Skip to main content

Seni Mengosongkan Gelas


 

Satu hal paling berharga yang berhasil saya petik dari perjalanan tiga tahun terakhir menjadi seorang fasilitator pelatihan --yang membangun semua dari awal pembuatan rencana pembelajaran sampai proses pengiriman pasca pelatihan-- adalah untuk selalu punya ruang dalam ketidaktahuan.


Lima tahun lalu saya belajar dari bertemu orang-orang di berbagai daerah, mulai dari yang paling terpencil dan harus ditempuh berjam-jam dengan berbagai moda transportasi secara bergantian, sampai ke negeri seberang. Ragam karakter yang membuat saya belajar banyak tentang manusia. Lalu saya menjadi fasilitator pelatihan, seperti orkestra yang butuh konduktor untuk menyelaraskan nada dalam harmoni, itulah yang saya lakukan saat menghubungkan antara trainer, administrasi, marketing, dan trainee. Dari situ lebih banyak lagi jenis orang yang saya temui, apalagi jika sudah harus bertukar pikiran di atas meja, dalam baris-baris kata yang kadang njelimet bukan main.


Dari semua itu mudah sekali bagi saya untuk merasa tahu, tentang topik tertentu atau isu terbaru. Mudah sekali rasanya untuk bilang saya sudah bicara soal itu dengan ahlinya, atau saya sudah melakukan pelatihan itu sebanyak lima kali, dan menjadi jumawa karenanya. 


Tapi justru yang terjadi berkebalikan. Semakin sering saya membuat pelatihan, turut campur dalam proses pembuatan bahan marketing yang juga mengharuskan saya menyelami topik tersebut lebih dalam, lalu mengikuti pelatihannya dengan seksama terhadap apapun yang trainer sampaikan.. semakin saya tidak berani menuliskan apapun tentang topik-topik itu karena merasa tidak tahu. Tidak berani berpendapat jika ada yang bertanya di grup whatsapp, kecuali kalau ditanya secara personal bagaimana pendapatmu. 


Saya pikir sikap tersebut adalah baik, karena memenuhi ilmu padi yang semakin berisi semakin rendah hati, tapi ternyata tidak juga. Bukan rendah hati namanya kalau masih merasa rendah hati. 


Sekarang baru saya sadari pentingnya untuk menyeimbangkan diri dalam ketidak tahuan. Bukan berarti harus selalu diam dan membiarkan kebodohan merajalela, tapi mampu bersikap tegas dan percaya diri ketika dibutuhkan sambil tetap memberi ruang pada kemungkinan lain untuk datang.


Misal, jika ada yang memberimu satu atau dua tips tentang sesuatu yang sudah kamu kuasai misalnya masak. Kamu tidak setuju dengan tips itu karena menurutmu itu salah. Nah, seni mengosongkan gelas adalah bukan berarti kamu menelan mentah-mentah tips yang salah itu atau membuangnya jauh-jauh, tetapi kamu menyimpannya. Simpan di dalam laci memori, sebagai satu kemungkinan.. Mungkin suatu saat tips ini akan benar. 


Seni mengosongkan gelas adalah mengakui bahwa manusia pasti berubah. Dalam pertumbuhan yang mereka lalui, ada sederet pengalaman, patah hati, bahagia, dan kecewa yang bisa memutar balikkan akal pikiran sampai 180 derajat. Setiap kali kamu mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiranmu, jangan langsung buang atau telan mentah-mentah nasihat itu. Simpan di tempat yang sejuk memungkinkan untuk suatu saat dibuka kembali. Karena kita tidak pernah tahu, boleh jadi dia memang benar. 


Tapi tentu praktek ini ada syaratnya, yaitu kamu harus memiliki pondasi dan pegangan yang kuat terlebih dahulu. Harus sedemikian kuat sehingga gempa bumi pun tidak akan merobohkan tiangnya. Pegangan itu harus disertai dengan visi yang jelas, kemana hidupmu akan mengarah. Karena hanya dengan begitu, kamu bisa mengambil a detour sesukamu. Berjalan berputar-putar, belok arah secara spontan, menjelajah rimba dan hutan, menjadi tidak masalah karena kamu tahu tujuanmu. Tanpa pondasi dan visi, a detour mu hanya akan membuat tersesat, dan tersesat itulah yang banyak membuat orang menua tanpa bahagia. Atau bahagia, tapi hanya untuk dipertontonkan.


Seni mengosongkan gelas adalah tentang memberi ruang pada semesta, untuk menghadirkan alternatif-alternatif lain dalam caramu menjalani hidup. Seringkali kita terjebak pada satu pengetahuan, yang kita tahu bahwa hidup adalah soal A. Cara menjalaninya adalah dengan A, dan hanya A yang paling benar. Padahal, masih ada 25 alfabet lain yang tidak kalah benar, dan tidak kalah indah. Namun ini akan berbahaya jika kaitannya tentang keyakinan, salah-salah kamu bisa termasuk ke dalam golongan orang yang membenarkan semua ajaran agama. Makanya tadi saya bilang, pondasi dan visi nya harus jelas dulu supaya tidak salah kaprah. Membenarkan semua agama bukan bentuk open mind yang bisa diterima, karena dalam urusan keyakinan, kebenaran bersifat mutlak. Setidaknya itu yang harus kita pegang, kebenaran absolut yang kita yakini. Bukan berarti harus memaksa orang lain memaksa kebenaran yang kita yakini. Soal keyakinan, itu urusan masing-masing tidak perlu kita sok jadi influencer dan berambisi untuk mengubah hati orang. 


***

Saya pernah juga dinasehatin sama seorang teman, bahwa berdoa itu harus detil. Waktu itu saya bertanya-tanya sendiri, kenapa doa harus detil jika Allah Maha Tahu. Lalu saya ketemu jawabannya, yang juga ditulis di sini, bahwa doa harus detil supaya kita tahu apa yang kita mau, sehingga kita bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap resiko yang nanti akan dihadapi jika doa itu terkabul.


Kemudian saya sudah lupa dengan doa detil itu. Saya lebih banyak menggunakan doa-doa yang ada di dalam buku panduan, buku kecil yang saya beli dari tokopedia, karena di situ juga sudah detil. Detil dan lengkap, dan yang terpenting; gak perlu mikir! Ternyata berdoa memang tidak segampang itu, kadang saya terlalu malas mengutarakan apa yang saya inginkan kalau terpikir Allah Maha Tahu.. Ya Allah, You know what I want, right? Amin. 

Hehe.

Kata Ustad gitu juga boleh sih..


Namun barusan ini saya terpikir lagi, anjuran doa harus detil itu bukan anjuran teman saya. Melainkan anjuran turun temurun yang diyakini kebenarannya, dan bukan karangan teman saya semata. Pasti ada sesuatu yang membuat anjuran ini benar adanya, tapi mungkin salah dipahami oleh kita selama ini.


Nah inilah yang saya maksud dengan seni mengosongkan gelas. Ketika kita sudah berpikir bahwa sesuatu ini tidak benar seperti ini, sikap kita bukan dengan serta merta mengacuhkan dan melupakannya, tetapi memberi kemungkinan lain tentang mengapa ini bisa jadi benar. 


Jangan-jangan doa yang detil itu bukanlah tentang apa yang kamu mau, tetapi bagaimana yang kamu ingin rasakan. Tingkat kedetilan yang dimaksud bukan saja soal wujud fisik dari yang didamba itu, tetapi bagaimana perasaanmu terhadapnya. Sedikit banyak ini juga terpengaruh dari postingan instagram yang saya share berusan;

".... You tried for something, you risked, and even though it did not work out, you in return learned how to set boundaries, how to go forward with your heart and protect it-- not in a way that is guarded and hardened to the world, but rather in a way that is informed, that helps for it to be preserved and nurtured, that doesn't let it settle for things that aren't for it. Now you know what you do not want. Now you know what you do not want to feel. Now you know the kinds of thing you crave, the respect you deserve, and you won't settle for the opposite any longer. Forgive yourself for how you got to that understanding."


Ini akun instagram yang sering share tentang Astrology, walaupun saya tidak percaya pada ramalan zodiak, namun saya masih memberi ruang untuk kebenaran pengaruh rasi bintang terhadap karakter manusia. Walau saya muslim, namun saya masih memberi ruang untuk membaca hal-hal atau nasihat yang mungkin berasal dari bible atau kitab lain. Ini yang saya sebut dengan seni mengosongkan gelas, sekali lagi, harus didasari oleh pondasi yang kuat dan visi yang jelas dulu. Sambil terus menerus meminta perlindungan dan pertolongan dari-Nya agar hati tetap terjaga dan terlindungi dari hal-hal yang Dia tidak senangi.


I am here to live, to please my Master. Seharusnya itu yang menjadi visi bagi semua orang agar bisa hidup dengan sangat nyaman di dunia yang serba tidak nyaman ini. Kalau tujuannya adalah untuk menyenangkan Dia, segala hal menjadi sangat sederhana. Karena tidak ada yang lebih rumit daripada mengurai maksud diri sendiri, bahkan setelah melakukan amal baik sekalipun.


Boleh jadi doa yang detil yang dimaksud adalah meminta seperti apa jenis ketetapan hati yang kita ingini. Ingin ditetapkan hati untuk menjadi seorang ibu, karena ingin punya anak, berarti menyadari sepenuh hati bahwa sekali itu terkabul there's no way back and your life will completely change. Tidak akan lagi pilihan jika ingin rebahan, karena bukan kita yang memutuskan kapan waktu untuk istirahat. Tidak akan ada pilihan untuk resign, dan menyerah karena pertumbuhan anak tidak berhenti hanya setelah dia melalui masa balita. Setelah itu dia akan menjadi remaja yang lebih kompleks lagi secara emosional, lalu menjadi young adult yang akan semakin jauh dari kita, dan kita harus bersiap untuk merelakannya untuk dunia, dan seterusnya. Doa detil yang dimaksud adalah meminta agar hati mengenali tanda, kapan kesedihan mungkin akan melanda, dan bagaimana dia harus bersikap nantinya.


Karena saya tahu, tidak banyak orang yang menyadari ini sejak awal. Tahu-tahu mereka sudah kepalang jauh, tanpa sempat menemukan apa sebetulnya yang mereka inginkan. Yang mereka tahu hanyalah untuk menempuh jalan itu sebagai satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Sehingga, beberapa menua menjadi orang dewasa yang penuh kesedihan, membaginya dalam tangis yang dipertontonkan, berusaha terlihat riang namun dibuat-buat, dan tidak ada kesejatian sama sekali yang terpancar darinya.


***

".. Forgive yourself for how you got to that understanding"


Butuh pengalaman ditusuk dari belakang, ditinggalkan diam-diam di tengah malam, ditertawakan di depan orang, dan menjadi bahan lelucon, untuk saya bisa menyadari ini semua. 


Seni mengosongkan gelas adalah tentang memberi ruang. Juga kepada orang-orang yang pernah datang dan membuat harimu menjadi riang, bahwa bukan pada merekalah harapmu bersandar. Buktinya, orang yang dulu pernah menjadi sumber mata air penyejuk saya, adalah orang yang paling mampu menusuk tajam dengan sikapnya yang tak bersuara. Memberi ruang bahwa semua orang, bahkan yang paling kau cintai sekalipun, punya peluang yang sama untuk membuatmu terpuruk.


Seorang suami bisa menjadi kritikus terburuk bagi istrinya.

Diri sendiri bahkan bisa jadi kritikus terburuk bagi dirinya.

Seni mengosongkan gelas dilakukan dengan memberi kemungkinan bahwa selalu ada harga yang harus dibayar pada setiap apapun yang terjadi di muka bumi. Kecuali satu hal, dan satu hal ini yang layak menjadi pondasi, yaitu entitas-Nya yang selalu hadir di setiap detik nafas kita. Hanya Dia satu-satunya yang mencintai kita, dan membuatnya senang serta bangga adalah visi yang patut dituju. Only then life will no longer a burden, work will no longer a burden, because you don't work for them, you work for Him. Walau seni mengosongkan gelas juga artinya meskipun kerja kita ikhlas, kita tetap harus tegas memperjuangkan gaji yang sepadan, sebab ada hak-hak manusia lain yang tersita karenanya, dan itu harus ditebus minimal dengan kalkulasi manusia.

***


Islam datang dengan seperangkat latihan untuk menjalani hidup yang sukses dan kaya raya; saat mau solat kita niat, dengan niat kita tahu kenapa kita lakukan sesuatu, dengan niat kita punya keinginan yang kuat untuk fokus. Lalu kita fokus, memusatkan pikiran untuk menuntaskan satu tugas, agar hasilnya excellent, bukan yang main-main apalagi bercanda dan ngaret berlarut-larut. Dari situ kita sudah belajar untuk serius. Serius dalam menghasilkan karya, serius dalam memberi makna.

Life is too shallow kalau cuma untuk bercanda haha hehe. Lagipula.. what is the greatest prank than life itself? Sudah enak-enak tinggal di surga, berpasangan pula, harus turun ke Bumi susah payah mengumpulkan pahala sambil mengumpulkan rejeki, supaya bisa kembali lagi ke surga. 

***

Bogor, 17 Februari 2021

Tulisan ini saya tulis untuk diri saya di masa depan. Sebagai penanda bahwa inilah masa-masa pertama kali kamu mengenali dan jatuh cinta pada dirimu sendiri. It took three years of minimalism plus a year of pandemic, tho. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk