Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017

Complexity to Simplicity

Semakin 'complex' hidup seseorang, semakin sederhana keinginan untuk dirinya. Minimalism, selain bentuk dari rasa syukur atas apa yang dimiliki saat ini, juga merupakan bentuk dari sedikitnya 'keinginan' yang dimiliki. Yang saya maksud dengan 'complex' bukanlah sesuatu yang 'complicated' tapi lebih kepada - padat. Ya, padat. Padat akan pengalaman, pengetahuan, padat akan hal-hal yang dipahami tanpa kata, padat akan kesadaran,. Jika seseorang sudah berada pada tahap ini, keinginannya terhadap kuantitas akan berkurang. Ia ingin kualitas. Ia ingin sesuatu yang beyond number. Ia ingin sesuatu yang tidak bisa diukur oleh alat hitung manusia. ***Sore ini sepulang kantor saya mampir ke mall. Sesuatu yang belakangan kemarin lumayan sering saya lakukan sekedar 'melatih' kemampuan mengendalikan diri terhadap keinginan belanja impulsif. Saya berniat membeli sebuah tas, dengan kualitas. Selagi disana, saya tertarik pada dua buah tas yang akhirnya harus dipi…

Pelajaran dari Sebuah Buku

Biar saya ceritakan tentang sebuah buku, yang membawa saya pada banyaknya pelajaran terutama di hari ini. Bukan karena saya telah membaca buku itu, dan justru sebaliknya.***Ada sebuah paham yang saya yakini mempengaruhi karakter seorang manusia. Paham yang asalnya dari semesta. Paham yang saya yakini itu, akan terdengar bodoh dan tidak logis bagi sebagian orang, dan terdengar amat masuk akal bagi sebagian lain.Salah satu teman saya, termasuk ke dalam orang yang menganggap paham itu adalah sesuatu yang sulit untuk dipercaya. Apalagi dijadikan pegangan. (Meskipun saya juga tidak menjadikan paham itu sebagai pegangan), namun saya berusaha meyakinkannya bahwa tentu ada rahasia semesta yang menjadikan paham itu lahir dan diturunkan sejak ratusan generasi. Untuk meyakinkannya, saya butuh bukti ilmiah. Karena teman saya ini adalah seorang cerdas yang hanya bisa menerima hal-hal dengan penjelasan yang juga cerdas. Maka suatu ketika, dengan impulsive saya berkata.. "Baiklah, tunggu hingga…

Simplicity

Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untukapakitadiutuskesini? Untukaparuhkitaditiupkankejasadini, dan menghunisatubagiankecil dari semestabernamabumi? "Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika.Pahala? Untuk apa mencari pahala? "Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial.Bahagia? Bukankah disanakita sudah bahagia?Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala? Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana?***Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas.Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini?Jika pahala dan bahagia yang saya cari, apakah itu tuga…

Complainer Procrastinator

Seringkali stress timbul karena pengaturan yang kurang rapi, baik dalam hidup maupun bekerja. Saya pernah melihat sebuah ruang kantor yang bertempelkan big white board besar seukuran nyaris separuh ruangan. Papan itu penuh dengan tulisan, daftar panjang tugas yang belum rampung dikerjakan.Ada tiga sampai empat puluh poin yang ditulis dengan sloppy handwriting. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan memampang daftar tugas besar-besar jika itu membuat yang bersangkutan bahagia. Lain hal jika di dalam ruangan itu, ada orang yang tidak senang dengan tembok penuh atau daftar daftar.Mendaftar tugas sejatinya bagus untuk ego. Its feeding the ego, to show people how hard we work. To show people that here is our busy schedule. Beside that? The lists only make things messier, not easier. Ketika seseorang masuk ke dalam ruangan, perhatiannya akan tertuju pada ruang secara keseluruhan. Semua dilihat sekilas termasuk  tiga atau empat puluh daftar yang terpampang memenuhi dinding. Tentu orang tidak…

Fighting the Old Habit: How to Deal with Stuff that Spark Joy in Store, but You Don't Need

First of all, start to reduce the visits to the mall. Before you've mastered the art of minimalism, better not to go to the mall at all.Because I know how hard it is to refuse the big board of ALL ITEM SALE in the brand new shoes we like. Diawali dengan 'ah cumaliat' diakhiri dengan 'ada lagi? Kalautambahsatujadi lima ratusribu dan gratis member' yang kemudian galau berkepanjangan, antara menambah satu sepatu that we don't need atau melewatkan kesempatan emastawaran yang katanya terbatas. ***Mungkin bagi sebagian orang jalan-jalan ke mall adalah satu bentuk melepas penat yang efektif, karena hutan jauh dan pantai apalagi. Uang bukan masalah, karena mereka punya akses berlebih dan bisa membeli apa saja sehingga mereka tidak akan keberatan untuk masuk ke toko-toko yang menjual benda-benda menyenangkan. Entah itu baju dengan bahan super lembut, design super lucu, atau sepatu yang super empuk, nyaman dan elegan untuk dipakai.Jika kamu termasuk orang seperti itu dan…

Simplify, but not Stingy!

Beli barang murah, tapi ternyata tidak tahan lama, cepat rusak, lalu beli yang baru tak lama setelahnya. Pernah begitu?***Ada satu klien yang kami tangani, dengan kasus agak unik. Mereka gagal melewati tahap review dari Panel, karena alasan justifikasi ilmiahnya lemah (dalam penilaian Nilai Konservasi Tinggi). Sehingga laporan mereka ditolak, dan klien tersebut harus mencari konsultan lain untuk melakukan penilaian ulang. ***Pernah juga pada suatu kali perjalanan assessment, seperti biasa pihak klien yang mengurusi semua akomodasi dan transportasi. Kami diberangkatkan dengan maskapai Garuda pada awal keberangkatan, dengan connecting flight hingga ke bandara kecil di pelosok Kalimantan. Namun pada saat kepulangan, pihak client sudah membelikan tiket jauh-jauh hari (seminggu sebelum adanya keputusan jadwal) dengan maskapai Citilink dan Kalstar. Meski kecewa, kami tahan dalam hati, karena tidak etis mengeluhkan merk, meskipun sebagai konsultan yang sering bepergian dengan pesawat, kami s…

Find Happiness in Minimalism

Pagi ini semua orang dikejutkan dengan meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington. (Pantas saja semalam saya tidak bisa tidur hingga jam tiga pagi). Saya terbangun dengan suara televisi yang diputar keras, memberitakan kematian nya.Saya pun sedih. Mengingat betapa dulu semasa SMP hingga SMA saya begitu memuja lagu-lagu mereka semenjak kemunculan lagu Numb. Tapi lebih sedih lagi mengetahui alasan meninggalnya, yaitu bunuh diri karena stress oleh candu obat-obatan. Padahal, Chester memiliki seorang istri dan anak yang lengkap (laki-laki, perempuan, dan kembar). Jika dipikir dengan akal normal, bukankah semua itu mestinya sudah lengkap? ***Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist menceritakan tentang perjalanan mencari kebahagiaan. That the Soul of the World nourishes by people's happiness. (And other emotions). But happiness comes first. People are in constant search of happiness. Masing-masing dengan caranya masing-masing mencari jalan menuju kebahagiaan. Ada yang mencari…

Every Little Moment

Ketika seseorang sudah memutuskan untuk berubah, akan sangat bijak jika kita tidak mengungkit masa lalunya lagi. Bukan saja itu bisa menyakiti perasaannya yang sudah bersusah payah mengubur - melupakan - atau berdamai dengan masa lalu itu, tetapi juga menjadikan kita sebagai orang yang ignorant, lack of empathy, dan tidak layak dijadikan teman.Setiap orang pasti mengalami perubahan dalam hidupnya. As we woke up new each and every morning. Dalam Islam kita dianjurkan untuk menjadi lebih baik dari hari kehari, karena merugi orang yang tetap sama dengan hari kemarin, dan celaka/sial bagi orang yang lebih buruk dari hari kemarin.Seorang teman pernah berkata, 'people change. Accept it' saat saya bertanya alasan kenapa dia mendadak berubah menjadi dingin. Saat itu saya belum paham, bahwa siapapun baik itu teman dekat, sahabat atau bahkan pacar, bisa berubah sewaktu-waktu. People change like season, wise man once said, but today we know that people change like weather.***Pagi tadi se…

Emperara

Malam ini bisa dibilang untuk pertama kali dalam hidup, saya bersepeda motor membelah hutan di malam hari selama empat jam back and forth. Dari tiga desa yang kami tuju untuk ditemui kepala desanya, hanya satu kepala desa yang akhirnya dapat kami wawancara. Itupun desa terjauh, yang saya sudah hampir tidak punya tenaga lagi untuk turun dari motor. Sepanjang jalan, lumpur dan batu menjadi jalur yang ditempuh dengan kecepatan tinggi. Sesekali saya harus turun karena ban motor tertanam di lumpur, dan yah.. Saya harus puas membenamkan kaki kedalam genangan lumpur coklat yang lengket.Satu jam pertama saya bersemangat ajak ngobrol bapak yang membonceng saya. Beliau bekerja sebagai karyawan perusahaan, sebagai penjaga mess tempat kami tinggal. Istrinya yang memasak makanan sehari-hari untuk kami di mess. Mulai masuk jam kedua lutut saya mulai sakit. Karena jalur menurun menanjak dan berbatu membuat saya harus menahan beban untuk tidak menubruk si bapak yg di depan. Dua desa kami lewati, dan …

Consultant Life

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang keseharian saya sebagai konsultan pemula. Kalau Bahasa Sunda nya mah newbie alias nyubi (nyubian keneh ~ baru nyobain) hehe.Kon Mari, juga seorang konsultan dalam urusan tidying up. Tugasnya adalah mendatangi rumah-rumah klien, dan menunjukkan pada mereka cara untuk merapikan dan melepaskan benda-benda yang tidak terpakai lagi.Saya pun begitu. Bedanya, bidang konsultan yang saya jalani adalah bidang sustainability dalam perkebunan skala besar. Artinya, instead of mendatangi rumah-rumah saya mendatangi kebun-kebun yang adanya di pelosok Indonesia. Dan instead of menunjukkan mereka caranya merapikan rumah, saya menunjukkan pada client cara berproduksi secara sustainable yang bisa dilihat dari dua aspek, sosial dan lingkungan. Karena yang saya datangi adalah kebun skala besar, bisa saja lokasinya tersebar di lima desa, lima kecamatan, bahkan lima kabupaten (serius ada yang lima kabupaten dan itu, proses penyusunan laporannya satu tahun belum r…

Airport

Bandara bagi saya adalah gerbang. Kita keluar dari pintu satu kota, untuk masuk ke dalam pintu kota lain. Begitu seterusnya. Sejak sebelas tahun lalu saya 'meninggalkan' rumah dan hidup berpindah, bandara pun menjadi bagian dari 'rumah' bagi saya.Lengkapnya emosi yang ditawarkan, membuat saya senang 'melamun' disana. Terlebih, dengan seringnya saya bepergian, most of the time I was traveled alone, melamun menjadi hiburan dan ajang berduaan ~ dengan diri sendiri.Tidak banyak teman bicara yang dapat saya temui di bandara. Pun saya tidak begitu menyukai small talk dengan stranger. ***I think its healthy to spend time alone. To evaluate our life, and re-decide the path. Why? Because life is a constant change of plan. Is this what we want? Is this what we truly want? Is this the life we chose? And to me.. watching all these people come and go, hug with cry and laugh, nervous, excited, in rush, is the best time to contemplate. A young business man ~ or an executive o…

Ruang Tunggu

Ruang luas berbentuk persegi panjang, terhampar kosong nyaris tanpa design. Berjejer kursi-kursi yang juga panjang, menyambung, menyatu. Dinding putih polos kadang tanpa lukisan, hanya ada satu-dua layar televisi yang kadang menampilkan gambar tanpa suara, atau mati begitu saja. Seberapa sering dalam sebulan kita memanfaatkan fasilitas 'Ruang Tunggu?' Di bandara? Rumah sakit? Bengkel mobil? Sekali? Dua kali? Hampir setiap minggu?Perhatikan seberapa banyak design interior yang diaplikasikan pada sebuah ruang tunggu yang bersifat public use? Bisa dibilang nyaris tanpa seni. Jarang ada dekorasi sana sini, yang hanya diperuntukkan sebagai pemanis ruangan. Seolah tahu bahwa ruang itu hanya tempat persinggahan, untuk apa repot-repot menghiasnya?***Bukankah hidup pun seperti itu? Ibarat Ruang Tunggu, kita datang untuk mengemban tugas, bersinggah sebentar, dan pergi setelah tugas itu tertunaikan. World, is just a 'Waiting Room'. Kenapa sibuk sekali mendekorasi, dan malah lupa …

To Sit Quietly

You walk in the park and see children playing. You cry your heart and wonder, when will you have those? Then your heart starts to beat faster, wondering.. what if I never met the right guy? What if he's not who I want? What if I'm not happy with him?Then you go to the house-mart to buy some stuff for your kitchen when you saw a couple - happy couple make fun of each other in between the plates and cups. You try to kept the distance, but they seem to following you to every aisle. And then you started overheard them say 'Oh Thank God I have you'.. You blush and walk away. You wanna act like you don't care, but deep inside you really - deeply envy them. You want that thing. You want someone to praise the Lord because of having you. Again, your heart start to whisper.. 'What if I never be good enough for him? What if he never be proud of me? What if things aren't as good as I expect them to?'Again.. You go to supermarket. You have fruits, yoghurt, vegetable…

Less is More

Sebuah panggilan tak terjawab bertengger manis di ponsel saya sore tadi. Menjelang jam pulang kantor, sengaja saya tinggalkan ponsel agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaan. Besok saya sudah minta izin untuk tidak masuk karena tukang furniture akan datang menginstall barang-barang yang sudah kami beli beberapa hari lalu. Mestinya hari ini barang-barang itu diantar ke rumah, kami pun sudah menitipkan kunci ke tetangga sebelah. Biasanya setiap kali ada panggilan tak terjawab, saya akan biarkan sebentar. Karena kalau urusan kerja, mereka pasti akan mengirim pesan whatsapp sebagai tindak lanjut. Tapi yang satu ini beda. Dari segi nomor jelas bukan nomor rekan kerja-atau klien- atau bank- asuransi- atau orang penting. Nomor biasa-biasa dan hanya satu kali panggilan. Kalau client minimal tiga panggilan tak terjawab itu.. Meski agak ragu, saya putuskan utk telpon balik. Singkat cerita, rupanya panggilan itu adalah dari jasa pengantar furniture, mau mengkonfirmasi bahwa barang sudah diterima.…

White Space

How many of us gets overwhelmed of mess every end of the day? Clutter everywhere, unused clothes, memories that we try to keep with stuff,. Before we know that, that stress lead to another emotional rage. We get easily frustrated, get annoyed of little thing, and we start blaming. Ketika stress datang dari tumpukan barang, maka stress juga bisa hilang dengan mengeluarkan barang-barang itu. Jika sulit, coba dengan memakai benda tersebut untuk terakhir kali. Lihat jika memang dia pantas untuk disimpan atau sudah bisa direlakan. Merelakan pergi benda-benda yang kita percaya menyimpan sebagian memory, bukan berarti kita menganggap memory itu tidak penting. Kadang kita juga takut akan melupakan momen indah itu dengan perginya benda yang menyimpannya. One thing you should remember: that memory, lives in your heart, not your stuff. ***Malam ini saya resmi menempati rumah baru. Proses mengangkut barang dimulai selepas isya setelah saya dan teman serumah pulang kantor. Barang bawaan saya masih…

Moving Out

Dua hari ini saya disibukkan dengan pindah-memindah barang. Sejak memutuskan untuk pindah dan memulai hari di tempat yang baru, saya tahu pasti akan ada banyak kendala. Mulai dari memberitahu teman satu kost yang selama ini sering menghabiskan waktu bersama, sampai memindahkan semua barang yang sudah tertumpuk selama bertahun-tahun. Kamar kost sudah menjadi zona nyaman bagi saya, and nothing grows in comfort zone. Memutuskan untuk pindah di ruang yang benar-benar kosong, menjadi tantangan apakah saya akan menerapkan prinsip minimalism atau hanya semboyan belaka. The truth is, minimalism bukan saja soal ruang. Bukan saja soal sedikitnya barang, dan putihnya dinding kamar. Minimalism lebih dari sekedar urusan benda-fisik, karena ini menyangkut keikhlasan merelakan pergi, dan memilih apa yang akan dipertahankan dalam jumlah yang wajar. Semua orang datang dengan 'bawaannya' masing-masing. Semakin banyak yang dipertahankan, tentu akan semakin berat langkahnya ke depan. Beberapa wak…