Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2020

Monday

 Have you ever throw up and feel like your entire meal is leaving your body?  I do. And it feels like the feeling of abandonment which I knew so well back before high school..  *** Some people live day by day with very limited amount of money. Paycheck to paycheck, while some others can buy the world with their money. But everyone got their own struggle. Some may live in a small house but can enjoy their dinner gracefully, and some.. may have to think hard what to eat because nothing interest them anymore. I say, we shouldn’t compare our lives to others. We never know, what’s inside their closed door. *** Bogor; 30 November 2020 Mesen makan siang ayam bakar dibeliin ayam nasi padang bumbu rendang sambel ijo. Ya udah dibeliin kan ya ku makan. Malemnya gini. Keluar semua isi perut. Sampe dasarnya terkuras habis dan lemes. Isi perut aja ninggalin gue, hiks

Makase wa, so beken sanang hati

Iya, itu kalimat Yayuk saat terakhir kali kami video call ber-empat. Padahal selama video call dia jarang tersenyum, jangankan tersenyum, menggerakkan bibir pun susah. Wajahnya tirus, pucat, dan menahan sakit yang sangat dahsyat. Tapi setelahnya, kalimat itulah yang dia tulis di grup whatsapp yang dia buat untuk kami. Membacanya, darah saya berdesir oleh karena lega yang menyapa. Sejak saat itu, kalimat itu yang selalu saya ucapkan setiap kali bertemu, berkumpul, bercerita, dengan siapapun yang membuat saya senang hati.  *** Bogor, 30 November 2020, 00:01 Makase wa, so beken sanang hati, brings a different vibe than thank you for making me happy.  Juice yang mempersatukan :)

Kamu tidak bisa tidur? Kenapa?

 Mikirin apa? Tabungan? Penghasilanmu tidak memungkinkanmu untuk menabung? Bukankah rejeki setiap orang itu sudah ditakar dan tak akan tertukar? Kenapa resah? Bukankah Allah Maha Kaya? Tinggal minta semua pasti dikasih karena Dia Maha Mendengar, Mengetahui dan Maha Memberi. Ooh.. kamu sudah berdoa tapi belum diberi juga? Coba lihat gimana cara berdoa mu.. solatmu sudah benar belum? Sehabis takbir saat bibir membaca doa iftitah pikiranmu melayang ke mana? Ke menu makan siang atau ke makna doa yang sedang kamu baca? Eh gimana? Bukan mikirin tabungan? Trus apa dong? Mikirin pencapaian? Kenapa teman-temanmu pada sukses, punya pekerjaan yang mapan, bisa beli rumah, liburan, sedangkan kamu masih dengan gaji pas-pasan? Hmm.. Kenapa harus dibandingkan? Kenapa kamu harus punya apa yang dia punya?  Kan kamu tidak tahu konsekuensi seperti apa dibalik sesuatu yang orang lain miliki dan tidak kamu miliki. Bisa jadi kamu gak akan sanggup nanti menanggung konsekuensi itu. Coba lihat ke dalam dirimu s

Selamat ulang tahun, Ka Bukhi!

Ibu Ranah Bhumi, Yang pertama kali mengenalkanku pada teknik Marie Kondo. Jalan yang kemudian ku telusuri, membawaku jauh pada minimalism, dan kembali pulang tuk mengenal Islam. Yang membuatku semakin yakin bahwa semua perempuan adalah seorang Ibu, dengan atau tanpa anak biologis.  Yang membuatku terinspirasi, untuk mengerjakan apa yang kita yakini dengan sepenuh hati. Terima kasih karena sudah menginspirasi, Aku selalu suka mengelilingi diri hanya dengan orang-orang yang punya dedikasi. Karena hanya dengan begitu, ku bisa ikut bertumbuh ke atas dengan akar kuat menghujam menuju dasar Bumi. *** Bogor, (masih 28 November jelang dini hari, padahal sudah ngantuk sekali).

Love youu

Sampai kamu tahu apa yang kamu mau, jenis hidup seperti apa yang ingin kamu tempuh, dan mencintai dirimu sendiri sepenuh hatimu, sampai itupun kamu akan terus dipertemukan dengan cinta-cinta yang salah. Yang menghancurkan hatimu, membuatmu jatuh sampai lupa rasanya bangun lagi. Kamu terlalu sibuk mencari dan menunggu cinta dari orang lain, sampai lupa bahwa satu-satunya cinta yang kamu butuhkan adalah dari dalam diri sendiri. Bahkan kamu lupa, ada Dzat yang selalu mencintaimu, tidak peduli seberapa besar ingkar yang pernah kamu lakukan. Di Hari Jumat yang bahagia ini --Hari Jumat selalu istimewa, dengan warna matahari yang pasti berbeda-- saya doakan kamu dapat segera menemukan mu, dan mencintai mu. Karena ternyata, at the end of the day, cuma itu yang paling penting dan kamu butuhkan. Lainnya bonus. *** Bogor, 28 November 2020. 00.09 I love her, and I accept her.

The Wives of World's Greatest Leaders

Michelle and Barack Obama is the ideal couple for me., dua-duanya nulis buku, bisa kebayang bagaimana aktifitas keseharian mereka di rumah. Bangun pagi, siapin sarapan, ngobrol bentar, trus mereka duduk dengan bacaan masing-masing, menulis, sampai siang. Lalu mereka makan siang, habis makan siang leyeh-leyeh sambil bicara tentang apa saja, di halaman atau di mana, sampai jelang sore. Jelang sore kembali mereka mengeksplor dunia lewat video ted talk atau buku atau apapun, sampai tiba waktu makan malam. Dan seterusnya.,  Saya tertawa melihat ekspresi Barack Obama ketika Stephen Cohlbert membandingkan bukunya dengan Michelle yang sudah terjual sepuluh juta copy ( ten million copies, can you imagine?)  dan ditanya bagaimana dia bisa berkompetisi dengan itu. Yang dijawab dengan lucu, bahwa para publisher menjual bukunya dengan buku Michelle secara sepaket, so there's no way I can compete with that, ujarnya. Saya tertawa, sekaligus iri membayangkan perasaan Michelle yang punya sesuatu ya

One Love

Kesepian punya banyak wajah, dan salah satu yang bisa menjadi obatnya adalah ketika kita menemukan pasangan yang selaras dan se frekuensi. Sayangnya, tidak semua orang seberuntung itu bisa dipersatukan dengan orang yang dia anggap sebagai belahan jiwa. Ada yang baru bertemu saat usia mereka empat puluhan, ada yang bertemu saat muda namun tidak berani mengakui, lalu cinta itu bersemi kembali membawa badai di rumah tangga masing-masing. Saya tahu urusan cinta itu kompleks, dan sebagai orang yang anti ribet, saya lebih suka berada di luar arena, mengamati dari jauh. Sambil berpikir.. what do I want? Tentu saya juga tidak mau terus-terusan sendirian, more or less, saya ingin punya anak supaya bisa menurunkan wisdom and knowledge yang Allah sudah titipkan. Takut keburu lupa. Juga sebagai bekal untuk di perjalanan selanjutnya, yang sampai ribuan tahun itu. Tapi saya kan bukan Maryam, yang sebegitu mulia bisa mengandung tanpa disentuh laki-laki. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, pada akhir

Contemplative Meeting -- a thought from a long walk in the afternoon--

Kagum pada penciptaan Malaikat yang tujuannya hanya bertasbih atau bertakbir, tapi lupa bahwa tujuan penciptaan manusia hanyalah semata-mata untuk beribadah. Our whole life on earth, yang hanya seperenam dari keseluruhan perjalanan ruh, hanya dimaksudkan untuk beribadah. Saya baru tersadar sehabis isya tadi, sambil beresin dapur dan ngakalin komposter yang kerannya netes terus, sambil dengerin ceramah Ustadz Adi Hidayat. Sebetulnya saya sering dengar istilah tujuan manusia diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah, tapi baru tadi lah kalimat itu menyentuh hati saya dan membuat berpikir. Berarti selama ini.. saya antara tahu dan tidak tahu, sadar dan tidak sadar akan tujuan saya di sini.  Tapi ya namanya Insaan.. pasti lupa. Mungkin kadang inget, seringnya lupa. Itu lah. Seringkali telinga mendengar sesuatu, tapi hanya momen tertentu baru kalimat itu benar-benar mengena.  *** Anyway.. Saya bukan mau menulis tentang itu. What I'm about to write is something risky.. something that

Mind is a scary place, and yet, the sexiest

Kalau Allah Maha Agung, kenapa Dia harus menciptakan malaikat yang tugasnya hanya bertasbih pada-Nya saja? Atau yang tugasnya hanya bertakbir, bertahmid, masing-masing dengan jumlah yang mungkin setara populasi China. Padahal tidak berkurang keagungan-Nya tanpa menciptakan makhluk se spesifik itu, kan? Atau itu untuk menunjukkan betapa Maha Agung-Nya Dia? For whom to impress? Us? Human? Padahal kalau kita tidak terkesan pun tidak mengurangi sedikitpun kebesaran-Nya, kan? You see.. mind is a dangerous place. Semakin kita mengeksplor Allah dalam pikiran, semakin ‘nyasar’ kita nya. Seperti terombang-ambing, dan tidak menemukan jawaban. And yet, it’s the sexiest place. Kayaknya terakhir kali I date a good looking guy tu waktu SMA deh., setelah lulus, I am more attracted to the minded-guy rather than just look. Manusia itu dibedakan dengan makhluk lain ya karena dibekali pikiran. Dan itulah yang bikin manusia justru lebih mulia dibanding malaikat.  *** Hari ini saya merasakan lagi perasaan

Koneksi Lemah

Apa yang kamu rasa, jika tiba-tiba seseorang yang kamu sayang mendadak berubah? Menjauh.. tidak mau berbicara lagi padamu, dan hilang ditelan kesibukannya? Itu yang sedang saya takutkan terjadi saat ini dengan saya pada-Nya. Entah kenapa, tapi belakangan rasanya saya semakin jauh saja. Jangankan baca Quran, solat saja ditunda terus. Sedih rasanya mengingat betapa Bulan Juni lalu saya berlari mendekati-Nya, memohon, meminta, mengadu, menangis dan rasanya dekat sekali, lalu perlahan menjauh lagi.  Sedih rasanya ketika tahu efek yang saya rasakan pada event pelatihan kali ini, tidak lagi se memohon itu pada-Nya melainkan rasa percaya diri yang kelewatan karena peserta sudah mencukupi sejak fase awal info ditayangkan. Saya takut Tuhan marah. Takut Dia menjauh, lalu saya dibiarkan benar-benar sendirian. Tapi makin ke sini makin susah untuk ibadah. Hari ini pun berniat puasa sunnah langsung batal pada empat jam pertama.  Kenapa ya :( Apakah itu sincere ketika kita berdoa begitu giat saat ada

Walk a mile in my shoes.., minimalistic speaking.

Shopping and woman are attached to one another. You can't separate woman from shopping, no matter how thoughtful or wiseful she is. Not even if she's a minimalist. But what makes minimalist women different is, they won't just shop because they want to. They shop because they need to. As they value every detail of her life, as well as her dress, they fully aware that all the things that attached on their body communicate something about her identity. Therefore, they will be very picky when shopping and won't settle for less (if the occasion is special to them). As for me, my only problem with minimalism is shoes. I can't detach my feelings to my shoes, even if I only have a few pairs now, and barely have new shoes that I never wear, except for one... (cuma ada satu and that's a huge progress to me).. But tonight, I've been spending almost two hours looking for a pair, but not too different than what I already had (I only need different colour, that's all)

Before Sunrise, Sunset and Midnight

 This is the best trilogy I re-run in pandemic. Still cry, obviously. Still be the best ending scenes of all time in movie history (except Before Sunset). Still relatable to me personally. And don't make me start with the music.. The silent music as the scene is inaudible.  *** Here what I found most interesting from Before Midnight. (I should re-run the first two again in order to quote them): Not to be too consume with love. Friendship and work are what make us the happiest. “She took care of herself, and ask me to do the same, we have plenty of room to meet in the middle. We were never one person, always two. we preferred that way" -Patrick when asked about his late wife- If we want to truly know each other, we better know ourselves first This is real life, its not perfect but its real. *** To me, this trilogy has drowned me into an ideal kind of relationship. One that I never had, one where I can talk about everything and receive the equal response to whatever topic I'

Saturday

After you get over from something or someone, and you made it to rely on yourself, build your walls even thicker than before and start hustling.. that's when usually they crawled back to you, begging you to open the doors.  Menyadari hal tersebut saya hanya ingin meringis. Bersembunyi di dalam sini, menutup diri sekaligus membuka diri melalui tulisan demi tulisan yang saya tulis diam-diam. Beberapa teman yang dulu saya anggap sahabat, sekarang adalah yang paling mampu mengiris hati dengan perkataannya yang tidak pernah mendukung apa-apa yang saya buat. I know it sounds heartless, but we need to let go of some people in order to grow. No matter how much they meant for us in our previous life. The world is a scarry place, and if I can't share it with my naked mind, I'd better off living it alone. Jadi ada orang yang tadinya pergi ketika kamu sedang dalam the worst version of yourself dan memilih kembali lagi after you put your pieces together, dan ada yang memilih pergi ketik

An Ode to Solitude

When the Sun sets, and the adhaan is in the air, what would you usually do? I only write a lot when it comes closer to D-day. Whatever the day is. I have been living a life where I can only think of the closest goal; assessment next week, public consultation next month, training event two months later, and I set my life around those only goals. I can only plan for four or five months ahead. Top. It freaks me out to see what my life will be after the next six months. I live day by day planning the nearest end; what’s for lunch, what’s for dinner, what’s for tomorrow’s meeting, task lists I have to check, on and on.  This afternoon, with mood swings and hormonal imbalance, I  lie   sit on my bed after changing my menstrual pad for the fifth times of the day, thinking.. what to do tonight? I can watch movies, or read, or simply creating design contents of my own brands, I can explore the words to do tagline for both HSL Cold-Pressed Juice and Sleepyhead, but instead.. I chose to sit

Due to hormonal imbalance, I wrote this post, and this is a random thought I had for the day.

Cowok gak akan pernah tahu rasanya, melawan hormon yg lagi gak seimbang akibat menstruasi tapi tetap harus keep up konsentrasi dan detaching feelings dengan pekerjaan yang menumpuk. Tapi mungkin mereka juga punya struggle nya sendiri. Ketika jatuh cinta, misal. *** Tulisan ini terinspirasi dari tetangga yang dua hari kemarin mengulang lagu yang sama: Rude.  " Why you're gonna be so rude, Don't you know I'm human too, why you're gonna be so rude, I'm gonna marry her anyway.."  Ya saya memang tidak pernah membahas soal ini dengan tetangga secara langsung, but somehow I knew dia sudah serius dengan pacarnya. Hubungan mereka mengingatkan hubungan saya dengan si ex bertahun lalu, yang satu virgo, yang satu fire sign (lupa sih ceweknya apa). Dengan muter lagu itu berulang-ulang, saya berkesimpulan, mungkin tidak lama lagi mereka akan menikah. Jadi saya harus siapkan hampers natal untuk mereka berdua nantinya.  *** Mungkin sama juga dengan istilah you don't k

Selamat Satu Bulan, Sayang

  I'm the kind of person yang kalo celebrating small wins sangat all out sekali. Satu bulan sudah saya berkonsisten -berkomitmen- untuk terus produksi juice tiap Minggu dan Senin. Walau tidak selalu habis, tapi ya pasti dihabiskan sendiri (dengan cara langsung dituang ke gelas tanpa dikocok terlebih dahulu supaya tidak meninggalkan jelaga di tutup botol, dan botolnya langsung disterilin lagi untuk diisi dengan menu yg sama).  Capek? Ya jelas. Tapi di dunia ini apa sih yang gak capek. Dunia kan memang tempatnya capek. Capek kali ini berbeda. Bukan tipe capek yang bikin grumpy, tapi tipe capek yang bikin deg-degan. Masalahnya tiap apapun yang saya lakukan, selalu diiringi dengan tepukan tangan. Setiap yang melihat selalu melempar pujian, dan jarang sekali saya terima kritikan. Bukan juga saya mengharap kritik (seperti dua rekan yang baik sekali mengkritik design yang saya buat), tapi saya justru jadi takut terlalu terbiasa dengan pujian sehingga nanti sekalinya dapat kritik langsung

Why do we have to pray?

Waktu kecil saya pernah bertanya ke Papa, “ Allah itu awalnya dari mana sih?” Yang dijawab dengan; “ Jangan mikirin itu, otak kita gak di design untuk memikirkan keberadaan Allah. Nanti pusing karna berputar-putar terus di sini” katanya sambil membentuk lingkaran berulang di atas kepala. Umur saya delapan tahun, dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya urung saya lontarkan. Allah?  *** Belasan tahun berikutnya saya tumbuh besar dengan diajarkan solat dan mengaji. Katanya biar dapat pahala dan masuk surga. Konsep abstrak yang saya terima mentah-mentah karena malas berdebat. Kalau saya malas solat, papa akan gunakan hadist yang memperbolehkan anak di atas usia tujuh tahun untuk dicambuk jika tidak solat. Tapi saya pun tidak kehilangan akal dan selalu berhasil menyembunyikan semua alat yang bisa papa gunakan untuk mencambuk saya: ikat pinggang, sapu lidi yang dikepang, tongkat bambu tipis, sampai patahan kail pancing. Semua saya buang ke kolong tempat tidur, yang mustahil diambil lagi kecual

Masa

Saya suka menonton hujan. Tulisan ini ditulis setelah men setting meja dan kursi di depan pintu, agar bisa menonton hujan angin yang derasnya bukan main. Kalau hujannya normal saya masih bisa nulis di teras, tapi karena ini disertai angin, teras pun ikut basah kena air yang terbawa angin.    Menonton hujan sore-sore di teras sambil berpikir, adalah jenis aktifitas yang paling saya nikmati dan syukuri selama pandemi. Sudah lama saya mendamba jenis hidup seperti ini yang bisa punya waktu untuk diri sendiri, memikirkan apa yang Dia sudah ciptakan. Bukankah itu yang Dia inginkan dari kita yang hanya seorang hamba? Membaca dan berpikir?   Hujan juga membuat saya ingat kepada hari favorit saya: MY BIRTHDAY yang jatuh pada Hari Air Internasional. HAHA. Saya sangat suka menghitung hari menuju hari ulang tahun saya, bahkan sejak Bulan September. Orang-orang di kantor sudah sangat hapal dan sangat bosan jika saya terus menerus meracau tentang betapa sebentar lagi saya akan ulang tahun.   “Masih

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Life till old age..? Why

 Melihat kondisi eyang dan nenek di hari tua mereka, membuat saya semakin banyak berpikir tentang durasi hidup di dunia. Some of us might wish for a long life, dan setiap kali ada orang yang meninggal, dibilangnya sayang sekali ya.. seolah-olah itu adalah hal buruk. Padahal kalau mau dipikir, memang sedari awal kita sudah tahu kita tidak akan selamanya di sini. Mau dipaksakan hidup sampai tua juga.. buat apa? Seriously, buat apa? Kemudian setiap harinya pikiran kita disibukkan dengan hal-hal duniawi. Pekerjaan dan masalahnya yang tak kunjung usai. Uang dan tabungan yang terus menerus ditumpuk, atau benda-benda yang kita beli dengan penuh pertimbangan sampai menghabiskan kapasitas otak. Buat apa? Sekarang eyang dan nenek tidak lagi ingin apa-apa. Kecuali eyang yang masih semangat mau makan ini dan itu, dan tidak pernah kehabisan jawaban tiap ditanya ' eyang mau mam apa buat malem?' atau nenek yang selalu semangat tiap diajak jalan-jalan. Berarti memang pada akhirnya, kualitas hi

The Black Holes

  Kemana perginya benda yang masuk ke dalam black holes? Jika semua yang ada di semesta ini terbatas, mengapa black hole seolah tak berbatas? Mengapa benda-benda itu seolah hilang dan tidak akan pernah kembali lagi? Apakah black holes adalah pemisah dimensi? Bagaimana dengan pikiran? Kenapa manusia sering sekali terjebak dalam masalah yang itu itu lagi, tidak berubah meski waktu bergulir kesana kemari? Apakah black holes sejatinya adalah rupa fisik dari pikiran semesta, yang jika terperangkap tidak lagi menemukan jalan keluar? *** Sejak mendengar kabar tentang eyang tiga hari lalu, perasaan saya jadi campur aduk. Antara limbung ingin pulang, ingin melihat dia secara langsung, tapi juga pergerakan terbatas dan pekerjaan tak terbilang banyaknya. Saya bingung, kepala serasa mau meledak karena mendadak sudah November dan semua pekerjaan yang due di November belum ada yang tersentuh sama sekali. Mendengar kondisi Eyang, hati saya hancur se hancur-hancurnya. Betapa di penghujung hidupnya, hu