Skip to main content

Things to Declutter Part Three: Books

I know. This one is impossible. Especially for the book maniac. Even today, I buy a book from amazon. One amazing book that I really need, but I decide to give it to a friend, as a birthday gift.

Begitu salah satu cara saya meng-akali agar tetap bisa membeli buku -which has been my hobby since decades- dan menjaga jumlah agar tetap seimbang.

Sulit sekali untuk mensortir buku-mana yang akan di simpan dan mana yang akan di keluarkan. Semua buku, rasanya ingin disimpan. Semuanya bahkan yang paling tidak pernah dibaca sekalipun.

What if everything is my favorite thing? Should I get rid of it?

What if everything add value to my life? Should I get rid of it too?

Tergantung dari seberapa besar kebahagiaan mu ketika menyimpan buku-buku itu. Ya, saya bahagia menyimpan semua buku saya. Saya mencintai mereka seperti bayi-bayi yang tidak akan pernah tumbuh besar. Rasa sayang saya terhadap buku-buku yang tertumpuk itu, lebih besar dibanding rasa sayang saya terhadap baju-baju yang setiap hari saya pakai.

Disini kesungguhan saya untuk menjadi seorang minimalist, diuji.

Bukankah dasar dari menjalankan prinsip minimalism adalah agar bahagia dan menemukan damai di dalam hati?

Dan bukankah juga hakikat dari mencintai adalah dengan melepas- merelakan pergi?

Buku yang saya simpan selama bertahun-tahun dan tidak pernah lagi saya baca, hanya akan terus menjadi koleksi. Saya tidak akan lagi mengambil pelajaran dari koleksi novel, karena sekarang saya bukan lagi saya pada lima tahun yang lalu. Kebutuhan akan buku, tentu berubah. Genre nya pasti berbeda.

Bagaimana jika koleksi novel saya tadi, akan berguna bagi remaja - seusia saya di lima atau sepuluh tahun lalu?

Melepaskan benda yang amat saya sayang, untuk memberi kebahagiaan pada pemilik yang baru, adalah cara jitu untuk bahagia. Untuk bisa memberi value pada orang lain, dan juga diri sendiri.

Dengan keyakinan itu maka dengan berat hati saya memisahkan sebagian koleksi buku, dan hanya menyimpan buku yang sangat amat berharga bagi perjalanan hidup saya. Sulit sekali. Tapi begitu saya menemukan orang lain yang membutuhkan buku itu, saya bisa bayangkan rasanya seperti apa. Bahagia sangat.

***

Hari ini saya membeli sebuah buku bekas, buku terbitan tahun 1992 yang sekarang sudah tidak lagi diterbitkan. Penulisnya adalah scientist pada era 60-an dan terkenal karena dobrakan nya yang banyak di cemooh kalangannya sendiri.

Saya sudah melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan buku itu. Mengontak toko-toko buku import, melalui website dan nomor kontak yang tertera (bahkan ada yang saya kontak melalui twitter dan direct message instagram), hingga mencari penulis lain yang lebih mudah didapat bukunya.

Namun tidak ada penulis yang se-menakjubkan penulis pilihan saya. Penulis kedua, meski sama fenomenal, berakhir bunuh diri. Well, I don't wanna risk my mind to someone who finally end his life in desperation because of his own mind. Atau mungkin nanti akan saya baca ketika saya sudah cukup bekal agar terhindar dari clutter - confusion.

Karena susah dan nyaris mustahil mencari buku lawas seperti ini di Indonesia, maka saya putuskan untuk mendownload aplikasi amazon dan membeli satu buku nun jauh disana.

***

When you know there is something you need to add value in your life, don't let minimalism blocked your way. Kita yang paling tahu apa yang bisa membuat kita bahagia. Minimalism hanyalah tool atau metode yang kita gunakan agar kita tetap bahagia. By keeping things we loved the most, and surrounding our life with only our most favorite stuff.

Beli buku ketika itu sesuatu yang kita butuhkan. Tapi sambil melepaskan minimal satu buku yang sudah lama sekali tidak lagi kita manfaatkan. Try to keep the flow, seperti angin dan air yang selalu bergantian masuk agar tetap segar.

We all need a fresh life, that's why we're here right? Pursuing minimalism doesn't mean torturing yourself with eliminating all the stuff you love. It just a way to keep a healthy mind, and giving more to other.

Give more, own less.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert