Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Scarcity

Akhirnya setelah sekian lama menulis hal-hal nir faedah, hari ini saya memutuskan tuk kembali menulis sesuatu yang berhubungan dengan minimalism. Terinspirasi dari buku yang sedang saya baca (belum selesai sih), tapi sudah gatal menuliskan 'respon' untuk buku itu.

Buku Scarcity yang ditulis oleh Sendhil Mullainathan dan Eidar Shafir ini intinya ingin bilang bahwa semakin seseorang kekurangan akan sesuatu, semakin rendah pula level inteligensinya. Ini bukan saja berlaku pada orang miskin yang jadi lebih bodoh dari orang kebanyakan, tetapi untuk semua orang ketika dia mengalami kekurangan.

Scarcity bisa datang dalam beragam rupa seperti cinta, bisa jadi dalam bentuk kekurangan finansial, kasih sayang, waktu.. semua sumberdaya yang dibutuhkan manusia untuk bisa berfungsi secara normal bisa mengakibatkan kekurangan. Yang terjadi adalah ketika manusia mengalami kekurangan tersebut, otaknya akan terfokus pada yang kurang itu saja. Orang miskin yang tidak punya banyak uang, fokusnya …

Father and Son

"You're still young, that's your fault
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down
If you want you can marry, 
Look at me, I am old but I'm happy.."

***

So allow me to start today's post with a song. Don't worry, I won't sing it. This song was my theme a couple years back, when my world was just begun and I have none to talk to about anything in my family.

***

Setelah menonton dua episod 'Defending Jacob' yang diperankan oleh Chris Evans dengan sangat gantengnya saat menjadi seorang bapak, saya semakin percaya dengan krusialnya peran seorang ayah dalam perkembangan emosi seorang anak.

Defending Jacob menceritakan tentang seorang detektif yang harus mengusut kematian anak remaja, yang juga merupakan teman sekelas anaknya dan semua bukti mengarah pada anaknya sendiri. Dilema antara menjadi seorang ayah yang membela anaknya atau detektif yang mengungkap kebenaran.

Ada adegan di mana Evans menginterogasi anaknya sendiri dengan nada tin…

Catatan seorang professional (over)thinker

Highschool friends and I love to do some crazy things. Kami pernah keliling Jogja selama 24 jam, ke Bandung cuma untuk makan siang, dan semalam kami ber-grup call melalui zoom selama lima jam.

Sebagai seorang professional overthinker, pikiran saya melambung jauh ke masa-masa yang sedang kita bicarakan. Tentang crush yang berubah, tentang hal yang dulu keren sekarang jadi bahan tertawaan.. saya masih ingat juga bagaimana pertengkaran dua orang teman sekamar gara-gara rebutan kamar mandi dan saling sindir melalui nyanyian tanpa dosa, yang dulu rasanya bikin darah mendidih, sekarang jadi bahan tertawaan yang bahkan ketawanya saja bikin sesak napas.

Lalu saya berkesimpulan, mungkin hari ini pun akan sama untuk sepuluh-dua puluh tahun mendatang. Toh masa SMA itu terjadinya baru tiga belas-empat belas tahun silam. Bisa jadi sepuluh tahun dari sekarang, kita pun mengalami transformasi yang lebih dahsyat dan kilat lagi sehingga hal-hal yang hari ini kita fokuskan dengan teramat sangat, menjad…

1 Syawal 1441 H

Terbangun pukul tiga pagi, karna lupa matikan alarm sahur.Kembali tidur lagi, dan baru benar-benar bangun pukul lima pagi. Solat subuh, lanjut mandi. Bersiap, setrika baju yang sudah pernah di setrika tapi kusut lagi karna terlipat, sebelum mendapati pesan singkat: “Mbak aku gajadi solat id di sebelah,, anakku nangis terus” Baik.. tidak ada teman untuk pergi sama-sama, ku urungkan niat tuk solat berjamaah. Sambil menunggu waktu solat, ku buka laptop. Facetime pakai laptop lebih enak. Call my Taurean sister tercinta Ajak battle maen Magic Tiles 3 Katanya “solat dulu nanti ketagihan” Ku insist dan dia manut Haha
Lepas main, solat sebentar, berdoa, lalu facetime lagi. Dilanjutkan dengan beberapa video call, zoom call, dan lain sebagainya sampai tetangga dari dua rumah sebelah mengirimi pesan singkat “Kok belum ke sini? Ditunggu loh” Wah iya.. Ku paling anti membuat orang menunggu. Tanpa pikir panjang segera berganti baju, dandan sedikit lalu melesat. Lupa bahwa ada mail blast yang harus dikirim. Makan ketu…

Langit yang lebih biru dari biasanya itu.. cuma terjadi dua hari yang lalu

Terbukti bahwa setelah dua hari lalu, warna langit Bogor kembali pucat seperti biasanya. Tidak sama dengan dua hari lalu, walau hari ini pun sebenarnya sempat cerah tanpa awan, tapi tidak sesegar langit Selasa pagi. Birunya sangat biru waktu itu. Aku suka.

***

Saya mulai menghitung hari, memperhatikan waktu dan sekitar sejak pandemi. Selain karena jadi ada lebih banyak waktu, juga saya pun sebetulnya menunggu. Awalnya saya menunggu kapan ini berakhir supaya bisa saya nikmati semaksimal mungkin karena saya sangat betah bisa kerja dari rumah setiap hari begini. Tapi belakangan saya mulai menunggu untuk kembali ke luar, 'hidup di jalan' kalau boleh saya katakan, dari bandara ke bandara, dari kota ke kota, dan menjadi orang 'berguna'.

Satu hal yang sangat berubah dari pikiran saya bersebab WFH adalah tentang pentingnya perempuan kerja di luar rumah. Sudah pernah saya tulis tentang ini juga sebelumnya, tanpa perlu memandang remeh perempuan yang tetap menjadi ibu rumah tangg…

Pelajaran dari semangkok kolak yang nikmat

Tapi dari tulisan ini saya tidak mau menyalahkan pihak manapun. Tidak pada semangkok kolak yang saya tenggak dengan nikmat, apalagi pada Ibu penjual yang menjajakan dagangannya dengan sepeda setiap hari tanpa kenal libur maupun cuaca. Karena saya membeli kolak itu dengan sadar dan tanpa paksaan (sudah memenuhi kaidah Free Prior and Informed Consent) :D

Mungkin karena kolak itu, atau mungkin karena sempat runtuh pertahanan rasa rindu akan suasana 'rumah', hari ini saya kembali mengecap manisnya sakit yang sudah nyaris sebulan tak jumpa. Sejak pagi hingga sore menjelang saya berjibaku dengan rasa sakit yang sebetulnya familiar tapi tak juga terbiasa. Hingga akhirnya saya menyerah, mengeluarkan semua isi di dalam perut dengan berat, dan membatalkan puasa. Siang yang panas tapi saya menggigil di bawah selimut. Sore yang mendung saya meringkuk dan tertidur sebentar. Sebelum akhirnya memesan makanan lewat ojek online, dan makan di depan ikan-ikan yang berenang tak bisa diam.

Bukan i…

No matter what we breed, we still are made of greed

That .. is still the best song lyric ever. It cant be more true, that humans are all made of greed.
Unless we can handle the greed within, we will never be able to satisfy with life.

Lihat coba sudah berapa bulan kita gak ke mall? Me personally, sudah dua bulan gak ke mall, padahal sebelumnya minimal dua minggu sekali menyambangi mall. Setidaknya untuk makan siang atau ambil uang di ATM yang dibarengi dengan melipir tipis-tipis ke Guardian atau Watson and ends up bringing one or two bottles of soap. (I love soap-buying).

Ternyata kita hidup! Kita survive, dan toh masih bahagia. Bagi yang mau bahagia, bisa eksplor banyak hal di sekitar yang kemudian jadi hobi baru. Ada yang tiba-tiba jadi tukang tanam-tanam, ada yang jadi maenan ikan, ada yang jadi bikin komunitas baru dengan tetangga, macam-macam hal ternyata bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan dan itu tanpa mengeluarkan uang sepeserpun! kecuali beli ikan hias bagi penghobi.

Mestinya setelah berminggu-minggu bertahan dengan segala…

Efek psikologis pakaian terhadap mood kerja

Hari ke-60 karantina mandiri. Terakhir kali saya ke kantor secara normal adalah tanggal 29 Februari. Berarti di akhir bulan ini akan genap tiga bulan tidak ke kantor. Jadi sudah tahu rasanya orang yang cuti hamil itu seperti apa, dan bisa sangat mengerti kenapa sebagian dari mereka memutuskan untuk tidak akan pernah kembali lagi ke kantor.

60 hari bekerja dari rumah, saya sudah cukup kenyang dengan coba-coba segala jenis pakaian. Mulai dengan memakai baju-baju lama yang sudah tidak pernah dipakai (sekaligus memberi kesempatan untuk terakhir kalinya bagi mereka, sebelum nantinya saya akan serahkan mereka kepada pemilik baru), kemudian memakai baju rumah biasa (kaos dan celana pendek karna saya tidak punya daster kecuali satu picis yang dibelikan teman kantor di Bali), sampai beberapa hari belakangan ini saya kembali pakai baju kantor yang ‘normal’ saya pakai sehari-hari ke kantor.

Ternyata.. setiap jenis baju yang saya pakai itu, memberi efek psikologis berbeda. Ketika pakai baju lama,…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Kata, Hidup, Cerita

Dua perempuan duduk berhadapan.Yang satu menekuk lutut, yang lain merenggangkan kaki. Bicara tentang apa saja. Hidup, cinta, uang, Seolah nafas memang diputar dikisaran tiga hal itu saja.
Tentu mereka tidak lupa, ada satu entitas yang tidak boleh luput. Satu Yang Selalu Ada, Mendengar dan menjawab segala pinta. Yaa meskipun, mereka masih saja lalai. Sekali waktu bahkan abai.
Jika hidup adalah perjuangan, maka cinta adalah senjatanya. Dua perempuan, duduk berhadapan. Yang satu menekuk lutut, yang lain merenggangkan kaki.
Hidup mereka berbeda, Tapi perjuangan mereka sama.
*** Bogor, 4 Mei 2020 Ternyata ini cara Tuhan menjawab doaku. Quarantine Day m51. 31 Hari Menulis.