Minimalism in North Sumatera


Bangunan yang berdiri sejak empat generasi (bahkan lebih) itu membuat saya terdiam lama. Bagaimana.. Pikir saya.. Melengkungkan kayu sebegitu panjang? Hanya terpikir batang pohon dengan lingkar amat lebar lah yang bisa dibentuk dengan leluasa.

Saya semakin sesak napas jika mengingat harganya sekarang. Jaman dimana serbuk kayu saja sudah melangit, apalagi kayu solid.

Ditambah lagi, bangunan itu dibuat tanpa paku. Hanya teknik kait mengaitkan kayu dan pasak yang semakin memperumit proses pembuatan. Sekarang orang sudah jarang ada yang bisa membuat pahatan dan bentuk bangunan seperti di Sumatera Utara, rumah orang Batak yang terdiri dari satu marga per rumah.

Ah.. Semakin mudah saja orang membuat rumah, untuk apa bersusah payah mengukir memahat jika ada paku tuk menyatukan. TOK!!

***

Jika menyempatkan diri masuk ke dalam rumah adat Suku Batak, anda akan mendapati ruang kosong tanpa sekat. Hanya ada satu ruang yang berupa lantai tambahan, dilengkapi dengan tangga dan dipan serupa kamar. Ya, memang ruang itu juga digunakan untuk tidur.

***

Terbayang di benak saya, orang jaman dulu dengan kehidupan yang mungkin jauh dari keramaian, membangun tempat tinggal untuk berteduh. Kayu bahan baku sudah tersedia, tinggal mau atau tidak diambilnya. Ilmu? Ya.. Mungkin kita semua bertanya-tanya bagaimana orang jaman dulu bisa mendapat teknik sedemikian canggih dalam hal konstruksi bangunan.

Sebagian buku menjelaskan tentang peradaban manusia sebelum ice age yang justru sudah sangat maju. Peradaban itu kemudian hilang oleh perubahan iklim global dan berganti dengan peradaban yang berkembang hingga saat ini. Sebagian menulis bahwa manusia yang berada pada zaman terdekat pergantian peradaban, masih bisa terkoneksi dengan ilmu pengetahuan peradaban sebelumnya. Ada yang percaya melalui kontak batin antara manusia dengan langit, ada juga yang mempercayai melalui kode-kode yang di enkripsi, yg tertimbun bersama letusan gunung api.

Sejak itu semua bertransformasi dan seolah kembali mengulangi siklus yang sama.

Seperti Tuhan sedang me restart, lalu kembali ke mode semula.

***

Ruang kosong, sedikit benda, minimalism bukan hal baru yang harus di pursue. Minimalism adalah prinsip dasar manusia pada fase pertama kehidupan, ketika kebutuhan yang harus dipenuhi masih seputaran kebutuhan dasar: sandang, pangan, papan.

Ternyata itu maksudnya guru SD kita berulang kali menekankan apa definisi kebutuhan primer. Kita sering lupa ternyata.

***

Sambil berkeliling dari desa ke desa, yang saya temukan hanyalah wajah-wajah bahagia. Yang senang bergurau, tertawa dan berpesta. Saya pun mempelajari asal muasal Suku Batak melalui tulisan Sitor Situmorang serta revolusi politiknya. Menarik.

Orang Batak selalu menarik untuk diperhatikan. Tradisi dan karakternya kuat mewarnai Bumi Pertiwi. Alamnya yang cantik menjadi destinasi penjelajah yang haus akan cerita baru.

Ya.. Saya jatuh cinta pada bagian Utara Pulau Sumatera ini. Saya senang mendalami kehidupan dan cerita mereka. Bahwa dibalik karakter yang keras dan garang, tersimpan hati yang lembut dan amat tenggang rasa. Saya pikir mereka adalah contoh real rupa orang-orang yang true to their heart.

Comments

Popular posts from this blog

Three Miles a Day

Dwiwarna

Hygge: Enjoying Life's simple pleasure