Skip to main content

Pasar!

 






(Sebelum masuk ke tulisan ini saya mau curhat dulu, as always, bahwa sebetulnya saya sudah menyiapkan sekumpulan ide dan pemikiran untuk ditulis malam ini dengan mood yang ceria, namun rusak tiba-tiba oleh sebuah pesan yang masuk lewat pukul sembilan malam. Ini malam minggu, dan besok hari Minggu. Tentu saja seharusnya semua orang beristirahat, mengistirahatkan bukan hanya raga tapi juga jiwa. Bukan berarti jika itu adalah sebuah pesan, bisa ditinggalkan begitu saja tanpa berasumsi pesan yang masuk itu tidak mengganggu, bukan. Tapi yah.. mungkin ini tidak seberapa. Mungkin orang lain di luar sana mengalami jauh lebih parah. 


Saya hanya kembali tersadarkan bahwa akan sia-sia jika kita bekerja untuk manusia. Sekeras apapun kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik, memeras otak untuk sekreatif mungkin mencari solusi, di mata manusia akan selalu ada kurangnya. Dan bukan hanya itu, pasti selalu  ada yang tidak cukup dan harus kamu tambahi, tambahi lagi, dan tambahi lagi. Seolah bebanmu itu ya biasa saja, kesehatan mentalmu bukan urusan perusahaan, jadi ya ndak masalah mau dicekokin sebanyak apapun pekerjaan. Tetap halal. Toh kamu dibayar tiap bulan.


Jika saya bekerja untuknya, maka saya akan habis dimakan emosi. Asam lambung akan melambung setinggi cita-cita. Beruntungnya bertahun terakhir saya diajarkan untuk tidak melakukan apapun demi manusia. I learned it the hard way. Jadi, walau ada pesan seperti itu, menunggu untuk dibalas, ya saya biarkan saja. Saya hanya ingin adil terhadap raga dan pikiran, tidak terkonsumsi oleh sesuatu yang sebetulnya hanya dibayar sebanyak empat puluh jam per minggu. 


Berhati-hati lah jika nanti kamu jadi pemimpin, atau akan melahirkan anak-anak pemimpin. Ingatkan selalu mereka agar jangan berbuat zolim, sering berinteraksi dengan diri sendiri agar ada kontrol diri ketika sudah mulai hilang kendali. Akan gawat jika semasa hidup begitu mewah berlimpah puja dan puji, tapi ternyata di akhirat disiksa secara bertubi-tubi. Banyak-banyak baca tentang akibat pemimpin zolim, maka kamu akan sangat berhati-hati jika bermimpi untuk memimpin.)


***

Pagi saya telah dimulai dengan sangat baik. Sejak selesai mengorganisir seisi rumah sebulan yang lalu, ritual pagi pun mengikuti dengan lebih terarah. Khusus Hari Sabtu, sejak berjualan juice secara rutin tiap minggu, saya selalu berbelanja ke supermarket. Minimal beli bahan juice, buah dan sayur, atau dengan sedikit bumbu-bumbu tambahan stok bulanan. Biasanya memang ke supermarket, atau kalau sedang super malas ya beli online via aplikasi. Tapi hari ini agak istimewa. Demi melihat matahari yang sedang cerah-cerahnya, maka saya memilih untuk pergi ke pasar. 


Setelah merampungkan buku 10% Human yang sudah dibaca on and off sejak Bulan Mei tahun lalu, saya bergegas berganti baju dan memesan ojek. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh, masih bisa dipakai ke pasar dan pulang sebelum zuhur agar bisa mandi dulu sebelum sholat.


Tujuan saya tentu saja Pasar Anyar. Pasar andalan warga Bogor yang menyediakan semua hal mulai dari kebutuhan dapur sampai bahan-bahan kimia. Waktu kecil, saya paling suka jika diajak mama ke Robinson. Ramayana Robinson dan Hero adalah andalan kami setiap masa gajian tiba. Walau tak jarang saya menangis meraung-raung di sana, ditonton banyak orang dan membuat mama malu hanya karena ingin beli sandal wedges yang terlalu tua modelnya untuk anak seumuran saya.


Haha. I always know I'm an old soul, but putting it this way makes it feel even weirder.


Tempat pertama yang saya tuju adalah toko tekstil. Ada satu toko kain yang sangat terkenal, saking terkenalnya dia sampai buka cabang di area yang sama. Tapi saya sudah tidak lagi berminat berbelanja di sana, setelah merasakan berbelanja di toko tekstil ini secara tidak sengaja. Kenapa tidak sengaja? Well, sebtulah toko tekstil yang terkenal itu namanya Toko C, ya. Saya tidak tahu kalau Toko C ini tutup Hari Minggu. Pernah saya ke sana dan tutup, lalu oleh seorang teman direkomendasikan ke Toko M ini. Saat saya tiba, pelayannya langsung melayani dengan sigap dan ramah. Bersedia memberi rekomendasi saat saya kebingungan memilih warna. Sangat berbeda dengan Toko C yang pelayanannya ala kadarnya, kita bahkan harus mencari-cari pelayan toko dan menunggu lama untuk dilayani. Pun wajah muram penunggu kasirnya juga sangat tidak membantu, dan yaa.. mungkin karena mereka sudah terkenal dan banyak pelanggan jadi tidak perlu lagi beramah tamah.


Dari segi harga, toko M dan toko C ini tidak beda jauh sebetulnya, walau tetap ada perbedaan harga, tapi bagi saya tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan ketenangan berbelanja.


Lepas membeli beberapa potong kain untuk my second baby business, saya keluar dan berjalan kaki ke arah pedagang buah dan sayur. Tadi saya memilih untuk mengenakan celana dan kaos olahraga, tidak lupa sepatu lari karena saya tahu akan banyak adegan jalan kaki.


Nanas madu, strawberry, semangka, saya dapatkan dengan mudahnya. Ada pedagang yang menjual nanas madu dan strawberry sekaligus, dan tidak jauh dari situ ada semangka. Lalu ada bapak-bapak renta menggelar lapak kecil berisi sereh dan daun pepaya Jepang, yang juga saya hampiri.

"Berapa Pak?" saya bertanya sambil menunjuk sereh

"2500" si bapak menjawab singkat sambil menghembuskan asap rokok. Saya keluarkan uang, membeli seikat dan berlalu. 2500,. batin saya. Beli di supermarket empat batang seharga 4250, dan di aplikasi sayur online seharga 6000-7000. 



Langkah saya kemudian terhenti di toko pernak-pernik tempat dulu saya seringkali membeli kebutuhan untuk my dumb baby business; Bogor Flanel. Tapi tempat ini masih terasa seperti surga, yang dipenuhi dengan kancing warna-warni, resleting ragam bentuk, dan aksesoris jahit menjahit lainnya. Saya hanya ingin membeli jarum pentul. Biasanya saya tidak pernah kesulitan membeli jarum pentul apalagi sampai kehabisan. Tapi satu tahun tidak pergi ke mall ternyata cukup menguras persediaan pentul. Saya hanya mau jenis jarum premium, karena tidak berkarat dan tidak merusak kain kerudung. Harganya jika di mall adalah sepuluh ribu, dikemas dalam tabung kecil yang cantik. Di sini.. saya lagi-lagi dibuat membatin.. sepuluh ribu dan dapat satu kotak persegi yang lumayan besar untuk ukuran jarum. Bisa-bisa sampai punya anak gak perlu beli jarum pentul lagi ini.



Pencarian saya lanjutkan ke toko kelontong. Saya ingin membeli cetakan kue lidah kucing, setelah semalam menonton tutorial youtube dari Mama Adeeva tersayang. Ternyata toko kelontong itu tidak menjual dan merekomendasikan saya untuk pergi ke toko AL. Saya tahu Toko AL ini terkenal, tapi saya tidak tahu persisnya di mana. Si bapak memberi arahan petunjuk jalan dengan lisan, dan kecerdasan spasial saya amat sangat tidak membantu. Walhasil saya masuk ke toko kelontong berikutnya. Ternyata sama, dia tidak menjual, dan merekomendasikan saya ke toko AL. Beruntungnya, kali ini si bapak memberi patokan sesuatu yang saya tahu; Es Kelapa ter-enak di Bogor. Kalau kalian mampir ke Bogor, kalian harus beli Es Kelapa atau Toge Goreng di sini. Karena saya tidak begitu suka tauco toge goreng, jadi saya hanya sering beli Es Kelapa. Toko AL berada persis di sebelah gerobak Mang Es. Saya berhasil membawa pulang dua buah cetakan kue dan satu botol vanili ekstrak premium dengan total harga kurang dari lima puluh ribu.



Terakhir sebelum pulang, saya mengarah ke area pedagang sayur membeli satu kilo Wortel Brastagi yang ternyata dihargai dua ribu rupiah lebih murah daripada tempat saya biasa beli di warung pesan-antar dekat rumah (dan empat ribu rupiah lebih murah dibanding sayur online).


Semua selesai sebelum tengah hari, dan tiba di rumah tepat saat azan berkumandang.

***

Pasar adalah denyut nadi perekonomian negeri. Bisa terbayangkan berapa ribu orang bergantung pada satu pasar yang ada di satu kota, baik sebagai pedagang, pembeli, maupun penjaja kantong belanja. Ragam orang mencari nafkah di sana, dan rupa-rupa pula pembeli yang datang dengan berbagai motivasi.


