Posts

Showing posts with the label minimalism

A Fault in My Minimalism; And How to Deal With That

Image
At the end of the day, we have to clear our mind from hatred and guilt. Those two only eliminate peace that we need.  *** Karena saya merasa bersalah. Dalam dua hari ini telah merasa gagal menjadi minimalist. Saya kini berusaha untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak perlu terlalu keras dalam memegang prinsip yang baru. Ya, minimalism tergolong baru bagi saya. Maka tidak perlu terlalu berlebihan dalam bersikukuh. Kompromi sesekali juga perlu. Because everyone can be a minimalist. I can. YOU can. All of us, we can be a minimalist. Asalkan mau dan konsisten. Seperti misalnya, seorang muslim yang ingin berhijrah menjadi lebih taat. Mulai dari gaya berpakaian ia ubah, cara bertutur sikap, memperbaiki ibadah, hingga caranya berpikir dan memandang permasalahan. Yang tadinya pakai baju serba ketat, diubah menjadi longgar. Kerudung yang diikat ke leher, agak dipanjangkan menutupi dada. Sholat yang tadinya diulur hingga ke penghujung, mulai dimajukan menjadi awal waktu. Yang t...

Demons

Image
"No matter what we breed,  We still are made of greed This is my Kingdom come This is my Kingdom come When you feel my heat,  look into my eyes It's where my demons hide It's where my demons hide Don't get too close It's dark inside It's where my demons hide, It's where my demons hide"  Imagine Dragons - Demons.  *** Secuplik lagu tadi menutup perjalanan saya pulang kantor malam ini. Sembari mengantri macet oleh sebab mobil yang melampaui batas, mengambil jalur sebelah dan menghambat pergerakan lalu lintas, yang justru menjadi tontonan lucu karena mobil yang sepertinya dikendarai oleh sepasang suami istri itu, malah marah-marah. Padahal mereka salah. Saya menyaksikan bagaimana sang istri turun dari mobil, marah-marah, memarahi pengendara yang menghadang. Wajar mereka dihadang, mobil itu mencoba menyalip mobil-mobil lain dengan menggunakan jalur orang lain yang berlawanan arah. Tapi ketimbang mengaku salah dan membantu m...

Accessing Microcosmic

Image
Sebuah artikel pernah menyatakan bahwa teknologi paling mutakhir di masa depan bukanlah dunia digital dan mesin seperti sekarang, melainkan kemampuan internal manusia. Oke, sebentar. Sebelum saya jelaskan apa maksudnya, ada baiknya kita tengok sebentar teori ini: Bumi itu bulat, dan semua orang percaya bahwa pergerakan bumi pun membentuk lingkaran. Oval, round, you name it. ( This discussion is excluding flat earth believers) karenanya apa yang ada di seisi bumi, pun bergerak melingkar bahkan hingga partikel terkecil seperti atom dan inti atom. Tidak terkecuali bagi perubahan jaman. Berputar, mengeliling, hingga akhirnya kembali ke titik semula. Yang bisa jadi, adalah; ketiadaan. Teori ilmiah bukan untuk dibuktikan, seperti kata Dr Percy Seymour dalam bukunya yang mengatakan bahwa " one extremely important aspect of the scientific approach which is known to all scientists, but may not be so well known to nonscientists , is that there is no such thing as scientific proof. One ...

Konsep Sederhana Minimalism

Image
Baru saja saya tertidur pada pkl satu dini hari setelah membaca artikel tentang Polyphasic sleep sebelum tiba-tiba terbangun pada 1.20 oleh entah apa. Hanya saja, seolah membuktikan artikel yg baru saya baca, saya sudah sangat segar dalam dua puluh menit terlelap barusan. Polyphasic Sleep Society adalah orang-orang yang hanya tidur dua jam setiap harinya. Selebihnya mereka menggantungkan istirahat pada naps atau tidur siang dalam rentang waktu: dua puluh menit setiap dua jam. Alasannya, dengan waktu sesingkat itu, tubuh akan cepat memasuki fase REM ( Rapid Eye Movement ). Fase itulah yang membuat orang beristirahat dan menyegarkan fungsi-fungsi organ tubuh. Lewat dari fase itu, adalah fase regenerasi sel yang (katanya) tidak begitu dibutuhkan namun baik jika dilakukan. Artinya, saat saya tertidur pada rentang waktu pkl 1.00 - 1.20, saya sudah langsung memasuki fase REM. Bangun pun mata sudah kembali segar dan tubuh sudah normal. Saya sebetulnya bisa melakukan apa saja saat ini, (...

Batak Land

Image
Menggali memori di Tanah Batak, seperti tidak habis cerita membahas masa lalu. Rumah jaman dulu, mobil jaman dulu, hutan jaman dulu. Semakin dibahas saya semakin tenggelam mendengarkan. Antusias bertanya jika pencerita mulai terdiam. Termasuk ketika kita dipanggil masuk ke dalam rumah Pengasingan Bung Karno semasa di tahan oleh Belanda, pasca kemerdekaan. Rumah yang terkenal angker. Rumah yang konon hanya boleh ditempati oleh para pejabat tinggi. Pun pada saat kami datang, sedang ada seorang asisten bupati yang sangat ramah menyambut dan mempersilakan kami naik ke lantai atas. Silakan berfoto, hanya saja foto itu tidak diperkenankan tampil di media sosial. Begitu pinta penjaga rumah. Ia menceritakan sejarah bagai pendongeng mendongeng untuk anak-anak. Untuk sesaat saya membayangkan jalanan aspal ini belum ada. Rumah-kios belum se ramai dan se rapat ini letaknya. Hamparan luas sayur mayur, padi, cabai dan tomat terbentang dimana-mana. Sang Presiden menempuh jalan darat menggunakan mob...

Nagori Seribu Dolok

Image
Matahari sudah tenggelam separuhnya saat kami meninggalkan Bukit Simarjarunjung. Menyisakan semburat jingga keemasan di balik bukit Tigarasan. Danau Toba masih jelas terpampang di hadapan kami, biru dan tidak terganggu. *** Alunan musik lagu lama, kesukaan bapak usia tiga puluhan si pemilik mobil, mengalun pelan di dalam mobil berisikan lima orang. Sengaja berdesakan, tiga orang di bangku tengah, biar hangat katanya. Saya duduk di sebelah Pak Sopir yang sedang bekerja. Mobil kami melaju kencang menembus jalan kecil berkelok-kelok yang dipenuhi pemandangan Danau Toba, nyaris di sepanjang jalan. Hingga matahari tidak lagi menyisakan jejak, turunlah hujan. Perlahan namun pasti, hujan kian menderas. Tak ayal kami pun kedinginan, karena ac di dalam mobil harus dinyalakan agar kaca mobil tidak berembun, padahal sedari kemarin yang digunakan hanyalah penghangat mobil. Karena meskipun tidak hujan, suhu di luar bisa mencapai 20 derajat celcius. Mulailah kami tertawa. Salah seorang berke...

Ruang Bicara Seorang Minimalist

Image
Kadang kita tidak sadar bahwa kita tengah diperbudak. Oleh ego dan ambisi yang tiada batas, tapi ketiadaan ego dan ambisi pun mustahil adanya. Karena manusia pasti diciptakan dengan ego, hawa nafsu, yang mengarah pada ribuan ambisi tuk dicapai. Rumah pun menjadi sasaran ego dan ambisi. Benda-benda yang tertumpuk di dalamnya, kadang melambangkan hal-hal yang kita ingin tunjukkan. Bahwa iniloh saya ! Berlapis-lapis gambar dan hiasan memenuhi ruang dan dinding. Padahal ditengok pun jarang. Setiap kali saya main ke desa di Kalimantan atau Sumatera, jarang sekali saya menemui rumah yang penuh dengan hiasan seperti rumah-rumah di akun instagram vogue living (yang sering saya like ). Rata-rata rumah orang Dayak atau Batak itu memiliki ruang kosong, luas, tanpa furniture kecuali satu buah rak televisi (jika ada televisi) dan satu set kursi (jika ada set kursi, tapi kebanyakan hanya hamparan tikar). Fungsional? Jelas. Ruang seluas itu biasanya ada di rumah-rumah kepala desa atau para peting...

Minimalism in North Sumatera

Image
Bangunan yang berdiri sejak empat generasi (bahkan lebih) itu membuat saya terdiam lama. Bagaimana.. Pikir saya.. Melengkungkan kayu sebegitu panjang? Hanya terpikir batang pohon dengan lingkar amat lebar lah yang bisa dibentuk dengan leluasa. Saya semakin sesak napas jika mengingat harganya sekarang. Jaman dimana serbuk kayu saja sudah melangit, apalagi kayu solid. Ditambah lagi, bangunan itu dibuat tanpa paku. Hanya teknik kait mengaitkan kayu dan pasak yang semakin memperumit proses pembuatan. Sekarang orang sudah jarang ada yang bisa membuat pahatan dan bentuk bangunan seperti di Sumatera Utara, rumah orang Batak yang terdiri dari satu marga per rumah. Ah.. Semakin mudah saja orang membuat rumah, untuk apa bersusah payah mengukir memahat jika ada paku tuk menyatukan. TOK!! *** Jika menyempatkan diri masuk ke dalam rumah adat Suku Batak, anda akan mendapati ruang kosong tanpa sekat. Hanya ada satu ruang yang berupa lantai tambahan, dilengkapi dengan tangga dan dipan serupa kama...

Mnimalist Millennial Talks about Sustainabilty

Image
Kami adalah millennial yang bingung. Termakan berita di media bahwa bumi sedang sekarat, ingin melakukan sesuatu tapi nampaknya dunia tak butuh tangan kami. Jika diibaratkan bunga mawar, maka kami ini tengah menguncup dan hendak mekar. Sejak masih benih, kami selalu dibisikkan kalimat-kalimat menyemangati, bahwa kelak jika sudah besar, kami akan menjadi bunga yang berguna. Yang membahagiakan banyak orang ketika mekar dengan indahnya. Namun tepat ketika kami hendak mekar, matahari berhenti bersinar. Seolah berkata: tak usah mekar , dunia tidak butuh parasmu . Ia butuh sari mu . Bekerjalah kamu . Bersusah payah lah di ruangan sana. Pesona mu tidak lagi ditunggu . Keringatmu lah yang kami mau . Lalu, ketimbang bermekaran dan memberi value bagi seisi bumi, kami berjalan beriringan menuju ruang ekstraksi. Yang penting sari, begitu kata matahari. *** Di awal penulisan blog ini saya bercerita tentang dua perempuan muda, at their thirties tapi sudah sangat menginspirasi. K...

Circle of Joy

Image
If you live a fulfilling life, you have plenty of friends to laugh with but not to talk with, you're exhausted but you don't know why.. I think all I can say is.. I can feel you. And no matter what I do, no matter how busy I am, I won't check my schedule if you call me that you need me. *** Punya teman bicara memang menyenangkan. Apalagi kalau mereka bisa mendengar sekaligus merasakan yang kita rasa, dan menyenandungkan lagu yang sama. Saya rasa, cukuplah teman bicara yang menjadi harta kekayaan seseorang yang tak ternilai harganya. Karena mereka tidak bisa dibeli, pun tidak bisa ditemukan dengan mudah. *** Sejak memutuskan untuk menjadi minimalist, saya juga melepas beberapa lingkaran yang saya rasa tidak lagi membawa kebahagiaan pada hidup saya. Tidak memberi value lebih dalam selain untuk 'berjaga-jaga'. The just in case condition yang selalu dipegang erat oleh manusia, yang takut akan perubahan. Bukan berarti saya memutuskan tali silaturahmi, karena...

Contentment in Minimalism

Image
Minimalism is about clarity. To simplify things in a complicated world. Tapi hati-hati dengan ego traps. Perasaan bahwa diri sendiri lebih baik dari orang lain. Bahwa diri sendiri lebih bahagia dari orang lain. Dan bahwa diri sendiri lebih sederhana dari orang lain. We cannot compare our happiness to other. A piece of cake, in the same size, will bring different level of happiness to two different kids. Ketika melihat orang lain tengah mempersiapkan masa depannya dengan rumit, tidak perlu menyela dengan berkata "ah terlalu rumit! Saya dong, sederhana" Simplicity has no measurement. One cannot compare their simplicity to others. Bisa saja pakaian seharga satu juta rupiah adalah sederhana bagi orang berpenghasilan seratus juta per bulan. We cannot judge someone if they're living a lavish or prudent life. *** With minimalism, we reach the stage of life in which we don't have to compare our self. Comparing is the thief of joy. Why bother if someone got the new car, if...

Minimalist Food

Image
Saya tertawa membaca komentar dalam salah satu cuplikan tulisan Josh and Ryan the duo minimalist . Si penulis komentar bertanya, "bagaimanakah cara seorang minimalist makan?" Dan jawabannya sederhana.. We eat with our mouth, teeth and tongue. Beberapa orang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi prinsip yang sedang digemari banyak orang ini. Yang skeptis pun banyak, sampai-sampai mengira bahwa minimalist adalah sufi yang benar-benar harus terlepas dari keinginan duniawi, termasuk makan. Bagi saya, tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana seorang minimalist makan. Karena minimalism adalah prinsip yang berdasar pada kebahagiaan, dan damai dalam diri. Jika terlalu banyak aturan, justru akan menghilangkan kebebasan. Dan itu, malah bukan mendatangkan bahagia melainkan rasa  cemas. Namun Marie Kondo, seorang konsultan di bidang penataan ruang-dan rumah, menyarankan untuk tidak menumpuk makanan secara berlebih. Dalam satu postingan yang ia publis di media sosial, Marie ...

Simplicity

Image
Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untuk apa kita diutus kesini ? Untuk apa ruh kita ditiupkan ke jasad ini , dan menghuni satu bagian kecil dari semesta bernama bumi ? "Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika. Pahala? Untuk apa mencari pahala? "Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial. Bahagia? Bukankah disana kita sudah bahagia? Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala? Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana? *** Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas. Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini? J...

Fighting the Old Habit: How to Deal with Stuff that Spark Joy in Store, but You Don't Need

Image
First of all, start to reduce the visits to the mall. Before you've mastered the art of minimalism, better not to go to the mall at all. Because I know how hard it is to refuse the big board of ALL ITEM SALE in the brand new shoes we like. Diawali dengan ' ah cuma liat ' diakhiri dengan 'ada lagi ? Kalau tambah satu jadi lima ratus ribu dan gratis member' yang kemudian galau berkepanjangan, antara menambah satu sepatu that we don't need atau melewatkan kesempatan emas tawaran yang katanya terbatas . *** Mungkin bagi sebagian orang jalan-jalan ke mall adalah satu bentuk melepas penat yang efektif, karena hutan jauh dan pantai apalagi. Uang bukan masalah, karena mereka punya akses berlebih dan bisa membeli apa saja sehingga mereka tidak akan keberatan untuk masuk ke toko-toko yang menjual benda-benda menyenangkan. Entah itu baju dengan bahan super lembut, design super lucu, atau sepatu yang super empuk, nyaman dan elegan untuk dipakai. Jika kamu terma...