Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2021

What I Truly Feel About Ramadan,

  Setiap jiwa yang tenang, pasti tergetar saat sadar bahwa Ramadan telah mendekat. Sukacita bersiap menyambutnya, membersihkan diri dan hati, dan berbenah ruang.  Namun bagi saya.. I was thirteen when I first left the house. Saya lulus SMP dan harus pergi meninggalkan rumah. Diutus oleh Papa demi pendidikan yang lebih baik, di sekolah berasrama, katanya begitu. Untuk memperbaiki akhlak saya yang nakal, susah diatur, dan keras kepala. Di rumah, saya selalu berantem dengan adik saya yang laki-laki, sehingga kami harus dipisahkan. Sehingga kami tidak pernah lagi punya kesempatan untuk rekonsiliasi, untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan meninggalkan di jiwa-jiwa kecil kami.  Sejak saat itu, setiap Ramadan hendak tiba, ada ketakutan yang selalu saya sembunyikan di dalam hati. Ketakutan kecil, yang selalu berhasil saya tutup rapat-rapat. Tahun pertama saya melalui Ramadan tanpa orang tua, karena masih sekolah dan belum pernah merasakan Ramadan di kampung halaman Papa. Mereka tentu tidak

When its raining after training

  I like watching the rain falls I like the sound of them pouring, I like sitting in my front porch staring at the sky, as the water blessed the Earth. I like the window, from where I can see the rain. Where I lie on my bed, watching them as they dance. *** Bogor, March 30 2021. One can only wish, for a window with Sun, Moon, and Rain.

My Very Unusual Struggle

  I wanna remember this 'struggle' so that my future self will laugh at it. Karena pernah ada masa di mana dia berhari-hari memikirkan hal yang sangat.. sangat.. important ini. *** I'm more of a shoes than bags kind of girl. Kalau beli tas entah kenapa saya sangat sangat picky, jadi saya hanya punya sedikit sekali; satu occasion, satu tas. Beda dengan sepatu, yang sering mengundang komentar siapapun yang datang ke rumah, dan selalu berhasil saya tangkis dengan dalih klasik; minimalism bukan soal quantity. Blah. Padahal saya nya saja yang gatelan kalau lihat sepatu melintas di mana-mana.  A year into pandemic.. sepatu rupanya awet dan anteng saja disimpan di dalam box masing-masing. Satu-dua kantong silica gel cukup membuat permukaan mereka aman dan tenang. Beda dengan tas. Setelah satu tahun tidak digunakan, begitu saya periksa.. satu-satunya tas 'main' saya kulitnya sudah mbrudul gak jelas. Selain ugly dan lusuh, juga tidak ramah di baju karena si kulit yang luruh

Dia yang mencintaimu

  Dia yang tumbuh tanpa orang tua, hanya mengenal ibu hingga usia kanak-kanak. Bergantian diasuh oleh Kakek lalu Paman, beranjak dewasa dalam kesahajaan. Bertemu cinta sejati di usia gemilang, bertumbuh dalam naungan ilmu, kasih, dan kebijaksanaan hidup. Hingga satu persatu orang yang ia cintai.. pergi meninggalkannya. Mereka pergi di saat beban tanggung jawab kian besar menggantung di bahunya. Seakan terus menerus menjadi pengingat bahwa kau di sini sendiri wahai manusia! Pamannya pergi, istrinya pergi.. kekasih yang ia cintai sepenuh hati, yang paling mengerti dirinya, belahan jiwanya, meninggalkan ia sendiri. Baginya hidup harus terus berjalan. Namun tak sedikitpun ia berubah. Ia tetap sahaja, dermawan, lembut namun tegas. Teguh pendirian dalam mengemban tugas. Walau ujian tidak berhenti menerpa. Kata orang, ada sebutan bagi mereka yang ditinggal mati oleh orang tuanya: yatim/piatu, atau yang ditinggal mati oleh pasangannya: janda/duda. Tapi tidak ada sebutan bagi mereka yang diting

Sebuah Pilihan

  Dua tahun lalu, saya berdoa. Berdoa dalam sujud yang sangat panjang. Menangis. Saya meminta, memohon, agar didatangkan satu sosok yang bisa jadi pasangan hidup. Lalu saya tertidur. Keesokan harinya, saya menempuh perjalanan ke Jakarta, untuk memenuhi ajakan buka bersama. Dalam perjalanan, diam menunggu, saya tengok ponsel. Sebuah pesan tertulis di situ: ' Ma, ada temen gue lagi nyari taarufan. Lu mau ga gue kenalin? Ini ig nya.' Saya terdiam. Di dalam commuter line yang sepi penumpang, saya duduk termangu. Ponsel saya simpan, sebelum tentu saja saya screenshot dan kirim ke teman yang bijak. ' Ini gimana jawabnya?' tanya saya, yang jawabannya baru saya buka selepas acara berbuka. ' Wah.. tapi gue belum pernah nih ginian.. taarufan gini gini.. hehe'  Jawaban itu.. adalah pilihan. Bukan menerima, bukan juga menolak. Teman saya paham, dan tidak lagi melanjutkan. *** 'Kak, nanti Om kenalin deh. Ini ada anak buah Om,' ujarnya sambil mengacungkan jempol, meng

Falling in Love with Boredom

  Being Twenty Nine, Day One. This is probably the most 'normal' birthday I had for the past five years. No over enthusiasm, no fake laugh, just plainly and calmly, and the people who celebrate my birthdays, are the real ones. I don't have to remind them that it's my birthday (which I always did annoyingly and proudly), because now.. is the first time in five years since that trauma.. I feel like.. healing. The only reason why I exaggerate my birthday was because he left right before it. He brought me a huge teddy bear, one that I always wanted, left it on the door, and never returned. Now, the teddy is gone, tetangga's sister was asking to adopt him and I gave it to her happily. I no longer have any expectation on what may comes next, and just focus on what I can change with my effort. This is a new kind of relieve.. one tranquility I don't have to fake. And besides.. I spent the 'day' firstly at twelve a.m.. di bengkel ketok mejik Pekayon! >.< Ja

Maret belum selesai..

  Ya, beberapa hari ini saya absen menulis. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena side job yang datang (biasanya) setahun dua kali, kini sudah tiba. Pekerjaan sampingan menerjemahkan dokumen ini sudah saya geluti nyaris lima tahun terakhir. Hasilnya lumayan untuk bangun dapur, pagar dan kanopi. Jadi salah satu sumber tambahan yang tidak pernah saya tolak, meski dulu sempat kewalahan bukan main saat masih harus terbang kesana kemari untuk assessment. Ditambah lagi saya baru saja kehilangan satu anggota keluarga inti. Anggota keluarga yang saya panggil dengan panggilan amat khusus. Mama terlahir dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama saya panggil dengan Papa Gode, harusnya disebut dengan Pakde karna Eyang masih ingin mempertahankan kesukuan-Jawanya di kalangan anak-cucu, tapi gagal karena terlalu aneh sebutan itu di tengah-tengah kami yang sudah nyunda pisan. Anak terakhir, perempuan, saya panggil Euteu. Harusnya Ateu, orang-orang umum manggil tante

Pengajar, Bersahaja

  Sebuah jambu kristal besar berkulit mulus tanpa cela. Masih dibalut plastik dan tangkai hasil dipetik. " Nih, buat lu. Organik, dari pohon bokap gue " ujarnya sambil menyerahkan jambu kristal besar. Saya terima dengan mata membulat tidak kalah besar, antusias mendapatkan buah organik, hasil petik sendiri. Bukan main-main, yang memetik adalah seorang pengajar yang dikenal senang 'memudahkan' mahasiswa. " Thanks, Peng" begitu saya memanggilnya; Epeng. Dia pun memanggil saya dengan sebutan: B.... ah sudahlah. Lima tahun saya menutup rapat nama panggilan itu.. bukan hanya karena tidak mau disebut begitu, tapi saya juga tidak mau mengunjungi memori lama saat masih berjibaku dengan organisasi tersebut. Biarlah jadi memori dan pelajaran. Kawan saya ini sekarang menikah dengan seseorang yang juga sahabat saya semasa kuliah. Keduanya bertemu dengan romantis, di bawah rumah pohon, saat kami sedang belajar tumbuhan bawah alias gulma. Sebetulnya mereka sudah saling ke

Be where you are, and live for the present

  Contentment doesn’t happened overnight. You have to make an effort to find one, and to live a life to the fullest. The key to happiness it to be where you at, stop your mind from wandering to the shoulda woulda coulda things, and be present. Open your heart to whatever surrounds you. They’re the ones that is real. They’re the ones who was there when you need. If somebody would ever hurt you, let them be. It’s in the past, so there’s nothing you can change about it. Forgive them and move on. It’s not for them, it’s for you. The wound needs to heal, and the only way to stop it from bleeding is to stop revisiting those terrible memories.  Be present. Focus on the people who love you and care for you. Let them in. Let them feel included in all aspects of your life. Learn to be.. loved. Because darling.. There will come a day, when you hear the news that they’re gone. Or perhaps.. you’re gone. At the end of the day, all you had to keep is just memory and the time you’ve spent together. Do

What Solitude has Taught me (2)

  Solitude has taught me many things. But the precious one is about the value of people. Friends and family are irreplaceable. Jangan sampai kehadiran mereka tergantikan oleh aroma orang baru yang hanya cemerlang tuk sesaat. Biar bagaimanapun, merekalah yang telah lama hadir dan berada di hidup kita. Walau tidak terus menerus ada.. tapi ikatan yang ada tidak bisa diabaikan begitu saja. Walau mereka adalah orang-orang yang sulit untuk kalian hadapi. Mereka menyebalkan, kadang egois, tak jarang bikin sakit hati. Mereka juga yang sering membuatmu tersinggung, ucapannya paling tidak bisa diterima, dan kerap membuatmu berjanji untuk tidak pernah menemuinya lagi. But solitude has taught me that not even that, should replace them in your life. Because at the end of the day, saat lampu sorot sudah mati, and the crowd slowly leave you standing, they're the ones who are clapping.  Di umur 28, saya baru mengenal jenis hidup yang ingin saya jalani. Karena selama dua puluh delapan tahun itu pul

What Solitude Has Taught Me

  Solitude has been my safest place since childhood. Growing up in Eyang's house, far from any neighbors I can play, masuk sekolah di umur yang lebih muda dari mayoritas teman-teman, lalu hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, membuat saya terbiasa menyendiri dan bermain dengan imajinasi.  I like being alone, but not in the crowd. At school, you'll always find me among the flock, terutama saat mahasiswa -saya butuh kerumunan itu untuk mencegah nyasar masuk ruangan- jadi sepulang sekolah atau kuliah, saya lebih suka menyendiri di kamar.  Tapi kesukaan saya menyendiri, pikiran-pikiran liar yang lebih sering saya redam, keinginan untuk berkata tidak jika ada ajakan yang saya tidak sukai.. hanya baru bisa saya pelajari, akui, dan kemukakan setelah pandemi. Pandemi adalah ruang bagi saya untuk menyadari dan mengakui bahwa saya memang tidak suka terlalu banyak berinteraksi, saya tidak suka obrolan yang tidak perlu (kecuali obrolan itu dengan orang yang saya suka, klik, a

When you open your heart, eventually you’ll have everything that you want

  Pingin kue cucur dari akhir Januari: kesampean hari ini. Pingin ke Kopi Nako, walau sekedar tahu kayak apa sebenernya lokasinya: kesampean hari ini (walau belum kesampean sampe masuk). Pingin ganti baterai jam yg udh mati dari Januari: kesampean hari ini. Kesampean akhirnya pingin menjalani ritual lama: muterin Botani Square, masuk-masuk semua store, dan mencentang beberapa list yg sudah ditulis lama sekali. All these.. karna saya mencoba membuka hati. *** Ada satu kebiasaan dari keluarga yg sangat saya tidak suka: mereka selalu impromptu terhadap sesuatu yang mestinya butuh persiapan. Saya adalah orang yang penuh perencanaan. Jika saya sudah memutuskan untuk A, maka itu artinya setelah itu ada A.1, A.2, A.3, dst yg akan saya lakukan. Kebiasaan mereka adalah meminta saya melakukan sesuatu yang sangat di luar dugaan, dan merusak semua rencana yang sudah tersusun rapi. But I learned the hard way. Pernah suatu ketika, Om saya meminta hal yang sama. Padahal saya sudah punya rencana, dan

