Skip to main content

Simplicity

Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untuk apa kita diutus kesini? Untuk apa ruh kita ditiupkan ke jasad ini, dan menghuni satu bagian kecil dari semesta bernama bumi?

"Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika.

Pahala? Untuk apa mencari pahala?

"Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial.

Bahagia? Bukankah disana kita sudah bahagia?

Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala?

Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana?

***

Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas.

Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini?

Jika pahala dan bahagia yang saya cari, apakah itu tugas saya? Agar dapat pahala, dan bahagia, lalu kembali ke tempat di mana saya berasal?

Paulo Coelho dalam bukunya yang amat fenomenal, The Alchemist menuliskan tentang seorang anak laki-laki yang melakukan perjalanan mengikuti mimpi. Mencari his destiny. Mencari tujuan hidup, yang akhirnya ia temukan pada sosok seorang perempuan di Oase gurun pasir.

Pertanyaan ini sampai sekarang belum saya dapat jawabnya. Yakinlah ketika seseorang bertanya, dan dengan mudah kamu beri ia jawaban, there's any chance you don't really understand the question.

Tapi sedikit banyak saya mengerti akan sebuah nasihat lama.. Bahwa hidup adalah tentang memberi makna.

Jika setiap orang akan mati dan pergi, maka akan ada banyak sekali peninggalan yang ditinggalkan pada penerus generasi. Jika setiap orang yang pergi meninggalkan pesan baik dan diikuti, ma akan ada banyak.. Banyak sekali generasi penerus yang terus memperbaiki diri.

***

Tantangan. Mungkin detik di saat ruh kita ditiupkan, Tuhan sedang memberi tantangan pada kita.

Will you survive?
Will you fight the challenge?
Will you REMEMBER Me?

Dan ketika kita tumbuh besar, menjalani ini semua, silih berganti tantangan menerpa. Sampai kemudian kita mendapat pemahaman-pemahaman yang bisa kita maknai meski tanpa kata.

Tentang memberi makna.... Jika bahagia adalah tujuan, maka makna sejatinya sederhana sekali. Yaitu tentang memberi bahagia, pada orang lain di sekitar. Jika tidak sanggup memberi materi, maka berilah senyuman. Sesederhana itu Islam mengajarkan untuk bersedekah dan memberi manfaat pada orang lain.

Karena jangan-jangan.. Pekerjaan yang kita idam-idamkan berada dibalik kucing kampung kelaparan yang kita beri makan diam-diam. Atau jodoh yang kita tunggu-tunggu, datang setelah membeli pisang dari seorang bapak tua yang kelelahan.

Positivity attracts positivity. Kebahagiaan yang kita berikan, akan kembali pada kita dalam bentuk tak terduga. Jika tulus, tanpa ekspektasi.

Begitupun dengan cinta. Bahagia disaat pasangan bahagia, meski itu membuat kita harus jauh dari dia. Bahagia disaat dia mengejar mimpinya, meski itu artinya kita harus menjalani hidup sendirian jauh darinya.

***

Minimalism adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dengan memberi kebahagiaan pada orang lain. Memberikan sebagian barang yang kita miliki, yang kita simpan hanya karena kenangan, agar dimanfaatkan dengan lebih baik oleh mereka yang membutuhkan.

Minimalism, memberi ruang pada diri sendiri untuk menyadari betapa kita nanti akan kembali dengan tangan kosong, tidak membawa apapun kecuali selembar kain yang akan habis digerogoti. Memberi bahagia, menularkan bahagia, adalah cara seorang minimalist membuat orang mengingat dirinya.

Saya ingin diingat sebagai orang yang bahagia. Yang mudah membuat orang lain bahagia, dan yang kehadirannya membuat bahagia. Sesederhana itu, namun sulit sekali dilakukan. Because we can't force people to always like us.

***

Hari ini saya bahagia. Sangat bahagia oleh memberi dan diberi. Oleh semangkuk sayur lodeh dan sepiring ikan asin, disertai sambal mentah buatan teman serumah selepas menembus hujan lebat sepanjang perjalanan pulang. Oleh seuntai kata manis dari gadis manis di Jawa Tengah sana karena mendapati coklat sederhana yang saya kirim (dengan bungkus kado bergambar mobil dan alamat bertuliskan 'Indonesia Kucinta'). Dan oleh ekspresi bahagia seorang rekan di kantor yang hendak menempuh tugas lapangan pertamanya, dan saya siapkan setiap peralatan yang akan ia bawa dengan rapi dan manis.

Hal-hal itu sederhana sekali. Saya bisa memilih untuk tidak melakukan itu semua karena tekanan di kantor sedang tinggi-tingginya. Ancaman klien yang akan di pecat apabila kami gagal mengemban misi, ketepatan waktu yang mempertaruhkan kredibilitas, dan tumpukan project yang membuat orang-orang semakin sering mengeluh. Dikelilingi oleh energi sedemikian negatif, membuat siapapun akan mudah stress dan tertekan.

Untuk itu saya amat bahagia, karena menemukan bahwa tujuan kita diutus kesini, bukan sekedar bahagia dan mencari pahala. Bukan selalu tentang diri sendiri, tapi juga tentang memberi makna.

Entah dengan cara apa, namun pada hal-hal sederhana yang bisa saya sampaikan pada orang di sekitar,.. Saya.. Bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …