Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2018

Zona Nyaman Minimalist

2019 datang dengan harapan-harapan baru yang dikulum setiap insan. Meskipun tidak ada yang benar-benar baru dari pergantian tahun. Hanya hari yang berbeda, di tanggal bulan dan tahun berbeda. Bukan berarti akan membawa perubahan yang berarti dalam hidup, sifat atau kebiasaan seseorang. Beruntung bagi kami yang beragama Islam, momentum perubahan diri bisa kami dapatkan secara sukarela maupun terpaksa di bulan Ramadhan. Meski terpaksa, akhirnya pasti akan baik juga jika dijalani dengan baik. Kadang memang manusia itu harus dipaksa untuk bisa menyukai suatu kebaikan.
Banyak orang berkata, tuk meninggalkan zona nyaman. Tepat di tahun ini, saya mulai mendefinisikan ulang apa itu zona nyaman. Karena ternyata tidak ada juga zona yang benar-benar nyaman. Makna dari “zona nyaman” seringkali diartikan oleh para pegiat alam liar, petualang, pencari jati diri, sebagai rutinitas hidup di perkotaan, berpindah dari kantor ke rumah, pada jadwal yang sudah di set dengan rapih. Padahal.. apakah itu sebe…

Mungkin Nanti

“Kita menghilang saja”“Kemana?” Tukasku cepat, hal-hal misterius memang selalu membuatku antusias. “Entah” ujarmu sambil mengangkat bahu, memandang lurus ke depan. Aku mengikuti arah pandanganmu.
Benteng tua berdiri kokoh di hadapan kita. Tegak seolah tidak pernah tertembus peluru meriam ratusan tahun lalu. Bau tanah basah sehabis hujan mengisi ruang terbuka, yang kita hirup dalam-dalam.
“Kita pindah ke satu kota, tanpa mengabari sanak saudara. Toh mereka tidak akan bertanya. Cukup kabari orang tua, dan berpesanlah untuk tidak memberitahu pada siapa-siapa” ujarmu setelah hening beberapa saat.
Aku memenuhi rongga dengan aroma tanah basah. Mencoba berpikir tenang, jangan terlalu antusias.
“Ide bagus..” ujarku pelan “aku sudah muak dengan semua di sini. Kebohongan yang sama, pembenaran yang sama. Ketidakdewasaan yang mengungkung dan menuntut ku untuk selalu menjadi anak kecil” tanpa sadar aku mengepalkan tangan. Geram.
Kamu mengalihkan pandangan ke arahku. Menatapku dengan tatapan lembut yang …

Celebrating Two Years of Minimalism

Minimalism adalah entry point bagi saya menemukan apa yang saya yakini sekarang. Saya hanya ingat awal Januari 2017 lah pertama kali saya mendengar kata ini, dari obrolan kopi sore hari bersama Ka Bukhi dan Ka Dee. Waktu itu, kami sedang sangat antusias untuk berbenah diri menuju kehidupan yang lebih dewasa.

Singkat cerita, kami pertama kali dipertemukan di Ubud, Bali pada pelatihan Rural Enterpreneurship. Lepas dari situ, kami menjadi teman akrab yang bertukar cerita tentang banyak hal karena latar belakang kami yang berbeda. Kami bahkan membuat grup obrolan sendiri yang isinya hanya kami bertiga (dan ngomong-ngomong saya punya tiga lagi grup bertiga lain, yang membuat saya berpikir, ternyata group of three itu efektif sekali ya).

Sebentar lagi akan genap dua tahun saya mengenal minimalism, meskipun prakteknya baru berkisar 1,5 tahun yang lalu. Saya tidak langsung mempraktekkan minimalism ketika disodorkan teknik ini oleh Ka Bukhi. Hanya mencoba untuk menelusuri, membaca, dan menonto…

Adalah Cinta

Ada dua masa, di mana menulis menjadi terasa mudah: saat sedang jatuh hati, atau patah hati.
Adalah cinta, yang membuat dunia menjadi lebih berwarna. Melambungkan angan, memimpikan indah. Adalah cinta, yang membuat Adam merasa sepi di Surga yang tanpa tepi.
Aku beruntung pernah mengalami keduanya, dan memetik pelajaran di sela-selanya. Allah seperti sedang menyiapkanku untuk menghadapi satu anugerah yang selalu ku damba. Maka Dia hadirkan cinta yang semu, bahagia yang palsu, lalu Dia tarik semua itu hingga berlalu. Menyisakan remuk, hancur dan sendu. Lalu Allah hadirkan cinta. Dalam teka-teki yang tidak pernah bisa aku tebak. Datang dengan indahnya, namun hanya hening yang bisa ku sapa. Kita begitu dekat, namun dinding pemisah itu begitu tampak nyata. Tidak bisa lagi kutebak apa yang dia rasa. Membuatku berpasrah, memasrahkan hati dan takdir hanya pada Dia yang kuasa.
Waktu berlalu, aku semakin sadar bahwa revolusi Bumi tidak berpusat pada diriku. Aku berhenti mengaitkan semua kejadian, …

A Note to Remember

Entah nanti akan berakhir bersamamu atau tidak,Aku bersyukur pernah mengenalmu dan jatuh hati padamu. Karena dari situ, Aku bisa keluar dari cerita cinta yang salah, Menemukan diriku, Dan mencintai Tuhanku lebih dalam.
Terimakasih telah pernah menjadi cuplikan cerita dalam hidupku, Menjadi nama yang kuperbincangkan dengan Rabb ku, Membuat ku menemukan tujuan baru; yaitu untuk merasa dicintai oleh orang yang mencintaiku,
Berkatmu aku belajar tuk memaknai kata-kata Tuk diam jika tidak perlu banyak bicara Tuk mencintai hening jika sebelumnya ku selalu mendominasi ramai,
Darimu aku belajar tuk jujur pada diriku sendiri, Untuk benar-benar mengatakan hanya yang aku rasakan, Untuk berhenti menyelubungkan perasaan. Darimu aku belajar tuk berkata tidak, tanpa memberi alasan Aku belajar tuk bilang ‘tidak peduli’ hanya jika ku benar-benar tidak peduli Darimu aku belajar, bahwa tidak semua orang punya cukup waktu untuk memperhatikan apa yang kita sembunyikan yang kita ingin orang lain temukan. Rumit bukan?
Karena…