Posts

Showing posts with the label simplicity

Ruang Bicara Seorang Minimalist

Image
Kadang kita tidak sadar bahwa kita tengah diperbudak. Oleh ego dan ambisi yang tiada batas, tapi ketiadaan ego dan ambisi pun mustahil adanya. Karena manusia pasti diciptakan dengan ego, hawa nafsu, yang mengarah pada ribuan ambisi tuk dicapai. Rumah pun menjadi sasaran ego dan ambisi. Benda-benda yang tertumpuk di dalamnya, kadang melambangkan hal-hal yang kita ingin tunjukkan. Bahwa iniloh saya ! Berlapis-lapis gambar dan hiasan memenuhi ruang dan dinding. Padahal ditengok pun jarang. Setiap kali saya main ke desa di Kalimantan atau Sumatera, jarang sekali saya menemui rumah yang penuh dengan hiasan seperti rumah-rumah di akun instagram vogue living (yang sering saya like ). Rata-rata rumah orang Dayak atau Batak itu memiliki ruang kosong, luas, tanpa furniture kecuali satu buah rak televisi (jika ada televisi) dan satu set kursi (jika ada set kursi, tapi kebanyakan hanya hamparan tikar). Fungsional? Jelas. Ruang seluas itu biasanya ada di rumah-rumah kepala desa atau para peting...

Contentment in Minimalism

Image
Minimalism is about clarity. To simplify things in a complicated world. Tapi hati-hati dengan ego traps. Perasaan bahwa diri sendiri lebih baik dari orang lain. Bahwa diri sendiri lebih bahagia dari orang lain. Dan bahwa diri sendiri lebih sederhana dari orang lain. We cannot compare our happiness to other. A piece of cake, in the same size, will bring different level of happiness to two different kids. Ketika melihat orang lain tengah mempersiapkan masa depannya dengan rumit, tidak perlu menyela dengan berkata "ah terlalu rumit! Saya dong, sederhana" Simplicity has no measurement. One cannot compare their simplicity to others. Bisa saja pakaian seharga satu juta rupiah adalah sederhana bagi orang berpenghasilan seratus juta per bulan. We cannot judge someone if they're living a lavish or prudent life. *** With minimalism, we reach the stage of life in which we don't have to compare our self. Comparing is the thief of joy. Why bother if someone got the new car, if...

Minimalist Food

Image
Saya tertawa membaca komentar dalam salah satu cuplikan tulisan Josh and Ryan the duo minimalist . Si penulis komentar bertanya, "bagaimanakah cara seorang minimalist makan?" Dan jawabannya sederhana.. We eat with our mouth, teeth and tongue. Beberapa orang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi prinsip yang sedang digemari banyak orang ini. Yang skeptis pun banyak, sampai-sampai mengira bahwa minimalist adalah sufi yang benar-benar harus terlepas dari keinginan duniawi, termasuk makan. Bagi saya, tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana seorang minimalist makan. Karena minimalism adalah prinsip yang berdasar pada kebahagiaan, dan damai dalam diri. Jika terlalu banyak aturan, justru akan menghilangkan kebebasan. Dan itu, malah bukan mendatangkan bahagia melainkan rasa  cemas. Namun Marie Kondo, seorang konsultan di bidang penataan ruang-dan rumah, menyarankan untuk tidak menumpuk makanan secara berlebih. Dalam satu postingan yang ia publis di media sosial, Marie ...

Simplicity

Image
Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untuk apa kita diutus kesini ? Untuk apa ruh kita ditiupkan ke jasad ini , dan menghuni satu bagian kecil dari semesta bernama bumi ? "Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika. Pahala? Untuk apa mencari pahala? "Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial. Bahagia? Bukankah disana kita sudah bahagia? Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala? Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana? *** Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas. Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini? J...

Fighting the Old Habit: How to Deal with Stuff that Spark Joy in Store, but You Don't Need

Image
First of all, start to reduce the visits to the mall. Before you've mastered the art of minimalism, better not to go to the mall at all. Because I know how hard it is to refuse the big board of ALL ITEM SALE in the brand new shoes we like. Diawali dengan ' ah cuma liat ' diakhiri dengan 'ada lagi ? Kalau tambah satu jadi lima ratus ribu dan gratis member' yang kemudian galau berkepanjangan, antara menambah satu sepatu that we don't need atau melewatkan kesempatan emas tawaran yang katanya terbatas . *** Mungkin bagi sebagian orang jalan-jalan ke mall adalah satu bentuk melepas penat yang efektif, karena hutan jauh dan pantai apalagi. Uang bukan masalah, karena mereka punya akses berlebih dan bisa membeli apa saja sehingga mereka tidak akan keberatan untuk masuk ke toko-toko yang menjual benda-benda menyenangkan. Entah itu baju dengan bahan super lembut, design super lucu, atau sepatu yang super empuk, nyaman dan elegan untuk dipakai. Jika kamu terma...

Find Happiness in Minimalism

Image
Pagi ini semua orang dikejutkan dengan meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington. (Pantas saja semalam saya tidak bisa tidur hingga jam tiga pagi). Saya terbangun dengan suara televisi yang diputar keras, memberitakan kematian nya. Saya pun sedih. Mengingat betapa dulu semasa SMP hingga SMA saya begitu memuja lagu-lagu mereka semenjak kemunculan lagu Numb. Tapi lebih sedih lagi mengetahui alasan meninggalnya, yaitu bunuh diri karena stress oleh candu obat-obatan. Padahal, Chester memiliki seorang istri dan anak yang lengkap (laki-laki, perempuan, dan kembar). Jika dipikir dengan akal normal, bukankah semua itu mestinya sudah lengkap? *** Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist menceritakan tentang perjalanan mencari kebahagiaan. That the Soul of the World nourishes by people's happiness. (And other emotions). But happiness comes first. People are in constant search of happiness. Masing-masing dengan caranya masing-masing mencari jalan menuju kebahagiaan. Ada yang m...

Emperara

Image
Malam ini bisa dibilang untuk pertama kali dalam hidup, saya bersepeda motor membelah hutan di malam hari selama empat jam back and forth . Dari tiga desa yang kami tuju untuk ditemui kepala desanya, hanya satu kepala desa yang akhirnya dapat kami wawancara. Itupun desa terjauh, yang saya sudah hampir tidak punya tenaga lagi untuk turun dari motor. Sepanjang jalan, lumpur dan batu menjadi jalur yang ditempuh dengan kecepatan tinggi. Sesekali saya harus turun karena ban motor tertanam di lumpur, dan yah.. Saya harus puas membenamkan kaki kedalam genangan lumpur coklat yang lengket. Satu jam pertama saya bersemangat ajak ngobrol bapak yang membonceng saya. Beliau bekerja sebagai karyawan perusahaan, sebagai penjaga mess tempat kami tinggal. Istrinya yang memasak makanan sehari-hari untuk kami di mess. Mulai masuk jam kedua lutut saya mulai sakit. Karena jalur menurun menanjak dan berbatu membuat saya harus menahan beban untuk tidak menubruk si bapak yg di depan. Dua desa kami lewati, ...

White Space

Image
How many of us gets overwhelmed of mess every end of the day? Clutter everywhere, unused clothes, memories that we try to keep with stuff,. Before we know that, that stress lead to another emotional rage. We get easily frustrated, get annoyed of little thing, and we start blaming. Ketika stress datang dari tumpukan barang, maka stress juga bisa hilang dengan mengeluarkan barang-barang itu. Jika sulit, coba dengan memakai benda tersebut untuk terakhir kali. Lihat jika memang dia pantas untuk disimpan atau sudah bisa direlakan. Merelakan pergi benda-benda yang kita percaya menyimpan sebagian memory, bukan berarti kita menganggap memory itu tidak penting. Kadang kita juga takut akan melupakan momen indah itu dengan perginya benda yang menyimpannya. One thing you should remember: that memory, lives in your heart, not your stuff. *** Malam ini saya resmi menempati rumah baru. Proses mengangkut barang dimulai selepas isya setelah saya dan teman serumah pulang kantor. Barang bawaan saya ...

Thing to Declutter Part Four: Social Life

Image
How often do we say: I need some space - to the one we love?  Little did we know, we've been surrounded by toxic people, toxic relationship, or toxic friendship. We never knew it would harm that much before we get some 'space' with our self. Everyone should need to distant them self for a little while. To think and re-arrange the plan to reach their goal. Or to create new goal. *** Hidup di jaman serba digital, dimana media sosial menjadi candu yang sulit untuk dilepas membuat orang kini semakin mudah stres dan tersinggung. Kemudahan berkomunikasi bukan membawa pada ketenangan, tetapi malah membuat orang semakin gampang bertentangan. Orang yang tadinya tidak saling mengenal, bisa berteman akrab di media sosial. Saling melempar joke bahkan saling menggoda. Lalu yang tadinya berteman, bisa menjadi berlawanan ketika beda pilihan calon presiden. Wise man once said: choose your friend wisely. They represent your self. Membersihkan diri dari hubungan sosial bukan berarti me...