A Fault in My Minimalism; And How to Deal With That
At the end of the day, we have to clear our mind from hatred and guilt. Those two only eliminate peace that we need. *** Karena saya merasa bersalah. Dalam dua hari ini telah merasa gagal menjadi minimalist. Saya kini berusaha untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak perlu terlalu keras dalam memegang prinsip yang baru. Ya, minimalism tergolong baru bagi saya. Maka tidak perlu terlalu berlebihan dalam bersikukuh. Kompromi sesekali juga perlu. Because everyone can be a minimalist. I can. YOU can. All of us, we can be a minimalist. Asalkan mau dan konsisten. Seperti misalnya, seorang muslim yang ingin berhijrah menjadi lebih taat. Mulai dari gaya berpakaian ia ubah, cara bertutur sikap, memperbaiki ibadah, hingga caranya berpikir dan memandang permasalahan. Yang tadinya pakai baju serba ketat, diubah menjadi longgar. Kerudung yang diikat ke leher, agak dipanjangkan menutupi dada. Sholat yang tadinya diulur hingga ke penghujung, mulai dimajukan menjadi awal waktu. Yang t...