Skip to main content

New Year Resolution: Minimalism - A Mind Changing Moment

Sekali lagi, kalendar masehi berganti. Orang-orang turun ke jalan, merayakan pergantian tahun dengan kembang api, nyanyi dan tari. Sembari berkata dalam hati, bahwa akal pikiran dan kebiasaan, akan mulai di reset hari ini.

Tahun baru, pribadi baru, semangat baru, padahal tidak ada yang membedakan antara 1 Januari 2018 dan 22 Maret 2018 (except that's when my birthday is), karena keduanya adalah sama. Sama-sama hari yang baru. Tidak peduli dengan itu, setiap orang tetap saja membuat resolusi tahun baru. Tidak ada kan yang membuat resolusi minggu baru, bulan baru. Tidak. Hanya pada pergantian tahun seseorang akan mulai me-setting tujuannya hidupnya. (Tapi masih saja ada orang yang tidak percaya pada keterhubungan antara pergerakan tata surya dengan kepribadian manusia. red: Astrology).

Pergantian tahun sebagai permulaan dari pergantian resolusi hidup, menunjukkan adanya ketergantungan pribadi/karakter manusia terhadap posisi tata surya. Saat bumi menyempurnakan perjalanannya, saat posisinya berada di satu titik (yang berbeda beberapa derajat dari hari-hari lain), saat itulah manusia meniatkan langkah barunya. Selanjutnya, Bumi akan kembali berevolusi, beredar mengelilingi matahari.

***

Umur memang tidak ada yang tahu, kita semua menua seiring dengan pergantian hari yang baru. Tidak ada yang bisa menghentikan jalannya sang waktu, yang bisa dilakukan hanya memanfaatkan dengan sebaik-baik perilaku.

Bagi seorang minimalist, setiap detik harus dinikmati dan dimanfaatkan dengan baik. Meskipun saat itu keinginan dan harapan belum menampakkan wujudnya. Menikmati apa yang ada di depan mata, dan tidak sibuk menerka-nerka akan bagaimana nantinya. 2017 rupanya berjalan dengan baik, kan?

Meminimalkan rencana-rencana yang hanya akan menimbulkan ekspektasi ketinggian, adalah cara jitu menghadapi 2018. Belajar untuk berpasrah - tapi bukan menyerah - dan yakin bahwa semua akan berakhir indah.

Jangan khawatir jika mimpimu belum terwujud sekarang. Tidak usah peduli dengan kata orang bahwa kau belum seperti yang mereka harapkan. People live at their own pace, be slow, or be fast, it's all yours. 

Jika saat ini ada yang tengah mendamba pekerjaan, yakinlah bahwa langkah yang diambil adalah mendekatkan diri pada pekerjaan yang diinginkan. Jika saat ini ada yang tengah mendamba pasangan, yakinlah jika setiap keputusan yang diambil adalah untuk mendapat ridha-Nya dalam mempertemukan kalian berdua.

Selalu ada hal baik yang terjadi jika seseorang berbaik sangka pada semesta. Karena energi positif yang dipancarkan oleh seorang optimis akan berbalik positif pada dirinya, dengan yang kita kenal sebagai blessing. 

***

Tahun terus berganti, dan menua adalah pasti.,
Perubahan bukan sesuatu yang bisa kita hindari,.
Maka untuk menyikapi setiap hari yang tak terganti.,
Will you change your mind, for me? 

***

Merubah prinsip dan cara pandang terhadap hidup bukan hal yang bisa terjadi dalam sehari-semalam. Mentang-mentang satu januari, simsalabim tiba-tiba kita menjadi orang berbeda. Apalagi menjadi minimalist. Buka proses sehari jadi. It takes effort, consistency, and commitment. Menggeser pola pikir yang tadinya konsumtif menjadi kreatif, adalah level lanjutan minimalism.

Januari baru akan dimulai, so.. shall we? 


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …