Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Traditional Love

  Tradition? What is tradition? That ancient, irrational act that people do just because the ancestors did. I used to careless about tradition. But now.. I understand. It started with Ramadan. I knew that my mom, or aunts, or all muslim mothers in this country, always 'prepared' the house to welcome Ramadan. They declutter, they change things, sometimes they re-paint the house, just to get the new vibe of it.  Saya tidak pernah benar-benar melakukannya sejak tiga tahun lalu. Meski sudah tinggal di rumah sendiri, saya tidak begitu peduli dengan bersih-bersih menyeluruh jelang Ramadan. Untuk apa, toh nanti juga ditinggal lagi. Lagipula Ramadan adalah tentang membersihkan hati, bukan rumah. Begitu kurang lebih yang ada di pikiran saya waktu itu. Hingga pandemic menyerang. Dan kemudian saya tahu bagaimana rasanya menjalani Ramadan di satu tempat yang sama: rumah. Waktu itu agenda bersih-bersih jelang Ramadan saya lakukan hanya demi membunuh waktu. Berbulan berdiam diri di rumah, da

In my darkest day

  Aku keluar rumah hari ini (yay to me). That simple movement takes up much energy, I should reward my self with a 3 pm quick nap soon after I got home.  Tiba-tiba diminta jadi MC acara perumahan, yg baru ku iyakan setelah enam jam di pause. Pertimbangannya satu: when you’re at the bottom of the pit, dont sit still. Kalau itu menakutkan, boleh jadi karna itu hal yang benar untuk dilakukan. So I said yes.  I cant do any significant work, which I admit loud and clearly, and I’m grateful that my bosses understand. Mudah-mudahan kondisi ini tidak berlangsung terlalu lama. Tapi selagi ada di kondisi seperti ini.. yasudah, jangan terlalu dipaksain. Paksain dikit-dikit, untuk lakukan the bare minimum. Selebihnya sudah.. kamu tidak perlu lakukan semua hal dengan sempurna. *** Bogor, Masih 9 April 2021 Mo di kondisi begini juga tetep ya. Mata beratt kalo udh jam 10

Teruntuk yang sedang murung

  "Ya Allah, can I just.. die? But.. I mean.. if only dead is better than this. I have people and everything down there."  Ini bukan tentang saya, tapi rupanya, yang saya tulis ini terlintas juga di kepala banyak sekali orang. Akhir-akhir ini banyak orang yang semakin 'gelap' suasana hatinya. Saya pun baru menyadarinya sekarang.. The early pandemic life, saya bisa begitu positif, ceria, dan baik-baik saja. Saya bahkan menghitung waktu yang saya lalui berdiam diri di rumah sendirian dalam bilangan bulan. Ternyata.. apa yang orang-orang pada umumnya rasakan saat itu, baru saya rasakan sekarang.. setelah satu tahun melalui pandemi. Saya tidak mau mengklaim apa yang saya alami ini sebagai sebuah turbulensi mental yang diberi berbagai label.. tidak. Tapi yang saya tahu, ketika ada orang terdekatmu tiba-tiba mengontakmu dan meminta untuk berbicara, dengan sopan dia mengirimi pesan.. then drop your activities away, and answer them. Karena boleh jadi.. boleh jadi, dia sedang

One call away

  Do you ever have the time in your life, when you sit in silence in your room or your house, looking around all the stuff you have bought, all the experiences, opportunities that have brought you to where you are now.. and thinking.. where is this all coming from?  You see, sometimes.. or in my case, it's most of the time, those amazing things that happened, are all coming from just one call. Basically one call, and your whole life change. To some people, maybe it's the job offer, or the collaboration offer, or other new kinds of offer. And those offers, are the ones that we've been waiting for so long.. we've been dreaming of and hold closely in our heart and it eventually came true. Looking back to where I was five years ago, things would be very different. Ten years ago, I would never imagine that I can be so 'domesticated', staying at home, bake cookies, brew juices, live in an organized way of living, and all the things that I thought was bullshit enough t

World Health Day Post: Forgiving Yourself

  Forgiving your self is a real job. It's hard, it takes a lot of time and energy, and sometimes we fail. But once we get into the end and did it, the reward is amazing. If you still struggle to forgive your past mistakes.. time you've been wasted on someone not worth waiting for.. or the sins that you've made when you were young and stupid.. if you still battling in the inside, prevent yourself from blaming yourself.. all I can say to you is this; Walk the process at your own pace. It doesn't matter if it's a slow progress, like an old-grandpa-turtle slow. Recognize every aspects that stings. The things that when you remember it, you start to hate yourself. Hold it. Hold it tight. Tell yourself, that it was in the past, and there's nothing you could do but to forgive. Forgiving other people who do bad things to you is easier than this. I know, because I had it too. But you can't live a full life before accepting who you are, and those mistakes, are part of

Don’t be perfect. Be original

  You don’t have to be percect to get someone’s admiration. The words that you often heard: “be yourself”, is not a joke. And its not just about you being you and justify all your bad habits with it. Its about being honest about who you are. You are human, you have flaws. That doesn’t make you a flaw, that makes you.. human. The people who love you, will accept you as you are. Sure they want you to grow, but no matter in what state you’re in.. they always accept you. Keep your mind to those people and those people only. Because you cant impress everyone, nor that you should. The purest form of love is acceptance. That’s what you should do to yourself too. Acceptance. Things will work out eventually.  *** Bogor, 6 April 2021 Only the originals win! 

Finding Newness: Jadi Ibu Kontrakan, Day One.

  Satu hal yang baru saya ketahui tentang burnout (karena baru mengalami), yaitu your body craves for new energy. Makanya stress atau burnout sering diasosiasikan dengan kurang piknik, dan solusinya selalu piknik, jalan-jalan, foto-foto, demi suasana baru. Bagi sebagian orang tentu itu mudah dan tidak perlu berpikir panjang. Tapi, bagi orang seperti saya yang takut sakit dengan tes swab, piknik bukanlah jalan keluar. Lagipula, saya sudah kenyang jalan-jalan sendirian selama lima tahun terakhir menjalani ritual solo annual trip yang destinasinya selalu adalah tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali. Maka, burnout dengan situasi demikian jadi dua kali lebih berat, karena seolah-olah kamu tidak punya jalan keluar. Tapi saya selalu yakin Allah pasti kasih jalan. Makanya, sebisa mungkin, walau rasanya sudah sangat buntu sekalipun, jangan putus doa dan keyakinan pada-Nya ya. Kamu tidak perlu jadi orang yang relijius untuk bisa selalu bergantung pada doa dan keyakinan pada

Labelling when you're burning out

  Burnout is new to me. I don't know what to do, nor that I have motivation to do anything. 2,5 hours has passed and I did nothing on my desk but to scroll stock market and buy a couple of lots. I have nothing in mind, and this is when I decided to write this down: When you feel burnout.. try to recognize the situation. Try labelling the feeling. Why. Why you feel the way you feel now. Ask why for five times. Why you lose your motivation. Why you need company. Why you need to talk to other people. What is it that you want? How to make you feel better. Keep asking these questions until you know what to do with yourself. It doesn't matter if you remain stoic or take no action about it, as long as you got the label, you put it clearly in your head, and enjoy the rest of your day, in stoic mode. Time you enjoy wasting, is not wasted anyway. Do it mindfully, at least, so that you won't regret it later. This is a tough time for everyone. It feels like last year, only recent. Feel

Self Discovery

  Salah satu yang membuat saya kagum sama Taylor Swift adalah kemampuannya mengkomunikasikan simpulan dari pelajaran yang dia ambil, ke dalam simbol-simbol di setiap adegan video klipnya. Di video klip berjudul 'Cardigan', Taylor Swift menanggalkan cardigan yang dia pakai, masuk ke dalam piano, terserang badai, tenggelam, dan bertarung dengan dirinya sendiri, lalu mendapati jalan keluar, dan kembali mengenakan cardigan yang sama. Saya membaca easter-eggs dari adegan tersebut di salah satu akun gosip, yang terjemahannya kurang lebih yaitu; proses pencarian jati dirinya Swift yang sempat menjadi orang lain, bertarung dan tenggelam, dan bertubi-tubi kepahitan lain untuk kemudian dia kembali menjadi orang yang baru, tapi bukan benar-benar baru melainkan orang yang sejak dulu dia memang sudah begitu tapi hanya baru sadar saja. Kesadaran itu ditandai dengan cardigan lama yang dia kenakan kembali, menandakan bahwa dirinya selama ini ya memang begini, namun untuk menyadari hal tersebut

Self Acceptance

  There’s one lesson that eventually all human beings will learn. Some learn it at very young age, some learn it when they’re old and grey. Some people are lucky enough to learn it while they were single, and some people have to struggle with it while taking care of their children. The lesson is about self acceptance. Because at the end of the day, all we have is ourselves. The only person who live and breathe with us since the day we born till the day we die.  Self acceptance came in many form, and mostly pain will bring the lesson. To accept of who you are, where you came from, who’s your family.. to uncover all the layers of mask because you wanna be somebody else.  Sometimes people are not very proud about their origin, sometimes people tried to hide their families, these are the masks that people need to deal with before they move forward. And by ‘deal with’, I mean accept it.  Accepting that you’re not perfect, and neither the world. Accepting that you have an embarrassing family

What I Truly Feel About Ramadan,

  Setiap jiwa yang tenang, pasti tergetar saat sadar bahwa Ramadan telah mendekat. Sukacita bersiap menyambutnya, membersihkan diri dan hati, dan berbenah ruang.  Namun bagi saya.. I was thirteen when I first left the house. Saya lulus SMP dan harus pergi meninggalkan rumah. Diutus oleh Papa demi pendidikan yang lebih baik, di sekolah berasrama, katanya begitu. Untuk memperbaiki akhlak saya yang nakal, susah diatur, dan keras kepala. Di rumah, saya selalu berantem dengan adik saya yang laki-laki, sehingga kami harus dipisahkan. Sehingga kami tidak pernah lagi punya kesempatan untuk rekonsiliasi, untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan meninggalkan di jiwa-jiwa kecil kami.  Sejak saat itu, setiap Ramadan hendak tiba, ada ketakutan yang selalu saya sembunyikan di dalam hati. Ketakutan kecil, yang selalu berhasil saya tutup rapat-rapat. Tahun pertama saya melalui Ramadan tanpa orang tua, karena masih sekolah dan belum pernah merasakan Ramadan di kampung halaman Papa. Mereka tentu tidak

When its raining after training

  I like watching the rain falls I like the sound of them pouring, I like sitting in my front porch staring at the sky, as the water blessed the Earth. I like the window, from where I can see the rain. Where I lie on my bed, watching them as they dance. *** Bogor, March 30 2021. One can only wish, for a window with Sun, Moon, and Rain.

My Very Unusual Struggle

  I wanna remember this 'struggle' so that my future self will laugh at it. Karena pernah ada masa di mana dia berhari-hari memikirkan hal yang sangat.. sangat.. important ini. *** I'm more of a shoes than bags kind of girl. Kalau beli tas entah kenapa saya sangat sangat picky, jadi saya hanya punya sedikit sekali; satu occasion, satu tas. Beda dengan sepatu, yang sering mengundang komentar siapapun yang datang ke rumah, dan selalu berhasil saya tangkis dengan dalih klasik; minimalism bukan soal quantity. Blah. Padahal saya nya saja yang gatelan kalau lihat sepatu melintas di mana-mana.  A year into pandemic.. sepatu rupanya awet dan anteng saja disimpan di dalam box masing-masing. Satu-dua kantong silica gel cukup membuat permukaan mereka aman dan tenang. Beda dengan tas. Setelah satu tahun tidak digunakan, begitu saya periksa.. satu-satunya tas 'main' saya kulitnya sudah mbrudul gak jelas. Selain ugly dan lusuh, juga tidak ramah di baju karena si kulit yang luruh

Dia yang mencintaimu

  Dia yang tumbuh tanpa orang tua, hanya mengenal ibu hingga usia kanak-kanak. Bergantian diasuh oleh Kakek lalu Paman, beranjak dewasa dalam kesahajaan. Bertemu cinta sejati di usia gemilang, bertumbuh dalam naungan ilmu, kasih, dan kebijaksanaan hidup. Hingga satu persatu orang yang ia cintai.. pergi meninggalkannya. Mereka pergi di saat beban tanggung jawab kian besar menggantung di bahunya. Seakan terus menerus menjadi pengingat bahwa kau di sini sendiri wahai manusia! Pamannya pergi, istrinya pergi.. kekasih yang ia cintai sepenuh hati, yang paling mengerti dirinya, belahan jiwanya, meninggalkan ia sendiri. Baginya hidup harus terus berjalan. Namun tak sedikitpun ia berubah. Ia tetap sahaja, dermawan, lembut namun tegas. Teguh pendirian dalam mengemban tugas. Walau ujian tidak berhenti menerpa. Kata orang, ada sebutan bagi mereka yang ditinggal mati oleh orang tuanya: yatim/piatu, atau yang ditinggal mati oleh pasangannya: janda/duda. Tapi tidak ada sebutan bagi mereka yang diting

Sebuah Pilihan

  Dua tahun lalu, saya berdoa. Berdoa dalam sujud yang sangat panjang. Menangis. Saya meminta, memohon, agar didatangkan satu sosok yang bisa jadi pasangan hidup. Lalu saya tertidur. Keesokan harinya, saya menempuh perjalanan ke Jakarta, untuk memenuhi ajakan buka bersama. Dalam perjalanan, diam menunggu, saya tengok ponsel. Sebuah pesan tertulis di situ: ' Ma, ada temen gue lagi nyari taarufan. Lu mau ga gue kenalin? Ini ig nya.' Saya terdiam. Di dalam commuter line yang sepi penumpang, saya duduk termangu. Ponsel saya simpan, sebelum tentu saja saya screenshot dan kirim ke teman yang bijak. ' Ini gimana jawabnya?' tanya saya, yang jawabannya baru saya buka selepas acara berbuka. ' Wah.. tapi gue belum pernah nih ginian.. taarufan gini gini.. hehe'  Jawaban itu.. adalah pilihan. Bukan menerima, bukan juga menolak. Teman saya paham, dan tidak lagi melanjutkan. *** 'Kak, nanti Om kenalin deh. Ini ada anak buah Om,' ujarnya sambil mengacungkan jempol, meng

Falling in Love with Boredom

  Being Twenty Nine, Day One. This is probably the most 'normal' birthday I had for the past five years. No over enthusiasm, no fake laugh, just plainly and calmly, and the people who celebrate my birthdays, are the real ones. I don't have to remind them that it's my birthday (which I always did annoyingly and proudly), because now.. is the first time in five years since that trauma.. I feel like.. healing. The only reason why I exaggerate my birthday was because he left right before it. He brought me a huge teddy bear, one that I always wanted, left it on the door, and never returned. Now, the teddy is gone, tetangga's sister was asking to adopt him and I gave it to her happily. I no longer have any expectation on what may comes next, and just focus on what I can change with my effort. This is a new kind of relieve.. one tranquility I don't have to fake. And besides.. I spent the 'day' firstly at twelve a.m.. di bengkel ketok mejik Pekayon! >.< Ja

Maret belum selesai..

  Ya, beberapa hari ini saya absen menulis. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena side job yang datang (biasanya) setahun dua kali, kini sudah tiba. Pekerjaan sampingan menerjemahkan dokumen ini sudah saya geluti nyaris lima tahun terakhir. Hasilnya lumayan untuk bangun dapur, pagar dan kanopi. Jadi salah satu sumber tambahan yang tidak pernah saya tolak, meski dulu sempat kewalahan bukan main saat masih harus terbang kesana kemari untuk assessment. Ditambah lagi saya baru saja kehilangan satu anggota keluarga inti. Anggota keluarga yang saya panggil dengan panggilan amat khusus. Mama terlahir dari lima bersaudara, dua laki-laki dan tiga perempuan. Anak pertama saya panggil dengan Papa Gode, harusnya disebut dengan Pakde karna Eyang masih ingin mempertahankan kesukuan-Jawanya di kalangan anak-cucu, tapi gagal karena terlalu aneh sebutan itu di tengah-tengah kami yang sudah nyunda pisan. Anak terakhir, perempuan, saya panggil Euteu. Harusnya Ateu, orang-orang umum manggil tante

Pengajar, Bersahaja

  Sebuah jambu kristal besar berkulit mulus tanpa cela. Masih dibalut plastik dan tangkai hasil dipetik. " Nih, buat lu. Organik, dari pohon bokap gue " ujarnya sambil menyerahkan jambu kristal besar. Saya terima dengan mata membulat tidak kalah besar, antusias mendapatkan buah organik, hasil petik sendiri. Bukan main-main, yang memetik adalah seorang pengajar yang dikenal senang 'memudahkan' mahasiswa. " Thanks, Peng" begitu saya memanggilnya; Epeng. Dia pun memanggil saya dengan sebutan: B.... ah sudahlah. Lima tahun saya menutup rapat nama panggilan itu.. bukan hanya karena tidak mau disebut begitu, tapi saya juga tidak mau mengunjungi memori lama saat masih berjibaku dengan organisasi tersebut. Biarlah jadi memori dan pelajaran. Kawan saya ini sekarang menikah dengan seseorang yang juga sahabat saya semasa kuliah. Keduanya bertemu dengan romantis, di bawah rumah pohon, saat kami sedang belajar tumbuhan bawah alias gulma. Sebetulnya mereka sudah saling ke