Skip to main content

White Space

How many of us gets overwhelmed of mess every end of the day? Clutter everywhere, unused clothes, memories that we try to keep with stuff,. Before we know that, that stress lead to another emotional rage. We get easily frustrated, get annoyed of little thing, and we start blaming.

Ketika stress datang dari tumpukan barang, maka stress juga bisa hilang dengan mengeluarkan barang-barang itu. Jika sulit, coba dengan memakai benda tersebut untuk terakhir kali. Lihat jika memang dia pantas untuk disimpan atau sudah bisa direlakan.

Merelakan pergi benda-benda yang kita percaya menyimpan sebagian memory, bukan berarti kita menganggap memory itu tidak penting. Kadang kita juga takut akan melupakan momen indah itu dengan perginya benda yang menyimpannya. One thing you should remember: that memory, lives in your heart, not your stuff.

***

Malam ini saya resmi menempati rumah baru. Proses mengangkut barang dimulai selepas isya setelah saya dan teman serumah pulang kantor.

Barang bawaan saya masih tergolong cukup banyak jika dibandingkan dengan minimalists yang sering tampil di youtube atau mengisi acara Ted Talk. Mereka bisa hidup hanya dengan satu box, sedangkan saya masih membutuhkan enam box. Sebagian besar adalah koleksi buku yang masih sulit saya lepaskan. Namun begitu tiba di rumah, roomate saya bilang "punya saya jauh lebih banyak ketika pertama kali pindah kesini".

Sebagai seorang -yang ingin menjadi- minimalist, tentu kalimat itu adalah compliment tertinggi bagi saya. Saya tidak lagi punya energi untuk meladeni komentar negatif atau cerita sombong dari seorang yang merasa dirinya lebih baik. Simply, I decluttered negativity out of my life too.

***

Saya berusaha memperbanyak 'white space' di dalam kamar dengan mengeluarkan benda-benda yang tidak digunakan sehari-hari dan menyimpannya di belakang. Ada satu ruang khusus bagi kami berdua menyimpan benda-benda yang kelak akan digunakan sewaktu-waktu. Saya rasa itu masih bisa dimaafkan, karena memang kita tidak menggunakan sepatu berbeda sekaligus, kan.

Saya sempat kesal dengan banyaknya barang yang bertumpuk sementara lemari penyimpanan baru akan datang hari Kamis. Ya, roomate and I happened to buy some furnitures two days ago. We went out for shop a book shelve, and ended up with two book shelves, coffee table, desk, tv cabinet, kitchen cabinets, and mini drawer cabinet.

I know it doesn't sound minimalist when we're still doing impulsive shopping. But hey, its not clutter that we bought.. Not a thing that gonna be clutter. Its huge, its storage, and its furniture! (Roomate and I split some bill for coffee table set, so we only took what we need).

Menjadi minimalist bukan berarti dilarang membeli dan memiliki barang. Sama seperti menjadi wanita muslim bukan berarti dilarang bepergian sama sekali. Minimalism adalah cara untuk menekankan pada hal-hal yang membuat bahagia. Turns out, roomate and I were so happy after we went back home and get so excited because we spent money on huge and meaningful stuff. Because before this, I could spent the same amount of money just to travel to the city close by. It wasn't a new place, I gain nothing new, I just rented a car and drive and drive and went home with the memory of driving. That's it.

Jadi semua yang saya beli di toko furniture hari minggu kemarin, bukanlah pembelian impulsive yang sia-sia. Saya jadi lebih bisa 'merasakan' penghasilan saya, and everytime I look at that bookshelve, or coffee table, or desk, I'll say 'well that's where my money goes'. Its worth it.

Lemari penyimpanan tentu penting untuk menjaga rumah tetap rapi, plus untuk memajang benda-benda yang memancarkan kebahagiaan. To show case the things you truly love, things that spark joy. It'll bring you happiness (as Marie Kondo said).

***

In the end, happiness is what matter the most. We want happy, we demand happiness. We seek for happiness with travel, with people, but don't we forgot that true happiness comes from within. We created it.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …