Skip to main content

Demons

"No matter what we breed, 
We still are made of greed
This is my Kingdom come
This is my Kingdom come

When you feel my heat, 
look into my eyes
It's where my demons hide
It's where my demons hide
Don't get too close
It's dark inside
It's where my demons hide,
It's where my demons hide" 
Imagine Dragons - Demons. 

***

Secuplik lagu tadi menutup perjalanan saya pulang kantor malam ini. Sembari mengantri macet oleh sebab mobil yang melampaui batas, mengambil jalur sebelah dan menghambat pergerakan lalu lintas, yang justru menjadi tontonan lucu karena mobil yang sepertinya dikendarai oleh sepasang suami istri itu, malah marah-marah. Padahal mereka salah. Saya menyaksikan bagaimana sang istri turun dari mobil, marah-marah, memarahi pengendara yang menghadang. Wajar mereka dihadang, mobil itu mencoba menyalip mobil-mobil lain dengan menggunakan jalur orang lain yang berlawanan arah. Tapi ketimbang mengaku salah dan membantu mengatur lalu lintas, si Ibu justru turun untuk marah-marah dan menyalahi pengendara sebelah dengan "bapak juga sih gak mau ngalah!"

Saya tertawa saja. Kenapa harus marah kalau tahu salah, dan apa juga gunanya marah-marah dalam situasi padat begitu. Mending ibu itu diem di dalam mobil, nikmatin ac yang dingin sambil mendinginkan kepala kalau tidak bisa mengurai benang kusut akibat ketidaksabaran mereka berdua menikmati Bogor yang memang selalu macet. 

***

Pagi ini saya mendapat pesan dari seorang kawan lama, singkat namun cukup berkesan. Pagi saya yang penuh dengan interaksi dalam genggaman (alias ponsel), menjadi agak cerah setelah berjuang dengan berbagai mood booster untuk bisa berangkat ke kantor. Sederhana saja, teman saya itu mengirimi link dari blog ini, sambil menyemangati untuk terus menulis. Singkat, namun mampu merubah hari seseorang. 

Kita tidak akan pernah tahu, bahwa bahkan hal terkecil sekalipun bisa bermakna amat besar bagi orang lain. Dampak yang kita timbulkan, rasanya sulit jika diukur sendiri karena orang lain yang merasakan. Untuk itu dalam Islam selalu disebutkan, bahwa kebaikan sekecil biji zarrah sekalipun pasti akan dihitung. Pun sebaliknya. Ibu tadi tidak pernah tahu akan berapa lama rasa sakit hati yang dipendam oleh bapak pengendara mobil dari arah berlawanan itu. Sehari? Dua hari? Setahun? Atau bahkan seumur hidup?

Setiap orang punya persoalannya masing-masing, they fight their own battle. Kita ini sudah terlalu sibuk hidup masing-masing sampai lupa rasanya bergotong-royong dan membantu tanpa imbalan. 

***

No matter what we breed, we still are made of greed. 

Minimalist dalam dunia perempuan, tentu tidak akan semudah minimalism yang ditunjukkan oleh Joshua Becker atau duo The Minimalist Josh and Ryan, karena perempuan membawa lebih banyak bawaan ketimbang laki-laki. Terutama emotional baggage. 

Untuk itu jika disekelilingmu ada perempuan yang sedang berusaha untuk berubah menjadi lebih baik, jangan goda dia dengan mengingatkan tentang dirinya yang lama. Misal jika dia dulu punya panggilan buruk, jangan ingatkan dia tentang panggilan buruk itu. People change, she might be not that person anymore. Ignoring that, means you disrespect her effort to be a better woman. 

Kita semua punya Demons di dalam diri masing-masing. Sisi gelap yang kita tidak ingin orang lain ketahui. Bisa saja itu adalah hasrat, ambisi, atau mungkin penyakit hati. Melihat hidup orang lain lebih baik seperti yang ia tampilkan dalam akun media sosialnya, lalu cemburu karena pakaiannya lebih bagus, atau sepatunya lebih trendy. Mudah saja sisi gelap itu menguasai seseorang, seperti halnya Dewa Ares menguasai nafsu berperang umat manusia. 

Minimalism juga berarti adalah kontrol diri. Mengendalikan sisi gelap agar berada dalam batas sewajarnya. Spending time alone, adalah salah satu cara jitu untuk mempertajam kemampuan pengendalian diri. Berpikir sendiri, melakukan perjalanan sendiri. Saya bisa menulis rutin setiap malam hanya jika sedang berada di rumah yang -meskipun berdua- tapi kita punya waktu untuk bersama dengan diri sendiri. Sedangkan jika sedang bertugas di lapangan, bergabung dengan sekian banyak orang, tertawa bercanda sepanjang waktu, sulit menemukan waktu untuk berpikir sendirian apalagi mengevaluasi diri sendiri. Akibatnya, saya kadang tidak tahu apakah saya telah melampaui batas dalam bercanda, atau justru telah menyakiti hati orang lain. Tidak tahu. 

Makanya dalam Islam, disebutkan bahwa tertawa itu mematikan hati. Rasulullah mencontohkan tawanya paling bahagia sebagai senyum lebar, bukan terpingkal-pingkal. Because that's when the Demons are partying inside. When we forgot how to behave and dismissed the attitude. 

***

Yah.. setidaknya jika kita belum bisa berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon, pengendalian perubahan iklim, dan tidak juga bisa mengurangi konsumsi plastik yang semakin mencemari bumi, kita bisa berbuat baik pada orang lain dan sesama dengan menjadi minimalist. Dimulai dari membangun inner peace, dan mengeliminasi segala macam hal yang hanya bersifat menuh-menuhin ruangan. Semakin luas, semakin tenang. Begitupun dengan social circle. Tidak semua kenalan harus kita bawa hingga akhir. Beberapa memang hanya ditakdirkan bertemu dalam perlintasan, lalu berpisah di jalan masing-masing. 

Penting bagi seseorang untuk bisa mengendalikan the beast yang ada di dalam dirinya, dan hanya pikiran jernih saja tempat yang tidak disukai oleh Demons. Jangan mau dikuasai Demons, karena hal kecil saja bisa berarti perang nantinya. Demons bukan cuma soal amarah, tetapi juga bayang-bayang cinta yang kita pikir itu milik kita, padahal bukan. Fall in love is easy, but fall out love is frustrating. Demons tidak akan membiarkan itu terjadi, karena dengan memendam perasaan-perasaan yang bukan milik kita, akan membuat kita tersiksa. Mereka senang jika kita tersiksa. 

Lepaskan. 

Demons are also baggage to eliminate, which weigh us down from moving forward. 

Jika cerita itu milikmu, pasti dia akan datang dengan mudah. Tanpa perlu mengiba, apalagi memaksa. 

***

Thank you, Imagine Dragons.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …