Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2021

15 Ramadan 1442

  2021 nampaknya tengah mengajarkan tentang betapa berharganya jika kita bisa 'tiba dengan selamat'. Setelah 2020 mengajarkan dengan polah sang waktu mencabut, mengambil, menghilangkan apa yang selama ini kita pikir akan terus ada selamanya.  *** Sore kemarin saya menemani seorang teman lama berbuka puasa di sekitar area kampus. Namanya area kampus di jam buka puasa, meskipun pandemi, tetap saja ramai. Celoteh riang mahasiswa-mahasiswi, dengan baju kemeja, sneakers, tertawa-tawa menertawai satu sama lain. Mata saya terpaku pada meja panjang mereka. Membayangkan rasanya betapa baru kemarin saya adalah mereka. Tidak pernah melalui waktu sendirian, selalu dikelilingi banyak teman. Tidak terbayang jika sepuluh tahun telah lewat dan saya duduk di sana.. bersama seorang teman, bercerita tentang seisi dunia dan sekelumit politik-reliji yang rumit. Satu setengah tahun pandemi.. saya tidak lagi menjalani ritual mengelilingi botani square sepulang kantor. Ritual yang dulu saya jalani nya

Living the Dream

  I have nothing to complain. This morning I wake up, with my period on schedule. Dia masih disiplin, datang pada waktunya, dan memenuhi pinta yang saya buat dalam hati agar tidak datang tiba-tiba jelang matahari terbenam. Saya memang sudah menyiapkan mental menyambut kedatangannya. Rasa sakit, pening, mual, dan mood yang terombang ambing yang kerap menjadi penanda akan hadirnya pun saya lalui dalam diam. Tidak dikeluhkan pada siapapun. Karena saya terlalu sibuk dengan segala bentuk rencana yang saya susun sendiri, timeline nya pun saya tentukan sendiri, budgetnya saya buat sendiri, nyaris tidak ada yang menyuruh saya untuk melakukan ini dan itu. Pun tidak ada yang mengontrol atau me monitor seberapa jauh pekerjaan saya sudah terseleaikan. Seperti ini semua hanya antara saya dan dignity saya sebagai seorang muslim yang masih harus bekerja, memenuhi kewajiban serta tanggung jawab. Pun kalau misalkan disuruh, atau dikontrol, saya tentu tidak akan mengerjakan apa-apa. Tell me what to do,

Hingga Terbit Matahari

  Semburat kuning keemasan, berpantulan di satu petak dinding. Lalu dua.. tiga. Perlahan kabel hitam kemudian menguning, terlapisi sinar yang baru menyembul. Masih pagi. Suara udara masih hening. Suara air, masih terpercik. Suara burung.. masih ramai berceloteh. Menonton matahari terbit memang selalu memukau. Menarik kembali kesadaran pada penciptaan alam semesta. Pada Bumi yang patuh untuk setia beredar mengelilingi matahari. Dalam garis edar tak kasat mata, dengan sistem yang terjalin amat rapi.  Di sanalah tercipta waktu. Konsep kekayaan seluruh umat manusia. Konsep misterius yang mampu menyenbuhkan semua luka. Hanya dengan menyaksikan Sang Matahari terbit, tenanglah jiwa. Pagi ini saya sempatkan untuk menyaksikannya menampakkan diri. Perlahan memantulkan semburat kuning di tembok tetangga, lalu meluas, dan meluas lagi. Walau langit di sini tak seluas di atas laut, yang terpaut kabel penyalur beragam informasi tuk memastikan kami semua terhubung dengan dunia luar, namun menyaksikann

Freshly Baked Cookie, is the Remedy for the Soul

The house smells great when I bake.  Do you know what is a great thing about baking?  It is the best distraction for the soul. I haven't been well for a while, but tonight.. after two days in a row going to the office, I chose to bake some cookies once I got home. Baking only took me an hour, but it needs three hours to prepare and another hour to cleaning the mess.  I feel better after I tasted them. My cookies taught me to never judge anything by their appearance. Because they might be not so pretty, but they taste really good (at least to me). Also, they smell great.. kinda give me a glimpse of illusion of how one day I will be a mum, and this is the smell that my children long for.  :') Anyway, This isn't me.  This is the PMS-Me. I know I'll wake up tomorrow, with blood in my undies, and say.. 'alright. there she is.' *** Bogor, 22 April 2021   I hope, whoever end up with me, wouldn't mind me trying out new recipes, and willing to eat my ugly cookies or

