Skip to main content

Posts

Scarcity

Akhirnya setelah sekian lama menulis hal-hal nir faedah, hari ini saya memutuskan tuk kembali menulis sesuatu yang berhubungan dengan minimalism. Terinspirasi dari buku yang sedang saya baca (belum selesai sih), tapi sudah gatal menuliskan 'respon' untuk buku itu.

Buku Scarcity yang ditulis oleh Sendhil Mullainathan dan Eidar Shafir ini intinya ingin bilang bahwa semakin seseorang kekurangan akan sesuatu, semakin rendah pula level inteligensinya. Ini bukan saja berlaku pada orang miskin yang jadi lebih bodoh dari orang kebanyakan, tetapi untuk semua orang ketika dia mengalami kekurangan.

Scarcity bisa datang dalam beragam rupa seperti cinta, bisa jadi dalam bentuk kekurangan finansial, kasih sayang, waktu.. semua sumberdaya yang dibutuhkan manusia untuk bisa berfungsi secara normal bisa mengakibatkan kekurangan. Yang terjadi adalah ketika manusia mengalami kekurangan tersebut, otaknya akan terfokus pada yang kurang itu saja. Orang miskin yang tidak punya banyak uang, fokusnya …
Recent posts

Father and Son

"You're still young, that's your fault
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down
If you want you can marry, 
Look at me, I am old but I'm happy.."

***

So allow me to start today's post with a song. Don't worry, I won't sing it. This song was my theme a couple years back, when my world was just begun and I have none to talk to about anything in my family.

***

Setelah menonton dua episod 'Defending Jacob' yang diperankan oleh Chris Evans dengan sangat gantengnya saat menjadi seorang bapak, saya semakin percaya dengan krusialnya peran seorang ayah dalam perkembangan emosi seorang anak.

Defending Jacob menceritakan tentang seorang detektif yang harus mengusut kematian anak remaja, yang juga merupakan teman sekelas anaknya dan semua bukti mengarah pada anaknya sendiri. Dilema antara menjadi seorang ayah yang membela anaknya atau detektif yang mengungkap kebenaran.

Ada adegan di mana Evans menginterogasi anaknya sendiri dengan nada tin…

Catatan seorang professional (over)thinker

Highschool friends and I love to do some crazy things. Kami pernah keliling Jogja selama 24 jam, ke Bandung cuma untuk makan siang, dan semalam kami ber-grup call melalui zoom selama lima jam.

Sebagai seorang professional overthinker, pikiran saya melambung jauh ke masa-masa yang sedang kita bicarakan. Tentang crush yang berubah, tentang hal yang dulu keren sekarang jadi bahan tertawaan.. saya masih ingat juga bagaimana pertengkaran dua orang teman sekamar gara-gara rebutan kamar mandi dan saling sindir melalui nyanyian tanpa dosa, yang dulu rasanya bikin darah mendidih, sekarang jadi bahan tertawaan yang bahkan ketawanya saja bikin sesak napas.

Lalu saya berkesimpulan, mungkin hari ini pun akan sama untuk sepuluh-dua puluh tahun mendatang. Toh masa SMA itu terjadinya baru tiga belas-empat belas tahun silam. Bisa jadi sepuluh tahun dari sekarang, kita pun mengalami transformasi yang lebih dahsyat dan kilat lagi sehingga hal-hal yang hari ini kita fokuskan dengan teramat sangat, menjad…

1 Syawal 1441 H

Terbangun pukul tiga pagi, karna lupa matikan alarm sahur.Kembali tidur lagi, dan baru benar-benar bangun pukul lima pagi. Solat subuh, lanjut mandi. Bersiap, setrika baju yang sudah pernah di setrika tapi kusut lagi karna terlipat, sebelum mendapati pesan singkat: “Mbak aku gajadi solat id di sebelah,, anakku nangis terus” Baik.. tidak ada teman untuk pergi sama-sama, ku urungkan niat tuk solat berjamaah. Sambil menunggu waktu solat, ku buka laptop. Facetime pakai laptop lebih enak. Call my Taurean sister tercinta Ajak battle maen Magic Tiles 3 Katanya “solat dulu nanti ketagihan” Ku insist dan dia manut Haha
Lepas main, solat sebentar, berdoa, lalu facetime lagi. Dilanjutkan dengan beberapa video call, zoom call, dan lain sebagainya sampai tetangga dari dua rumah sebelah mengirimi pesan singkat “Kok belum ke sini? Ditunggu loh” Wah iya.. Ku paling anti membuat orang menunggu. Tanpa pikir panjang segera berganti baju, dandan sedikit lalu melesat. Lupa bahwa ada mail blast yang harus dikirim. Makan ketu…

One relationship fall, another fixed

For the past few days, I've been haunted by the ghost of my past.
There was once a family, whose couch was a place for me to spend a night or two whenever things went south with my ex. But when I broke up, the day after I broke up, I literally stop seeing them. I stop visiting them, I stop contacting them, I even stop following them on social media. Although it wasn't their fault that we broke up, I just hate anything that resembles him. Anything that reminded me of him, was completely erased of my life.

At least for five years now.
Until lately I realized, how selfish it is. So tonight, I decided to revisit them thru WhatsApp chat, because I've been meaning to send them something good for eid. It went well.

***
In time of covid19, happy days are often followed with sad days and vice versa. I don't understand why the turn can be that significant, happy days could only last for 24 hours and the next minute it could turn upside down and be another 24 hours of sadness.

As…

Langit yang lebih biru dari biasanya itu.. cuma terjadi dua hari yang lalu

Terbukti bahwa setelah dua hari lalu, warna langit Bogor kembali pucat seperti biasanya. Tidak sama dengan dua hari lalu, walau hari ini pun sebenarnya sempat cerah tanpa awan, tapi tidak sesegar langit Selasa pagi. Birunya sangat biru waktu itu. Aku suka.

***

Saya mulai menghitung hari, memperhatikan waktu dan sekitar sejak pandemi. Selain karena jadi ada lebih banyak waktu, juga saya pun sebetulnya menunggu. Awalnya saya menunggu kapan ini berakhir supaya bisa saya nikmati semaksimal mungkin karena saya sangat betah bisa kerja dari rumah setiap hari begini. Tapi belakangan saya mulai menunggu untuk kembali ke luar, 'hidup di jalan' kalau boleh saya katakan, dari bandara ke bandara, dari kota ke kota, dan menjadi orang 'berguna'.

Satu hal yang sangat berubah dari pikiran saya bersebab WFH adalah tentang pentingnya perempuan kerja di luar rumah. Sudah pernah saya tulis tentang ini juga sebelumnya, tanpa perlu memandang remeh perempuan yang tetap menjadi ibu rumah tangg…

Attitude and Dignity

Sejak kuliah saya memang lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang usianya jauh lebih tua. Ada yang beda dua tahun, lima tahun, bahkan yang seusia mama saya pun ada. Sampai di dunia kerja pun begitu. Orang-orang yang sehari-hari saya temui, hampir semuanya lebih tua dari saya, dan saya hormati itu.

Awalnya, saya pikir, chill aja gitu dengan mereka. Namun lambat laun saya belajar, bahwa meskipun age is just number, tetap ada boundaries yang harus dihormati antara saya dan mereka. Terlampau dekat hingga mencurhati segala hal pun tak baik. Terlalu menjaga jarak dan membatasi diri juga tidak baik. Dalam hitungan tahun baru saya bisa memahami cara kerja hubungan antar-generasi seperti ini.

***

Semesta itu selalu memberi pelajaran pada kita, melalui orang-orang yang kita temui. Setidak-tidaknya, mereka mengajari kita tentang cara dunia bekerja. Tentang kehidupan nyata, memahami arti dibalik kata yang tidak tersampaikan, dan mengerti makna dalam sebuah kerut kening. Sebetulnya kita mampu …