Saya selalu suka mengamati pasar, walau sebetulnya tidak begitu suka berkecimpung di dalamnya. Saya tidak suka kerumunan bahkan sejak sebelum pandemi. I can already imagine all the germs and microbes there. Tapi itulah yang membuat pasar menjadi tempat yang menyehatkan dan menguatkan warga negeri. Dari buku 10% Human dijelaskan bahwa mikrobiota yang ada di dalam tubuh kita ini super canggih. Mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan se ekstrim apapun, sehingga sebetulnya kita tidak perlu khawatir sakit hanya karena kotor-kotoran sedikit. Justru sebaliknya, hidup terlalu higienis malah membuat seseorang rawan sakit, karena mikrobiota di dalamnya tidak terbiasa 'berperang' melawan kuman dan bakteri.


Sewaktu masih melakukan assessment lapangan pun saya banyak berinteraksi dengan pasar, karena merupakan salah satu tempat observasi terbaik terhadap hewan atau tumbuhan yang ada di tempat itu. Favorit saya sewaktu di Balige, tempat di mana pasarnya menjajakan kain-kain Ulos yang dipajang begitu saja dan dijual seharga seratus ribu. Tapi juga menjajakan kepala Babi, kepala Anjing, dan bermacam-macam hewan unik lainnya. Serta ada gula merah yang manis sekali rasanya, manis yang berbeda dengan gula merah biasa, dan sedikit banyak membayar kerinduan saya pada gula merah di tempat asal ayah saya. 


Dulu juga waktu saya backpackeran sendirian ke negeri orang, tempat yang paling saya senangi ya pasar. Pasar tradisional yang menjajakan jajajan otentik negara-negara itu. Walau saya tidak bisa tahan lama-lama oleh pandangan mata yang selalu mengikuti. Aneh kan, cewek, sendirian, kurus, hitam, celingak-celinguk tidak berhenti melihat-lihat.


Budaya pergi ke pasar ini semestinya tidak boleh berhenti hanya di kalangan terbatas saja. Anak-anak harus dikenalkan sejak dini tentang sebuah ritme yang menjadi nadi perekonomian negeri. Waktu kecil juga saya senang ikut mama atau nenek ke pasar. Kebetulan rumah Nenek di Pamanukan memang berdampingan dengan pasar, berseberangan dengan area lapang (yang kini jadi tempat jualan), dan balai desa. Rumah Nenek bukan jenis rumah yang berdampingan dengan rumah lain sehingga tidak ada tetangga yang bisa saya jadikan teman main. Makanya sedari kecil saya sudah lebih suka bermain dan berimajinasi sendiri, karena teman-temannya ya kalau bukan Euteu, ya Eyang.


Setelah hari ini pun saya bercita-cita untuk sesekali nanti akan mengajak anak-anak saya melihat situasi pasar, atau bahkan mungkin berpengalaman membeli sayur atau buah dari pedagang di pasar. Karena interaksi di sana berbeda dengan interaksi yang kita dapati di supermarket, obviously. Walau saya tahu pasti akan repot sekali. Tapi jika pembelajarannya berharga ya worth the try lah.


***

Jika pikiran sedang ramai, dipenuhi oleh beban pekerjaan yang begitu demanding, mungkin sesekali perlulah kamu menyaksikan ramainya pasar. Ruwetnya mungkin tidak seberapa dengan ruwet pikiranmu tapi jadi bisa membuat sedikit berkontemplasi, betapa kita tidak perlu bersusah payah, berpanas-panas hanya untuk mencari selembar dua lembar rupiah.


Bapak-bapak penjaja kantong plastik, mungkin tidak tahu orang sekarang sudah tidak butuh plastik. Mereka sudah punya tas kantong yang bisa dipakai berulang kali, dan juga lebih ramah lingkungan. Bapak itu pun tak peduli. Yang dia tahu anak istri perlu makan. Uang sekolah harus dibayar. Pendidikan anak tetap utama.


Penjaga kasir berwajah muram pun tak mau tahu, jika muramnya itu membuat dia kehilangan satu pelanggan. Yang dia tahu bisnis ini berjalan dengan skala besar dan cepat. Setiap orang dilayani dengan cepat, entah puas atau tidak, peduli setan. Ini bukan bisnis basa-basi yang harus menyapa semua pelanggan dengan sapaan 'yes dear'. 


Ada arus gelombang kekuatan di pasar. Yang kuat yang bertahan, yang lemah akan tertawan. Satu lapak dagangan harus dipertahankan mati-matian walau itu artinya dia melanggar aturan. Jalanan dia tawan, biar saja walau membuat macet bukan kepalang.


Saya suka pasar.

But that's the thing about a minimalist, the feeling and emotion is there to keep but not to live for.

***

Bogor, 27 Februari 2021


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk