buku petunjuk, sebagaima…

What Minimalism Has Brought to My Career

Career? Hmm.. I think so. For two years now, I've been working on a consulting company for sustainability on plantation (palm oil or forest industry). It was so exciting and totally an amazing journey.If I look back at the beginning of 2017, I've been traveling for every month. Every damn month, including that one month I've visited four different airports in one go. I was overwhelmingly happy, and nothing can pay me more but this job. This is the best thing that ever happened to me until now.
This is what I've been searching for.
This is what I've dreamt of all these time.I sacrificed almost everything to get here, to excel in this position as a junior assessor and project officer. I read a lot. I learn, I watch, I observe. All for one goal: be the best.I travelled thru Palembang, Kalimantan, Porsea- Lake Toba, West Kalimantan (Sintang, Kuburaya, Ambalau, Serawai, Sekadau), Central Kalimantan (Sampit, East Kotawaringin, West Kotawaringin), and East Kalimantan (East

Growing Pain

Selasa malam kemarin saya di whatsapp oleh seorang rekan, perempuan tangguh, early thirties, dan biasanya tidak pernah manja. Dia meminta saya menemaninya untuk minum bir. Saya bereaksi cepat, karena tahu ada yang tidak beres. Woman who drink in the middle of the week (it was Tuesday, tho), is never okay. 
Hal pertama yang saya tanyakan adalah apakah hubungannya dengan sang kekasih baik-baik saja? Dia menjawab datar melalui pesan tertulis, 'ya'. Jadi sebetulnya ini bukan lagi soal hati. Pasti jauh lebih buruk, begitu saya pikir. 
Saat itu saya sedang di grocery store, pukul setengah sembilan malam, baru pulang kantor, belum sempat ke rumah ganti baju apalagi mandi. Keranjang belanja masih kosong (baru terisi susu dan indomie, typical), saya buru-buru menuju kasir. I said, if a friend need me, I'll have to be there as long as I can. Karena saya belajar dari seorang rekan yang lain, tentang betapa dia mendahulukan temannya ketimbang pekerjaannya. Sejak itu saya tahu, the rea…