Skip to main content

Scarcity

Akhirnya setelah sekian lama menulis hal-hal nir faedah, hari ini saya memutuskan tuk kembali menulis sesuatu yang berhubungan dengan minimalism. Terinspirasi dari buku yang sedang saya baca (belum selesai sih), tapi sudah gatal menuliskan 'respon' untuk buku itu.

Buku Scarcity yang ditulis oleh Sendhil Mullainathan dan Eidar Shafir ini intinya ingin bilang bahwa semakin seseorang kekurangan akan sesuatu, semakin rendah pula level inteligensinya. Ini bukan saja berlaku pada orang miskin yang jadi lebih bodoh dari orang kebanyakan, tetapi untuk semua orang ketika dia mengalami kekurangan.

Scarcity bisa datang dalam beragam rupa seperti cinta, bisa jadi dalam bentuk kekurangan finansial, kasih sayang, waktu.. semua sumberdaya yang dibutuhkan manusia untuk bisa berfungsi secara normal bisa mengakibatkan kekurangan. Yang terjadi adalah ketika manusia mengalami kekurangan tersebut, otaknya akan terfokus pada yang kurang itu saja. Orang miskin yang tidak punya banyak uang, fokusnya hanya pada bagaimana caranya supaya bisa punya uang dan mempertahankan yang ada agar cukup untuk hidup. Orang sibuk yang punya project lebih banyak ketimbang waktu, akan fokus memikirkan bagaimana cara menyelesaikan project-project itu saja.

Pikiran dan perhatian orang yang mengalami kekurangan akan terus tersedot pada bagian yang kurang, dan itu menurunkan tingkat kecerdasan dari seseorang tersebut.

Kenapa saya bilang ini nyambung dengan minimalism,.
Karena minimalism melatih diri untuk selalu merasa cukup. Untuk hidup di masa sekarang, dan tidak mengkhawatirkan masa depan, apalagi masa lalu.

Kemarin juga secara tidak sengaja saya lihat instagram dari akun bapak2.id tentang hidup sederhana. Setiap anjuran 'hidup sederhana' dalam slide foto tersebut, adalah apa yang sudah saya praktekkan sejak mengenal minimalism:

Utamakan kebutuhan dibanding keinginan..
Ini sudah jelas, sejak 2017 saya mengenal minimalism setiap kali ingin beli sesuatu entah baju, tas atau sepatu, saya selalu berpikir belasan kali. Ini ingin atau butuh. Ini ingin dibeli karena warnanya atau karena memang belum punya yang untuk occasion tersebut., nanti nyimpennya di mana.. ada tidak sepatu lama yang bisa dikeluarkan kalau ini dibeli.. dan terakhir adalah pertanyaan finansial 'ada tidak pemasukan tambahan non gaji yang akan masuk dalam waktu dekat jika ini dibeli'. Biasanya jawabannya tidak dan batal lah beli item itu.
Sampai 2018 saya baru bisa praktekkan itu untuk benda, baru 2019 mulai praktekkan itu untuk makanan. Ketika mulai craving ingin makan-makanan gak sehat yang mahal, saya berusaha sekuat tenaga untuk memanuver pikiran supaya mau makan-makanan sehat saja. Alhamdulillah, jarang berhasil.

Hindari hutang ke hal yang sifatnya menyusut/tidak menghasilkan.
Saya punya beberapa kartu kredit, tapi tidak pernah dipakai. Cuma satu yang sering dipakai untuk bayar subscription Netflix, iTunes, bayyinah tv, atau transaksi-transaksi pembelian software atau tiket online ke luar negeri. Selebihnya jarang sekali saya pakai. Tapi bukan berarti tidak dipakai. Pernah saya beli sesuatu dengan cicilan kartu kredit, itupun jika barang itu bisa digunakan untuk menghasilkan uang kembali.
Soalnya saya sudah punya hutang yang lebih besar lagi.. hidup dengan hutang itu tidak enak, jadi lebih baik hindari sebisa mungkin selagi belum punya.

Simpan pakaian yang sering dipakai dll, sisanya sumbangin.
Yep

Jangan keseringan jajan.
Ini terbantu dengan kondisi kesehatan saya yang agak 'spesial' sejak setahun lalu, jadi sudah sangat berkurang craving-craving akan makanan yang tidak perlu. Paling terjadi hanya sebulan sekali menjelang menstruasi, itupun biasanya dituruti karena cuma sekali dalam sebulan.

Sekalian curcol lah ini, kemarin craving beef slice yang bermula dari sayurbox. Di sayurbox ada beef slice sehara 42rb 250 gram. Saya masukkan ke keranjang, scrolling-scrolling, trus saya tinggal. Lupa ngelanjutin karena sambil mikir juga beli apa lagi untuk bisa mencapai minimum pembelian yang dapat gratis ongkir. Ternyata waktu saya cek lagi sudah habis beef slice nya.
Tapi saya kepalang ingin beef slice. Jadilah scrolling di mana-mana. Tokopedia, shopee, rata-rata semua tidak melayani pengiriman ke Bogor.
Sampai akhirnya semalam saya melipir ke grabfood yoshinoya. Ternyata dia jual beef slice dalam bentuk beef only yang sudah matang, dan mentah kemasan 160 gram.

Scarcity plays its part on me, dalam buku ini dituliskan "no matter how rich you may be, you have finite amount of money. If you spend $10 on anything, it is $10 less left for something else (even if that something else is the inheritance you leave your children), jadi saya benar-benar menghitung.

Beli beef only 1 porsi 37ribu, atau beli 160 gram mentah 70rb (nyesek sih di sayurbox jauh banget lebih murah). Lalu saya mikir lagi, sedang craving seperti ini seporsi apa cukup.. jadi saya tambah seporsi lagi. Dengan ongkos pemesanan dan ongkos kirim semua ditotal jadi 85rb sedangkan kalau beli mentah harganya 81rb. Cuma beda 4 ribu tapi.. saya gak tahu juga isinya berapa gram ni yang seporsi.

Lama loh saya menimbang untuk beli beef slice ini doang, ada kali sejam. Akhirnya saya putuskan beli yang sudah matang saja 2 porsi, biar tinggal makan. Setelah abangnya datang, saya langsung mengeluarkan timbangan digital. Penasaran banget kan dengan beratnya..
ternyata seporsi yoshinoya beef only, ditimbang tanpa onion-onionnya, isinya 80gram. Jadi saya beli 2 porsi itu sama aja dapat 160 gram seperti yang mentah (tapi ada bumbunya). Jadi yaa gak rugi-rugi amat lah, beda empat ribu tapi save me from keribetan masak dan nyuci alat masak.

Belum selesai di situ, setelah saya makan seporsi beef slicenya, pakai roti tawar gandum 2 tangkup.., ternyata saya kenyang. Jadi sebetulnya seporsi saja cukup, dasar maruk. haha. (tapi tidak mubazir karna masih saya simpan untuk makan besoknya).

Beli barang berkualitas.
Yup. Sejak punya rumah ini prinsip saya selalau quality over quantity. Karena rumah ini kecil, tidak akan sanggup menampung barang-barang rusak yang sayang dibuang atau janji akan diperbaiki suatu hari nanti. Makanya mulai dari beli elektronik dapur, sampai fashion item saya selalu mengutamakan kualitas yang memang sedikit lebih mahal. Sedikit lebih mahal tapi spark joy dan bikin senang hati saat dilihat itu luar biasa puasnya. Ketimbang murah tapi gak sayang, tiap dilihat gak bikin enak hati. Kalau saya ingin beli sesuatu tapi harga barang yang berkualitasnya saya tidak mampu bayar, saya akan memilih untuk tidak membeli dulu. Karena sejak awal pindah ke rumah ini, saya selalu diberi kemampuan untuk membeli yang saya butuh.. Allah selalu kasih jalan untuk itu. Makanya kalau misal itu tidak mampu saya beli, mungkin.. saya memang belum butuh.

***
Satu hal yang paling pasti, adalah untuk selalu hidup dengan merasa cukup. Bukan berarti harus hidup berkecukupan karena definisinya akan rancu dan berbeda-beda. Merasa cukup dan yakin bahwa Sang Maha Pemberi Rezeki adalah The One Who Plan Our Life. Semuanya itu tinggal minta saja sebenarnya, pasti Allah kasih. Kalau Allah tidak kasih, try to look around, mungkin masih ada sesuatu yang harus diperbaiki supaya pantas diberi apa yang diminta itu, atau.. mungkin ada yang lebih baik lagi yang akan Allah kasih. Allah tidak akan menghinakan hamba-Nya. Tidak untuk mereka yang beriman.

***
Bogor, 30 Mei 2020
Selamat Sabtu Pagi.
Jadi rutinitas harianku itu; bangun subuh, tidak tidur lagi tapi baca buku, baru habis itu ketiduran karena baca buku, bangun, mandi kalau ingat, kerja, makan, kerja lagi, makan lagi, sampai malam, main game, trus tidur. Repeat.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …