Zona Nyaman Minimalist



2019 datang dengan harapan-harapan baru yang dikulum setiap insan. Meskipun tidak ada yang benar-benar baru dari pergantian tahun. Hanya hari yang berbeda, di tanggal bulan dan tahun berbeda. Bukan berarti akan membawa perubahan yang berarti dalam hidup, sifat atau kebiasaan seseorang. Beruntung bagi kami yang beragama Islam, momentum perubahan diri bisa kami dapatkan secara sukarela maupun terpaksa di bulan Ramadhan. Meski terpaksa, akhirnya pasti akan baik juga jika dijalani dengan baik. Kadang memang manusia itu harus dipaksa untuk bisa menyukai suatu kebaikan.

Banyak orang berkata, tuk meninggalkan zona nyaman. Tepat di tahun ini, saya mulai mendefinisikan ulang apa itu zona nyaman. Karena ternyata tidak ada juga zona yang benar-benar nyaman. Makna dari “zona nyaman” seringkali diartikan oleh para pegiat alam liar, petualang, pencari jati diri, sebagai rutinitas hidup di perkotaan, berpindah dari kantor ke rumah, pada jadwal yang sudah di set dengan rapih. Padahal.. apakah itu sebenarnya zona yang nyaman?

Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa ‘zona nyaman’ letaknya ada pada pikiran seseorang. Cara berpikir yang terkadang tidak berubah meski umur bertambah dewasa, adalah ‘zona nyaman’ mematikan yang harus digeser dan senantiasa di atur ulang kedudukannya.

Teman saya berkata, jika kamu mau menulis dengan lebih baik lagi, coba untuk membaca buku-buku yang tidak biasa -atau mungkin tidak suka- kamu baca. Untuk mendapat inspirasi yang berbeda, dan sudut pandang yang lebih kaya. Saya membenarkan perkataannya sambil berkata dalam hati, bahwa inilah zona nyaman yang harus diubah.

Tidak mesti seseorang berpindah kota, hanya demi mencari pengalaman baru. Tidak mesti juga berganti pekerjaan tanpa alasan, hanya karena tidak ingin disebut buruh atau hidup monoton. Perubahan itu pasti terjadi, asalkan seseorang bersedia di dalam hatinya untuk berubah. Berubah sejak dalam pikiran,. Itu mungkin yang teman saya maksud dan saya amini.

***
Minimalism adalah satu langkah awal untuk memulai perubahan cara berpikir. Saya mengajak sebanyak-banyaknya teman untuk mengecap metode ini, sebagai satu jalan yang bisa membuka banyak pintu. Saya tidak menjanjikan apa yang akan ditemui di ujung sana, karena boleh jadi berbeda untuk setiap orang. Tapi saya bisa jamin, bahwa pasti akan ada yang seseorang dapati dalam praktek perjalanan minimalism ini. Berubah itu mesti, kalo kata Orang Jawa. Berubah itu tidak enak, memang. Tapi harus. Hanya keledai dungu saja yang enggan merubah cara berpikirnya, hingga bisa terjerumus ke lubang yang sama. 

—-
Surabaya, 1 Januari 2019

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua