Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Serahkan hatimu dan hatinya hanya pada Dia

Masih ingat setahun lalu, kali terakhir turun ke lapangan utk penilaian area bernilai konservasi tinggi dan kawan-kawannya, saya mengalami emotional pressure yang sangat dalam. Bagi orang yang tidak bisa bersikap biasa saja terhadap situasi penuh emosi, field assessment rasanya seperti neraka. Saya hanya bertahan kurang lebih tiga tahun sebelum memutuskan untuk berhenti selama setahun. Dan hari ini, kali pertama saya mulai turun lapangan lagi setelah setahun menata diri memperbaiki emosi.
Pagi tadi sekitar pukul tiga saya terbangun oleh pesan text di layar ponsel yang cukup membuat kening berkerut. Singkat cerita, teman sekamar memutuskan untuk pindah kamar dan karena saya sudah tidur saat dia kembali, jadi dia pergi dengan membawa seluruh barang-barangnya dan mengunci pintu dari luar. Demi keamanan saya tentu saja.
Ditinggal pergi seperti itu nampaknya biasa saja ya. Tapi lain cerita kalau pagi itu saya bangun dengan badan tidak karuan, efek kabut asap membuat tenggorokan dan hidung sa…

[Fiksi] Libur

Tira, ibu rumah tangga dari keluarga kelas menengah ke bawah biasa, sedang sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat ke luar kota demi mengemban tugas sebagai seorang abdi negara. Baju-baju pilihan ditumpuk di sisi kanan, celana di sisi kiri, pakaian dalam, dasi, baju santai, semua disusun rapi sebelum dilipat kecil-kecil agar muat di dalam koper.
Sepanjang malam Tira sudah menyusun dalam pikirannya baju mana saja yang akan dia kemas. Warnanya, pasangan celananya, dan printilan lain semacam sabun, pasta gigi, shaving cream, obat-obatan. Pikirannya sibuk mengemasi barang-barang agar semua bisa langsung dia lakukan di pagi hari. Tentu setelah memasak sarapan, menyiapkan bekal untuk si bungsu, membersihkan rumah, dan menyiapkan kebutuhan suaminya pagi itu.
Tira sudah biasa melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja. Sebelas tahun menikah, dan kota terjauh yang pernah dia sambangi hanyalah Yogyakarta. Itupun hanya tiga hari, karena budget mereka…

[Fiksi] Hello, Stranger!

Tugas kuliah makin lama makin menumpuk. Aku sudah kehabisan keluh kesah untuk menggambarkan betapa aku benci rutinitas ini. Kalau bukan demi orang tua yang sudah rela-rela membayarkan uang kuliah, dari kemarin aku pasti sudah hengkang dan melamar jadi pramusaji restoran pizza. Huh! Kenapa juga harus ada perkuliahan sebagai standar kecerdasan seseorang. Aku sebal.
Aku menyusuri tumpukan buku di perpustakaan yang berdebu. Layar monitor pencarian mengarahkanku ke rak ini, rak yang asing untuk aku kunjungi. Sulit sekali membaca kode-kode yang ditulis kecil-kecil itu. Aku harus memicingkan mata, memiring-miringkan kepala, seperti detektif yang sedang meniti barang bukti.
Brukk! Setumpuk buku berjatuhan tepat di belakangku. Seorang mahasiswa terlonjak kaget, kami beradu tatap. Detik itu juga, jantungku seperti berhenti. Ya Tuhan.. he’s the one. Keyakinan konyol itu datang seketika, seperti adegan soap opera, aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta.
Seorang pemuda berkulit gelap, bertubuh tinggi …

Little Girl and The Wind

“I wanna leave..” said a little girl with a tiny voice. Her eyes wide open filled with fears.“But.. where to?” The Wind swirled by when he says “you have nowhere to go” “Somewhere far.. somewhere new..” the little girl is almost cried, “somewhere with stars, where I dont have to be alone” “You’re not alone here. You have me” The Wind swirls and twirls. “Yes, but you barely here. You go places and come back after a very long time” The Wind silence, for he has no answer to that. He knew that he could stay, if he would. “The world is unsafe out there” The Wind finally says.. But the little girl doesn’t hear what he says. She packed her stuff and tried to stand up. She wanna leave She wanna find a friend, or a family. One that will never leave her ever. She wanna meet the stars, She wanna see the sea She’s leaving The little girl is leaving

Ekonomi sedang lesu

Itu benar. Ternyata yang terjadi di film Default itu bisa saja sedang terjadi di kita sekarang. Mana kan Indonesia sudah bebas dari IMF. Capek juga kalau begini terus. Tapi kalau ekonomi sedang lesu, respon kita jangan ikut lesu. Tetap putar otak sekreatif mungkin untuk bisa bertahan hidup. Ayo ayo ayo chop chop!

Kelindan Pikiran

Aku takut.Jari yang kemarin teriris, hari ini berdarah lagi karena aku memaksa mengganti sprei demi mengusir mimpi-mimpi buruk. Sudah lama aku tidak mempraktikkan decluttering sebagai cara menghilangkan energi negatif di rumah ini, makanya aku belakangan sering mimpi buruk.
Tapi aku takut. Aku tahu Tuhanku tahu sampai kapan aku bisa kuat menahan ketakutan-ketakutan ini sendirian. Makanya aku berusaha untuk kuat dan tidak malah semakin menakut-nakuti diri sendiri. Walau suara-suara di dalam kepala berkata sebaliknya.
Sepi itu menyenangkan, Sendirian itu istimewa. Tapi aku tidak ingin keasikan Hingga lupa dengan tujuan
Aku perempuan Tugasku adalah menjadi teman, pendamping, sekaligus pelayan Bantah aku jika memang kau benar, tapi ini pendapat yang tidak bisa ditawar. *** Bogor, besok Senin

Tempatnya Masa Lalu itu, dibelakang!

Bahayanya gak ngapa-ngapain seharian itu sangat fatal. Akibatnya bisa melipir kemana-mana, termasuk stalkingin akun instagram istrinya mantan. Bukan bermaksud untuk membandingkan, apalagi untuk iri dengki mereka sudah menikah, No No Big No. Sungguh hanya sebuah keisengan semata saking udah bingungnya mau membunuh waktu dengan cara apalagi. Udah capek ketawa gara2 Vincent-Desta dari pagi.
Kesimpulan dari hasil stalk akun instagram istrinya mantan adalah; ternyata mantan saya menikahi seorang perempuan yang kelakuannya PERSIS dengan saya waktu dulu, semasa kita pertama kali pacaran. Berarti polanya dia berulang. Ya Allah amit2 jangan sampai pola saya berulang.
Tapi saya yakin pasti tidak. Karena selain sudah 100% move on dari dia, saya juga sudah 100% move on dari karakter saya yang itu. Makanya frase I’m not that person anymore, ngena banget di hati saya. Makanya (juga) saya berusaha berjarak dari kehidupan masa lalu saya, karena tidak ingin bersapa dengan orang-orang yang masih mengangg…

Kaum Rebahan

Keluar kamar duduk di ruang tengah, rebahan.Keluar dari ruang tengah masuk kamar, rebahan. Youtube gak berhenti kecuali kalau Netflix yang lagi dimainkan.
Seharian begini cukup mungkin ya. Kalau tiga hari begini bisa mati otak saya.
Lyfe at Saturday

[Fiksi] Bunga

“Kita lihat bulan, yuk? Langitnya cerah sekali malam ini” ujarmu malam itu. Aku hanya termangu, terlalu malas untuk bergerak keluar rumah.“Untuk apa?” Sahutku tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel. Kamu bangkit berdiri, membuka pintu kamar dan mengenakan jaket pink kesukaanmu. “Ayo. Pokoknya ayo!” Setengah hati kupaksakan duduk, berdiri dan mengikuti langkahmu.
Ada sebuah taman di dekat rumah tempat kita tinggal. Taman itu sengaja dibuat menghadap ke langit lepas, dengan hamparan kerlip lampu rumah-rumah kecil yang berdesakan. Kalau malam tampak rupawan, karena atap kusam dan genteng serampangan itu tertutupi dengan sempurna.
Kamu memang perempuan yang jarang meminta sesuatu, karena hanya hal-hal seperti ini yang kamu inginkan. Duduk memandangi bintang, bulan, dan laut. Ya.. aku tidak akan pernah lupa betapa kamu sangat mencintai laut.
Tapi pekerjaan membuatku begitu malas. Begitu lelah sampai-sampai rasanya pulang ke rumah hanyalah untuk tidur dan beristirahat. Lupa bahwa kamu sepan…

A life lesson from a wrecked love life

BismillahirrahmanirrohimAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
I whisper to my self as I stepped into the house, one that I just learned from countless series of youtube videos I’ve been watching lately.
Say basmalah and salam when you stepped into the house, because then syaithan will all escape from the house and have nowhere to rest nor nothing to eat.”
I took a deep breathe while switching on the lamps. It was almost dark, and I just got home. As always. Another day, another same old story. The weekend is getting closer, and I have nothing on my to do list (for the weekend).
I put my bag on the floor, walk straight into the kitchen because I forgot to take out the trash this morning. Hmm, I thought these will be like my ex(s). Take himself out. I can imagine my face while doing all the routine: poker-squidward-kind of face with two dashes as eyes.
I lock the gate, lock the doors, and I have like.. three layers of door, before I am completely alone. Surrounded by four walls I’ve bu…

My mystery guy, where art thou?

Someone who would speak song lyric to me,One who will understand the meaning of a song when I ask him to listen to it Not one who put his confused face when I play him my playlist And never get any feeling of it
Someone who will understand, not just the lyric or the music, but the feeling I try to bring
Someone who understand my silence Or my disappointment face even without telling
Someone who need my arms when weather is bad And need my shoulders when the crisis striked up
Someone who will make me feel needed And wanted And loved And needed
That someone is so special So Allah makes me wait until I am worth his time
That someone is a diamond That Allah still keep him a secret
Until he found me Or I found him Or we found each other And decided to be together
Let me pass this silent nights alone with my thought Contemplating on the purposes of life Because I know The time we decide to be together, We will only have busy nights
Lol
*** Bogor, October 1st Dear head, Rest!

So this is the weird dream was all about

Pantas saja tadi malam tiba-tiba saya ingin menuliskan tulisan I remember. Alih-alih menuangkan pikiran tentang ketidak sinkronan perjuangan adik-adik mahasiswa, saya justru menye-menye mengenang sang mantan. Sebelum tertidur dan bermimpi aneh sekali. Mimpi yg tidak bisa saya katakan sebagai mimpi buruk, tapi tidak baik juga. Aneh saja.
Rupanya sore ini sebuah gambar melintas di halaman kenangan facebook. Sebuah penanda berakhirnya hubungan kami. Sebetulnya saya lupa tanggal berapa persisnya kami berpisah, padahal biasanya saya ingat semua tanggal. Yang saya ingat, saya sampaikan kalimat pisah itu di sana, di sebuah daerah di Kalimantan Tengah, malam-malam berdiri di depan rumah tempat kami menginap, dengan sinyal yang terbata-bata, meminta kami menyudahi hubungan ini.
Entah apa yang merasuki saya malam itu, yang jelas saya sudah tidak tahan lagi. Meski itu bukan kali pertama saya mengajukan pisah, tapi itu adalah satu-satunya ajuan yang tidak pernah saya tarik lagi. Saya tidak peduli b…

I remember..

I remember back in the days when I had a boyfriend. Last week was intense that some of my coworker started to remind me of him -unintentionally- (but I hate it) and I cant help but to hear.
Well, things are better now. And I’m truly grateful Allah has saved me from a wrong marriage.
Because now I remember.. How I used to like a man wears cap, but he never liked it. I bought him one, then he lost it. Even if he was truly apologizing, and I forgave, I was never again try to make him wear a cap. I tried to live with that., half-heartedly.
Then the political situation is getting hot. I was involved in some organisations that required me to read everything on the media. I got hooked by twitter, and started to fancy several things including smart guys out there. I really want my man to be a twitter savy, which.. he’s not. He’s in fact,. Doesn’t really care on what’s going on in the world. Nothing wrong with being realistic, but there’s a thin line between realistic and apathy, and I dont want t…

Azzam Perjuangan: Untuk Perempuan

September, 2019

Menjelang pergantian masa kepemimpinan, masyarakat dibuat resah oleh Rancangan Undang-Undang yang sepintas terlihat ngawur. Petaka bermunculan karena keresahan itu terbaca oleh pihak-pihak tukang gelitik, yang senang dengan kekacauan, didukung dengan budaya masyarakat minim baca tapi haus informasi, mengutip sumber dari media 280 karakter dan dijadikan referensi acuan untuk turun ke jalan.

Terus terang saya tidak suka dengan sikap pemerintah saat ini, yang terkesan tidak tegas, tidak memperlihatkan taring, dan seolah iya-iya saja pada semua pihak. Wajar publik menjadi gemas. Tapi yang tidak kalah menggemaskan adalah, aktivis-aktivis kampus yang sangat diharap-harapkan, ternyata tampil kurang yakin ketika dihadapkan dengan para pakar, profesor, dan perumus rancangan undang-undang yang mereka perdebatkan itu. Kenapa mereka kurang yakin? Sederhananya karena mereka kurang baca. Jadi kesan yang didapat oleh pikiran-pikiran tua yang sudah usang ini, adalah mereka turun ke ja…

Ini semua bermula dari sebuah jerawat

Satu bintik kecil di dahi, satu bintik kecil di lekukan hidung, dan beberapa bintik kecil bergerombol di garis rambut. Jerawat yang biasanya tidak ada, kini muncul tiba-tiba. Heran, pikirku geram. Sekali muncul kenapa banyak sekali.. kecil-kecil dan mengganggu. Memang tidak terlalu terlihat di bawah make up, tapi hadirnya yang bisa kurasakan cukup bisa membuat jariku sulit melepaskannya.
Memencet jerawat adalah favoritku. Dan aku tahu itu dilarang. Aku tahu semua yang menjadi kesukaanku selalu terlarang.
Hmm.. Aku mencoba berpikir muasal si jerawat-jerawat kecil ini. Muncul tiba-tiba dan langsung bergerombol.. boleh jadi karna faktor polusi. Terpapar udara Jakarta seharian penuh, apalagi di ruang terbuka, memang selalu membuatku sakit keesokan harinya. Belakangan baru kutahu, tingkat polusi di sana tinggi sekali.
Sepuluh tahun lalu saat kali pertama ku kembali ke pulau ini, dijemput oleh Om ku dari bandara, dalam hening mobil aku bergumam.. langitnya coklat. Karena aku sedang mencocokkan fa…

A Poetic Poem. (believe me)

I woke up..Another morning, another fresh start. I tried to smile, I tried to get up I sat I breathe To be fall again. Repeat
Its a good day, At least the wall say I took a shower The Sun hasn’t come up yet. I bathe I brush I humm
Beep beep A horn That’s my cue, I said I get up Grab my bag “Coming!” Said I to the driver
The city is busy Like it was yesterday And the day before And before And before (I can do it all day)
Two hours early We sat A bowl of soup with a weird taste Here’s to breakfast I cheer my self up Because.. Who else will
Meetings gone rough My phone couldn’t stop ringing I have to answer them all For they’re all as important as the climate change
Bad news One Bad news Two Bad news Three
Could it be stop, already? I was pissed Yet I cant pee
First meeting and its ugly But its okay, said the brain Its a good day, said the heart Well, yes yes! I cheer myself up Because.. Who will?
Under the heat And the clouded city How can a person live under a grey sky all day? Grey? That isn’t grey, said the brain It’s grey! Said the heart It…

Hi Mecca

Tulisan kali ini akan berisi hal yang sangat pribadi, lebih baik jangan baca kalau kamu hanya mencari fiksi.
*** Ada masa di mana manusia bertanya ‘untuk apa saya diciptakan?’ Lalu berkelana dalam jawaban yang mengawang-awang. Mencoba membayangkan entitas ketuhanan, sebagai segala mula dan muara segala akhir. Pada manusia yang menghendaki jawab, tanya itu akan mengambang. Sukar dicerna, apalagi di nalar.
Termasuk saya, seorang anak perempuan yang terlahir keras kepala. Berjiwa pemimpin, tapi tak punya pasukan. Selalu merasa ingin menang, tapi lemah terhadap bentakan. Saya bertumbuh besar dalam kubangan tanya. Kenapa Kami harus ada? 
Tanya yang membawa saya pada sebuah perjalanan. Perjalanan menemukan Tuhan, untuk kembali pulang dengan setangkup pelajaran. Saat itu saya pikir saya sudah punya cukup. Hingga ternyata, Tuhan saya kembali menghantamkan saya pada kenyataan demi kenyataan yang sulit sekali saya telan.
Proposal penelitian saya ditolak mentah-mentah. Sekali, dua kali, tidak berhent…

Ini alasan kenapa sendiri lebih baik

Jadi perempuan itu susah ya. Apalagi kalau sudah semakin berumur, dan kawan dekat sudah berkeluarga sedangkan dirinya belum.
Apalagi nih, kalau dia punya perasaan terhadap seseorang. Apalagii, kalau seseorang itu juga jadi satu-satunya orang yang paling mengisi hari-harinya, selalu ada jika dibutuhkan, dan seolah-olah memberi perhatian lebih.
Mau abai, takut dianggap tidak punya hati. Mau peduli, takut salah sangka sehingga jadi terlanjur berharap.. padahal si laki-laki merasa tidak pernah memberi harapan.
Susah memang, apalagi jika berhadapan dengan laki-laki yang ramah.. ramah dalam artian sering ajak bercanda, sering nge chat, sering nelpon tiba-tiba, tapi ternyata dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Kan si perempuan yg tadinya biasa saja, begitu sering ditanya-tanya tentang kesehariannya, begitu si laki-laki itu mengirimi kalimat sederhana tapi manis semisal hati-hati ya pulangnya, atau jangan kerja terus nanti cepet tua, atau istirahat dong, yang semacam-macam itu, …

Parable(s) [Fiksi]

Aku sudah mati. Aku tahu aku sudah mati, karena aku bisa melihat tubuhku sendiri. Terbujur kaku di sana, diratapi oleh.. tunggu.. di mana Anita? Maria? Jason? Mana mereka? Kenapa malah hanya ada Diana? Kenapa malah si Andi yang ada di situ? Di mana sahabat-sahabatku?
‘Hei’ seseorang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh. Tania! Aku ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Tania, sahabat kecil ku yang meninggal saat kami baru berusia lima tahun. Aku memeluknya erat. Wajahnya berbeda sekali sekarang, sangat cantik, putih berseri. Semestinya aku tidak mengenali dia lagi, tapi entah mengapa aku tahu dialah Tania.
Tania tersenyum lembut, memelukku erat. Dia menggamit lenganku tak lama setelah melepas pelukan.
‘Tunggu’ aku ingin memberi isyarat, karena tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku. Aku ingin melihat orang-orang itu sekali lagi. Ingin tahu siapa saja yang sedih karena aku tinggalkan.
Tania menggeleng pelan, sorot matanya seolah berkata, tiada guna aku mematung…

