Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Children are not a means to your unfinished ambition

Just because you love a town you send them there to study so you can still have a connection to the town. Or just because you used to dream of becoming a doctor, you push them to be one. Children are not yours. They’re their own person, with their own mission. You are just a means to their path, one that mutualy benefiting each other. You raised them well and in exchange, every good deeds that they do, are coming back to you. That’s all. As for the dunya part., they are their own man. You will be forever their parents, older, (supposed to be) wiser, and more experienced. But they also have their own thinking, maybe you won’t listen because what do the kids know, right? But try listen. If you wanna get the mutual respect, you should make them feel heard. Or they walk away forever. 

Pada Hari Senin

Pulang ke rumah dengan kepala yang seperti dihujam samurai. Berat dan sakit sekali rasanya apalagi kalau abang gojek ngelewatin gundukan, ngerem aja sakit minta ampun apalagi dia gak ngerem. Saya hanya diam sepanjang jalan istigfhar dan berusaha menikmati pemandangan Bogor sehabis hujan. Kalau ada kubangan, dari jauh saya sudah pasang ancang-ancang, menahan kaki di pijakan dengan lebih kencang setidaknya untuk meredam sedikit hentakan.  Tetangga seperti biasa sedang duduk di halaman rumahnya saat saya sampai. Menyapa sebentar, membicarakan hal-hal remeh tentang ikan dan harga-harganya, tentang kemajuan jualan ikannya, sedikit tertawa pada topik yang rasanya sangat domestik dan ditutup dengan 'tetangga gue juragan ikan' ujar saya yang dibalas 'tetangga gue juragan juice' katanya. Saya benar-benar hanya ingin sendirian, berdua dengan pikiran. Tas saya letakkan sembarangan, langsung menyiapkan makan malam yang hanya sebutir alpukat dan tiga sendok gula merah, yang saya tin

October in Bogor

 Sebuah kutipan dari Bude Sumiati dua hari lalu, Bude Sumiati yang selalu jenaka menggelitik nan hadeh.  Katanya.. " sedang menguatkan diri tuk mau jatuh cinta lagi" yang langsung saya quote tweet pakai emoticon terbahak. Tidak lama kemudian menyusul sebuah mention dari kawan SMA saya, berkata " why is this reminds me of you.." sambil tertawa.  *** Oktober --baru saya sadari-- ternyata banyak sekali mengandung permulaan. Misalnya, ini adalah Bulan saya di wisuda, lima tahun yang lalu. Tepatnya 22 Oktober 2015 dan saya masih ingat betul kecemasan saat itu tentang jenis karir seperti apa yang hendak saya tempuh. Saya ingin yang bisa jalan-jalan, tapi juga memperjuangkan lingkungan, tapi tidak terlalu konservatif hingga tertutup pikirannya melulu tentang perlindungan. Dijawab tunai oleh Allah di bulan berikutnya, November, tanggal 3 saya bertolak ke Pangkalan Bun oleh ajakan seorang rekan yang baik sekali, dan on the fifth of November, saya masih ingat betapa mangkelny

A Wednesday

 I don't feel like 'live' today. Tidak biasanya, padahal kalau sehari sebelum sesi online, saya sangat semangat mempersiapkan ini dan itu, mencatat setiap detil yg harus saya sampaikan supaya tidak ada yang terlewat. Sekarang, saya malah baru mulai mengirimkan link ke peserta pukul sembilan malam, dan bikin presentasi untuk opening satu jam setelahnya.  Mungkin trauma.. mungkin saya memang tidak sekuat itu menghadapi omongan orang. Sesi terakhir berlangsung sangat meriah, semua yang datang antusias, dan sesi kali ini pun jumlahnya hanya sedikit berkurang dari sesi sebelumnya yang artinya ya masih sama banyak juga. Seperti hilang selera makan, tapi makan ayam bakar sambil facetime dikadik abege dua itu habis juga. Seperti enggan skincare, tapi lihat nanti habis nulis tulisan ini akan tetap skincare-an atau langsung tidur. Niatnya sih langsung tidur. Seperti kehilangan separuh semangat, pada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin saya sebal dengan sistem pencernaan yang

Bogor.. for some reason

Maybe father was right after all. This town has something, one that makes it feel like home and stranger at the same time. Maybe I can’t appreciate it that much because I live here and the only way to have a strong feeling about places, is when you are away from it. I realized it today, as I decided to take a walk after a two hours of exhausting online session. Though I did nothing. The walk was.. well.. the walk. The magnificent view of Mount Salak was covered by thick grey cloud, I love it at shiny days, tho. Mount Salak is breathtaking even from my block street.  “Hey, look! You can see Mount Salak from here” I told a friend who was giving me ride home. “Yeah, like I never saw it before” he replied, sarcastically. I laughed. Yea, he was right. There’s nothing to be amazed for. It’s just a regular view for us who live around. After one realization or two.. now I decided to stop wanting to get out of here. I must admit.. even I am not brave enough to do what I said I wanna do. I don’t

