Posts

Showing posts with the label minimalist

Demons

Image
"No matter what we breed,  We still are made of greed This is my Kingdom come This is my Kingdom come When you feel my heat,  look into my eyes It's where my demons hide It's where my demons hide Don't get too close It's dark inside It's where my demons hide, It's where my demons hide"  Imagine Dragons - Demons.  *** Secuplik lagu tadi menutup perjalanan saya pulang kantor malam ini. Sembari mengantri macet oleh sebab mobil yang melampaui batas, mengambil jalur sebelah dan menghambat pergerakan lalu lintas, yang justru menjadi tontonan lucu karena mobil yang sepertinya dikendarai oleh sepasang suami istri itu, malah marah-marah. Padahal mereka salah. Saya menyaksikan bagaimana sang istri turun dari mobil, marah-marah, memarahi pengendara yang menghadang. Wajar mereka dihadang, mobil itu mencoba menyalip mobil-mobil lain dengan menggunakan jalur orang lain yang berlawanan arah. Tapi ketimbang mengaku salah dan membantu m...

Accessing Microcosmic

Image
Sebuah artikel pernah menyatakan bahwa teknologi paling mutakhir di masa depan bukanlah dunia digital dan mesin seperti sekarang, melainkan kemampuan internal manusia. Oke, sebentar. Sebelum saya jelaskan apa maksudnya, ada baiknya kita tengok sebentar teori ini: Bumi itu bulat, dan semua orang percaya bahwa pergerakan bumi pun membentuk lingkaran. Oval, round, you name it. ( This discussion is excluding flat earth believers) karenanya apa yang ada di seisi bumi, pun bergerak melingkar bahkan hingga partikel terkecil seperti atom dan inti atom. Tidak terkecuali bagi perubahan jaman. Berputar, mengeliling, hingga akhirnya kembali ke titik semula. Yang bisa jadi, adalah; ketiadaan. Teori ilmiah bukan untuk dibuktikan, seperti kata Dr Percy Seymour dalam bukunya yang mengatakan bahwa " one extremely important aspect of the scientific approach which is known to all scientists, but may not be so well known to nonscientists , is that there is no such thing as scientific proof. One ...

Minimalist Trip #1: Prapat - Balige - Porsea

Image
Berkunjung ke Sumatera Utara rasanya tidak lengkap jika belum ke Danau Toba. Seperti yang diceritakan, dunia seperti kiamat ketika Danau Toba terbentuk, dan bagi para pemikir akan membaca betapa dibalik sebuah bencana mahadahsyat, terbentuklah panorama yang teramat indah. Sangat indah untuk dipuja dalam kata. *** Kultur Orang Batak sudah lama menempati posisi spesial dalam hati saya, karena perilaku mereka yang cenderung percaya diri dan berkarakter membuat saya selalu senang bergaul dengan perantau-perantau Batak semasa kuliah dulu. Pertama kali saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tanah Batak, yaitu satu tahun yang lalu, saya langsung jatuh hati dan memutuskan untuk ingin kembali lagi. Keinginan saya tersebut terkabul setahun kemudian, ketika perusahaan yang sama meminta perusahaan konsultan tempat saya bekerja untuk melakukan penilaian di areal berbeda. Meskipun masih dalam cakupan kabupaten yang sama. Kembali terbang ke Bandara Silangit, menyaksikan julangan bukit-bukit ...

Konsep Sederhana Minimalism

Image
Baru saja saya tertidur pada pkl satu dini hari setelah membaca artikel tentang Polyphasic sleep sebelum tiba-tiba terbangun pada 1.20 oleh entah apa. Hanya saja, seolah membuktikan artikel yg baru saya baca, saya sudah sangat segar dalam dua puluh menit terlelap barusan. Polyphasic Sleep Society adalah orang-orang yang hanya tidur dua jam setiap harinya. Selebihnya mereka menggantungkan istirahat pada naps atau tidur siang dalam rentang waktu: dua puluh menit setiap dua jam. Alasannya, dengan waktu sesingkat itu, tubuh akan cepat memasuki fase REM ( Rapid Eye Movement ). Fase itulah yang membuat orang beristirahat dan menyegarkan fungsi-fungsi organ tubuh. Lewat dari fase itu, adalah fase regenerasi sel yang (katanya) tidak begitu dibutuhkan namun baik jika dilakukan. Artinya, saat saya tertidur pada rentang waktu pkl 1.00 - 1.20, saya sudah langsung memasuki fase REM. Bangun pun mata sudah kembali segar dan tubuh sudah normal. Saya sebetulnya bisa melakukan apa saja saat ini, (...

Nagori Seribu Dolok

Image
Matahari sudah tenggelam separuhnya saat kami meninggalkan Bukit Simarjarunjung. Menyisakan semburat jingga keemasan di balik bukit Tigarasan. Danau Toba masih jelas terpampang di hadapan kami, biru dan tidak terganggu. *** Alunan musik lagu lama, kesukaan bapak usia tiga puluhan si pemilik mobil, mengalun pelan di dalam mobil berisikan lima orang. Sengaja berdesakan, tiga orang di bangku tengah, biar hangat katanya. Saya duduk di sebelah Pak Sopir yang sedang bekerja. Mobil kami melaju kencang menembus jalan kecil berkelok-kelok yang dipenuhi pemandangan Danau Toba, nyaris di sepanjang jalan. Hingga matahari tidak lagi menyisakan jejak, turunlah hujan. Perlahan namun pasti, hujan kian menderas. Tak ayal kami pun kedinginan, karena ac di dalam mobil harus dinyalakan agar kaca mobil tidak berembun, padahal sedari kemarin yang digunakan hanyalah penghangat mobil. Karena meskipun tidak hujan, suhu di luar bisa mencapai 20 derajat celcius. Mulailah kami tertawa. Salah seorang berke...

Ruang Bicara Seorang Minimalist

Image
Kadang kita tidak sadar bahwa kita tengah diperbudak. Oleh ego dan ambisi yang tiada batas, tapi ketiadaan ego dan ambisi pun mustahil adanya. Karena manusia pasti diciptakan dengan ego, hawa nafsu, yang mengarah pada ribuan ambisi tuk dicapai. Rumah pun menjadi sasaran ego dan ambisi. Benda-benda yang tertumpuk di dalamnya, kadang melambangkan hal-hal yang kita ingin tunjukkan. Bahwa iniloh saya ! Berlapis-lapis gambar dan hiasan memenuhi ruang dan dinding. Padahal ditengok pun jarang. Setiap kali saya main ke desa di Kalimantan atau Sumatera, jarang sekali saya menemui rumah yang penuh dengan hiasan seperti rumah-rumah di akun instagram vogue living (yang sering saya like ). Rata-rata rumah orang Dayak atau Batak itu memiliki ruang kosong, luas, tanpa furniture kecuali satu buah rak televisi (jika ada televisi) dan satu set kursi (jika ada set kursi, tapi kebanyakan hanya hamparan tikar). Fungsional? Jelas. Ruang seluas itu biasanya ada di rumah-rumah kepala desa atau para peting...

Mnimalist Millennial Talks about Sustainabilty

Image
Kami adalah millennial yang bingung. Termakan berita di media bahwa bumi sedang sekarat, ingin melakukan sesuatu tapi nampaknya dunia tak butuh tangan kami. Jika diibaratkan bunga mawar, maka kami ini tengah menguncup dan hendak mekar. Sejak masih benih, kami selalu dibisikkan kalimat-kalimat menyemangati, bahwa kelak jika sudah besar, kami akan menjadi bunga yang berguna. Yang membahagiakan banyak orang ketika mekar dengan indahnya. Namun tepat ketika kami hendak mekar, matahari berhenti bersinar. Seolah berkata: tak usah mekar , dunia tidak butuh parasmu . Ia butuh sari mu . Bekerjalah kamu . Bersusah payah lah di ruangan sana. Pesona mu tidak lagi ditunggu . Keringatmu lah yang kami mau . Lalu, ketimbang bermekaran dan memberi value bagi seisi bumi, kami berjalan beriringan menuju ruang ekstraksi. Yang penting sari, begitu kata matahari. *** Di awal penulisan blog ini saya bercerita tentang dua perempuan muda, at their thirties tapi sudah sangat menginspirasi. K...

Circle of Joy

Image
If you live a fulfilling life, you have plenty of friends to laugh with but not to talk with, you're exhausted but you don't know why.. I think all I can say is.. I can feel you. And no matter what I do, no matter how busy I am, I won't check my schedule if you call me that you need me. *** Punya teman bicara memang menyenangkan. Apalagi kalau mereka bisa mendengar sekaligus merasakan yang kita rasa, dan menyenandungkan lagu yang sama. Saya rasa, cukuplah teman bicara yang menjadi harta kekayaan seseorang yang tak ternilai harganya. Karena mereka tidak bisa dibeli, pun tidak bisa ditemukan dengan mudah. *** Sejak memutuskan untuk menjadi minimalist, saya juga melepas beberapa lingkaran yang saya rasa tidak lagi membawa kebahagiaan pada hidup saya. Tidak memberi value lebih dalam selain untuk 'berjaga-jaga'. The just in case condition yang selalu dipegang erat oleh manusia, yang takut akan perubahan. Bukan berarti saya memutuskan tali silaturahmi, karena...

Contentment in Minimalism

Image
Minimalism is about clarity. To simplify things in a complicated world. Tapi hati-hati dengan ego traps. Perasaan bahwa diri sendiri lebih baik dari orang lain. Bahwa diri sendiri lebih bahagia dari orang lain. Dan bahwa diri sendiri lebih sederhana dari orang lain. We cannot compare our happiness to other. A piece of cake, in the same size, will bring different level of happiness to two different kids. Ketika melihat orang lain tengah mempersiapkan masa depannya dengan rumit, tidak perlu menyela dengan berkata "ah terlalu rumit! Saya dong, sederhana" Simplicity has no measurement. One cannot compare their simplicity to others. Bisa saja pakaian seharga satu juta rupiah adalah sederhana bagi orang berpenghasilan seratus juta per bulan. We cannot judge someone if they're living a lavish or prudent life. *** With minimalism, we reach the stage of life in which we don't have to compare our self. Comparing is the thief of joy. Why bother if someone got the new car, if...

Minimalist Food

Image
Saya tertawa membaca komentar dalam salah satu cuplikan tulisan Josh and Ryan the duo minimalist . Si penulis komentar bertanya, "bagaimanakah cara seorang minimalist makan?" Dan jawabannya sederhana.. We eat with our mouth, teeth and tongue. Beberapa orang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi prinsip yang sedang digemari banyak orang ini. Yang skeptis pun banyak, sampai-sampai mengira bahwa minimalist adalah sufi yang benar-benar harus terlepas dari keinginan duniawi, termasuk makan. Bagi saya, tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana seorang minimalist makan. Karena minimalism adalah prinsip yang berdasar pada kebahagiaan, dan damai dalam diri. Jika terlalu banyak aturan, justru akan menghilangkan kebebasan. Dan itu, malah bukan mendatangkan bahagia melainkan rasa  cemas. Namun Marie Kondo, seorang konsultan di bidang penataan ruang-dan rumah, menyarankan untuk tidak menumpuk makanan secara berlebih. Dalam satu postingan yang ia publis di media sosial, Marie ...

Simplicity

Image
Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untuk apa kita diutus kesini ? Untuk apa ruh kita ditiupkan ke jasad ini , dan menghuni satu bagian kecil dari semesta bernama bumi ? "Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika. Pahala? Untuk apa mencari pahala? "Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial. Bahagia? Bukankah disana kita sudah bahagia? Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala? Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana? *** Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas. Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini? J...