Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

The True Happiness

Selama dua pekan terakhir, saya menenggelamkan diri dalam kesibukan yang Insya Allah berfaedah: menggali ilmu. Commuting setiap sore, pulang jelang tengah malam, demi mendapat pelajaran baru yang saya pun tidak tahu akan seperti apa bentuknya.

Ada dua kelas yang saya ikuti; kelas Bahasa Arab (ancient Arabic) yang membantu kami memahami Al-Quran bersama makna-maknanya agar tidak lost in translation, dan kelas Bahasa Inggris khususnya untuk persiapan IELTS. Kedua kelas itu saya ambil tanpa berpikir. Saya tidak berpikir bahwa saya ingin benar-benar mendalami Al-Quran atau ingin mendaftar kuliah ke luar negeri dalam waktu dekat, sama sekali tidak. Dua kelas itu saya ambil simply hanya untuk mengikuti kata hati, follow your heart, they say.. jadi saya ikuti.

Sebagai orang yang tidak pernah mengecap rutinitas commuting Bogor-Jakarta di rush hour, sepuluh hari terbayang akan lama sekali. Apalagi setelahnya dilanjut dengan empat hari commuting yang pulangnya benar-benar jam pulang kantor seme…

Breakfast in Tiffany..

A wild young lady looking out for money, abandoning love, because she’s afraid of love. She refuses the idea to be belong to each other.. she wanted to marry for money, but ends up marry for love.
Four words.. Is all it takes.
Will You Marry Me,
Even if with a cracker jack ring. A worthless bent iron. Love.. is beyond. No diamond can measure the amount of love that two people have. Its beautiful.. really beautiful.
Breakfast in Tiffany, And you should watch this with your loved one

I always wanna fly..

If I look back, my childhood dreams used to involved something with flying. First, I’m in love with celestial matters from RPUL book that I memorised the name of the planets since I was iin third grade (which the subject is for sixth grade). Second, I wanna be an astronaut because they’re really cool and they can see the planets and I really wanna visit Venus. Third, I wanna be a flight attendant, or stewardee as I said. The third one was the most frequent one to be spoken in front of English class everytime we had a task to describe about our self in English. So..
I don’t know why, but flying has become my dreams since childhood. Now I know that I can’t fly, can’t be an astronaut and too late to be a flight attendant,. I guess I can be something else.
Stay in the ground, but fly high above the sky.

Dream World Wide Tour Bayyinah Institute

Early on this year, I saw this video popped up right at January 1st. I was on the train, back from Surabaya, and I had nothing to do but to check the video. It was Nouman Ali Khan, saying that he’ll stop making video on youtube, but is doing World tour instead. I just known him for a few months that January, so I was kinda disappointed, but also not so disappointed because in fact, there are still plenty videos of him that I haven’t watch yet.
Weeks go by, then its Ramadan. I saw him giving lecture in Masjidil Aqsa 25 days in a row, which I never missed. I watch every single khutbah daily, as I ride to office. My heart is at peace. Until one day.. in late August or early September, I saw his video again, new this time, and it says ‘please check Dream World Wide Tour on bayyinah dot com’. So I go to the website. And my heart was like.. explode when I saw Jakarta, November, and without thinking twice, without even bother to see the ticket price, I bought the ticket. 9 days of class plus …

Broken Glass in Peace [Fiksi]

“Rain, Rain, go away, come again another day...”Rain melempar syal yang dia kenakan ke arah suaminya. Wajahnya sekusut rambutnya yang tergerai tak beraturan. “Rough day, eh?” Suaminya masih menggoda, tak peduli dengan wajah kusut istrinya. “Am exhausted” Ujar Rain sambil melempar tubuhnya ke depan menubruk bantal dan menenggelamkan wajah. Suaminya mengikuti ke kamar, duduk di samping istrinya. “Mereka berulah lagi..” Rain mulai bercerita. Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya mengalir tanpa ampun. Revan diam menunggu Rain melanjutkan.
Rain kemudian berkisah tentang orang-orang jahat yang selama ini mengganggu kehidupannya, same old same old, batin Revan. Tapi istrinya ini terlalu keras kepala untuk resign. Menurutnya resign adalah cara paling lemah, dan secara tidak langsung menyatakan kekalahan dirinya.
“Ini kan bukan masalah menang-kalah, sayang..” Revan mencoba membujuk “ini soal kesehatan mental kamu. Kalau terus-terusan begini, kapan kamu bahagia.. kapan kamu bisa senyum buat ak…

An Alien

The commuter is calm tonight. Less crowded and only took me a while before it came.The class dismissed ten minutes early, which makes me arrive at the station ten pm sharp. Things are smooth.. Until a thought strikes in.
I am home with a huge lesson I just learned. And nothing I cherish more than a person who would love to hear everything that I just learn. Sharing is the fundamental key for me after I hear a big-sophisticated idea.
But I have no one. Physically I live alone, And emotionally, I am now being alienated to the only enviroment that I’m close with for the past four years. I can’t talk to my friends as often as I used to. They were there, surrounding me everywhere until the last two years, when everything started to change. Life happened, and they’re all move on. They got married, have babies, and now their hands are full with life.
I still have my parents though. But eversince I was a kid, their thinking, never fits mine. And there was the first place which I felt being alienated.…

Doa Sehabis Makan Siang

SemogaSiapapun dia nanti yang kelak menjadi suamiku, Tidak tergila-gila dengan makanan bersantan, atau berbumbu tebal, Dan semoga, Dia suka dengan masakan-masakan sederhana yang.. baru itu aku bisa.. itupun juga masih sering gagal, Tahu yang dipotong kecil-kecil, Ikan di suir-suir, Sayur kecil-kecil,
Dan semoga juga, Dia suka Dengan semua uji coba Yang ku panggang Berbekal resep video orang terkenal Yang berseliweran di akun media sosial
Aamiin.

Dari pelataran parkir, ada potret dunia

Dua orang remaja putri berseragam abu-abu berpisah di parkiran. Berjalan beriringan, lalu mulai saling melambaikan tangan saat bergerak ke arah yang terpisah. Yang satu berjalan menuju mobil hitam metalik bertuliskan Tucson, yang satu lagi berjalan ke sebuah Honda Jazz berwarna silver. Yang ke arah Tucson membuka pintu belakang, membuka ransel yang menggantung di punggung, dan masuk sambil menutup pintu. Bunyi debum halus terdengar hingga tempatku duduk. Di teras restoran cepat saji, menunggu kawan datang menjemput, sembari memperhatikan mobil-mobil yang berjajar rapi. Kuperhatikan lekat-lekat isi dalam mobil Tucson hitam itu, kosong. Hanya ada seorang supir dan remaja putri berseragam putih abu-abu yang duduk di belakang. Supir itu dengan cekatan memundurkan mobil, bergerak meninggalkan pelataran parkir. 
Dengan perginya mobil Tucson hitam, maka terlihatlah remaja putri yang satu lagi. Ia membuka pintu depan sebelah kanan, bersiap memanaskan mobil, meletakkan barang-barang di kursi …

The one when your peaceful afternoon had ruined by one long message

My emotion is like a cherry bomb.. its cute, its pink - or reddish.. and its cherry. But still, is a bomb. It can explode with a swirling and dazzling smoke bomb, ready to ruin your peaceful afternoon.
***
I took a shower just after the -somewhat I’d like to call it incident but I feel like its too dramatic but then I remember I’m also a drama queen- incident.
Certain smell could bring back certain memory. And I foolishly took the wrong soap. Honey-bee scented soap which I frequently took when I was battling with ANOTHER incident., has brought back those memories. And I swear its ugly, as ugly as the one that just happened.
The shower that I took, which should’ve be one of the calming moment, has just ruined my mood even worse. ***
Life is funny indeed. Even Allah Himself told us, with a precise sentence mentioning that life is just a joke. It is a joke. Nothing in this world that will save us in the afterlife but the good deeds. And none in this world would ever survive, and still alive. We’re …

Nyambu [Fiksi]

Just when you think your life problem has solved, the other storm comes creepin in..
***
Perempuan paruh baya itu memasuki kafe. Langkahnya yang gontai dan matanya yang sayu cukup mencerminkan apa yang tengah dia rasakan. Dengan sigap kubantu dia mencari tempat duduk yang nyaman, di sudut dekat jendela, berjarak dua kursi dari pengunjung lain yang tidak terlalu banyak bicara.
Aku menyerahkan buku menu kepadanya, yang dia terima tanpa menatap mataku. “Americano dan cinnamon roll, please” ujarnya pelan. Aku mencatat pesanannya, tersenyum sambil berucap mohon ditunggu ya, Bu. Dia hanya diam. Melipat tangan di atas meja, menengok ke sisi jendela.
Dia terlihat seperti seorang perempuan berada, dandanannya tidak menunjukkan dia sebagai kaum sosialita, tapi cukup merepresentasikan perempuan bekerja dengan jabatan rupawan. Kutaksir penghasilannya bisa mencapai dua puluh juta dalam sebulan. Meski ia datang dengan berjalan kaki, tapi aku mengenali sepatu yang dia pakai. Buatan desainer Itali yang ti…

When life gives you lemon

Adalah dosa masa lalu, yang ketika kita ditimpa kesulitan di masa kini, sebagai satu yang patut diingat.*** Azan magrib baru akan berkumandang sepuluh menit lagi. Masih banyak waktu untuk membasuh wajah, telapak tangan, dan semua yang disyaratkan dalam pedoman bersuci. Lantainya dingin seperti biasa, yang aku injak dengan kaki telanjang. Entah kenapa, dingin itu bertransformasi menjadi sejuk yang meresap sampai hati.
Hatiku bergetar kala memasuki ruangan teduh dengan langit-langit yang tinggi. Segera kutuju satu tempat favoritku, berdekatan dengan pagar besi yang membentuk segi enam. Heksagonal.. sarang lebah.. An-Naml.. ah tanda-tanda kebesaran Tuhan itu dulu akrab sekali di telingaku.
Perempuan di sebelahku tengah bersujud. Azan magrib belum juga berkumandang, tapi dia sudah bersujud. Hmmm.. aku berusaha untuk tidak melirik.. tapi penasaran juga. Solat apa yang dia kerjakan saat matahari sedang berada di tanduk setan ini?
Lima menit.. dia belum juga berdiri. Sampai akhirnya sang muazin …

Catatan Sore

Awalnya tidak sengaja, Bertatap-tatapan, eh ternyata saling suka.
Awalnya hanya diam, Diam-diam memerhatikan, eh ternyata ada yang ikut terpendam.
Awalnya karena cinta, kemudian aku ingkar, hilang arah karena bahagia yang semu. Sampai ternyata aku tahu bahwa itu bukan cinta, Melainkan nafsu yang mendatangkan murka
Lambat laun kita belajar, Bahwa menjadi manusia adalah tentang menjadi individu yang bertanggung jawab. Sadar akan pilihan yang diambil, Bersedia menerima konsekuensi, Dan tidak melulu menyalahkan situasi.
Suatu hari nanti kita akan dipanggil, Pulang dan menceritakan apa yang sudah diperbuat selama di muka Bumi, Jika salah, maka akan ditanya kenapa berbuat salah, Tidak tahu atau tidak mau tahu? Lalu diganjar hukuman. Bukan hukuman yang bisa kita bayangkan, Melainkan hukuman yang sedari sekarang kita minta tuk diampunkan.
Awalnya karena cinta, Yang terselip secara tidak sengaja Tahu-tahu tumbuh besar, dan menuntunku untuk.. Pulang
*** Bogor, 13-11-19 Dari teras rumah, dengan…

Cara bikin hidup lebih mudah

Punya tujuan.
Lima tahun yang lalu, Februari 2014, saya bersama seorang kawan bertualang ke negeri tetangga demi mencari sesuatu yang kita sebut sebagai tujuan hidup. Teman saya ini menularkan falsafah hidup, dan misi pencariannya yang saya amini dengan taat karena saya pun sedang berada dalam level yang sama. Walhasil pencarian kami berujung manis, lepas perjalanan itu, saya menemukan jalan kembali kepada Tuhan saya, dan dia menemukan jalan kembali pada keyakinannya.
Time flies, beberapa hari lalu kami kembali bertemu. Duduk di salah satu kafe kekinian, memanjakan mata dengan design interior yang ditata sedemikian rupa, sembari menumpah-numpahkan cerita. Tentang cinta tentunya. Yang kali ini tetap didampingi dengan bumbu-bumbu misi pencarian tujuan hidup. Bahagia bagi saya, adalah karena saya sudah menemukan tujuan saya (sambil terus menyempurnakannya), dan saya berdoa juga supaya dia segera menemukan tujuannya.
Mudah bagi saya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan “untuk apa saya dil…

Debat fiqih dan aqidah di sosmed? hmm.. tunggu dulu

Aku ingin ajak kamu membayangkan..Tentang perasaan seseorang yang mencintai seseorang. Sebutlah anggota keluarga, sedarah, dan teramat sangat mendukung segala seluk beluk perjuanganmu. Tapi.. Orang itu menolak ajakanmu. Kamu tahu jalanmu paling benar, dan hanya jika mengikuti ajakanmulah seseorang akan selamat. Tapi dia tidak mau mengikutimu. Sebabnya rupa-rupa. Ada karena kedudukan politik. Ada karena hati yang tidak begitu yakin. Atau karena khawatir dengan pandangan pengikutnya. Lalu orang tersebut meninggal. Yang berarti habislah sudah waktumu untuk menyelamatkannya. Kamu tahu betul orang itu sama sekali tidak bisa kau tolong lagi, tidak peduli seberapa memohonnya kamu pada Sang Kuasa.
Karena itu terjadi, pada Rasul kita, Nabi Muhammad SAW. Yang menghabiskan sisa hidupnya menyelamatkan sebanyak-banyaknya penduduk negeri dan penduduk seisi dunia. Bergenerasi kemudian ajarannya dipeluk dan diamalkan. Hanya agar semua orang bisa melihat cahaya kebaikan, dan terselamatkan dari api neraka.

((Pamit))

Kemarin.. gelas di rumahku pecah.Kubiarkan pecahannya berserak di meja, Pikiranku sibuk berlarian kesana kemari Akan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Walau sudah kuputuskan untuk berhenti, Dan tertatih aku berhenti. Kusiapkan air, lalu kusiram seluruhnya ke wajahku. Agar bangun aku dari tidurku. Agar bisa ku membuka hati, agar tidak sulit aku mengerti.
Aku akan pergi. Kelak jika November telah pamit, aku akan mulai berkemas. Karena pergi sejatinya adalah keinginan yang tertanam sejak dulu.
Tapi sulit. Kali ini bulat tekadku. Pecahan kaca yang berserak di meja, mulai kupunguti satu persatu. Agar tidak terluka jariku. Pamit.

Ramon (2) [Fiksi]

"Told you, I'd be back differently,." aku bersenandung begitu memasuki ruangan putih abu-abu yang sama yang kutinggalkan lima belas hari lalu. Aku tidak tahu bahwa perubahannya akan sedrastis ini, one kiss is all it takes to turn my life upside down. Aku masih senyum-senyum sendiri sambil menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhku. Ingatan akan ciuman kami yang pertama, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya terus berputar berulang-ulang di kepalaku, membuatku enggan melakukan apa-apa. Tidak unpacking, tidak membersihkan badan, hanya mengganti baju dengan selembar kain seadanya yang kutarik sembarangan dari dalam lemari, lalu melemparkan tubuh ke kasur yang empuk.

"I got a boyfriend, now.." bisikku pada teddy bear coklat besar yang kuberi nama Brownie. Dia diam tersenyum seperti biasa. Memang hanya itu ekspresi yang dia punya.

Aku memejamkan mata, membayangkan senyum tipis Ramon yang sangat aku idolakan. Membayangkan canda tawanya yang garing tapi selalu berha…

Ramon, [Fiksi]

"It'll only be fifteen days. Fifteen, and I'll be back differently..." aku bergumam sebelum menutup pintu kamar, memakai sepatu, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.

***

"Kalau semua hal yang kamu alami dan rasakan di sepanjang perjalanan ini kamu bagi-bagi di media sosial, apa yang tersisa untukmu memaknai pelajarannya?" Ramon bertanya dengan nada datar. Aku yang sedari tadi sibuk memotret laut dan buih ombak refleks menurunkan ponsel dan menoleh ke arahnya,
"Banyak." jawabku singkat, lalu kembali sibuk mengambil gambar. Ramon masih berdiri di sebelahku sambil memandang lurus ke garis batas pertemuan antara langit dan laut. Dalam hal ini kami berdua sepakat, bahwa garis ilusi itulah yang membuat kita tetap hidup. Sepasang pembawa acara petualangan di televisi, yang hidup dengan bepergian ke tempat-tempat eksotis yang jarang dikunjungi orang.

Aku mengenal Ramon sejak tiga tahun yang lalu, saat pertama kali acara ini mulai dicetuskan dan d…

Into the Unknown

Kabut asap menyambut begitu kami menyentuh landasan dengan guncangan hebat. Badan pesawat sempat oleng, membuat sebagian penumpang memekik tertahan. Tapi aku tidak. Karena aku sudah berlatih untuk selalu biasa saja. Ah.. biasa saja. Toh paling mati. Mati kan pasti. Begitu yang ada di pikiranku, sembari membisikkan kalimat oengingat kepada-Nya.
Ada rencana yang tidak sesuai dengan kenyataan, Ada kendala yang tidak diperhitungkan, Segalanya seolah tumpuk carut marut membuat saya bertanya sendiri.. ini ada apa? Kenapa seolah-olah semuanya seperti menekan emosi saya seperti pressed juice yang sedang mengeluarkan sari dan membuang sepah? Lalu kabut asap mulai menggerogoti fisik saya. Demam tertahan, kepala berat seperti dihantam godam, harus saya tutupi semua dibalik pipi memerah oleh blush on yang hampir habis. Apa ini, ada apa?
Rupa-rupanya jika saya sigap membaca, Ini adalah tanda perumpamaan. A parable for the thinkers. This is what life looked like. Rencana yang dibayangkan akan begitu indah, t…

Serahkan hatimu dan hatinya hanya pada Dia

Masih ingat setahun lalu, kali terakhir turun ke lapangan utk penilaian area bernilai konservasi tinggi dan kawan-kawannya, saya mengalami emotional pressure yang sangat dalam. Bagi orang yang tidak bisa bersikap biasa saja terhadap situasi penuh emosi, field assessment rasanya seperti neraka. Saya hanya bertahan kurang lebih tiga tahun sebelum memutuskan untuk berhenti selama setahun. Dan hari ini, kali pertama saya mulai turun lapangan lagi setelah setahun menata diri memperbaiki emosi.
Pagi tadi sekitar pukul tiga saya terbangun oleh pesan text di layar ponsel yang cukup membuat kening berkerut. Singkat cerita, teman sekamar memutuskan untuk pindah kamar dan karena saya sudah tidur saat dia kembali, jadi dia pergi dengan membawa seluruh barang-barangnya dan mengunci pintu dari luar. Demi keamanan saya tentu saja.
Ditinggal pergi seperti itu nampaknya biasa saja ya. Tapi lain cerita kalau pagi itu saya bangun dengan badan tidak karuan, efek kabut asap membuat tenggorokan dan hidung sa…

[Fiksi] Libur

Tira, ibu rumah tangga dari keluarga kelas menengah ke bawah biasa, sedang sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat ke luar kota demi mengemban tugas sebagai seorang abdi negara. Baju-baju pilihan ditumpuk di sisi kanan, celana di sisi kiri, pakaian dalam, dasi, baju santai, semua disusun rapi sebelum dilipat kecil-kecil agar muat di dalam koper.
Sepanjang malam Tira sudah menyusun dalam pikirannya baju mana saja yang akan dia kemas. Warnanya, pasangan celananya, dan printilan lain semacam sabun, pasta gigi, shaving cream, obat-obatan. Pikirannya sibuk mengemasi barang-barang agar semua bisa langsung dia lakukan di pagi hari. Tentu setelah memasak sarapan, menyiapkan bekal untuk si bungsu, membersihkan rumah, dan menyiapkan kebutuhan suaminya pagi itu.
Tira sudah biasa melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja. Sebelas tahun menikah, dan kota terjauh yang pernah dia sambangi hanyalah Yogyakarta. Itupun hanya tiga hari, karena budget mereka…

[Fiksi] Hello, Stranger!

Tugas kuliah makin lama makin menumpuk. Aku sudah kehabisan keluh kesah untuk menggambarkan betapa aku benci rutinitas ini. Kalau bukan demi orang tua yang sudah rela-rela membayarkan uang kuliah, dari kemarin aku pasti sudah hengkang dan melamar jadi pramusaji restoran pizza. Huh! Kenapa juga harus ada perkuliahan sebagai standar kecerdasan seseorang. Aku sebal.
Aku menyusuri tumpukan buku di perpustakaan yang berdebu. Layar monitor pencarian mengarahkanku ke rak ini, rak yang asing untuk aku kunjungi. Sulit sekali membaca kode-kode yang ditulis kecil-kecil itu. Aku harus memicingkan mata, memiring-miringkan kepala, seperti detektif yang sedang meniti barang bukti.
Brukk! Setumpuk buku berjatuhan tepat di belakangku. Seorang mahasiswa terlonjak kaget, kami beradu tatap. Detik itu juga, jantungku seperti berhenti. Ya Tuhan.. he’s the one. Keyakinan konyol itu datang seketika, seperti adegan soap opera, aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta.
Seorang pemuda berkulit gelap, bertubuh tinggi …