Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

A day in the life of a kost-an girl

  I woke up late. Nine am and the kost was empty.. weirdly quiet. I decided to do nothing today. Not responding to any texts until after mid-day. I feel like I've been avoiding loneliness since I got here three days ago, so maybe now is the time to actually face it. Because I've known loneliness my whole life, I know she won't get away until I fully embraced it. So I did.. I ordered a simple meal for breakfast and lunch.. brought by a humble-beautiful Balinese woman, who keeps saying that she doesn't actually sell food.. she sells grocery, but she made an exception for my request. I tried to watch television while eating, only a few minutes before I turned it off. Too loud, I couldn't stand the noise. After a long-peaceful shower, I change my navy pajamas into the red one, and have a little chit-chat with the neighbor. My neighbor is very kind, young woman with her baby girl to whom I borrow her broom everyday.  I actually could do something productive today, like f

Knowing the Unknown

  Hari kedua di Bali, There's some kind of comfort in knowing something. Tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, menyusun sebuah rencana dan tahu akan seperti apa jalannya nanti dan kenyataan pun sesuai dengan prediksi, adalah hal-hal yang membuat hidup jadi lebih nyaman. Itulah kenapa kita senang sekali pergi ke tempat yang familiar dan cenderung menghindari yang tidak familiar, dan hanya orang-orang yang berani sajalah yang mau berjibaku dengan ketidaktahuan akan hal baru tersebut dan menemukan kebebasannya.  Ini saya kutip dari kalimat yang terpajang di sekretariat Lawalata IPB; 'Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko yang dapat merasakan kebebasan. L-xxx' (saya lupa nomor anggota L-berapanya, tapi yang jelas itu ditulis oleh mantan atasan saya kemarin). Oh.. menyebutkan kata mantan atasan saja bagi saya adalah hal baru yang menggelitik nan aneh. Ada sensasi rasa yang berbeda saat mengetahui bahwa hidup tidak akan sama lagi meskipun pandemi ini berakhir. Saya memutu

They are Watching

  Menjelang keberangkatan ke Bali yang tinggal beberapa hari lagi, perasaan saya semakin campur aduk. Kadang senang, kadang sedih. Senang kalau ingat laut, sedih kalau ingat nanti di sana bakal jarang hujan sedangkan di sini tiap pagi mendung. Saya hanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bisa keluar dari grup whatsapp yang setiap percakapannya membuat hati saya nyeri, itu saja. Tapi saya juga takut jika di sana nanti saya tidak kenal siapa-siapa, dan segala ketidakpastiannya juga membuat saya sangat gugup. Namun sepertinya Tuhan dan ciptaan-Nya bisa merasakan getar takut itu, seolah bisa merasakan ada getar negatif berupa rasa takut yang saya pancarkan, maka Dia mengirim sesuatu untuk menenangkan saya. Perasaan takut ini tidak bisa saya hilangkan, dia selalu ada setiap hari walau intensitasnya berubah-ubah. Seperti kurva grafik yang naik dan turun, begitulah rasa takut saya berubah setiap jamnya. Namun ketika grafik ini terus naik dan naik, selalu ada saja kawan yang bertanya kabar,

Ratu Jahat

  Ibu Peri datang membawa nasihat, Setiap katanya adalah petuah. "Jangan dekati Si Ratu Jahat, Karna ia akan menusukmu dari belakang" Perlahan ia beranjak dewasa. Ibu Peri menjadi satu-satunya sosok yang mengerti dirinya, "Aku melihat diriku pada dirimu. Kau adalah aku saat masih seusiamu,"  Ia mempercayai semua ceritanya pada Ibu Peri. Yakin bahwa Ibu Peri adalah orang yang paling bisa memahami apa yang ia rasa. Juga menjaga jarak dengan Ratu Jahat. Karena Ratu Jahat hanya inginkan harta dan kekuasaan. Waktu kembali bergulir, ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan akal yang sempurna terbentuk. Ia mulai melihat garis batas, Ratu Jahat yang tidak banyak bicara dan cenderung menjauh dari kerumunan, dan Ibu Peri yang selalu di kelilingi para rakyat dan petani.  Ibu Peri berjanji, bahwa dia akan selalu ada untuk semuanya. Membantu semua orang yang berada dalam kesulitan, walau itu berarti dia harus mengorbankan dirinya dan kebahagiaannya sendiri.  Ratu Jahat

First Monday in October

  Pukul sembilan lima belas malam, suara guntur mulai menggelegar. Dua belas tahun sudah saya menetap di kota ini, dan hujan sudah menjadi bagian dari diri saya. Selama pandemi, setelah menekuni rutinitas yang begitu rutin dan adil; bangun pagi, baca buku, memberesi tempat tidur, mulai bekerja dan tidak menyentuh kasur seharian,. saya akan menutup laptop dan menyudahi pekerjaan jika pukul empat sore hujan mulai turun. Hanya untuk duduk di teras, menatap langit, menatap keberkahan yang tercurah melimpah ruah untuk kota ini. Pernah satu ketika di Bulan Juni, saat hujan sedang mengguyur malam dengan derasnya, saya menangis sendirian di dalam kamar. Bukan karena saya takut sendirian, tapi karena perkataan menyinggung yang seorang rekan lontarkan dengan sengaja. Pandemi membuat saya begitu sensitif, mudah sekali menangis bahkan oleh omongan yang tidak penting. Malam itu saya berbisik.. Tuhan, ingin sekali saya kabur dari sini. Pergi ke Bali, dan memulai hidup dari awal lagi. Mungkin saya bi

Tuhan, aku takut..

  Who aren’t scared of change? It is scary. Unusual. Strange. We don’t like change. That’s not how we designed, we were designed to remain the same and it requires power and strength to adapt. That’s why the weak dies, and only the powerful can embrace change. Are we strong enough to face one? They say you only one decision away to a new life. You said that too, that you want to start over, a fresh start. Now when the universe open a door to you, you freak out. Why? Maybe it’s because.. after all these years you’ve spent on the road.. jump from one town to another in the name of good education, you finally find (or build) a place you called home. Maybe because the process wasn’t easy and the result gives you beyond comfort and satisfaction, it brings you the elegance in life that make it hard to leave. But you won’t go anywhere unless you embrace this fear. I remember right before pandemic, I took my self on a journey. The intention was simple; to cast away a rotten feeling. After five

The Sky is Beautiful Today

  Seringkali terjadi, setelah seharian hujan badai, besoknya langit cerah dan warna mataharinya berbeda. The sky was beautiful this afternoon, so I do what I had to do: sitting outside, in my front porch, staring at the golden Sun rays.  Jingga keemasan dengan udara dingin bekas hujan sisa kemarin. Kenapa saat mau ditinggal, sesuatu jadi berlipat indahnya? Manusia memang tidak di desain untuk akrab dengan perubahan, makanya mungkin kita cenderung untuk menghindari perubahan. Ingin semua tetap sama, selalu pada tempatnya, seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Padahal dunia tidak sesempit tembok kamar. Perubahan memang menakutkan, apalagi jika dihadapi sendirian. Tapi.. bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian? At this point of my life, I wanna make the most of my favorite thing I've been built for the last three years; enjoying my afternoon staring at the Sky, watching the golden Sun rays faded away, darken as it sunk. I don't know how long will I have this view, or how

Sapu Lidi

  Kalau aku bilang “benda berkomunikasi dengan kita,” kamu percaya gak? Tadi sore selepas mengajak Papa dan adik saya makan siang di luar, kami pulang melewati pertigaan lampu merah Baranangsiang. Seperti biasa, pertigaan itu diramaikan oleh penjual yang menjajakan bermacam dagangan. Kadang tahu, kacang, bantal sandaran kursi,.. kali ini yang dijajakan adalah sapu lidi dan tongkat e-toll. Tapi yang lebih banyak disodorkan adalah sapu lidi. Salah satu penjaja tersebut menyodorkan sapu lidi dekat sekali dengan jendela saya, seperti mode zoom in. Selintas saya langsung teringat sapu lidi di rumah.. satu-satunya dan dibeli sudah lama sekali, sekitar hampir sembilan tahun lalu waktu masih nge-kost di Cibanteng. Saat itu saya hanya tersenyum. Sudah lama juga tidak beli sapu lidi. Malamnya, setelah makan malam yang singkat, kami tenggelam dalam rutinitas masing-masing. Saya memulai rutinitas sebelum tidur dengan membersihkan badan, cuci muka, sikat gigi dan ganti baju tidur. Tapi baru saja be

What if I die in Bali?

  Waktu kecil saya sering melihat mama duduk sendirian di kursi. Tidak membaca, tidak menonton. Hanya duduk menatap lantai. Keluarga kami memang bukan keluarga yang mewah, tapi kami punya semua yang kami butuhkan dalam kategori ‘cukup’. Maka saya pikir, apa yang ada di pikiran Mama? Apakah ia sedang khawatir akan sesuatu? Tapi apa yang beliau khawatirkan? Keluarga kami baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Belakangan sejak pandemi saya jadi mengerti kebiasaan duduk sendirian tersebut. Duduk diam hanya menatap lantai atau dinding. Bukan berarti sedang khawatir atau memikirkan sesuatu yang berat. Hanya duduk dan “mendengarkan diri sendiri”. Larut dalam pikiran, tentang rencana maupun masa lalu, tentang mimpi maupun menu makan malam. Sore ini setelah langit mulai menyuarakan suara guntur, saya menyudahi pekerjaan. Duduk di area kerja seperti biasa, sudut rumah yang mestinya berisikan sofa ruang tamu. Masa bodoh denga tamu, area tersebut saya pakai untuk ruang kerja karena dekat jendela. Toh

Conscious Decision

  Kapan terakhir kali kamu membuat keputusan besar dalam hidup? Bagaimana perasaanmu saat mengambil keputusan itu? Pernahkah kamu melihat ke belakang telah mengambil atau tidak mengambil keputusan tersebut? *** Sejak Eyang meninggal Bulan Mei lalu, hidup kami berubah drastis. Bukan karena kepergiannya, kepergian beliau hanyalah penanda. Karena pergi atau tidak pergi, perubahan ini pasti terjadi. Hanya saja Tuhan seperti menandai dengan bookmark khusus untuk halaman ini, membuka lembar baru setelah ia memulai kehidupannya yang baru. Adik ku yang paling kecil kini masuk SMA. Dia masih bayi merah berusia dua bulan saat dulu kutinggalkan untuk masuk SMA. Adikku yang ketiga kini masuk kuliah, walau daring, tetap saja berubah status jadi mahasiswa. Dan aku? Saat aku sudah benar-benar tidak tahan dengan segala pola yang terjadi di pekerjaan, Tuhan membukakan sebuah pintu untukku. Pintu yang mungkin dulu pernah kupinta, tapi lupa. Sebuah pekerjaan baru datang menyapa, kusambut dengan sigap. Me

For the expectation of others

  If your family truly loves you, why do they expect you to live the way they want? If you require no marriage to be happy, why do they want you to get one to be happy? Life is confusing, because the ones who put the deepest scar are the ones closest to you. Betrayal came from your friends, not from the enemies. You live the expectation of others, in order to be considered 'normal and happy'. If happiness come from within.. and they truly care about you.. why do you need to live the life they have? It's theirs, not yours. 

How long is forever?

  Sometimes we got too caught up in a situation and act like there's no tomorrow. As if this condition we live in, will last forever and nothing will ever change. While in reality, life is a series of changes and bad moments. One to another, we cling onto those moments and create a thread we hold tight. *** Ada satu ayat di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa setiap manusia akan mengalami hidup yang bertahap. Tahap demi tahap perubahan itu nyata adanya. Hanya saja kadang kita terlalu takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Takut tidak siap atau bahkan takut hari itu tidak akan pernah datang. Sampai lupa bahwa, kita pun perlu bersiap. Karena jika perubahan itu sudah terjadi dalam satu jentik jari, semuanya berubah. Siap atau tidak siap, terlatih atau belum, kita dituntut untuk lekas beradaptasi. Banyak jiwa yang tersiksa karenanya. Perubahan yang demikian drastis bagi jiwa yang lemah akan menimbulkan depresi, gantung diri, bukan karena koneksinya pada entitas spiritual ya

Kesalahan Paling Fatal dalam Hidup

  Aku tidak bisa membayangkan jika kesalahan semacam ini terjadi di dalam pilihan yang diambil sekali seumur hidup. Bahkan menuliskannya saja, tanganku tidak berhenti bergetar. Menahan marah selama satu jam lebih mendengarkan sesuatu yang membuat kepala mendidih sambil menahan suara setengah mati agar tidak meledak. Bersyukur, aku tidak meledak. Berusaha untuk tidak melontarkan sedikitpun kalimat yang membuat sakit hati orang lain. Walaupun hatiku sendiri sudah hancur lebur mendengar serpihan kalimatnya. Adalah sebuah cerita, tentang seseorang yang mulai berfikir untuk menambah rekan di dalam hidup. Untuk menuntaskan misi yang tengah ia emban, ia pikir ada baiknya jika ini dikerjakan bersama orang lain. Orang lain yang dia hadirkan untuk meringankan separuh bebannya. Singkat cerita, kenyataannya justru jauh berbeda. Bukannya meringankan beban, dia justru datang membawa setumpuk masalah. Jauh lebih berat ketimbang saat ia masih sendiri dulu. Hari pun jadi terasa lebih lama dan melelahka

Walls up!

  I'm in the middle of watching Modern Family S7 E7 when it hits me. I realise something about the walls we build as an adult.  Orang dewasa cenderung sulit dipahami, kadang mereka mengambil keputusan yang membuat kening masyarakat berkerut. Seperti level pembatasan sosial alias ppkm alias lockdown.  Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak hal yang dia kubur rapat-rapat. Hal-hal tersebut membawa dia ke arah yang aman bagi dirinya, dan dia ingin melindungi diri dari apa yang sudah dikuburnya itu. Banyak hal yang orang dewasa kubur; trauma masa kecil, rasa pengabaian, terasing, yang semua mengarah pada insecurity. Orang dewasa takut menghadapi sisi gelap mereka, sehingga mereka tutupi itu semua dengan dinding yang tinggi dan tebal sekali. Akibatnya, jika mereka mengambil keputusan, dan keputusan itu aneh, mereka tidak mampu untuk membubuhkan alasan dan menutupinya dengan diam. Komunikasi memang kunci dari semua masalah. Komunikasi adalah sumber masalah sekaligus juga obatnya.

Almost 30

  Looking back.. this month last year, adalah saat di mana saya menemukan momentum yang lumayan membelokkan arah hidup. Idul Adha jadi penanda, karena selama empat bulan saya berdiam diri di rumah, sendirian, dan benar-benar tidak keluar pagar. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk mengunjungi Eyang setiap bulan secara rutin, yang saya wujudkan. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk pergi ke pantai, mengajak seorang teman, dan melepas tuntas perasaan yang sudah membelenggu selama empat tahun lamanya. Setelah itu.. saya jadi orang baru. Orang yang tidak peduli lagi akan detail remeh temeh. Orang yang tidak peduli dengan drama, dan masa bodoh dengan apapun anggapan orang lain. Saya tidak lagi peduli jika sikap saya dianggap menyebalkan, jika saya sedang tidak mau melakukan sesuatu, I say it loud and clear.. but not that loud.. you know.. Karena setelah perjalanan ke pantai di area Pelabuhan Ratu itu, pulangnya saya melihat sebuah postingan yang seakan menjawab pertanyaan yang memenuh

Melepaskan Keterikatan

  Setahun yang lalu, Idul Adha menjadi pembuka jalan bagi saya berlepas diri dari kegalauan soal hati. Perasaan yg saya bawa selama empat tahun lamanya, yang membuat saya lari jauh ke Raijua hanya agar bisa mengakuinya, mulai menemukan titik akhir di Idul Adha 2020. Bukan tanpa usaha, selepas hari yang penuh bahagia itu, saya memutuskan untuk pergi ke pantai. Selama empat bulan lamanya berdiam diri di rumah, akhirnya dua perjalanan itulah yang melepaskan saya dari angan perasaan yang tidak pernah menjanjikan nyata. *** Langit sore masih memanjakan mata, unjuk kebolehan dengan sempurnanya matahari yang hendak tenggelam. Saya kembali membelah jalanan Pantura sendirian. Ditemani musik pun tidak. Saya hanya ingin hening, berdua dengan Sang Surya, setelah merasakan sendiri betapa sementaranya hidup ini. Pemakaman yang biasa saya lalui begitu saja, kini sudah dihuni dengan seseorang yang saya kenal-dan saya cintai. Kini, setiap kali melalui area itu, saya memelankan laju mobil dan berbisik..

Liberating Decisions

  Everyday in our life, we are all demanded to make decisions. Simple decisions such what to eat or what to wear might not be a big deal. As we grow older, we met a lot of intersections. Each of them brought to a whole different kind of life. I just make my one big decision two days ago. And here's my story. *** Five years ago I officially broke up with my boyfriend. That was a pretty serious relationship I've ever had, because we were about to get married. Since we were decided to stay with each other forever, we took our first big decision: buy a motorbike together. We were agreed that the motorbike is under his name, but I'm the one who pay for it, so basically it's mine. Two years after we broke up, I decided to sell that motorbike. Because I'm weak for paper work. I hate doing the paper work especially if it requires a contact with the ex.  Three years gone by, I live my life very peacefully without any ride parking at my garage. I enjoy taking online transport

Bagaimana kabarmu?

Jika duniamu dan duniaku sama, maka dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Sosial media yang biasa menjadi penglipur lara, kini justru menjadi penimbul duka. Berita kematian silih berganti, menyisakan lubang gelap di dalam hati. Kian lama kian membesar, membuat langit biru bersih nan cerah pun tidak sanggup menyinarinya. Kita kini tengah hidup di dalam bayang-bayang ketakutan. Ketakutan akan esok hari yang datang. Nama siapakah yang akan melintas di dalam pesan itu? Akankah seseorang yang kita kenal? Atau justru.. nama kita? Cekaman ekonomi terus menghantui. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan kita kini bergantung pada pekerjaan yang mungkin tidak kita senangi. Yang menyisakan tangis di setiap akhir hari, karena berhenti.. tentu bukan pilihan. Kini kita tengah lelah untuk berpura bahagia. Berpura bahwa semua ini akan baik-baik saja. Berhenti menggantungkan harapan pada tahun yang akan datang. Kenapa? Sama saja. Toh kemarin pun kita berharap pada tahun berikut, agar dapat melambaika

Relax, Baby. You’re doing great

  In this life, there’s always people who admire you silently. They’ll copy you, without telling you. Ever. Their ego will get in the way, and that’s okay. You don’t need validation for what you’re doing. Whether it’s right or not, it’s not theirs to judge. You don’t need people telling you you’re doing great. Because you are. You see.. life is not a battle between you and other people. It’s about you, your ego, and your goal. Focus on your goal, let people do what they do even if they start to be an imitation of what you are.. just let them. Live freely. Live authentically. They are silently doing what you’re doing. They’re just helping you to not be too full of it. And if you hate them, throw that feeling away. Your anger, emotions, things that sets you on fire, should be really important that will lead you to your goal. Remember.. it’s your goal that you only have to focus on. Now.. Keep doing.. you. *** Bogor, July 10 2021 And keep your friends close, yes. Friends and families are

M for Mother

  Kalau ada yang bilang "ih jadi orang jangan terlalu pemilih.. udah jalanin aja" kamu harus bisa berpikir kritis terhadap pernyataan semacam ini. Saya tidak akan bilang pernyataan ini salah, tapi juga tidak akan membenarkan orang yang ngomong gini di depan muka saya. Tapi memang betul, hidup harus dijalanin saja, asal pilihan itu memang sudah kita ambil dengan penuh kesadaran. Bahkan pilihan yang diambil secara hati-hati pun di tengah jalan pasti ada saja konfliknya. Saya tidak mau kalian menderita karena salah pilih dan menyesali setiap detiknya dengan bilang "Kalau saja waktu itu saya tidak berpikir begini.. pasti saya akan pilih yang itu.. " karena itu adalah kalimat favoritnya setan. Seorang ibu adalah orang yang terus menerus harus menentukan pilihan. Dari yang sifatnya keseharian seperti sandang dan pangan, sampai hal-hal berat lain untuk keluarganya. Untuk itu, penting bagi perempuan agar bisa mengenal dirinya sendiri dan memahami cara mengambil keputusan se

F for Father

  Saya tidak percaya adanya kebetulan, karena apapun yang terjadi dalam hidup kita di dunia ini memang sudah dirancang. Jika rasanya seperti kebetulan, ya karena Sang Perancangnya Maha Teliti, tahu kapan waktu yang tepat untuk membuat kita merasa sesuatu dan menghadirkan jawabannya dari arah tak terduga. Sering sekali saya mengalami kejadian seperti ini: terlibat dalam pertanyaan yang dalam dan rumit, sampai tidak tahu bagaimana harus mencari jawabannya. Lalu saya buka sosial media, youtube atau apalah, dan melintaslah jawaban itu dalam bentuk video atau kalimat sederhana. Hal ini terlalu sering terjadi, sampai saya menyangka AI tidak lagi dirancang untuk mendengarkan manusia tapi juga memahami jalan pikirannya. Mungkin ada frekuensi tertentu yang terbentuk saat otak sedang memikirkan sesuatu yang bisa ditangkap oleh vibrasi magnetik dari alat elektronik dan menerjemahkannya ke dalam algoritma yang menghadirkan topik relevan untuk kita nikmati. Malam ini sebuah film muncul di laman str

Fear of Rejection

  I understand now why it's hard for me to start or keep a relationship. Because every time things are hard with me, my parents' decision is to either leave me or put me away from home. I know abandon is a harsh word, but it felt like one. They'd rather move out than have a tough conversation with me. They never asked why I behave a certain way, let alone asked what I want. That's how I develop a fear. Fear of rejection. Fear that if I'm acting out, people I care, will go and leave me. I was so scared for another rejection, so I try hard on my last relationship, keeping it floating for five years and a half. I remember he was using this as a threat "if you're not gonna change, I will leave you," and then I started to change my bad behaviour, being a good girl for him, and it only lasted for two months before I entirely gave up and slowly see my worth. Since then, I learn to open the door to everyone who is leaving me. Now that I'm in my healing jou

Acceptance, Contentment

  Teruntuk teman-temanku tersayang, ijinkan aku mengingatkan kita semua tentang satu hal, bahwa  apa yang kita tidak miliki sekarang, bukan jaminan kebahagiaan. Jangan tunggu untuk memiliki yang tidak ada hanya agar bahagia. Bukan di situ letak bahagia itu. *** Pukul lima sore adalah waktu favorit saya untuk nyetir di jalan besar. Pantura-Cikampek khususnya, karena pada jam itu, matahari sedang menunjukkan kebolehannya. Bersinar teduh namun tegas, bulat sempurna kemerahan warnanya dan berada tepat di depan mata kita.  Perjalanan menuju Bogor sore tadi amat dimanja oleh matahari yang seperti di lukisan-lukisan mahal atau hasil karya fotografer ternama. Sungguh hati ini meronta ingin menghentikan laju mobil, berdiri di tengah jalan, mengangkat kamera dan membidiknya. Indah jingga cahayanya, tunggal di tengah langit luas kelabu. Sesekali dia berada di atas pepohonan, layaknya adegan dramatis cuplikan film perjalanan. Hingga saya menyaksikannya tenggelam. Dari ketinggian jalan tol layang,

Next Level: Ego

  Slow success builds character, fast success builds ego.  Ini kutipan bagus yang saya lihat tidak sengaja di media sosial. Kenapa saya bilang bagus? Jadi beberapa hari lalu saya pernah menulis " ..tidak semua orang seberuntung itu bisa memulai karir dari bawah sebelum dipertemukan dengan pekerjaan impiannya.. ". Karena yang saya rasakan, memang merupakan anugerah luar biasa dan saya sama sekali tidak menyesali jalan ini. Pekerjaan ini yang menemukan saya. Tanpa melamar, saya bisa masuk menjadi staff tetap sebuah perusahaan yang menggaji lumayan dengan cara bekerja yang menyenangkan. But nothing in this world is designed to be permanent, not even your dream job. Akan ada satu fase di mana semua kebahagiaan dan kesenangan itu, tertutupi oleh gajah yang begitu besar dan berat. Membuat segala yang menyenangkan jadi tidak semenyenangkan itu lagi.  Baru saya temukan rintangan ini setelah "dilamar" oleh beberapa lembaga yang menawari saya pekerjaan lain yang juga sama men

I'm your peace

  Saya belajar satu hal hari ini, dan lagi-lagi tentang Ruh. Topik yang tiga tahun lalu membawa saya ke ceramah Nouman Ali Khan dan menyeret saya ke kesadaran baru tentang manusia dan perannya di Bumi.  *** Dulu sekali, mantan pacar saya pernah berkata.. "kamu tidak bisa bikin aku merasa tenang.." karena memang saya sendiri saat itu belum kenal dengan rasa 'tenang' yang sebenarnya. Usia saya dua puluh tiga saat kita berencana untuk menikah. Saya baru akan lulus kuliah (cenderung terlambat memang), dan belum ada kepastian karir nanti akan seperti apa. Pikiran saya sibuk dengan rencana-rencana visi masa depan, sedangkan si mantan lebih suka untuk mengikuti alur. Dia sudah punya pekerjaan, tapi pekerjaan itu akan membuat kami --kalau jadi menikah-- harus tinggal di luar Pulau Jawa. Walhasil, yang terus saya bicarakan adalah tentang rencana, strategi, dan visi. Tentu bukan topik menyenangkan untuk dibahas dua orang muda yang clueless . Makanya dia bilang, saya bukan sumbe

Between the Needs and the Wants

  Tadi malam saya tidur dengan satu pertanyaan menggantung: Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan yang saya tulis di postingan sebelum ini, yang berasal dari akun anonim di twitter. Untuk alasan tertentu, kali ini saya lebih memilih bertanya pada orang asing ketimbang teman sendiri.  Saya terbangun dengan kecewa. Karena terputus dari mimpi yang begitu nyata. Rasanya saya benar-benar sedang berada di Gorontalo, menumpang taksi online menuju ke pantai, tapi minta dicarikan penjaja pisang goreng ter-enak di sana. Di mimpi itu saya lupa apa nama pisang gorengnya, jadi saya berulang kali bilang ' pisang goreng tipis yang ga manis, makannya pake sambel'. Saat bangun, saya menggerutu sendiri, ' pisang goroho kali, Mim'. Seharian ini pun pertanyaan itu masih terngiang di kepala. Sesibuk apapun pikiran saya bekerja, beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, saya masih terus mencari apa yang benar-benar saya inginkan? Dalam urusan karir, memang tidak semua orang seberuntung itu