Skip to main content

Posts

Decluttering Day 6: Outfit and Playlist

  Eventhough Marie Kondo said that in this process, you shouldn't be hearing anything such music. Not even podcast. You can put a relaxing-un-vocal natural ambience like waterfall, or ocean, but nothing with human voice in it. Because you need to focus. You need to be able to hear yourself clearly and loudly. This is between you and yourself, to decide whether or not you will keep the stuff. As for me.. well.. my decluttering process is more of mine that Marie Kondo's. So I kinda mix it together between decluttering in cleaning.  I will take out all of my stuff from it's place, and then, I will clean the empty boxes before I start to discarding. And during this process -taking out the items and cleaning the spaces- I always have some music or podcasts or religious lectures with me. (And I found a gem; Music Travel Love, a cover duet of a brother, in places like nature and city.. their voice is amazing, their shot is brilliant, and their music.. man.. I love everything about
Recent posts

Decluttering Day 5: Facing My Biggest Fear

  Sejujurnya tadi malam saya nyaris tidak bisa tidur memikirkan jigsaw puzzle pengaturan ruang, antara keinginan dan ketakutan. Saya ingin memindahkan meja kerja ke ruang tengah, itu artinya mungkin harus menggeser meja kopi yang sekarang suka dipake buat bikin juice ke dapur. Berarti saya harus menggeser meja oven, dan oven akan disatukan semeja dengan juicer. Nantinya, meja dapur akan pindah ke kamar depan. Mungkin untuk tempat duduk si teddy bear, atau mungkin juga untuk meletakkan prototype pajamas. Maka sebagai gantinya, saya akan membeli drawer set untuk menggantikan posisi meja kerja di kamar. Di situlah saya akan letakkan cermin, tanpa harus dipaku ke tembok.  Seolah-olah puzzle sudah teratasi, tapi ternyata.. Saya bangun dengan keputusan baru. Sebagaimana setahun yang lalu di Kupang, NTT, saat saya justru membatalkan Pulau Rote dan langsung potong kontur menyambangi Raijua. Badai, angin barat, you name it. Yang jelas, bahwa seseorang bisa bangun tidur dan berubah pikiran, itu

Decluttering Day 4: The Homeless in my House

  Sebagaimana chapter dalam buku, hari ini saya masuk babak ke-empat dari keseluruhan proses tidying-up. This is the rightest way to begin the change of life --life changing experience doesn't have to be travel far to the outside world, travel far to the inside could also do-- and Marie Kondo is 90% right about this process. Proses penyimpanan adalah memastikan semua benda memiliki rumah, karena sumber dari clutter adalah karena benda-benda itu tidak punya tempat khusus untuk mereka berteduh. Put items based on category, every single one of them should have a designated spot.  Jadi saya mulai mengkategorikan benda-benda. Mudah untuk pakaian, sulit untuk komono  atau printilan. Sekarang, masalah baru mulai datang. Dan benar kata Marie Kondo, ini seperti menyusun jigsaw puzzle yang butuh fokus mendalam. Kenapa saya bilang ini adalah masalah baru? Begini.. I have a thing with commitment, okay. I can't even permanently nail the cables to the wall karena saya masih sering berpindah

Decluttering Day 3: Reset Button

  This is harder than I thought. When I discard mementos from ten-fifteen years ago, as it turns out, it's easier than when I found a letter from a friend from a year ago. It was today when I finished my trip in Raijua. Hari ini saya juga selesai  nyaris selesai dengan proses tidying-up.  Tadi sore sudah mulai membersihkan ruang kosong di kamar depan. Barang-barang sudah siap pulang. Mereka yang dipulangkan adalah mereka yang memang masih saya ingat walau jarang dipakai: glue gun, hairdryer, songket Dayak buat cowok yang entah mau dikasih ke siapa padahal dulu dibeli tadinya buat Eyang. Sekarang Eyang sudah ga butuh lagi benda-benda seperti itu. Yang dia butuh hanya hadirnya kita di sana. Saya terlarut oleh emosi saat membaca surat dari Basa. Betapa saat itu, mati-matian ingin membunuh perasaan, dan hingga saat ini sulit sekali untuk bisa berperasaan lagi. I've gone too far, I think. I just have to stay in the middle, gak terlalu deep soal berperasaan, tapi juga ga heartless ju

02.14

  Entah apa ini karna emotional declutter, atau simply karna memang ruangan jadi penuh debu. Saya malah jadi flu berat, saking seringnya bersin dan menyeka hidung, sekarang kepala ikut-ikutan berat. Tapi bukan jenis kepala berat seperti waktu PMS. Beda ini mah. Ini jenis kepala berat yang bisa sembuh dengan decolgen. Omg.. I took another pill again tonite. Duh.. maaf ya kidneys.. Yang jelas, sedari tadi sy sudah mulai reda pileknya. Begitu keluar kamar sebentar tuk ke kamar mandi, hidung langsung meler lagi dan bersin bersin dahsyat lagi. Decluttering memento is truly a special and sacred moment!

Decluttering Day 2: What's past is past.

  Kamu merasa seperti berada di jalan buntu, menjalani rutinitas yang sama setiap hari dan seolah tidak ada progres. You were stuck, and it feels like a dead end. I'll tell you what, maybe you should revisit yourself. Tengok benda-benda yang lama tertumpuk di dalam lemari mu. Di dalam kotak-kotak yang kau janji akan digunakan suatu hari nanti tapi tidak pernah kau gunakan. Old pillow you never use, packaging boxes you promise to reuse or a necklace that you never wear. Semua benda itu, tidak hanya menyerap energi positifmu dan mentransfer energi negatif yang tanpa sadar kamu serap, mereka juga mengumpulkan debu-debu yang membuatmu tidak nyaman bahkan untuk sekedar mendekati mereka. Hari ini saya mulai decluttering lebih pagi. Selepas bikin sarapan dan melakukan satu-dua hutang pekerjaan, saya berhasil memulai jauh sebelum jam makan siang. Hasilnya, satu kotak tisu habis pada pukul sembilan malam. Seharian bersin tidak berhenti, padahal sudah pakai masker sensi. Debu-debu yang disim

Decluttering Day 1: Yes, it happens, and no, Marie Kondo isn't always right.

  Saya benar-benar berniat untuk decluttering hari ini, untuk itu serangkaian persiapan saya lakukan dan memulai perjalanan ini sejak pukul delapan.. malam. Jangan buru-buru menuduh saya sebagai true procrastinator because I am , karena saya punya alasan kenapa baru mulai selarut ini. ( o yeah. A true procrastinator always have the perfect excuses for why they're not doing what they should be doing).  Anyway,, Jika memang kamu dimaksudkan untuk melakukan sesuatu, maka semesta akan berkonspirasi untuk mengarahkanmu ke jalan yang harus kamu tempuh itu. Niat saya untuk membenahi clutter, ( clutter ki Boso Indonesane opo e.. ) sudah ada sejak awal Bulan Desember saat mulai merencanakan ajuan cuti tahunan. Saat itu cuti saya semua akan dipakai untuk mengurusi segala keperluan Eyang dan Mama (yang juga untuk urus Eyang). Mulai dari jemput ke bandara, istirahat di Bogor, antar ke Pamanukan, dan rute sebaliknya. Saya hitung-hitung itu semua hanya membutuhkan waktu enam hari karena ada tamb