Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Kalau besok saya mati..

  Kalau besok saya mati.. Setidaknya hari ini saya bahagia. Bertemu teman lama dan menghabiskan pagi di pinggir pantai bersama debur ombak, seperti dulu lagi. Walau tadi malam kami baru mendapat kabar duka, tentang kepergian seorang kawan yang telah berperang melawan sakit yang ia derita. Kami sedih, tapi teman kami sudah tenang. Beliau berpulang di Hari Jumat, hari terbaik untuk pulang. Kalau besok saya mati, maka mimpi saya tuk pulang Hari Jumat tidak tercapai. Tapi tidak apa-apa, jika memang menurut Tuhan itu yang terbaik untuk saya. Kalau besok saya mati, saya ingin mereka tahu, bahwa tidak pernah saya habiskan malam tanpa mengingat mereka. Orang-orang yang sudah membersamai saya, selama dua puluh sembilan tahun saya menumpang hidup di sini. Besok saya pergi, jauh ke Utara. *** Sanur, 3 Desember 2021

What Bali did to me, (after two months)

  The Sun has raised when I opened my eyes. 08.30, this is what happens if I get my period on holiday. Nothing could ever force me to wake up early. Not even the temptation to see the Sunrise by the beach. Bali made me realise about one thing that I love. One thing that I hold so dearly, even when I was a kid. I love sleeping. Yep. I love sleeping so much. It's not a joke, like the depressed meme you saw on the internet. I love my time when I can crawl onto my bed and do nothing, well maybe reading or watching, but still.. not a productive type of activities. I wouldn't sacrifice my sleeping time for anything.. when I was a kid, I calculate my daily hour just to see how long till I get back to my bed again. Two months after staying in this city, I finally embraced the fact that I am.. lazy. Or maybe not. Just because you love sleeping doesn't mean you're lazy. Living alone in this city made me realize how easy life was when you surrounded with your family. To be raised

Istirahat yang tenang,.

  Baru saja saya meenelusuri berita tentang kecelakaan Vanessa Angel dan Bibi Adriansyah seminggu yang lalu. Setelah satu minggu saya baru mau menonton berita-berita mereka, karena kalau baru kejadian suka ada berita aneh-aneh semacam 'firasat' atau yang instan-instan mengandalkan 'ramalan'.  Semakin lama, analisa dari berita kecelakaan biasanya semakin mendalam, dan malam inilah, selepas enam jam ngulik satu hal yang sama sehari ini, saya memilih rehat dan menonton video wawancara mereka bersama pasangan favorit saya saat ini; Ussy-Andhika. Saya membayangkan kelak si anak laki-laki yang menjadi legacy mereka ini, dirawat oleh kakeknya yang bijaksana, tumbuh besar jadi laki-laki hebat sesuai namanya, yang doa-doanya mengalir terus untuk Vanessa dan suami. Saat jenazah mereka dimasukkan ke dalam liang yang sama, pikiran saya mengingat ceritanya tentang hidup, tentang hujatan dan masalah, tentang penjara dan penipu,. hidup itu capek ya. Hanya itu yang bisa saya simpulkan

I still remember

  I still remember the heat as we landed on the airport. The crowded small room where people from different land in and out of that small town. I still remember the heat.. as if the Sun is just above our head. I remember that day I asked you a question.. 'why the clouds here or anywhere in this Island, seems closer than the clouds in Bogor?' and you follow my direction, staring at the sky, after a while you say.. 'I don't know. But I'll find the answer someday,'  in your slow and soft voice. I didn't say anything after that, just capturing that moment in my head, while silently staring at the Sky.  I still remember this trip.. one that I beg to be included. My ex was just married, and right after that news emerged, you called me and ask me nonsense. Something we both laughed at over the phone. I don't know if you knew, I was almost in tear that time,, until I heard your voice and everything seems to be just okay after we hang up.  I still remember the co

Rainy Night in Bali

  Tulisan ini aku buat dengan sengaja sebagai pesan tersembunyi, untuk orang yang pernah kenal denganku.. dulu. Aku cuma mau bilang, maaf. Maaf kalau aku dulu terlalu berlebihan. Kamu benar. Gumamanmu benar. Aku saja yang terlalu egosentris. Merasa diri pusat semesta. Kamu benar bahwa aku berlebihan dalam berperasaan. Berlebihan saat melihat Halimun yang terbentang hijau. Dalam pembelaanku, saat itu aku sedang kacau. Baru 32 jam berlalu setelah aku mengakhiri hubunganku dengan dia. Sebuah keputusan yang aku ambil dengan yakin.. sesaat setelah aku mengenalmu. Maaf kalau dulu aku terlalu sering bercanda. Sejujurnya aku tidak suka bercanda. Aku tidak suka orang yang tidak pernah serius dalam hidupnya. Tapi aku salah tingkah. Diam dan dinginmu selalu buatku salah tingkah. Aku sering jadi berlebihan jika salah tingkah. Saat itu, aku belum mengenal yang namanya kontrol diri, kontrol emosi. Aku justru menemukan semua itu.. mencontoh itu.. dari kamu. Yaa.. walaupun kamu tidak sesempurna itu ju

Three Miles a Day

  Morning air breezes as the warm sunlight touches my skin. I start to walk confidently in this empty street. Alone with my running shoes and a black tote bag filled with my wallet and book. I only know one place to go; beach. The same destination I have visited daily since the first day I arrived in this part of Bali. I never found a decent place to read, not as long as I walked this cobblestone path. But I keep carrying my book just in case, maybe one day I get lucky and find a nice shade with the sound of waves swirling back and forth.  I like this so much. I like the idea of me living in a vacation style for months. All I had to do is work from nine to six, Monday to Friday, and strolling to the beach in between my work schedule AND on the weekends. I never get tired of blue sky and sea. Those two are the reason why heaven is so tempting and kept me away from the things I desire; sins. Even though.. I'm not sure how long will I like it. I no longer that person who is anxious ab

Best Days Ever

  Seminggu setelah pindah ke Sanur, saya memutuskan bahwa ini adalah satu minggu terbaik yang pernah terjadi selama kurun waktu pandemi ini. Sanur dan airnya yang tenang, ombaknya yang halus, lautnya yang biru.. menjadi tempat yang paling direkomendasikan oleh orang-orang di kantor. Mungkin karena kami memang lebih banyak bekerja dengan laptop sehingga butuh tempat yang tenang ketimbang tempat dengan musik hingar bingar seperti di area terbenamnya matahari sana. Atau mungkin juga karena kami orang-orang yang cukup berumur, sehingga tidak lagi berminat untuk jejingkrakan menghabiskan waktu menikmati curah keringat dari orang asing. Apapun alasannya, tapi memilih Sanur sebagai tempat untuk tinggal, berdekatan dengan pantai, adalah pilihan terbaik yang saya ambil saat ini. Sedikit banyak tentu saya membandingkan.. membandingkan dua hal adalah hal yang sangat natural pada otak manusia. Saya membandingkan hidup saya jika terus meniti karir di kantor lama, bersabar dengan segala polah, mungk

Hygge: Enjoying Life's simple pleasure

  Menyederhanakan sesuatu bukan urusan sederhana, justru sebaliknya. Rumus matematika sederhana diperoleh dari proses berpikir yang teramat rumit, dan bukan dari proses berpikir orang yang nonton tiktok empat jam sehari (red; saya). Proses penyederhanaan apapun selalu harus melalui jalan paling rumit, sulit, yang sering kali bikin menyerah di tengah jalan. Hygge adalah sebuah kata dari Bahasa Denmark, kata yang tidak sengaja saya temukan dan saya suka sekali. Waktu saya tahu ini adalah Bahasa Denmark saya makin suka lagi. Sejak lima tahun lalu saya memang terobsesi dengan kultur Danish (terlebih sejak nemenin rekan yang pernah mampir ke Bogor dan saya temani kemana-mana waktu itu. Sekarang dia sudah punya anak satu, masih bayi pula.. terharu banget betapa cepat waktu berlalu..) eh malah nostalgia. Hygge adalah sebuah cara menikmati hidup dari hal-hal sederhana yang kita temui sehari-hari; keberadaan keluarga, teman, tubuh yang sehat, tempat tinggal yang nyaman,. prinsip hidup yang menj

Twenty-Nine

  So many people accomplished different things in their twenty-nine. My Mom, for example, she has one stubborn  daughter and one son, and move to a new life far in the Eastern side of Indonesia when she was twenty-nine. I can imagine now how stressful that was.. Merauke dulu gak sama kayak sekarang. Jalan utamanya saja kecil.. setelah beberapa tahun kita tinggal di Merauke baru tuh ada yang namanya lampu lalu lintas. Yang sewaktu itu resmi terpasang, dijadikan objek wisata oleh warga setempat.  Aaand that brought me.. here. Alone in a new city.. yang kupikir akan menakutkan pindah ke sini sendiri dan untuk kerja pulang (ketimbang biasanya hanya untuk liburan). Kerja dari pagi sampai sore, berharap sorenya bisa melepas penat dengan melihat ke pantai, ya walaupun pernah tapi ternyata tidak bisa sesering yang diharapkan. Toh tetap saja aktivitas terbaik selepas ngantor adalah nonton Netflix atau Lapor Pak. But I make new friends here. Orang-orang baru yang saya kenal dan menjadi teman. Wa

Dwiwarna

  Are you a morning person or a night owl? Do you prefer Sunrise or Sunset? Beach or forest? Why are you here?  *** Hal pertama yang paling penting untuk ditanyakan sebelum memilih untuk tinggal di Bali adalah Why . Kenapa? Kenapa mau tinggal di Bali? Apa masih ada pilihan lain selain di Bali? Kalau masih ada, kenapa Bali? Karena ikut-ikutan saja? Fomo ? Karena mumpung murah? Apa? Ini penting karena niat adalah landasan dari segala perbuatan #amin. Pondasi ini harus kuat, karena kalau tidak kita akan gampang goyah di tengah jalan. Bali tidak seindah video vlog youtuber kaya cuy. Kalau sekarang, memang ada banyak alasan kenapa kita harus ikut mencicipi rasanya tinggal di sini, salah satunya ya karena mumpung harganya lagi murah, atau juga untuk mendukung program pemerintah dalam memulihkan perekonomian negara. #akusayangpemerintah #akusayangSandiagaUno. Kamu harus punya alasan mu sendiri dan itu haruslah kuat. Soal tujuan boleh fleksibel, mengikuti arah angin dan arus ombak. Asalkan ala

90 Days of Re-Rooting

  In order to determine where to live for the next month, I need to breakdown my purpose on why I came to Bali in the first place. This is what I called: re-rooting. I wanna be flexible in where I'm going, as long as my root is deep enough to keep me safe. And I have to write this whole thing down, so I could remember this struggle one day when I'm having a hard time in decision making (again). I see this phase as a 90 days of trial. A bookmark for new beginning, and I have to reinvent my self in order to jump to another stage of life --whatever it might be. Therefore, in this 90 days, I have to live in a new city. As a greedy person --who claimed to be a minimalist-- I don't wanna spend this 90 precious days of mine settling down in just one place. But I also don't wanna have any regret and live in a some weird place with crowded strangers passing through my door. I'm being very picky when it comes to my comfort level. First and foremost, I came to Bali to experien

Between Sunrise and Sunset

  I love both Sunrise AND Sunset. I love the Sun, in fact, I LOVE everything the Sky has to offer. The moon.. the stars.. the planets.. the kites.. yep, even the kites. Now I have to make another decision, because I like to complicate my life, that's all. Whether to stay or to move. If stay, my current place is actually located near where the Sunset is. But I never visited, except for a few times, dan itupun yang jauh dan bukan deket kost sini. If I move, I could have a place near the Sunrise, even if I have to walk around 15 minutes or so.. I don't know how to make this decision, so I went home, order a bubble tea mix with red beans, grass jelly and everything, watch Netflix. WHY bother with places near beaches if all I wanna do is lay on my bed all day and watch Netflix.. -_- I mean.. maybe I'll choose to move. Sunrise is a better thing to chase. I barely have time for Sunset, my work schedule is now mostly crowded in the afternoon due to time-zone differences. If one day

Catatan Hari Ini

  Kita akan selalu dipertemukan dengan jalan yang setara dengan level energi kita saat ini. Semua cerita yang kita lalui, sudah disusun rapi untuk bertemu dengan diri kita yang sesuai dengan cerita tersebut. Tidak ada yang kebetulan, karena semua memang bagian dari sebuah rencana besar. Jika sekarang rasanya masih terlalu absurd untuk ditebak arahnya kemana, pasti suatu hari nanti pun kita akan mengerti. What is my endgame? Bahkan kita sendiri pun sebetulnya hanya bisa mengikuti alur, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah senantiasa mengatur level energi kita, dan memilih jalan yang akan kita lalui. Memilih adalah cara kita menentukan jalan cerita, tapi kita tidak bisa mengatur pilihan apa saja yang kita punya, kita hanya bisa memilih dari jalan yang sudah ada.  Saya pun ingin mengingat hari ini sebagai hari yang luar biasa.. karena ini hari pertama saya bertemu langsung dengan line manager saya, diajak makan siang dengan singkatnya, benar-benar tipe perempuan yang tahu cara menye

[Fiksi] Cringe

  I miss you, you know.. Come back to me. I'm different now, I'm not that person anymore.. *** Aku pun geli melihat diriku sendiri di masa lalu. Saat bertemu dengannya kemarin, pada satu garis pemisah masa.. kami berdiri berhadapan, bertukar pikiran. Diriku yang dulu, benar-benar menjijikkan. Aku paham jika kamu tidak mau pergi dengannya. Tapi aku janji, sekarang aku tak seperti itu lagi. Maka maukah kau kembali padaku? Kita coba ulangi lagi masa yang lalu, dengan identitas kita yang baru? Berkenalan, memulai kembali semuanya dari awal..  Please say yes. *** Bali, 6 Oktober 2021 Boss

My pattern

Omg I just realised this pattern:  yg atas terjadi di tahun 2011, berakhir di 2016 yg bawah terjadi di 2015, berakhir di 2021 Should I be scared...

[Fiksi] 5 Minutes before Monday

  Perempuan itu menghembuskan napasnya, kencang. Memekik tertahan mengeluarkan sesak yang sedari tadi tertahan. Akhirnya ia bisa mendapat ruang tuk menyendiri, mengeluarkan air mata yang sudah tidak sabar ingin mengalir. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, berlutut, menutup wajahnya dengan telapak tangan yang sudah basah. " God...." erangnya sesak. Ia ingin meminta ampun, ingin meminta tolong, tapi hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan di tengah derai tangis yang tak sanggup ia bendung. God..  *** Orang dewasa hanyalah anak-anak kecil yang tengah bersembunyi. Mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, apa yang sebenarnya sedang mereka cari. Mereka hanya mengikuti arus, beraksi, berpura-pura mampu mendeskripsikan dunia.  Anak-anak yang sedang bersembunyi itu.. sebagian besar dari mereka justru tengah menanggung luka batin yang tidak sempat disembuhkan. Ah hanya begitu saja, untuk apa dibahas.. berpaling dari tanggung jawab untuk menuntaskan masala

Sometimes

  Sometimes, the only apology we need, is the one that comes from our parents. Sometimes, we don't want them to fix our problems, we just want to hear them saying "sorry we make life difficult for you, we thought it was the best for you" Sometimes, that is enough.  *** Bali, 5 Oktober 2021

This isn't fun anymore

  Who am I kidding.. solitude sucks! Solitude hanya menyenangkan kalau kita tinggal di tempat yang familiar. Kalau tinggal di tempat baru, rasa kesepiannya benar-benar nyata. Entah ini cuma saya saja yang terlalu mellow, karena banyak sebetulnya orang yang merantau jauh ke kota orang, ke negeri orang, sendirian, dan tidak punya siapa-siapa. Saya hanya pindah sepelemparan batu dari rumah.. tapi sebegini curhatnya >.< Yah.. kemampuan orang kan beda-beda ya. Daya tampung seseorang terhadap pain atau beban juga beda-beda. Mungkin kapasitas saya cuma segini, dan makanya saya ditempatkan pada posisi seperti ini. Supaya memperbesar kapasitas, bertumbuh, beradaptasi, dan kalau kata dua orang teman saya semalam.. "biasakan saja dulu sendiri.."  Upaya saya mencari kosan dekat pantai sudah mulai menuju jalan buntu. Tempat yang saya kira sempurna, ternyata jauh lebih menyeramkan dari bayangan saya.. Kuta benar-benar seperti kota mati, beda dengan Canggu. Jauh beda. Sungguh saya in

A Flash

  When your life is flashing before your eyes, and you knew right at that moment that you'll be gone soon.. what would you see? Do you picture her? Do you have a vivid image of them? What is it?

The Blue Hour

  Is it love that complicates life to make it beautiful, or is it life that makes love hard? Two people whose energy match another, they're a perfect unison of two human beings, but never meant to be together. They keep crossing each other's path, but never really meet.. except for one moment, when the universe pause just to see what decision do they take; companion or separation. They chose the second. Love is a genius in it's own way, there's night, there's day, and then there's.. blue hour. Love is like that brief moment of blue hour in between night and day, only temporary, but exquisite. Makes people wanna see it again and again, waiting for it to come out, even when they know it'll only for a glance.  I don't know how to feel love again, not that I don't want to, I'm just waiting, but really.. it sucks watching something so beautifully written on a screen about two people who are too complicated just to be together. Love should be simple, b

A day in the life of a kost-an girl

  I woke up late. Nine am and the kost was empty.. weirdly quiet. I decided to do nothing today. Not responding to any texts until after mid-day. I feel like I've been avoiding loneliness since I got here three days ago, so maybe now is the time to actually face it. Because I've known loneliness my whole life, I know she won't get away until I fully embraced it. So I did.. I ordered a simple meal for breakfast and lunch.. brought by a humble-beautiful Balinese woman, who keeps saying that she doesn't actually sell food.. she sells grocery, but she made an exception for my request. I tried to watch television while eating, only a few minutes before I turned it off. Too loud, I couldn't stand the noise. After a long-peaceful shower, I change my navy pajamas into the red one, and have a little chit-chat with the neighbor. My neighbor is very kind, young woman with her baby girl to whom I borrow her broom everyday.  I actually could do something productive today, like f

Knowing the Unknown

  Hari kedua di Bali, There's some kind of comfort in knowing something. Tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, menyusun sebuah rencana dan tahu akan seperti apa jalannya nanti dan kenyataan pun sesuai dengan prediksi, adalah hal-hal yang membuat hidup jadi lebih nyaman. Itulah kenapa kita senang sekali pergi ke tempat yang familiar dan cenderung menghindari yang tidak familiar, dan hanya orang-orang yang berani sajalah yang mau berjibaku dengan ketidaktahuan akan hal baru tersebut dan menemukan kebebasannya.  Ini saya kutip dari kalimat yang terpajang di sekretariat Lawalata IPB; 'Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko yang dapat merasakan kebebasan. L-xxx' (saya lupa nomor anggota L-berapanya, tapi yang jelas itu ditulis oleh mantan atasan saya kemarin). Oh.. menyebutkan kata mantan atasan saja bagi saya adalah hal baru yang menggelitik nan aneh. Ada sensasi rasa yang berbeda saat mengetahui bahwa hidup tidak akan sama lagi meskipun pandemi ini berakhir. Saya memutu

They are Watching

  Menjelang keberangkatan ke Bali yang tinggal beberapa hari lagi, perasaan saya semakin campur aduk. Kadang senang, kadang sedih. Senang kalau ingat laut, sedih kalau ingat nanti di sana bakal jarang hujan sedangkan di sini tiap pagi mendung. Saya hanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bisa keluar dari grup whatsapp yang setiap percakapannya membuat hati saya nyeri, itu saja. Tapi saya juga takut jika di sana nanti saya tidak kenal siapa-siapa, dan segala ketidakpastiannya juga membuat saya sangat gugup. Namun sepertinya Tuhan dan ciptaan-Nya bisa merasakan getar takut itu, seolah bisa merasakan ada getar negatif berupa rasa takut yang saya pancarkan, maka Dia mengirim sesuatu untuk menenangkan saya. Perasaan takut ini tidak bisa saya hilangkan, dia selalu ada setiap hari walau intensitasnya berubah-ubah. Seperti kurva grafik yang naik dan turun, begitulah rasa takut saya berubah setiap jamnya. Namun ketika grafik ini terus naik dan naik, selalu ada saja kawan yang bertanya kabar,

Ratu Jahat

  Ibu Peri datang membawa nasihat, Setiap katanya adalah petuah. "Jangan dekati Si Ratu Jahat, Karna ia akan menusukmu dari belakang" Perlahan ia beranjak dewasa. Ibu Peri menjadi satu-satunya sosok yang mengerti dirinya, "Aku melihat diriku pada dirimu. Kau adalah aku saat masih seusiamu,"  Ia mempercayai semua ceritanya pada Ibu Peri. Yakin bahwa Ibu Peri adalah orang yang paling bisa memahami apa yang ia rasa. Juga menjaga jarak dengan Ratu Jahat. Karena Ratu Jahat hanya inginkan harta dan kekuasaan. Waktu kembali bergulir, ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan akal yang sempurna terbentuk. Ia mulai melihat garis batas, Ratu Jahat yang tidak banyak bicara dan cenderung menjauh dari kerumunan, dan Ibu Peri yang selalu di kelilingi para rakyat dan petani.  Ibu Peri berjanji, bahwa dia akan selalu ada untuk semuanya. Membantu semua orang yang berada dalam kesulitan, walau itu berarti dia harus mengorbankan dirinya dan kebahagiaannya sendiri.  Ratu Jahat

First Monday in October

  Pukul sembilan lima belas malam, suara guntur mulai menggelegar. Dua belas tahun sudah saya menetap di kota ini, dan hujan sudah menjadi bagian dari diri saya. Selama pandemi, setelah menekuni rutinitas yang begitu rutin dan adil; bangun pagi, baca buku, memberesi tempat tidur, mulai bekerja dan tidak menyentuh kasur seharian,. saya akan menutup laptop dan menyudahi pekerjaan jika pukul empat sore hujan mulai turun. Hanya untuk duduk di teras, menatap langit, menatap keberkahan yang tercurah melimpah ruah untuk kota ini. Pernah satu ketika di Bulan Juni, saat hujan sedang mengguyur malam dengan derasnya, saya menangis sendirian di dalam kamar. Bukan karena saya takut sendirian, tapi karena perkataan menyinggung yang seorang rekan lontarkan dengan sengaja. Pandemi membuat saya begitu sensitif, mudah sekali menangis bahkan oleh omongan yang tidak penting. Malam itu saya berbisik.. Tuhan, ingin sekali saya kabur dari sini. Pergi ke Bali, dan memulai hidup dari awal lagi. Mungkin saya bi

Tuhan, aku takut..

  Who aren’t scared of change? It is scary. Unusual. Strange. We don’t like change. That’s not how we designed, we were designed to remain the same and it requires power and strength to adapt. That’s why the weak dies, and only the powerful can embrace change. Are we strong enough to face one? They say you only one decision away to a new life. You said that too, that you want to start over, a fresh start. Now when the universe open a door to you, you freak out. Why? Maybe it’s because.. after all these years you’ve spent on the road.. jump from one town to another in the name of good education, you finally find (or build) a place you called home. Maybe because the process wasn’t easy and the result gives you beyond comfort and satisfaction, it brings you the elegance in life that make it hard to leave. But you won’t go anywhere unless you embrace this fear. I remember right before pandemic, I took my self on a journey. The intention was simple; to cast away a rotten feeling. After five

The Sky is Beautiful Today

  Seringkali terjadi, setelah seharian hujan badai, besoknya langit cerah dan warna mataharinya berbeda. The sky was beautiful this afternoon, so I do what I had to do: sitting outside, in my front porch, staring at the golden Sun rays.  Jingga keemasan dengan udara dingin bekas hujan sisa kemarin. Kenapa saat mau ditinggal, sesuatu jadi berlipat indahnya? Manusia memang tidak di desain untuk akrab dengan perubahan, makanya mungkin kita cenderung untuk menghindari perubahan. Ingin semua tetap sama, selalu pada tempatnya, seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Padahal dunia tidak sesempit tembok kamar. Perubahan memang menakutkan, apalagi jika dihadapi sendirian. Tapi.. bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian? At this point of my life, I wanna make the most of my favorite thing I've been built for the last three years; enjoying my afternoon staring at the Sky, watching the golden Sun rays faded away, darken as it sunk. I don't know how long will I have this view, or how

Sapu Lidi

  Kalau aku bilang “benda berkomunikasi dengan kita,” kamu percaya gak? Tadi sore selepas mengajak Papa dan adik saya makan siang di luar, kami pulang melewati pertigaan lampu merah Baranangsiang. Seperti biasa, pertigaan itu diramaikan oleh penjual yang menjajakan bermacam dagangan. Kadang tahu, kacang, bantal sandaran kursi,.. kali ini yang dijajakan adalah sapu lidi dan tongkat e-toll. Tapi yang lebih banyak disodorkan adalah sapu lidi. Salah satu penjaja tersebut menyodorkan sapu lidi dekat sekali dengan jendela saya, seperti mode zoom in. Selintas saya langsung teringat sapu lidi di rumah.. satu-satunya dan dibeli sudah lama sekali, sekitar hampir sembilan tahun lalu waktu masih nge-kost di Cibanteng. Saat itu saya hanya tersenyum. Sudah lama juga tidak beli sapu lidi. Malamnya, setelah makan malam yang singkat, kami tenggelam dalam rutinitas masing-masing. Saya memulai rutinitas sebelum tidur dengan membersihkan badan, cuci muka, sikat gigi dan ganti baju tidur. Tapi baru saja be

What if I die in Bali?

  Waktu kecil saya sering melihat mama duduk sendirian di kursi. Tidak membaca, tidak menonton. Hanya duduk menatap lantai. Keluarga kami memang bukan keluarga yang mewah, tapi kami punya semua yang kami butuhkan dalam kategori ‘cukup’. Maka saya pikir, apa yang ada di pikiran Mama? Apakah ia sedang khawatir akan sesuatu? Tapi apa yang beliau khawatirkan? Keluarga kami baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Belakangan sejak pandemi saya jadi mengerti kebiasaan duduk sendirian tersebut. Duduk diam hanya menatap lantai atau dinding. Bukan berarti sedang khawatir atau memikirkan sesuatu yang berat. Hanya duduk dan “mendengarkan diri sendiri”. Larut dalam pikiran, tentang rencana maupun masa lalu, tentang mimpi maupun menu makan malam. Sore ini setelah langit mulai menyuarakan suara guntur, saya menyudahi pekerjaan. Duduk di area kerja seperti biasa, sudut rumah yang mestinya berisikan sofa ruang tamu. Masa bodoh denga tamu, area tersebut saya pakai untuk ruang kerja karena dekat jendela. Toh

Conscious Decision

  Kapan terakhir kali kamu membuat keputusan besar dalam hidup? Bagaimana perasaanmu saat mengambil keputusan itu? Pernahkah kamu melihat ke belakang telah mengambil atau tidak mengambil keputusan tersebut? *** Sejak Eyang meninggal Bulan Mei lalu, hidup kami berubah drastis. Bukan karena kepergiannya, kepergian beliau hanyalah penanda. Karena pergi atau tidak pergi, perubahan ini pasti terjadi. Hanya saja Tuhan seperti menandai dengan bookmark khusus untuk halaman ini, membuka lembar baru setelah ia memulai kehidupannya yang baru. Adik ku yang paling kecil kini masuk SMA. Dia masih bayi merah berusia dua bulan saat dulu kutinggalkan untuk masuk SMA. Adikku yang ketiga kini masuk kuliah, walau daring, tetap saja berubah status jadi mahasiswa. Dan aku? Saat aku sudah benar-benar tidak tahan dengan segala pola yang terjadi di pekerjaan, Tuhan membukakan sebuah pintu untukku. Pintu yang mungkin dulu pernah kupinta, tapi lupa. Sebuah pekerjaan baru datang menyapa, kusambut dengan sigap. Me

For the expectation of others

  If your family truly loves you, why do they expect you to live the way they want? If you require no marriage to be happy, why do they want you to get one to be happy? Life is confusing, because the ones who put the deepest scar are the ones closest to you. Betrayal came from your friends, not from the enemies. You live the expectation of others, in order to be considered 'normal and happy'. If happiness come from within.. and they truly care about you.. why do you need to live the life they have? It's theirs, not yours. 

How long is forever?

  Sometimes we got too caught up in a situation and act like there's no tomorrow. As if this condition we live in, will last forever and nothing will ever change. While in reality, life is a series of changes and bad moments. One to another, we cling onto those moments and create a thread we hold tight. *** Ada satu ayat di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa setiap manusia akan mengalami hidup yang bertahap. Tahap demi tahap perubahan itu nyata adanya. Hanya saja kadang kita terlalu takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Takut tidak siap atau bahkan takut hari itu tidak akan pernah datang. Sampai lupa bahwa, kita pun perlu bersiap. Karena jika perubahan itu sudah terjadi dalam satu jentik jari, semuanya berubah. Siap atau tidak siap, terlatih atau belum, kita dituntut untuk lekas beradaptasi. Banyak jiwa yang tersiksa karenanya. Perubahan yang demikian drastis bagi jiwa yang lemah akan menimbulkan depresi, gantung diri, bukan karena koneksinya pada entitas spiritual ya

Kesalahan Paling Fatal dalam Hidup

  Aku tidak bisa membayangkan jika kesalahan semacam ini terjadi di dalam pilihan yang diambil sekali seumur hidup. Bahkan menuliskannya saja, tanganku tidak berhenti bergetar. Menahan marah selama satu jam lebih mendengarkan sesuatu yang membuat kepala mendidih sambil menahan suara setengah mati agar tidak meledak. Bersyukur, aku tidak meledak. Berusaha untuk tidak melontarkan sedikitpun kalimat yang membuat sakit hati orang lain. Walaupun hatiku sendiri sudah hancur lebur mendengar serpihan kalimatnya. Adalah sebuah cerita, tentang seseorang yang mulai berfikir untuk menambah rekan di dalam hidup. Untuk menuntaskan misi yang tengah ia emban, ia pikir ada baiknya jika ini dikerjakan bersama orang lain. Orang lain yang dia hadirkan untuk meringankan separuh bebannya. Singkat cerita, kenyataannya justru jauh berbeda. Bukannya meringankan beban, dia justru datang membawa setumpuk masalah. Jauh lebih berat ketimbang saat ia masih sendiri dulu. Hari pun jadi terasa lebih lama dan melelahka

Walls up!

  I'm in the middle of watching Modern Family S7 E7 when it hits me. I realise something about the walls we build as an adult.  Orang dewasa cenderung sulit dipahami, kadang mereka mengambil keputusan yang membuat kening masyarakat berkerut. Seperti level pembatasan sosial alias ppkm alias lockdown.  Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak hal yang dia kubur rapat-rapat. Hal-hal tersebut membawa dia ke arah yang aman bagi dirinya, dan dia ingin melindungi diri dari apa yang sudah dikuburnya itu. Banyak hal yang orang dewasa kubur; trauma masa kecil, rasa pengabaian, terasing, yang semua mengarah pada insecurity. Orang dewasa takut menghadapi sisi gelap mereka, sehingga mereka tutupi itu semua dengan dinding yang tinggi dan tebal sekali. Akibatnya, jika mereka mengambil keputusan, dan keputusan itu aneh, mereka tidak mampu untuk membubuhkan alasan dan menutupinya dengan diam. Komunikasi memang kunci dari semua masalah. Komunikasi adalah sumber masalah sekaligus juga obatnya.

Almost 30

  Looking back.. this month last year, adalah saat di mana saya menemukan momentum yang lumayan membelokkan arah hidup. Idul Adha jadi penanda, karena selama empat bulan saya berdiam diri di rumah, sendirian, dan benar-benar tidak keluar pagar. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk mengunjungi Eyang setiap bulan secara rutin, yang saya wujudkan. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk pergi ke pantai, mengajak seorang teman, dan melepas tuntas perasaan yang sudah membelenggu selama empat tahun lamanya. Setelah itu.. saya jadi orang baru. Orang yang tidak peduli lagi akan detail remeh temeh. Orang yang tidak peduli dengan drama, dan masa bodoh dengan apapun anggapan orang lain. Saya tidak lagi peduli jika sikap saya dianggap menyebalkan, jika saya sedang tidak mau melakukan sesuatu, I say it loud and clear.. but not that loud.. you know.. Karena setelah perjalanan ke pantai di area Pelabuhan Ratu itu, pulangnya saya melihat sebuah postingan yang seakan menjawab pertanyaan yang memenuh

Melepaskan Keterikatan

  Setahun yang lalu, Idul Adha menjadi pembuka jalan bagi saya berlepas diri dari kegalauan soal hati. Perasaan yg saya bawa selama empat tahun lamanya, yang membuat saya lari jauh ke Raijua hanya agar bisa mengakuinya, mulai menemukan titik akhir di Idul Adha 2020. Bukan tanpa usaha, selepas hari yang penuh bahagia itu, saya memutuskan untuk pergi ke pantai. Selama empat bulan lamanya berdiam diri di rumah, akhirnya dua perjalanan itulah yang melepaskan saya dari angan perasaan yang tidak pernah menjanjikan nyata. *** Langit sore masih memanjakan mata, unjuk kebolehan dengan sempurnanya matahari yang hendak tenggelam. Saya kembali membelah jalanan Pantura sendirian. Ditemani musik pun tidak. Saya hanya ingin hening, berdua dengan Sang Surya, setelah merasakan sendiri betapa sementaranya hidup ini. Pemakaman yang biasa saya lalui begitu saja, kini sudah dihuni dengan seseorang yang saya kenal-dan saya cintai. Kini, setiap kali melalui area itu, saya memelankan laju mobil dan berbisik..