Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Clean Slate

  I have to take down the previous two posts because I changed mind like weather. I might not be that person anymore. *** Ini selalu terjadi setiap kali habis antar Mama ke bandara. Karena begitu Mama pergi, ada segumpal rasa bersalah yang selalu membayangi seolah bilang jahat banget si ke Mama sendiri. Pendiem banget si. Cerita apa kek. Cerita tentang apa kek. But she never asked so I never tell. Jadinya setiap kali habis nganter-nganter Mama yang berakhir di bandara tu aku tu cuma kayak supir aja gitu. Diem sepanjang jalan, paling kalo Mama komentar apa baru ku nimbrung. Kenapa ya aku ni gak bisa banget cerita ke orang tua sendiri? Apa karena dari SMA sudah pisah dengan mereka jadi emosional connectionnya sudah hilang? Atau karena merasa tersisih oleh kehadiran dua anak yang lebih hangat dan periang? I feel like turning into a cold-hearted woman now. Selalu setelah Mama pulang, aku tidak pernah mau sendirian. Terakhir kali seperti ini, ku minta temenin sama temen deketku yang kita em

Vibe with Vision

Jika purpose sudah terdefinisi, seperti yang saya tulis di postingan sebelum ini, maka selanjutnya yang seseorang harus miliki adalah sebuah visi. Visi yang disertai dengan rencana tahap demi tahap untuk mencapai tujuan itu. Memang agak dalem sih, dan mungkin tidak semua orang akan berhasil mencapainya. Tidak semua orang akan berhasil mendefinisikan visi hidupnya, tapi memang tidak semua orang harus punya visi dalam hidup. Beberapa memang dicukupkan hatinya dengan menjalani hidup yang mengalir seperti air, dan itu baik juga buat dia. Vision bisa juga diartikan sebagai pandangan hidup ke depan, jenis hidup seperti apa yang ingin kita jalani di hari nanti. Apakah yang terus menerus berjibaku dengan pekerjaan, atau yang kelak akan bisa menikmati warna sore sambil menikmati minuman hangat tapi tetap punya penghasilan tiga digit. Ya, itu pilihan. Karena setiap yang dipilih punya konsekuensi dengan levelnya masing-masing, semakin tinggi dan wah,  semakin besar juga tekanan yang harus ditahan

Re-connecting to the Soul, Finding Purpose

***  Kemarin saya mendapati dua kata purpose melintas di timeline yang sedang saya buka. Satu di instagram, dari ucapan seorang ayah pada putrinya yang memasuki usia dua belas tahun. Satu lagi di youtube, dari video Nouman Ali Khan.  Video nya bisa di klik di sini,  dan saya harap kalian mau menyisihkan waktu sebentar untuk menontonnya.  My Islamic journey is nothing without Nouman Ali Khan's brilliant idea to record his lecture and share it on youtube. Saya mencari ketenangan hati dari satu video ke video lain, menemukan minimalism, self healing, self-purpose, acak melacak video hingga ke perjalanan makanan dan mikroorganisme dalam perut, tapi begitu menemukan video Nouman Ali Khan, saya berhenti mencari. Tanpa itu, mungkin saya tidak akan pernah merasakan nikmatnya menonton video ceramah yang ternyata isinya sudah komplit. Semua permasalahan hidup tersedia jawabannya di sana, di Islamic Lecture yang disyiarkan oleh Ust Hanan Attaki, Khalid Basalamah, Adi Hidayat, dan Aa Gym.  Ya,

23.38

No matter how familiar, human could never get used to pain. I have a special situation with my physical health, which prevents me from eating good food. I obeyed perfectly, like an obedient daughter. Except today. The hit came since afternoon, and I managed to bear.  I went to sleep after nine, and seems like hours when I woke up with a terrible pain in my head and the urge to throw up. I knew it alread, the pattern has always been the same. Unless, it was only 23.38 when usually it happened around 3 AM. I kneeled on the bathroom floor, couldn’t handle the punch of throwing up. I unpack everything including tears. I took the pill an hour later, pour myself with warm water and honey using shaky hands. I throw up the next minute, unpacking the pill and the honey. I wrote this note because usually, the pill is the one that helped me. But it’s not, because now it’s been out, flown with the water. So if I might as well be dead by morning, at least I have left something. Leaving legacy is wh

You're replaceable. You're not Beyonce.

  *** Dan barusan saya baca pesan yang ditinggalkan berjam-jam lalu. Miris bacanya. Ngilu. Ada sembilu, yang dulu biarlah berlalu. (If the lyric is wrong, don't blame me. I wasn't the one who wrote them, okay) ,, Begitulah kalau komunikasi terlanjur buruk. Terlanjur dipenuhi asumsi, dan hanya ingin disukai. Komunikasi memang menarik. Kelihatannya mudah, tapi ternyata banyak aturan yang tidak tertulis. Saya tersenyum saja bacanya, nanti-nanti saja dibalas. Ngilu lihat bagaimana sebuah bola harus dilempar jauh dulu padahal yang ditargetkan di depan mata hanya karena tidak mau menghadapi langsung. Insecure? Oh yeah, I could be very.. extremely.. intimidating, and I don't care. I don't care if people hate me because of that, I really don't. I try my best to be a decent person, and this is what I came up with.  Seperti saya yang diam-diam menulis di sini, dengan angka pembaca yang sedikiiiit sekali bisa dihitung dengan jari. I don't care if it turns out that they are

What I Made of

Do you believe in higher power? Do you believe in connectivity? That everything in the universe is connected to each other even at the most random moment? Do you believe that the trees, and sky, and seas, and stars are doing tasbeeh? Did you know that in science it called String Theory, where their frequency meets and connected to one another? This is what I made of. A deep long conversation, and I’ll bore people to sleep. I’ve always been this way since I was a kid but I refuse to be me because my friends think I’m weird. But not anymore. I’ve found myself since he left, and I’m grateful for his absence. This is the part where usually an idea came up, and become an endless novel to write (because it never finished). But that’s okay. I just have to be patient with myself, because one day, I’ll publish that effing book. And his name will be the chapter in it, as a means to my end: closure.  *** Bogor, (still) December 22 And I think now he’s back. I don’t care if he’s here, reading thru

What to do if your slow juicer is stuck

 As a minimalist living on my own, I often found my self in a difficult situation like this afternoon. My slow juicer was stuck and I couldn't remove the cap. So this is what I learn from today's struggle: First, no matter how enthusiastic you are to slow juicing, don't put the slow juicer on hold. She's not like the guys on the phone calling you back and forth without you ever answer. This will harden the cap, and it will be impossible to remove. I tried everything includes crying  until I almost give up. Second, if it happens, even without you left the juicer for a while after juicing --usually this situation also applied if you juice something too hard or too fibrous like lemongrass and spinach-- maybe you need to take these steps; Remove the cap, take it to the sink, and pour warm water into it. Not too hot you don't want to melt the rubber cleaner, just warm.  Left it for a while, cry yourself out, swear if you must, but don't forget to apologize to God to

Selamat Hari Ibu,... hehe

 I need a good cry, so I might as well remind my self that tomorrow is Mother's Day. Di sini saya ingin kasih tahu bahwa tidak semua orang seberuntung itu untuk bisa punya ibu yang baik, yang penyayang, dan mau memberikan semuanya untuk kebahagiaan anaknya. Biar bagaimanapun Ibu adalah manusia biasa dengan watak keperempuanan yang kental. Tidak semua orang dididik dengan cara Retno Hening mendidik Kirana, walau sejatinya semua Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dengan berbagai ekspresi. Saya kenal seseorang yang sangat sukses, kaya raya, mapan luar biasa. Hidupnya bahagia, anak dan suaminya sejahtera. Tapi, yang saya dengar bisikan tentangnya, adalah betapa abai dia terhadap ibunya sendiri. Tentu itu mudah jadi bahan gunjingan, karena bagi meja gunjing, Ibu adalah orang yang paling harus dimuliakan dan anak yang tidak pernah menyambangi rumah ibunya kecuali setahun sekali padahal tiap minggu lalu lalang di sekitar rumah itu, sangatlah tidak patut. Padahal, kalau men

HSL’s first complaint :’)

I’ve planned a script in my head since I read the text addressed to me, and it was a complaint about my product. But I need to write it in my comfortable writing-place: bedroom. Tapi sayang sekarang lagi banyak nyamuk jd kamar mesti disemprot dulu. Nungguin hampir sejam sampe baunya ilang ternyata keburu ngantuk. So I think, I might as well write it here with my phone, just to leave a trace. I will remember today as HSL’s first time entering real world. Ibarat kalo anak, ni udah mulai TK. Mulai kenal yang namanya dunia luar, dan bukan cuma di lingkaran terdekat saja. Saya juga pernah tulis di sini, agak takut kayaknya ketika terlalu terbiasa dikelilingi pujian. Apapun yg saya lakukan, semua orang mengapresiasi dengan baik. Tapi itulah tantangan terberat untuk detaching the heart from mundane things. Biar jangan terlalu melayang dan terbiasa dengan pujian, sering-sering napak walau kadang bablas juga. Komplain itu datang dari pelanggan pertama yg berkirim jarak jauh menggunakan jasa kur

Welcome to the real world, tapi ini belum seberapa.

 Ada orang yang berpikir menggunakan hati, dan ada juga yang berpikir menggunakan logika, ternyata keduanya itu tidak ada hubungannya dengan gender. Saya pernah menjadi orang yang amat sensitif terhadap cara komunikasi orang lain kepada saya. Saya pernah marah pada yang membalas chat hanya dengan satu huruf, yang menagih uang danus tanpa basa-basi, dan pernah juga saya merasa tersinggung hanya karena tidak dilibatkan dalam satu proses pengambilan keputusan yang saya juga bukan siapa-siapa di dalamnya, hanya anggota biasa yang kebetulan sangat vokal dalam menyuarakan pendapat yang berasal dari otak kosong. Beruntungnya kesalahan itu pernah saya lewati dengan status mahasiswa, di dalam organisasi yang penuh nuansa kekeluargaan. Jadi mau berantem, marah, sakit hati, sampai nangis sekalipun tidak masalah. Toh hanya soal waktu nanti juga lupa. Berbeda jika kesalahan itu saya buat sekarang, di dunia kerja. Ketika yang dihadapi oleh orang dewasa yang lebih rapuh jiwanya. Karna lisan yang emos

After 4,5 hours juicing

 Diskusi ongkir sama kurir dari jam sembilan malam, baru selesai jam sepuluh, dan baru mulai bersiap nge juice. Dimulai dengan merebus botol, meniriskan, memotong semangka, menakar bayam, wortel, lemon, apel, belimbing dan sereh, memisahk-misahkan per menu, lalu memasang sticker label pada botol-botol. Kuhitung per menu ternyata menghabiskan waktu minimal satu jam. Karna setelah jam sepuluh itu, kutengok jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat dan kusudah menyelesaikan dua menu dalam tujuh botol. Tinggal satu menu lagi yang kemudian dikerjakan sampai pukul setengah dua. Satu jam kemudian ku duduk di sini. Di kursi kamar, dengan skincare, body lotion, sudah mulai meresapi kulit. Tak lupa menyemprotkan oil oilan yg dioplos minyak kayu putih yang kubeli karna kemakan endorse mamaknya Kirana, ke baju piyama. Sepanjang nge juice kuberhasil mengosongkan pikiran. Dari presentasi yang sekarang bertambah jadi lima biji, dan belum satupun terselesaikan, dari isian data yang belum ku olah, qu

After 13,5 hours of working..

 And only stop for a while to have a short lunch break and Magrib prayer. I was like.. Ya Allah.. people are getting married and having kids. Nothing, am not complaining. Just telling. Although I know You knew. I’m just..  You know what? I Love You. Thank You for everything. *** Bogor, 18 December 2020 Friday is my favorite day, because it is where the blessings are. Sedekah Hari Jumat itu mulia. Baca Al-Kahfi Hari Jumat itu mulia. Memasukkan bahagia di hati orang itu mulia. Apalagi orang tua. Kecuali kalau orang tuanya tipe orang yang hard to please. (Makanya jangan jadi orang kayak gitu ya. Kasian anaknya).

The Cringe in Everything

 What is worse than heartbreak  PMS? Give me one right answer and I'll give you my heart  money. *** Cuma PMS yang bisa bikin emosi meluap-luap lebih dari biasanya. Urusan apapun bisa jadi baper dan sedih, termasuk kalau ada orang dikasih emot kiss kiss sedangkan gue cuma dikasih jempol doang. Padahal kalo dikasih emot kiss guenya cringe .  Lihat ada orang bebecandaan di grup whatsapp, sambil berkode-kode ria ingin  dicengin  dipuji, gue naro hape sambil bergidik. Cringe.  Nulis tulisan ini, dikoreksi terus sama grammarly soktau, hape diganti jadi shape, bikin gw langsung klik setting - turn off forever instead of next visit. Kezal.  Yang paling parah adalah hari ini, ketika dalam sehari ada dua permintaan in-house training. Masing-masing orang itu kemudian menelepon, yang tidak saya angkat karena masih training dan masih meeting. Selepas makan siang, waktu sudah mulai selow, mulai saya telepon satu persatu. Hasil dari telepon pertama ini? Saya nangis dong, ngadu ke Allah. Dari awa

Inside the Mind of ISFP Woman who just wanna Chill

 Mendung masih menggantung seru. Jam sudah menunjukkan lewat pukul sembilan malam, dan saya baru melangkahkan kaki ke luar ruangan. Dari dalam masih terdengar suara-suara speaker dari persiapan acara yang akan kami selenggarakan besok pagi. Ribet, pikirku dalam hati. Mestinya si yang ditugasi mengurus teknis penayangan live streaming hadir malam ini, bukan malah mengkordinir dari jarak jauh.  Saya bukan saja kesal karena ketidak jelasan mereka dalam berkordinasi, karena tidak mungkin juga saya kesal apalagi marah pada teknisi-teknisi yang sudah hadir sejak sore tadi. Mereka masih sangat muda, hanya menunggu perintah dan aba-aba. Tapi yang menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja dan terhandle dengan rapi malah tidak hadir di H-1. "Mbak sori banget gue duluan," saya angkat bicara setelah hening jeda beberapa lama. "takut ga kebangun euy besok pagi, udah seminggu gue ga bangun subuh". Mbak Indra, perempuan cantik yang ternyata usianya mendekati usia mama saya tapi

My Love Story/ies in a Wrap ~ A Decade Summary

Terinspirasi dari perjalanan pulang sore ini dari rumah Eyang. Jalanan lancar mulai dari Pantura hingga sepanjang tol, bersama dengan playlist dari youtube mix yang memaksa saya berkaraoke sampai suara serak. Kapan lagi kan bisa nyetir tanpa penumpang yang akan protes dengar saya nyanyi yang suara dan nada gak sinkron, apalagi lirik asal-asalan. Singkatnya, perjalanan tadi itu lumayan bikin baper dan mellow, karena lagu-lagu yang terputar adalah lagu-lagu yang saya lupa pernah ada. Lagu yang membangkitkan memori lama, selaras dengan apa yang sedang mama lakukan di rumah Eyang selama satu minggu terakhir: Nostalgia. "Kaka Mifzal gak bisa disuruh beli ke Mang Aep yak? Dulu si Kaka Hilma umur segini mah udah jajan sorangan, disuruh beli ini itu, jajan permen karet, manehna teh.. pake sepedana nu pink tea.." kata Mama ke si Euteu, membahas anaknya Euteu yang baru berusia enam tahun, di depan ku yang setengah tertidur. Sayup-sayup mendengarkan tapi lebih peduli ke suara angin dari

Woman

Tema hari ini adalah perempuan. Saya dulu pernah berpikiran sudah wajar jika perempuan itu fitrahnya di rumah, karena ketidakmampuan mereka dalam detaching emosi dan pekerjaan, membuat keputusan menjadi bias antara ego pribadi dan penilaian yang adil (seperti misal kalau kamu lagi dekat dengan dia, kamu terus terusan dikasih project, tapi pas dia tidak senang denganmu, kamu tidak lagi dikasih project padahal kamu capable dalam melakukannya).  Tapi memang sifat tidak adil itu manusiawi, dan pada laki-laki pun ada sifat seperti itu. Saya hanya ingin menyoroti perempuan, karena perasaannya yang lebih halus dan lebih mudah untuk diubah hanya dengan satu dua kalimat nasehat. Kalau laki-laki kan yaa.. we can't change a man. We'll die trying to change a man. Dunia mereka berbeda, dan kekeras kepalaan mereka nyata. Mereka tidak akan berubah kecuali merekanya sendiri yang mau berubah.  Ya kan? Dalam bekerja, seringkali kita mendapati karakter perempuan yang dominan. Sudah fitrahnya mere

‘Secret makes a woman, woman’. From INFJ to ISFP, Pandemic Changes Everything

 Dari Oprah Winfrey ke Jason Mraz, role model saya berpindah. Dari yang ingin selalu berbicara tentang value, wisdom, purpose in life, jadi hanya bicara tentang hal-hal ringan seputar kebiasaan di rumah. Pandemi mempertemukan saya dengan diri saya sendiri, dan jenis orang seperti apa yang ingin saya maintain sampai nanti tiba waktu untuk ‘pulang’. Plus ditambah lagi seorang teman pernah tiba-tiba meminta saya untuk tes kepribadian dengan metode yang berbeda dari yang biasa saya pakai, dan ternyata hasilnya pun berbeda. Berdasarkan deskripsi yang saya baca, ternyata saya memang lebih ISFP ketimbang INFJ, karakter yg saya yakini selama ini. Tapi ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa. Bahwa chill dan relax yang saya pertontonkan bukan karena saya memang tidak pernah khawatir akan apapun. Saya hanya tau di mana menempatkan khawatir, dan kapan harus memakai lapis-lapis topeng. Kan kita semua bertopeng kan ya. *** Selalu ada sayat yang mengiris setiap kali saya membicarakan tentang muasa

Keris Eyang

 " Untung barudakna mah teu aya nu kos kitu .." Tanteku berbicara sambil tertunduk ".. mamake isim " lanjutnya pelan.  Untung anak-anaknya gak ada yang seperti itu.. pake jimat . *** " Mun ku kerisna mah udah disuruh pulang, si Eyang teh .." kata Euteu. Hatiku teriris. (Kalau sama kerisnya sih eyang tuh sudah disuruh pulang). Aku ingin merekam percakapan dua hari lalu, tentang Eyang dan perjalanan 'pulang' nya. Tentang keharusan Eyang mewariskan sesuatu yang ada pada dirinya, namun tidak ada satupun anak-anaknya yang mau menerima. Bahkan si Om yang sedang menuju kenaikan pangkat untuk menjadi jendral di kepolisian pun menolak. Eyang tidak mau membeberkan di mana dia menyimpan keris kecil itu, juga tidak mau keris itu dihancurkan kecuali nanti jika ia sudah pergi. Sekali waktu Eyang bersikukuh ingin sembuh, sambil kesal dengan tubuhnya sendiri yang tidak bisa digerakkan, tapi di lain waktu dia berkata begini.. "Mut.. apa.. ini.. obatnya.. to d