Jarang nulis, and this is what I do

  Aku ngeri sendiri dgn kelakuanku belakangan. Bangun tidur, sebelum tidur, sambil kerja, sambil nunggu azan, satu2 nya aplikasi yg kubuka terus2an cuma satu: tokopedia. Tiap hari abang paket lalu lalang, dan terakhir.. abang furniture silih berganti ngukur ruangan. Aku memang tidak bisa clueless terhadap hidup. Bawaannya boros. Kalau dulu boros dalam bentuk perjalanan, sekarang barang-barang. Minimalism in progress, tapi kalau dalam kondisi anomali tetap saja hilang kendali. Semoga ini tulisan terakhir ku sedih sedih. Atau bingung bingung. Semoga setelah ini ada pintu yang terbuka.. Untukku melanjutkan perjalanan. Bogor, 20 April 2021

Old notes

  Found my old notes.. one about Yayuk, and one about the moon.  Years apart.. and pandemic changes literally everything.  I bet she must be really happy now..  Bogor, 16 April 2021 Friday :"

Cinta Sederhana

  I'm not a superstitious person, even if I believe Astrology has something to do to human's psychologies,  but I do believe that nothing in this world happened by coincidence. Everything, every single little things, are all planned. Carefully planned as part of a grand design we don't know about.  After that one big question my moment, about my fear of incapable of love.. these days I read things that led to it: Vanessa Carlton interview with Vice in which she says something related to this and there's a book that she read which inspires her to write a song, the episodes I re-watch just to see Sebastian Stan in OUAT where the dialogue are all about opening your heart and starting a new beginnings, and.. the Royals. All that led me to a conclusion that.. love should be.. simple.  Tidak serumit memecahkan konsep-konsep ketuhanan, atau prinsip hidup yang jelimet. Sesederhana memilih sebuah lukisan, yang kalau ditanya itu kan biasa aja.. kenapa pilih itu? Yang jawabannya s

What I do in Ramadan, and my view about The Royals

  Blue hour Bogor, 05.47 am. (Tulisan ditulis dengan aroma diffuser yang baru diseduh selepas subuh. Ternyata enak ya nge diffuse pagi-pagi. Bikin lebih siap menghadapi pekerjaan and lyfe ). *** Saya menulis ini setelah menguatkan hati dan tekad untuk membangun kebiasaan baru, setidaknya selama Ramadan. Ramadan lalu adalah Ramadan pertama yang saya jalani dengan disiplin; masak sahur dan berbuka setiap hari. Pasalnya, Ramadan tahun lalu tiba saat pandemi masih sangat menakutkan, bahkan untuk memesan makanan dari luar pun saya tidak percaya. Jadilah saya membiasakan diri untuk masak, walau masih sangat terbata.  Namun dari Ramadan kali itu pula lah saya benar-benar belajar memasak. You see, cooking isn't just about mixing things and stir it together. Cooking is all about planning. Merencanakan apa yang mau dimasak, juga butuh persiapan dan visi yang jelas. Sejak itu saya jadi tahu, kondisi ideal seperti apa yang saya butuhkan jika hendak memasak, dan bagaimana mengatasi diri ini ket

Cinta yang utuh

  The only reason why I didn't write for the past couple of days, is because I was busy  I'm having one big question that bothered me a lot. It interferes my peace, and kinda make me lose all my motivation. Especially today, which I practically doing absolutely nothing (as a person who is really picky with her time, this made me kinda guilty, but still doing it mindfully. Like, I'm totally aware that this is wrong, but I keep doing it anyway). I'll tell you the question later in this post. *** I've been analysing  watching Meghan Markle videos lately. Saya agak kaget juga ternyata banyak yang mengulas keculasan beliau sejak wawancara dengan Oprah itu melejit. Saya pikir semua orang ada di pihaknya.. karena isu rasisme kan adalah kesayangan segala bangsa, dan pihak yang tertindas (dulunya), adalah pihak yang tersayang sekarang. Makanya waktu video itu muncul dan menjadi perbincangan, saya sangat tidak berminat untuk mencari tahu. Untuk apa mencari tahu, toh pasti ber

Traditional Love

  Tradition? What is tradition? That ancient, irrational act that people do just because the ancestors did. I used to careless about tradition. But now.. I understand. It started with Ramadan. I knew that my mom, or aunts, or all muslim mothers in this country, always 'prepared' the house to welcome Ramadan. They declutter, they change things, sometimes they re-paint the house, just to get the new vibe of it.  Saya tidak pernah benar-benar melakukannya sejak tiga tahun lalu. Meski sudah tinggal di rumah sendiri, saya tidak begitu peduli dengan bersih-bersih menyeluruh jelang Ramadan. Untuk apa, toh nanti juga ditinggal lagi. Lagipula Ramadan adalah tentang membersihkan hati, bukan rumah. Begitu kurang lebih yang ada di pikiran saya waktu itu. Hingga pandemic menyerang. Dan kemudian saya tahu bagaimana rasanya menjalani Ramadan di satu tempat yang sama: rumah. Waktu itu agenda bersih-bersih jelang Ramadan saya lakukan hanya demi membunuh waktu. Berbulan berdiam diri di rumah, da

In my darkest day

  Aku keluar rumah hari ini (yay to me). That simple movement takes up much energy, I should reward my self with a 3 pm quick nap soon after I got home.  Tiba-tiba diminta jadi MC acara perumahan, yg baru ku iyakan setelah enam jam di pause. Pertimbangannya satu: when you’re at the bottom of the pit, dont sit still. Kalau itu menakutkan, boleh jadi karna itu hal yang benar untuk dilakukan. So I said yes.  I cant do any significant work, which I admit loud and clearly, and I’m grateful that my bosses understand. Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung terlalu lama. Tapi selagi ada di kondisi seperti ini.. yasudah, jangan terlalu dipaksain. Paksain dikit-dikit, untuk lakukan the bare minimum. Selebihnya sudah.. kamu tidak perlu lakukan semua hal dengan sempurna. *** Bogor, Masih 9 April 2021 Mo di kondisi begini juga tetep ya. Mata beratt kalo udh jam 10

Teruntuk yang sedang murung

  "Ya Allah, can I just.. die? But.. I mean.. if only dead is better than this. I have people and everything down there."  Ini bukan tentang saya, tapi rupanya, yang saya tulis ini terlintas juga di kepala banyak sekali orang. Akhir-akhir ini banyak orang yang semakin 'gelap' suasana hatinya. Saya pun baru menyadarinya sekarang.. The early pandemic life, saya bisa begitu positif, ceria, dan baik-baik saja. Saya bahkan menghitung waktu yang saya lalui berdiam diri di rumah sendirian dalam bilangan bulan. Ternyata.. apa yang orang-orang pada umumnya rasakan saat itu, baru saya rasakan sekarang.. setelah satu tahun melalui pandemi. Saya tidak mau mengklaim apa yang saya alami ini sebagai sebuah turbulensi mental yang diberi berbagai label.. tidak. Tapi yang saya tahu, ketika ada orang terdekatmu tiba-tiba mengontakmu dan meminta untuk berbicara, dengan sopan dia mengirimi pesan.. then drop your activities away, and answer them. Karena boleh jadi.. boleh jadi, dia sedang

One call away

  Do you ever have the time in your life, when you sit in silence in your room or your house, looking around all the stuff you have bought, all the experiences, opportunities that have brought you to where you are now.. and thinking.. where is this all coming from?  You see, sometimes.. or in my case, it's most of the time, those amazing things that happened, are all coming from just one call. Basically one call, and your whole life change. To some people, maybe it's the job offer, or the collaboration offer, or other new kinds of offer. And those offers, are the ones that we've been waiting for so long.. we've been dreaming of and hold closely in our heart and it eventually came true. Looking back to where I was five years ago, things would be very different. Ten years ago, I would never imagine that I can be so 'domesticated', staying at home, bake cookies, brew juices, live in an organized way of living, and all the things that I thought was bullshit enough t

World Health Day Post: Forgiving Yourself

  Forgiving your self is a real job. It's hard, it takes a lot of time and energy, and sometimes we fail. But once we get into the end and did it, the reward is amazing. If you still struggle to forgive your past mistakes.. time you've been wasted on someone not worth waiting for.. or the sins that you've made when you were young and stupid.. if you still battling in the inside, prevent yourself from blaming yourself.. all I can say to you is this; Walk the process at your own pace. It doesn't matter if it's a slow progress, like an old-grandpa-turtle slow. Recognize every aspects that stings. The things that when you remember it, you start to hate yourself. Hold it. Hold it tight. Tell yourself, that it was in the past, and there's nothing you could do but to forgive. Forgiving other people who do bad things to you is easier than this. I know, because I had it too. But you can't live a full life before accepting who you are, and those mistakes, are part of

Don’t be perfect. Be original

  You don’t have to be percect to get someone’s admiration. The words that you often heard: “be yourself”, is not a joke. And its not just about you being you and justify all your bad habits with it. Its about being honest about who you are. You are human, you have flaws. That doesn’t make you a flaw, that makes you.. human. The people who love you, will accept you as you are. Sure they want you to grow, but no matter in what state you’re in.. they always accept you. Keep your mind to those people and those people only. Because you cant impress everyone, nor that you should. The purest form of love is acceptance. That’s what you should do to yourself too. Acceptance. Things will work out eventually.  *** Bogor, 6 April 2021 Only the originals win! 

Finding Newness: Jadi Ibu Kontrakan, Day One.

  Satu hal yang baru saya ketahui tentang burnout (karena baru mengalami), yaitu your body craves for new energy. Makanya stress atau burnout sering diasosiasikan dengan kurang piknik, dan solusinya selalu piknik, jalan-jalan, foto-foto, demi suasana baru. Bagi sebagian orang tentu itu mudah dan tidak perlu berpikir panjang. Tapi, bagi orang seperti saya yang takut sakit dengan tes swab, piknik bukanlah jalan keluar. Lagipula, saya sudah kenyang jalan-jalan sendirian selama lima tahun terakhir menjalani ritual solo annual trip yang destinasinya selalu adalah tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali. Maka, burnout dengan situasi demikian jadi dua kali lebih berat, karena seolah-olah kamu tidak punya jalan keluar. Tapi saya selalu yakin Allah pasti kasih jalan. Makanya, sebisa mungkin, walau rasanya sudah sangat buntu sekalipun, jangan putus doa dan keyakinan pada-Nya ya. Kamu tidak perlu jadi orang yang relijius untuk bisa selalu bergantung pada doa dan keyakinan pada

Labelling when you're burning out

  Burnout is new to me. I don't know what to do, nor that I have motivation to do anything. 2,5 hours has passed and I did nothing on my desk but to scroll stock market and buy a couple of lots. I have nothing in mind, and this is when I decided to write this down: When you feel burnout.. try to recognize the situation. Try labelling the feeling. Why. Why you feel the way you feel now. Ask why for five times. Why you lose your motivation. Why you need company. Why you need to talk to other people. What is it that you want? How to make you feel better. Keep asking these questions until you know what to do with yourself. It doesn't matter if you remain stoic or take no action about it, as long as you got the label, you put it clearly in your head, and enjoy the rest of your day, in stoic mode. Time you enjoy wasting, is not wasted anyway. Do it mindfully, at least, so that you won't regret it later. This is a tough time for everyone. It feels like last year, only recent. Feel

Self Discovery

  Salah satu yang membuat saya kagum sama Taylor Swift adalah kemampuannya mengkomunikasikan simpulan dari pelajaran yang dia ambil, ke dalam simbol-simbol di setiap adegan video klipnya. Di video klip berjudul 'Cardigan', Taylor Swift menanggalkan cardigan yang dia pakai, masuk ke dalam piano, terserang badai, tenggelam, dan bertarung dengan dirinya sendiri, lalu mendapati jalan keluar, dan kembali mengenakan cardigan yang sama. Saya membaca easter-eggs dari adegan tersebut di salah satu akun gosip, yang terjemahannya kurang lebih yaitu; proses pencarian jati dirinya Swift yang sempat menjadi orang lain, bertarung dan tenggelam, dan bertubi-tubi kepahitan lain untuk kemudian dia kembali menjadi orang yang baru, tapi bukan benar-benar baru melainkan orang yang sejak dulu dia memang sudah begitu tapi hanya baru sadar saja. Kesadaran itu ditandai dengan cardigan lama yang dia kenakan kembali, menandakan bahwa dirinya selama ini ya memang begini, namun untuk menyadari hal tersebut

Self Acceptance

  There’s one lesson that eventually all human beings will learn. Some learn it at very young age, some learn it when they’re old and grey. Some people are lucky enough to learn it while they were single, and some people have to struggle with it while taking care of their children. The lesson is about self acceptance. Because at the end of the day, all we have is ourselves. The only person who live and breathe with us since the day we born till the day we die.  Self acceptance came in many form, and mostly pain will bring the lesson. To accept of who you are, where you came from, who’s your family.. to uncover all the layers of mask because you wanna be somebody else.  Sometimes people are not very proud about their origin, sometimes people tried to hide their families, these are the masks that people need to deal with before they move forward. And by ‘deal with’, I mean accept it.  Accepting that you’re not perfect, and neither the world. Accepting that you have an embarrassing family