Papa Gode & Eyang

  The typical Father and Son, one with ego one with pride. My Grandfather is a Javanese who happened to spent half of his life in Sunda Land, met a woman, fell in love, got married, and turn to be a Sundanese himself. Somehow he still put Javanese identity to his children, named his sons with very Javanese names, and made me called his eldest Son with Papa Gode instead of just Uwak (Sundanese title for 'uncle'). Papa Gode means he is the eldest as short of Pak'De (Javanese title for 'uncle') but I don't think this title is common.. probably I could say we're the only family in this country referring to the eldest uncle as Papa Gode. The other meaning of it is.. Big Papa or Fat Papa.  I barely know him, unless for a few car rides I gave him last year after we celebrate Eid. I gave him a ride until Cibubur, and only till the exit toll gate before I turned around and continue home. (The second time was the one I regret the most, I was very certain that I'll

But did Maryam know?

  She was born a saint, her childhood was spent in the chamber. Serving God.. that's what she's been told. An obedient girl she is, obeying the rule without ever questioning. She is devoting her life to Allah, and content with it.  Until she carries a child. A fatherless child. Fatherless as she know, but not with society. They judge her, despise her, called her sinner, called her a disgrace to the community. A saint woman was once wish to be dead. Under Palm Dates Tree, she is wishing for death. Death is much more preferred to me now, she said which we recites loudly slowly beautifully in the Quran now. A saint woman, whose entire life is devoted to serve God.. is wishing to die while delivering the baby.  Now we read her story and just know it. We know she is strong enough to face the trial. We know now that she is one of the most honoured women of all humanity. But the question is.. did she know?  When she finds out her pregnancy, did she know that she will be strong enough

Love is always the secret ingredient

  Cookies that I made for myself for Lebaran Love is always the secret ingredient. A pinch of that will sweeten your life. Don't be too much because you'll get drunk, don't be too little, because you still need it anyway. Remembering Eid last year, and I'm terrified that I will spend it alone again this year as the government cut the holiday. So this is what I'm doing right now.. preparing for the worst like I always do. Learning new recipes for one or two. Just in case I should stay here, alone in this town. Again. *** Bogor, 2 Maret 2021 Habis nonton the Proposal (untuk kesekian kalinya). 'I've been alone since I was 16. I forgot what it's like to have family. To love you, make you breakfast, and tell you they wanna come visit you on the holiday..' and she can't swim.  'Trust me, you really don't wanna be with me' I know how she feels.

Lelah ya?

  Sabar ya, paling juga cuma sebentar. Habis ini kita pulang, lalu istirahat. Baik-baik lah terhadap emosi. Jangan terlalu terbawa suasana hingga mengeluarkan kata-kata tidak bijaksana. Dinginkan kepala sebelum mengambil keputusan. Berjalanlah keluar. Lihat warna langit. Tadi pagi awannya pun gemerlap saking bahagianya menyambut bulan yang baru. Yang terjadi hari ini bukan segalanya untukmu. Tetap tenang, hela nafasmu dalam, hembuskan perlahan.  Tenang.. Nikmati aliran air mata kesalmu itu. Tumpahkan semua jangan ada yang bersisa. Karena dua menit lagi, hadirmu akan dibutuhkan oleh dunia. Ada orang-orang yang menunggu instruksi darimu, ada orang-orang yang menunggu semangat yang kamu tularkan. Sabar ya, paling juga cuma sebentar. Habis ini kita pulang, lalu istirahat. *** Bogor, 1 Maret 2021 Saya banyak menulis, karena saya tinggal sendirian. Meski demikian, saya tidak mau membiarkan sembarang orang masuk lalu lalang. Lebih baik sendirian berkutat dengan pikiran, ketimbang berbicara pa