Friday, 13th. waktu yang tepat untuk bertanya

Bahkan untuk mengakui kesepian saja aku tidak mampu.Perlu waktu, dan orang yang benar-benar bisa hadir di depan mata. Cukup dua hari ditemani Amani, di rumah ini. Ketika aku hampir menyerah dan sudah tidak mengerti lagi. Apa yang sudah aku lakukan terhadap hidupku sendiri? Benarkah keputusan-keputusan yang aku ambil? Ada di mana aku sekarang? Ridhokah Tuhan pada ku?
Aku takut salah.

Nada [Fiksi]

"Aku merindu kamu. Di sudut kafe, di pojok kamar, di jalanan, dan di ruang-ruang kantor. Tidak sedetik pun pikiran tentangmu lepas dari sini. Isi kepala yang dipenuhi bebayangmu sudah menjadi santapan sehari-hari. Semula aku pikir itu bahagia, lambat laun itu membuat sesak. Terlebih jika kubayangkan kau tengah bermesraan dengan orang lain kini. Atau lebih parah, dan ini yang ku amit-amitkan selalu di dalam hati; melihatmu berdiri di pelaminan bersama orang lain. Aku tidak mau. Sungguh aku memohon pada Tuhan, aku tidak mau. Pun kalau itu terjadi, aku ingin diberi kekuatan yang berlipat ganda dibanding dengan yang kumiliki saat ini. Aku tidak mau. Aku takut.
Tapi nampaknya Tuhan pun masih belum ingin memberikanmu untukku, masih ingin memberikan ruang sendiri bagiku dan bagimu, agar kita bisa saling memenuhi diri masing-masing, agar menjadi utuh sebelum bersatu. Padahal aku ingin.. ingin sekali.
Ingin selalu duduk di sampingmu, melihatmu mengguratkan garis demi garis dalam layar yang …

Dark Humour

My procrastination skill never ceases to amaze me. Especially when PMS meets the job that is too stupid (like reading wrong grammar, misspelling, ugly translation). I could procrastinate a work for three days which can be done for two hours (or three). Being a real dagger dodger also means I could give reasonable excuses when the employer asks for my work. Oh that's this data, its missing. I need to recheck with this guy, but he's out of office. Or.. this paper, it still needs further analysis that I will ask that guy over there sitting in the corner wearing a stupid scarf to answer it for us. And so on, and so forth.

I'm a dodger, who procrastinate, and I'm good at dramatically act when it comes to deadline.

My head! its exploding! Nooo... 

Lalu kepalanya meledak berceceran, karna dipasangi bom bunuh diri.

***
Sekian

Bye Bye Bye, Shoe!

Sejak mengenal, memahami, dan mencoba mendalami minimalism, saya sudah lebih mampu mengatasi rasa kehilangan. Kalau dulu sedikit-sedikit takut ditinggal, takut berubah, terlalu lengket sama situasi yang ada sekarang, kalau punya barang tidak boleh ada yang hilang, maka sekarang sudah berkurang drastis.

Mengurangi rasa keterikatan dengan benda ataupun manusia, (atau apapun yang bersifat keduniawian), membuat saya lebih santai jika ada sesuatu yang rusak atau hilang. Ah, sudah waktunya rusak. Ya sudah, nanti kalau sudah butuh baru beli lagi. Begitu pikir saya ketika smoothies blender saya rusak. Nyatanya sampai sekarang belum beli baru lagi, karena memang belum butuh. Begitu seterusnya, sampai hari ini, saya disentil oleh Allah dengan satu pengingat halus. Allah Maha Halus.

Sepatu kesayangan saya rusak dalam perjalanan pulang dari mall. Rusaknya karena tergesek dudukan kaki yang kurang proporsional pada motor ojek online yang saya tumpangi. Pengendara motornya sempat nyaris menabrak mob…