Skip to main content

Posts

Hal-hal yang mengganggu pikiran

  Sudah lama saya tidak punya jam tidur berantakan. Terlebih sejak pandemi, jam tidur saya begitu teratur. Skincare jam delapan malam, rebahan di kasur jam sembilan, langsung pulas hanya dalam hitungan menit. Sekarang, pola berantakan itu kembali lagi. Disertai dengan satu dua bintik jerawat, dan nafsu makan yang tidak biasa. Malam ini saya putuskan untuk curhat. Bukan ke teman, tapi ke akun anonim di twitter. Tentu saja tanpa ekspektasi curhatan itu akan dibalas, walau ternyata dibalas juga dalam hitungan menit. Curhatan yang dibalas pertanyaan: “Tujuan karir jangka panjang lo apa? Kalau belum kepikiran, minimal lifestyle yang ingin lo jalanin 5 tahun ke depan apa? It’s a long game, bukan cuma soal gaji gede vs gaji kecil, lingkungan toxic atau non toxic” Bijak banget, yah? Bikin mikir. Tujuan karir jangka panjang lo.. apa? ***
Recent posts

The key to minimalism: Nothing is Really Yours!

  Beberapa hari yang lalu, saya tersadarkan oleh satu fakta bahwa, kita tidak pernah berada di jalan yang benar-benar lurus. This road called life, wasn't designed to be a straight path. Pantas saja, dalam Islam kita diminta untuk mengulang kalimat ' tunjukkan kami pada jalan yang lurus,..' minimal 17 kali sehari. Sejak mengikuti ajaran minimalism empat tahun yang lalu, saya senantiasa berada dalam fase me-review diri. Menjaga agar prinsip ini tidak luntur, walau seringkali terlena, lupa, melenceng, untuk kemudian kembali lagi. Karena dilakukan berulang-ulang, saya pikir.. ah mungkin sekarang saya sudah sangat terbiasa dengan minimalism. Sudah sangat mudah melepaskan, tidak lagi terbebani dengan kenangan, tidak lagi berat jika harus merelakan sesuatu itu pergi atau diambil dari saya. Karena memang itulah yang selalu terjadi, apapun yang saya miliki, jika itu hilang atau saya harus merelakannya untuk dibawa orang lain, saya selalu mampu untuk menyingkirkan rasa sedih itu dal

What solitude has taught me.. (part kesekian whatever)

  There was time when I need everyone. I needed my mom to hear my stories as I came home during high school break, but she was too busy with my baby sisters so she barely see the boxes I brought home filled with stuff which I was thrilled to show. I needed my father to teach me how to drive, but he couldn't help his anxious mind and yelled at me way too much.. more yelling than teaching, so I decided to learn to live without his help at all. I needed my boyfriend to be there for me, until I realised what we had wasn't love at all. I needed to be around my friends so I can feel less alone, that I have to commute for two hours back and forth after office just to do some karaoke night. I used to need everyone, until I learned that even if they love me, I still have to put my shit together on my own. I have to learn to be just with my self. As I grow up as an independent, brave, resilient woman, I started to not needing anyone. That feeling is liberating, but also scary at the same

Letaknya ketenangan jiwa

  Kita cenderung mudah terperangkap dalam pemikiran bahwa segala hal yang kita miliki sekarang ini adalah kondisi yang sangat rumit, yang butuh suatu perubahan sehingga nantinya hidup akan jadi lebih mudah. Padahal nyatanya, yang kita hadapi sekarang adalah level termudah karena ketika apa yang kita pikir bisa mempermudah hidup itu menjadi kenyataan, selalu ada hal lain yang datang dengan kerumitan berbeda.  Untuk itu kita terus menerus terjebak dalam pikiran; kalau ada A, hidup akan lebih mudah. Saat A sudah terwujud, ternyata ada A+ yang kita butuhkan. Kebutuhan untuk memenuhi A+ mendatangkan kerumitan baru, sampai terwujudlah A+ tadi. Dan seterusnya. Tadinya saya pikir kunci hidup bahagia adalah memiliki apa yang saya pikir akan mempermudah hidup saya. Ternyata kunci hidup bahagia adalah dengan menikmati apa yang ada di depan mata sekarang dan saat ini. Tadinya saya pikir ketenangan batin terletak pada perbuatan baik yang kita beri pada orang lain. Ternyata justru saya temukan keten

Yang unik tentang cinta

  Soalan satu ini, terus terang saya hanya berperan sebagai pengamat. Melihat, mendengar, terkagum, tanpa pernah benar-benar menjadi pemain utama. Lebih tepatnya, belum. Saya hanya sedang menunggu waktu dan orang yang tepat untuk melakoni aksi ini, dan sambil menunggu, saya habiskan waktu untuk memetik pelajaran dari satu per satu kisah cinta yang melintas di hadapan saya. Ada yang unik, yang lucu baru-baru saya temui. Kisah nyata, namun hubungan saya dengan mereka tidak perlu saya beberkan di sini. Anggap saja.. kami tidak saling mengenal,.. atau saling mengenal.. terserahlah. Mereka berdua adalah dua insan yang jatuh cinta saat usia masih sangat belia. Singkat cerita, perasaan yang mereka punya hanya bisa diendapkan diam-diam. Karena usia masih dianggap belum paham urusan cinta, hingga mereka beranjak dewasa. Pun karakter keduanya sama-sama pemendam.. pendiam.. dan cenderung tidak menampakkan apa yang mereka rasakan. Akhirnya mereka tumbuh besar, dan menikah dengan pilihan orang tua

Grumpy Nana

 You can drive for long hours without switching. You can make billions of money. You can be so powerful at your job that people admire you for your leadership skill. But none of that matters to your nana. As long as you’re not married, you achieved nothing. For her, the ultimate goal is to be a wife. Doesn’t matter if you cant do anything but to beg for your husband as long as you have a husband. May we all grow old with value. Have a sense of purpose, have vision. The world is more than just being a wife and do nothing but to be grumpy about every bits of money he gave. And then you busy spending your time talking about how much other people have. *** Bogor, May 24 01:20 Nyetir konvoi Bandung-Pantura. Pulang dr Pamanukan jam 9 malam nyampe Rumah Bogor jam satu dini hari. Sudah Senin. Mari bekerja. 

Hey, June

  Selain Maret, bulan lain yang paling spesial untukku adalah Juni. Di bulan itu, banyak orang yang akhirnya betah membersamaiku yang lahir di bulan Juni, utamanya para Gemini. Bayangkan, 14, 15, dan 16 Juni secara berturut-turut adalah ulang tahun sahabatku. Tiga-tiganya adalah sahabat dekat sejak SMA dan kuliah dan yang paling betah menghadapi mood ku yang berantakan, kelakuanku yang memalukan, dan jalan pikiranku yang paling aneh. Juga Bulan Juni adalah bulan kelahiran babeh, dan adik sepupu cucu Eyang yang paling bungsu. Btw.. Hai Eyang.. Lebaran kemarin aku tidur di kamar Eyang. Dua malam tidur di sana, dan aku semakin sadar betapa dekat Eyang dengan toa masjid. Suaranya menggema di seisi kamar setiap kali tadarusan atau azan. Eyang tidak pernah mengeluh ya, apalagi protes ke masjid. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan Eyang tentang-Nya, dan ya.. Eyang tidak pernah lupa pada-Nya kan. Buktinya, Allah panggil Eyang dengan cara yang saangat indah. Tradisi kita setiap kali lebara