The Relationship I Love

Dari menelusuri jejak Astrologi, saya menemukan string theory. Dari string theory, saya menemukan minimalism. Dari minimalism, saya menemukan hubungan antara ruh dan cahaya dan entitas Allah.  Dari satu pikiran ke pikiran selanjutnya, semua bermuara pada Sang Maha Pencipta, padahal saya tidak sedang mencari-Nya. Setidaknya tidak seperti enam tahun silam saat saya tersesat di Saigon. Tapi dengan ke- Maha Murah-Nya, saya bisa kembali. Menemukan jalan yang saya jatuh cintai, pelan-pelan mencoba berbenah diri, merapikan hati dan memulai kembali. Tidak ada kata yang bisa mewakili rasa syukur terhadap ilmu yang Dia beri. Dari satu video youtube, ke artikel-artikel panjang, lalu ke buku-buku yang pada suatu waktu saya desperate mencari buku di masa pandemi lalu seorang rekan dengan santai menyarankan sebuah situs buku yang saya sebut 'perpustakaan' digital. Ya, karena saya hanya pinjam saja buku-buku itu, nanti kalau saya suka pasti saya beli. And then things are started to fall into

The Scientific Secret of Perfect Timing

 This is the book I read this week, I haven't finished yet, but there is something interesting here. “composer Pyotr Ilich Tchaikovsky would typically awaken between 7 a.m. and 8 a.m., and then read, drink tea, and take a walk. At 9:30, he went to his piano to compose for a few hours. Then he broke for lunch and another stroll during the afternoon” “writer Joyce Carol Oates operates on a similar rhythm. She “generally writes from 8:00 or 8:30 in the morning until about 1:00 p.m. Then she eats lunch and allows herself an afternoon break before resuming work from 4:00 p.m. until dinner around 7:00.”48” “Novelist Gustave Flaubert, who lived much of his adult life in his mother’s house, would typically not awaken until 10 a.m., after which he’d spend an hour bathing, primping, and puffing his pipe. Around 11, “he would join the family in the dining room for a late-morning meal that served as both his breakfast and lunch.” He would then tutor his niece for a while and devote most of the

Aku suka dinding kosong

"Kenapa, kan sama dengan CUB?" ujar Bu Ela beberapa hari yang lalu setelah ku sampaikan betapa beratnya jika harus pindah ke CUA. Bu Ela, direktur keuangan yang merangkap HRD kantor adalah salah satu orang terdekat ku di kantor sekarang ini yang bisa kuajak berbagi cerita.  Sejak pandemi semakin membuat bisnis menjadi tidak menentu, board direksi memutuskan untuk menyudahi kontrak rumah Jl Ciremai Ujung No 17B atau yang kusingkat menjadi CUB dan menjadi istilah populer. Rumah itu milik Bu Ela, berdampingan dengan kantor kami yang kusebut CUA. Bedanya dengan CUA, CUB adalah rumah kosong yang seperti masih baru. Karena sejak kami pindah dua tahun yang lalu, semua dinding di cat bersih dan tidak ada bekas paku-pakuan.  "Aku suka dinding kosong, Bu.." ujarku pelan. Bu Ela maklum dan mengiyakan. Dia pun punya perasaan yang sama terhadap rumah lama dan rumah baru. Seperti sudah tersentuh banyak orang, begitu ungkapan yang dia gunakan untuk menggambarkan CUA. Bulan Novembe

Coffee and Repeat

 Kopi adalah alasan saya menunggu pagi. Satu-satunya rutin yang masih bertahan sejak sebelum pandemi. Barusan saya baca buku tentang the perfect timing, ternyata sebaiknya kita tidak meminum kopi langsung setelah bangun tidur, melainkan harus memberi jeda terlebih dahulu. Jeda tersebut untuk menyiapkan tubuh memproduksi hormon cortisol (or something.. I should check again tomorrow), supaya efek kafein nya lebih bisa berfungsi. Jika hormon itu belum terproduksi, akibatnya nanti kita akan mengalami insensitifitas terhadap kafein, sehingga dosis yang dibutuhkan akan terus bertambah. Saya hanya memperbolehkan diri saya untuk minum 250 ml kopi setiap hari. Hanya lebih kalau deadline benar-benar mepet, tapi jarang sih sekarang saya kayak begitu. Maka, pagi lah satu-satunya waktu saya bisa bercengkrama merasakan efek pahit-menyegarkan dengan aroma yang-memanjakan. Halah. Untuk itu saya selalu antusias menyambut pagi. Karena ada kopi yang bisa saya nikmati. Itu juga salah satu alasan kenapa pu

Why Music is Forbidden?

 There is one thing I still don't understand about my quest into religion: Music. Some of the strict scholars say it's haram, some others don't recommend it to us if we wanna fill the brain with The Quran, but other scholars even request music during their youtube live. I mean.. I still find it beautiful but at the same time intruding my mind if I try to memorize one ayah or two. But why is it beautiful? Like it touches and moves our soul. "When you're close to tears remember, Someday it'll all be over One day we're gonna get so high And though it's darker than December What's ahead is a different colour One day we're gonna get so high..." High - Lighthouse. Especially this one, one that I always play over and over again whenever I feel like at the dead end. " Don't you think it's time you started Doing what we always wanted, One day we're gonna get so high 'Cause even the impossible is easy When we got each other One d

Mean

 Ada orang mengatakan hal buruk pada saya hari ini. Membuat pagi yang super sibuk tadi menjadi semakin gelap dengan apa yang dia ucapkan. Saya jadi lupa segalanya karena isi kepala saya hanya tentang luapan emosi dari kalimat yang dia tuliskan. Kalau kata Mega, bikin ngilu. Iya, ngilu di hati ucapannya itu. Ingin sekali saya balas dengan singkat namun kejam, jika mau, saya bisa lebih tajam dari itu. Tapi apa gunanya, kan saya ingat pernah baca kutipan bijak, jika kamu beradu argumentasi dengan rekanmu, kamu menang atau kalah tetap tidak akan baik hasilnya untukmu. Jadi saya memilih diam, walau sakit bukan main. Saya beristighfar minta ampun sama Allah karna mungkin ada juga pernah ucapan saya yang menyerempet hati seseorang sedemikian rupa, dalam interaksi yang lalu-lalu, dan inilah balasan saya di dunia. Selang satu jam berikutnya, datang sebuah pesan dari teman lama yang laaama sekali tidak berkabar, tapi masih saling terkoneksi di sosial media. Isi pesannya, dia meminta gambar desig

When you’re physically exhausted

Dan hal sesimpel youtube mix aja bisa bikin baper.. karna muter lagu2 yg udah lamaaa ga pernah didenger lagi dan sekarang muncul lagi dgn setangkup memori yg udh berusaha dikubur. Sekuat tenaga melawan perasaan, skincare-an seperti biasa, dan bangga karna bisa melawan tangis demi keutuhan lapisan skincare.. tapi lalu bobol juga pertahanan setelah chatting dengan kakak kelas yg bercerita tentang polah ketiga anaknya yang membuat ramai di rumah. Bukan memori yg kutangisi. Semua itu sudah kututup gelap lelap. Apalagi rindu rindu tai kucing. No bukan itu. Mungkin karna jadwal lagi luar biasa menggila, dan ku semakin merasa kubutuh teman tuk bicara. Yang bukan sekedar teman karena teman tidak ikut merasa bersama. Tangisku hanya tumpah jika pikiran mulai bertanya pada-Nya. Aku masih kuat kan ya, Ya Allah? Dan itulah kenapa Dia masih membiarkanku sendirian. Karna ku masih sanggup. *** Bogor, 5 Oktober 2020

miiim mim

Age 28 and still wake up washing the bed and its bedsheet. Semalam sengaja tidur dgn bedsheet dan piyama yg baru disetrika karna kusuka yg harum-harum gitu. Padahal lagi period day one. Ku mikirnya kan udh gede ya masa masih bocor.. toh selama ini jg ga pernah bocor.. Dan bener aja dong. Bocor. Ku terlalu takut nanti punya pasangan bakal interfering my weird satisfaction onto clean and empty things, tp ga pernah berpikir apa jangan2 nanti aku yg interfering his clean and empty sheet.  Nggosok bekas bocor pagi ini sambil practicing meditation breathing berulang kali biar ga kesal sama diri sendiri. (Sambil janji nanti kalo punya anak remaja kudu dikasih perlak di bawahnya). Kasurku ternoda juga akhirnya hiks. Ini kayak waktu kompor putihku tertetesi kunyit muda dan gamau hilang. :( Sedihhh

Rindu Gorontalo dan Semua Isinya

 Kemarin grup call dengan sepupu-sepupu di Manado dan Gorontalo.. dan untuk pertama kali setelah sekian lamanya bisa dengar lagi kata lala mulu atau makang puji dari om-om yang sukanya ngeledek. :') Aku rindu Gorontalo dan lautnya yang biru, pasirnya yang putih, makanannya yang impossible.. aku rindu Gorontalo dan celoteh ramainya yang ga jelas apa intinya,. Foto ngambil dari instagram, karna malas nyari2.. takut nyasar di tumpukan folder.  Foto diambil hanya dengan kamera hp, tanpa edit apalagi filter. Karena Gorontalo memang sebagus itu sih.. *** Bogor, 3 Oktober 2020 Semoga Dia (My Master, My Allah), masih kasih ku kesempatan balik ke sana lagi.. walau entah kapan :')