Skip to main content

Minimalist Food

Saya tertawa membaca komentar dalam salah satu cuplikan tulisan Josh and Ryan the duo minimalist. Si penulis komentar bertanya, "bagaimanakah cara seorang minimalist makan?" Dan jawabannya sederhana.. We eat with our mouth, teeth and tongue.

Beberapa orang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi prinsip yang sedang digemari banyak orang ini. Yang skeptis pun banyak, sampai-sampai mengira bahwa minimalist adalah sufi yang benar-benar harus terlepas dari keinginan duniawi, termasuk makan.

Bagi saya, tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana seorang minimalist makan. Karena minimalism adalah prinsip yang berdasar pada kebahagiaan, dan damai dalam diri. Jika terlalu banyak aturan, justru akan menghilangkan kebebasan. Dan itu, malah bukan mendatangkan bahagia melainkan rasa  cemas.

Namun Marie Kondo, seorang konsultan di bidang penataan ruang-dan rumah, menyarankan untuk tidak menumpuk makanan secara berlebih. Dalam satu postingan yang ia publis di media sosial, Marie menyarankan agar membongkar isi kulkas dan membuang makanan yang tidak lagi bisa dimakan (sudah kadaluarsa atau memang tidak akan dimakan lagi). Makanan yg masih baik kondisinya, bisa diolah kembali atau diberikan pada mereka yang membutuhkan.

Lebih lanjut jika ingin menjadi seorang minimalist, maka berhentilah membeli makanan dengan impulsive saat sedang berbelanja di supermarket. Saya tahu bahwa belanja adalah salah satu terapi (saya pun percaya itu). Tapi kita tidak bisa terus menerus menjejali lemari es dengan makanan yang mungkin sebenarnya tidak kita butuhkan.

Minimalist akan memilih makanan sesuai yang dibutuhkan. Membeli dalam jumlah cukup, dan perkirakan untuk kebutuhan satu periode - hingga akan belanja lagi. Semakin pendek, akan semakin baik. Kalau membeli terlalu banyak yang rencananya untuk jangka panjang (sampai bulan depan, misalnya), khawatir anda akan bosan. Dan makanan itu hanya akan menjadi clutter dan tidak akan dimakan.

Kenali diri sendiri, seberapa sering dalam sebulan anda berbelanja ke supermarket. Akuilah, meskipun kita sering menumpuk barang ketika 'belanja bulanan' kita tetap akan kembali ke supermarket within two or three days, or the next week.

Ketika sedang belanja bulanan, maka ada baiknya membeli kebutuhan komplementer secukupnya. Saya rasa satu minggu cukup, untuk anda kembali lagi mencari suasana atau menu baru.

***

Spark joy adalah kunci bagi seorang minimalist memilih benda/barang untuk dibeli atau dilepaskan. Dan makanan yang baik, adalah makanan yang memancarkan kebahagiaan bagi si konsumen. Ada dua kunci seseorang agar bisa kenyang; pertama, jumlahnya cukup dan kedua, rasanya enak - membuat bahagia.

Seseorang akan merasa belum cukup meskipun sudah menghabiskan sepiring nasi dan lauk pauk jika ia sebetulnya tidak menyukai menu itu. Ia akan mencari hidangan penutup, atau tambahan gula untuk memenuhi rasa kenyang tersebut.

Jangan pernah takut akan kebanyakan asupan karbohidrat atau lemak dari makanan. Karena selama kita makan dengan bahagia, 'mesin-mesin' metabolisme di dalam tubuh kita pun akan turut bekerja dengan bahagia. Sehingga menyempurnakan proses pencernaan hingga semua nutrisi terserap dan tidak tersisa penumpukan yang akan menjadi lemak.

Menjadi minimalist bukan berarti makan secara minimal. Tidak. Jika makan secara minimal tidak membuatmu bahagia, anda akan merasa tertekan setiap waktu makan tiba. Anda akan merasa was-was dan bersalah jika menghabiskan dua porsi gado-gado, misalnya atau merasa takut memesan susu coklat padahal sudah malam.

Cemas, was was dan takut itu yang akan membuat metabolisme kehilangan gairah dalam menempa makanan yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, banyak makanan tidak terserap dan menumpuk menjadi lemak.

***

Makanan adalah hal esensial bagi setiap manusia. Setiap suku dan budaya punya cara tersendiri untuk mengungkap syukurnya pada hal hal yang memberikan makanan untuk mereka. Upacara penghormatan pada padi saat panen, sasi di laut Papua, dan tradisi tari-tarian padi di Suku Dayak adalah ekspresi kebahagiaan manusia terhadap tercukupinya kebutuhan perut.

Gratitude is the main symbol of minimalism.

Whatever you eat today, whatever you have on your plate today, be grateful. Do not complain even if it doesn't taste good. Its sunnah, to never complain at any food. Don't concern more on what you dont have or should have. Be grateful with what inside the plate, right now. Dont worry about tomorrow, dont even worry about the next hour.

Gratitude and enjoy every moment, is what minimalists do.

So..

Are you ready to eat?

Allahuma bariklana fiima razaqtana wa kina azaabannaar.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …