Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2018

Sang Pengelana ~ Perempuan Penyendiri (2)

Aku kini menghabiskan setiap pagi duduk menemani Si Perempuan Penyendiri. Setelah beberapa hari, baru kutahu dia sedang menunggu seseorang dari Negeri Mimpi. Negeri ini adalah Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Banyak orang berlalu lalang, seakan tahu jalan pulang. Lebih banyak lagi orang yang tidak pernah benar-benar pulang. Tidak banyak penduduk asli Negeri yang berada di perbatasan ini. Kebanyakan penduduknya adalah orang-orang yang mencari Negeri Mimpi, namun tidak pernah berhasil mencapainya. Atau sebaliknya. Aku jadi tahu banyak tentang Negeri Mimpi dari perempuan yang selalu mengenakan baju hitam dan tudung itu. Meski dia tidak pernah menjelaskan siapa dirinya, dari mana dia berasal, dan siapa yang sedang ditunggunya, aku tetap selalu ingin menghabiskan pagi dengannya. Hingga dalam waktu yang ia tetapkan. Begitulah setiap pagi, aku ikut duduk dan menunggu bis yang datang dan pergi. Sesekali berkisah tentang negeri-negeri yang sudah kujalani.Perempuan bertudun…

Sang Pengelana ~ Perempuan Penyendiri

Perempuan itu selalu mengenakan tudung menutupi kepalanya yang tertunduk. Setiap pagi ia duduk di sudut jalan. Seperti sedang menunggu, karena ia selalu menoleh pada setiap bis yang berhenti untuk menaik-turunkan penumpang. Setiap pagi, ia duduk di tempat yang sama. Dengan posisi yang sama. Tidak bergeser walau sejengkal. Sudah tiga minggu aku perhatikan kehadiran Perempuan Penyendiri itu, tiga minggu kuikuti gerak wajahnya yang selalu menoleh setiap bis berhenti. Ia sedang menunggu seseorang, begitu pikirku.Kuakui, dia memiliki wajah yang manis -memang tidak semanis Alena- namun cukup menarik untuk dipandang berlama-lama. Meski samar, wajah dibalik tudung itu dapat kupastikan nyaris tanpa riasan. Sepagi itu, dia sudah menunggu seseorang yang tak kunjung tiba. Entah sudah berapa lama ia datang dan pergi setiap pagi untuk menunggu, karena sebelum tiga minggu yang lalu, perhatianku masih amat tersita dengan soalan tentang melepaskan Alena.Sampai hari ini tiba, akhirnya aku memberanikan …

Sang Pengelana ~ Makna

Setiap orang pasti punya alasan sendiri mengapa mereka berubah. Sudah umum terjadi, kebanyakan alasan yang mendasari, adalah karena hati. Entah hati yang patah, atau hati yang jatuh. Jika jatuh hati bersambut, beruntunglah. Namun jika tidak bersambut, patahan itu akan menjadikan karakter seseorang yang semula lembut, menjadi semrawut, atau sebaliknya.Setahun lepas semenjak kepergian Alena bersama surat bersampul birunya. Aku tidak lagi terkenang, apalagi bersedih. Semua energi kukerahkan untuk bekerja. Dari terbit matahari (terkadang bahkan sebelum terbit pun) hingga terbenam nya sang senja. Seringkali kubiarkan mataku terus terbuka lebar sepanjang malam, menolak merebahkan tubuh, menolak menanggapi senyap, agar bayang Alena tak mampu hinggap.Aku yang biasa berkelana, bertegur sapa dengan siapa saja, menjadi lebih banyak menarik diri. Berfokus pada urusanku sendiri, hasil padi ku, dan usahaku membeli sepetak tanah yang lain. Kau tahu, aku sudah mempunyai tiga petak tanah kini. Aku ber…

Sang Pengelana ~ Negeri Para Penyair

Negeri seberang adalah Negeri Para Penyair. Aku tidak menghabiskan banyak waktu disana. Menolak berlama-lama bepergian, sebagaimana lelaki yang telah memilih menetap. Tanamanku masih butuh perhatian, asupan air dan unsur hara. Bisa mati mereka jika kutinggal terlalu lama.Pemahamanku tentang Sang Kuasa bertambah luas, namun rasa-rasanya semakin aku tahu, semakin aku tidak mengerti. Terlalu banyak misteri yang belum berhasil aku ungkap, meskipun telah lima ratus tahun lamanya berkelana mengelilingi nyaris separuh bumi.Sang Kuasa, meski masih menjadi misteri, tapi tetap ingin aku yakini. Karena disitulah aku menemukan, apa artinya kuhabiskan perjalanan-perjalanan yang seakan tiada berakhir. Di Negeri Para Penyair, aku menemukan syahdu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Meskipun aku pernah mendatangi kampung, yang semua penduduknya mengenakan kain di kepala. Menyebut Sang Kuasa pada setiap langkah dan pertemuannya dengan sanak saudara. Mungkin bukan negerinya yang berbeda, tapi aku y…

Sang Pengelana ~ Aku

Adalah Sang Kuasa yang menciptakan Semesta. Setidaknya itu yang aku yakini enam bulan terakhir ini. Di Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi, semua orang memuja Sang Kuasa yang tak tampak oleh mata.Aku telah berhenti menulis surat untuk Alena, sejak surat bersampul biru itu tiba, enam bulan yang lalu.Seperti seseorang yang kehilangan arah, aku mencari pelarian hingga ke negeri seberang. Beruntung aku bertemu dengan seorang pengemudi kapal yang baik hati. Dia bercerita segala hal yang pernah ia temukan sepanjang perjalanannya mengarungi lautan. Yang menarik dari cerita pengemudi itu ialah, di akhir cerita ia selalu mengaitkan sebab pada Sang Kuasa. Meski tak percaya, aku mengangguk-angguk saja. Bisa gawat jika dia tersinggung lalu meninggalkanku di tengah samudera.Ada untungnya juga menjadi seorang pendengar yang terpaksa. Ibarat minum obat yang aku tolak karena pahit, obat ini terpaksa aku telan karena takut menyinggung perasaan. Meskipun rasanya tidak enak,. Tapi efek …

Sang Pengelana ~ Surat Bersampul Biru

Suratmu datang siang itu. Di tengah teriknya matahari, dan arus petani yang bergegas pulang ke pondok masing-masing. Alena, aku menerima nya dengan bahagia yang teramat membuncah. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi ini, langitnya dekat sekali. Matahari pun serasa hanya sejengkal dari kulit kepala. Namun tidak lagi kurasakan peluh yang menetes sebesar bulir-bulir jagung. Karena menggenggam surat bersampul biru darimu, membuatku tenang, seolah hadirmu nyata.Alena, surat itu tidak langsung aku buka. Melainkan aku simpan dengan amat hati-hati, dibalik kantong kain yang kubawa setiap hari. Aku ingin menikmati jejakmu dalam hening dan tenangnya hati. Selepas sore beranjak pergi, sepeninggal matahari. Separuh hariku kuhabiskan dalam bahagia. Bahagia tak berkesudahan. Bahagia yang mampu membuatku tersenyum sepanjang jalan, menyapa semua orang. Bahagia yang membuatku tidak merasa kesakitan, ketika kutemukan sekumpulan tanamanku rusak dimakan hama. Kuhabiskan siang hingga sore…

Sang Pengelana ~ Syukur

Terimakasih, Alena. Engkau masih bersabar menungguku. Hidupku membaik kini. Tabunganku telah mencukupi untuk membeli sepetak tanah di Negeri Para Petani ini. Aku telah menanam tanamanku sendiri, dan sebentar lagi, aku akan memanen hasil milikku sendiri. Untuk pertama kali.Tahukah kau bagaimana rasa bahagia seorang petani yang berhasil memanen jagung dan kedelainya untuk pertama kali? Aku ingin dapat menggambarkan kepadamu rasanya, namun aku teramat payah dalam berkata-kata. Andai aku bisa, akan ku lukis wajahmu yang jelita, menatap dunia dengan mata indahmu yang membulat. Seperti itulah bahagia.Sebentar lagi, Alena. Sedikit lagi, aku akan menemuimu. Mendatangi kedua orang tuamu, dan menggelar pesta di halaman rumahmu. Kau bersabarlah sedikit lagi.Aku tahu kau lelah, berharap dalam cemas menanti kepastian. Aku pun disini terus memanjatkan doa, pada Sang Kuasa - jika Dia ada- agar kau terus meneguhkan hatimu, menungguku yang kian melegam, terbakar terik setiap siang. Dalam diam aku pun …

Sang Pengelana ~ Maaf

Perpisahan memang tidak pernah menyenangkan, Alena. Aku bisa berkata demikian meskipun selama lima ratus tahun aku berkelana menyambangi nyaris separuh isi bumi. Entah sudah berapa ribu perpisahan yang aku lakukan sepanjang jalan, dan tahu bahwa tidak akan pernah kita bertemu lagi. Termasuk denganmu.Aku belajar untuk tidak menangis kala itu. Tidak semenjak perpisahan ku kali pertama, lima ratus tahun yang lalu. Kala usiaku masih teramat muda, dengan penuh ambisi dan haus untuk melihat dunia, aku berpisah dengan kampung halaman. Meninggalkan ayah-ibuku, adik-adik, nenek-kakek dan paman-bibi. Mereka melepasku dengan tangisan. Berpelukan sementara aku melangkah dengan tegar. Sekuat tenaga menahan tangis, meski akhirnya luluh juga dibalik rimbunan bambu. Sejak saat itu aku bertekad untuk tidak akan pernah lagi menangisi kepergian. Tidak akan pernah menunjukkan tangisku pada siapapun. Tidak.. Bahkan pada mu.Tekadku teramat kuat, sampai-sampai pernah di suatu negeri, rumah yang aku tumpangi…

Sang Pengelana ~ Negeri Serba Putih

Aku pernah mendengar, tentang sebuah negeri yang warnanya serba putih. Konon, di negeri itu orang-orang tidak mengenal warna lain selain hitam dan putih, namun hitam bagi mereka bukanlah warna. Melainkan bentuk dari ketiadaan putih. Hanya putih yang mereka kenal, sehingga langit pun selalu ditutupi awan putih tanpa celah.Tadinya aku berniat mengunjungi negeri itu selepas dari negeri ini, Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Namun, seperti yang sudah kau ketahui, Alena, aku memutuskan untuk tetap tinggal dan bekerja di sini. Agar aku bisa kembali padamu, menuntaskan perjalananku mengelilingi nyaris separuh isi bumi selama lima ratus tahun.Jika kau mau, nanti setelah aku berhasil mengumpulkan uang, kita menikah dan berbulan madu di Negeri Serba Putih itu. Itupun jika kau mau. Karena Negeri Serba Putih belum banyak diketahui orang, kita harus mencari sekaligus bertualang dengan hari-hari yang serba tidak menentu. Jika kau mau. Konon katanya, penduduk Negeri Serba Putih a…

Sang Pengelana ~ Muara

Sudah sepuluh hari sejak aku memutuskan untuk menetap dan bekerja di negeri ini. Sudah sepuluh hari juga aku menjalani sesuatu bernama rutinitas, setelah lima ratus tahun lamanya aku mengikuti ritme tanpa jadwal.Bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat ke ladang, memindahkan pupuk dan pakan dari gudang ke lahan, memindahkan hasil panen yang telah dipetik menuju gudang pemilahan. Terus berulang kali, hingga matahari menjelang. Setelahnya aku berbaris dalam antrian makan siang, yang mengular panjang yang jika tidak cepat aku akan kehabisan. Lalu petugas akan membagikan upah kami hari itu, segenggam perak yang bisa kusisihkan sebagian. Menjelang sore aku pergi ke sungai, mencari peruntungan dengan membantu para pencari ikan atau sekedar mencari bambu dan rotan.Semua kulakukan agar dapat meminangmu, Alena. Meski asing dan aneh sekali bagiku memburu kepingan uang, yang selama ini selalu kudapatkan dan kuhabiskan tanpa sisa. Aku yang selalu berkelana, selalu bisa mendapat uang dari apapun car…

Sang Pengelana ~ Hilang

Kemana saja kau, Alena? Seharian kemarin menghilang tanpa jejak. Kau lewati satu tulisan yang kutulis untukmu. Kenapa? Kemana? Aku tau kau tau bahwa aku tau kau mengintipku. Aku tau kau ada, di setiap apa yang kuungkap dalam diam. Diam-diam saja.Aku tersesat, Alena. Di Negeri tak bertuan ini. Negeri yang berada di ambang batas realita dan mimpi. Aku tidak tersesat dalam arah, melainkan dalam pikiran. Semakin kuselami betapa uniknya negeri ini, semakin ku berpikir, jangan-jangan memang keunikan itulah yang kita butuhkan sebagai manusia.Selama lima ratus tahun aku menjelajah nyaris separuh isi bumi, aku pikir aku tahu apa yang kumau. Dengan bertualang, aku pikir aku tahu apa tujuanku tuk hidup. Sekarang jika ku tengok ke belakang, dari semua apa yang telah ku dapat, aku menjadi bertanya lagi.. Apa yang aku mau?Setelah kau menghilang dalam dua puluh empat jam kemarin, Alena.. Tahukah kau bahwa ternyata disitulah aku menemukan jawaban?Tahukah kau bahwa diam mu membuatku gelisah? Aku memar…

Sang Pengelana ~ Bulan

Bulan adalah alasan, kenapa saya mencintai malam. Selama lima ratus tahun menjelajah, Bulan tetaplah sama. Bengkok pada ujungnya, atau bulat sempurna pada masa nya. Cahayanya selalu lembut. Tidak lebih terik, tidak juga lebih redup. Dulu atau sekarang, jaman berubah begitu banyak. Tapi tidak pada Bulan.***Ada desir yang terasa setiap kali namamu kusebut, Alena. Aku tahu kau menunggu. Jauh disana. Meski aku tahu, kau tahu, bahwa aku tak akan pernah kembali. Bahkan jika pun aku ingin kembali, aku akan tetap membiarkan getar yang pernah bersemi di antara kita, menjadi tetap bersemi.Karena itu yang membuat getar itu indah. Bersemi.Jika kita teruskan, maka suatu saat dia akan layu, kemudian gugur. Kau terlalu jelita tuk kulupakan, Alena. Mencintaimu sungguh menyakitkan.Aku terlalu terbiasa berjalan sendirian. Menunggu malam dalam sepi tanpa kawan. Aku lebih suka diam. Sehingga banyak orang salah menebak, disangkanya aku adalah seorang yang bijak. Tidak. Aku hanya merasa lebih baik diam saj…

Sang Pengelana ~ Baris-Baris Tanya

Dalam perjalanan sering kali saya menumpang berbagai macam kendaraan umum. Bertemu sekian juta penumpang silih berganti, tak tentu lagi jumlahnya kini. Sebagian masih berkomunikasi, bertukar kabar walau ratusan tahun telah berlalu semenjak pertemuan kami. Sebagian lain hilang tertelan waktu, entah apa mereka bisa bertahan selama ini.Saya, Sang Pengelana, yang telah lima ratus tahun lamanya menjelajah nyaris separuh bumi, masih belum bisa menjawab satu pertanyaan sederhana: mengapamanusiamenikah?Ribuan orang telah saya tanyai, termasuk pasangan yang juga sudah ratusan tahun menikah. Mengapa?Pernah suatu ketika, saya sedang menumpang sebuah pesawat terbang. Pesawat mengalami turbulen dahsyat ketika baru lepas landas. Semua penumpang komat kamit membaca doa, ketakutan. Mungkin bagi mereka itu adalah sepuluh menit terlama dalam hidup. Bapak-bapal gendut di samping saya wajahnya pias. Mengalami goncangan se dahsyat itu, rupanya hal baru baginya.Saya maklum saja. Orang sangat takut akan mat…

Sang Pengelana ~ Bumi

Jika Bumi dapat berbicara..
Akankah dia berbicara tentang Cinta?
Tentang lelah ia berputar,
Tentang harap ingin bersandar..Jika Bumi dapat menyapa,.
Ah.. Atau inginkah dia menyapa?Dia sudah terlalu terbiasa bergerak sendirian
Berkeliling berputar, mengitari pusat semesta
Jika dia rindu,
Siapakah yang dia rindui?
Jika dia miliki damba?
Siapakah yang dia dambakan?Aku?Aku ingin menjadi BumiTapi tidak..
Aku mencintai Bumi..
Teramat mencintainya, sampai aku tidak ingin menjadi dirinya.Biarlah kita berbeda.
Jika takdir menjawab toh kita akan bersama,
Saling melengkapi dalam ketidaklengkapan,
Dalam ketimpangan yang serampanganAku mencintai Bumi,
Sampai aku bisa mencintai diriku sendiri,Cinta yang tak pernah ingin kudekati,
Namun datang tanpa bisa ku hindari.
Dia ada, meski selalu ku ingkari Bumi..Jikalah lelah dirimu berputar,
Adakah kau ingin bersandar?
Jika itu artinya kehidupan dunia sudah sirna dan pudar,
Adakah kau datang memelukku disini dalam pijar?Ada bayangmu setiap malam, mengha…

Sang Pengelana (3) ~ Dia

Dia membanting pintu. Berdebum keras seakan hendak runtuh. Kepalanya penuh. Wajahnya lelah. Ia tidak tidur, sudah dua hari. Ia lantas bergegas membuka pintu kamar. Melempar semua barang bawaan. Dan menangis.Entah apa yang ditangisi. Tidak ada sesuatu yang buruk sama sekali. Pertemuan berjalan lancar dan sesuai dengan misi. Semua mulus, tanpa hambatan yang berarti. Dia pun bisa tangani semuanya sendiri.Air matanya menggenang, lalu mengalir. Tak tertahan ia telah sesegukan di sudut kamar. Dia hanya merasa.. Sepi.Di luar hujan bergemuruh begitu deras. Tidak menyisakan sebutir pun debu untuk bisa terbang. Ia tak peduli. Hujan makin membuatnya sendiri. Tidak ada yang lebih baik selain menyendiri, begitu ia pikir. Namun tidak kali ini.Dalam beberapa fase, ada saat dimana ia ingin ditemani. Ingin bersandar, pada apa yang ia sebut sebagai Rumah.***Saya menyaksikan adegan emosional itu tanpa kata. Tanpa suara. Siapalah saya ingin menyapa. Saya hanya senyap yang tak bisa diungkap.Menyaksikannya…

Sang Pengelana (2)

Lucu.. Begitu pikirku saat melintas Negeri ini. Negeri dimana aku bertemu si Api. Seseorang yang amat antusias pada banyak hal, namun jatuh hati justru pada Bumi. Bukan Bumi yang sedang kujelajahi.. Tapi seseorang yang dia sebut dengan Bumi.What do you like the most about Earth? Begitu pertanyaan saya ketika dia selesai bercerita tentang jatuh hati nya yang pertama kali ini. Ya. Pertama kali. Api tidak pernah jatuh hati. Ia membiarkan hatinya terkungkung, meski raga nya berpindah kesana-kemari. Api bersemu ketika pertanyaan itu saya lontarkan. Senyuman nya manis sekali. Saya mengenali senyum jenis itu, senyum yang muncul hanya jika seseorang benar-benar jatuh hati.Negeri ini memang lucu, tapi sampai sekarang belum ada yang menandingi kelucuan Si Api yang tengah jatuh cinta.Dia melupakan segalanya. Dia mengabaikan segalanya. Dia membakar semua yang dilewatinya, meski Bumi diam tak bergeming. Terang saja dia diam, Bumi adalah sang bijak yang tidak akan terpengaruh oleh hal-hal kecil sep…

Sang Pengelana

Ah.. Maafkan saya lupa memperkenalkan diri, padahal sudah dua hari menulis disini. Saya.. Sang Pengelana. Begitu cara saya menyebut diri sendiri, namun orang lain rupanya lebih suka menyebut saya sebagai Air. Karena saya lahir di romantisnya Bulan Februari. Mungkin selanjutnya, saya yang akan mengambil alih tulisan-tulisan disini. Mungkin juga tidak. Entahlah. Rekan saya, orang-orang mengenalnya dengan Api. Karena ia lahir di membaranya bulan Maret. Dia mungkin sedang beristirahat sekarang. Menghabiskan tiga hari di Puncak, suatu tempat yang katanya dingin sekali. Rekan saya itu nampaknya sedang bahagia. Senang sekali dia melepas jalur komunikasinya. Mungkin ia senang, karena bisa menghabiskan waktu bersama Bumi favoritnya. Ah.. Taukah kamu tentang Bumi? Nanti akan saya ceritakan.Sekarang, saya ingin berkenalan.. Atau memperkenalkan diri padamu. Atau.. Jangan-jangan, kamukah Bumi itu?***Saya telah menjelajahi seisi Bumi.. Bukan Bumi yang saya maksud tadi.. Tapi Bumi sejatinya Bumi.. D…

Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang (2)

Tapi di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, anehnya saya mendapati betapa baiknya keteraturan. Saya memang hanya mampir, tak sengaja sampai di penepi, tidak juga berani untuk masuk lebih jauh lagi. Saya hanya bisa mengamati, dan takjub sendiri.Terus terang selama ini, saya tidak pernah menyukai kata 'teratur'. Saya, Sang Pengelana. Bumi adalah Rumah, dan tidak ada Rumah yang boleh dilewati begitu saja. Semua harus disinggahi. Maka tanpa keteraturan, saya bebas. Bebas menyinggahi sudut mana saja Rumah saya. Saya bebas, bebas menentukan arah, dan pulang atau tidak pulang. 'Teratur' bukan kata yang tepat untuk jiwa bebas seperti saya. Yang menganggap Bumi sebagai Rumah. Tapi di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, saya mendapati diri saya menyukai, mengagumi, bahkan terobsesi dengan keteraturan yang ada. Hanya butuh satu momen bagi kita, saya dan kamu juga, satu momen untuk merubah keputusan - merubah pikiran - dan cara kita memandang pakem yang selama ini kita genggam. Dan bagi…

Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang

Di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, jalan raya dipenuhi lalu-lalang kendaraan cepat. Persis kesetanan mereka melaju kencang. Tak peduli apapun yang ada di depan. Semua melesat seperti kilat.

Karena semua penduduk tahu, bahwa di negeri itu, tidak akan ada penyeberang jalan. Semua berjalan lurus dalam arah yang sama. Selalu sama dan tidak akan pernah berubah walau sepelemparan batu.

Di Negeri Yang Tak Bisa Menyebrang, arah adalah sesuatu yang mutlak. Tidak akan pernah berpindah, karena semua berjalan dalam satu garis lurus. Menuju garis yang nampaknya seperti batas tapi tak berujung. Mengapa bisa begitu? Saya pun tak tahu. Saya hanyalah pejalan, yang kebetulan tersasar ditepiannya. Enggan masuk, karena konon katanya, orang asing yang terjebak di dalam Negeri Yang Tak Bisa Menyeberang, tidak akan dapat keluar dan mencari jalan pulang.

Di Negeri itu semua orang menggunakan helm dan masker tertutup. Berjalan, berlari, berkendara sekencang yang mereka mampu. Semua mata memandang lurus. Dan …

The Pink House

This post might be too sentimental.

***

I came back to the house, I thought I'm okay with that. Just like any other house I have lived before, it will give me a glance memory, and that's it. But not today.. as I'm standing there.. inside The Pink House.

***

I have been too many things for these past two years. Things that changed me, and I could never go back to where I used to. People may know an old version of me, so I better close the door for them. As they won't recognize this version anymore. They will laugh while pointing their fingers at me, telling me I'm overwhelming things. 

Heartbreak.. being left alone.. huge change in life.. career stairs.. you tell me what to not change when somebody is going thru that much. 

A person who I thought would die for me.. left me.
A best friend who I thought ingeniously loved me.. betray me. 
A partner, who I thought is the one to talk about everything with.. stabbed me. 

I can't tell you how much I learn from this past two yea…

The Woman

It is exhausting, isn't it? Being a woman?

You've gotta get sick every month - or three weeks - or two weeks - whatever your cycle is, and not to mention the pre period and post period. All physical and emotional roller coaster you should face. 

There's a woman crying to me, whining about his long lost boyfriend who she couldn't talk to anymore. He dumped her, without she know why. And when I tell her that everything will be alright, she asked me instead.. whether or not she should ask him if he missed her. I definitely said no. 

Listen, Woman..

It will never be easy to grow up as a woman. I still meet a forty something female, who is a girl, not a woman (yet) let alone,. a lady. Pew! 

I was once got stabbed from the back, from a forty-something female, who talk bad about me to the people around me. And know how did it end? Well.. doesn't good. But still, it was an amazing experience 2017 has taught me, got stabbed from behind, from someone I thought as my partner.. or …

Cemburu

Kalian pernah cemburu?Ah.. Jangan bohong. Pasti pernah, kan. Cemburu adalah hal yang lumrah kok. Berarti masih lembut perasaannya, dan kuat rasa memilikinya.Beruntunglah orang-orang yang dicemburui. Karena saya (pernah) menjalin hubungan selama lima setengah tahun, dan selama itu pula tidak pernah dicemburui. #curcol.***
Karena dua hari ini sudah ada dua orang yang mengadu pada saya soal cemburu-dicemburui, maka saya tertarik untuk bahas disini malam ini (selain karena gak ada bahan lain, secara dua hari di rumah terus. Haha).Kenapa sih seseorang itu cemburu?
Apa karena dia memang cemburuan sifatnya?
Lalu kenapa dia bisa punya sifat pencemburu?Saya mencoba menarik dari akar penyebab kenapa cemburu itu bisa ada;Cemburu datangnya dari rasa memiliki yang begitu kuat, saking kuatnya jadi takut jika yang dimiliki itu pergi. Di bumbui oleh perasaan insecure, (yang bisa dimiliki oleh perempuan maupun laki-laki), rasa takut kehilangan itu semakin menjadi. Apalagi kalau pasangan insecure, yang…