Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2021

Next Level: Ego

  Slow success builds character, fast success builds ego.  Ini kutipan bagus yang saya lihat tidak sengaja di media sosial. Kenapa saya bilang bagus? Jadi beberapa hari lalu saya pernah menulis " ..tidak semua orang seberuntung itu bisa memulai karir dari bawah sebelum dipertemukan dengan pekerjaan impiannya.. ". Karena yang saya rasakan, memang merupakan anugerah luar biasa dan saya sama sekali tidak menyesali jalan ini. Pekerjaan ini yang menemukan saya. Tanpa melamar, saya bisa masuk menjadi staff tetap sebuah perusahaan yang menggaji lumayan dengan cara bekerja yang menyenangkan. But nothing in this world is designed to be permanent, not even your dream job. Akan ada satu fase di mana semua kebahagiaan dan kesenangan itu, tertutupi oleh gajah yang begitu besar dan berat. Membuat segala yang menyenangkan jadi tidak semenyenangkan itu lagi.  Baru saya temukan rintangan ini setelah "dilamar" oleh beberapa lembaga yang menawari saya pekerjaan lain yang juga sama men

I'm your peace

  Saya belajar satu hal hari ini, dan lagi-lagi tentang Ruh. Topik yang tiga tahun lalu membawa saya ke ceramah Nouman Ali Khan dan menyeret saya ke kesadaran baru tentang manusia dan perannya di Bumi.  *** Dulu sekali, mantan pacar saya pernah berkata.. "kamu tidak bisa bikin aku merasa tenang.." karena memang saya sendiri saat itu belum kenal dengan rasa 'tenang' yang sebenarnya. Usia saya dua puluh tiga saat kita berencana untuk menikah. Saya baru akan lulus kuliah (cenderung terlambat memang), dan belum ada kepastian karir nanti akan seperti apa. Pikiran saya sibuk dengan rencana-rencana visi masa depan, sedangkan si mantan lebih suka untuk mengikuti alur. Dia sudah punya pekerjaan, tapi pekerjaan itu akan membuat kami --kalau jadi menikah-- harus tinggal di luar Pulau Jawa. Walhasil, yang terus saya bicarakan adalah tentang rencana, strategi, dan visi. Tentu bukan topik menyenangkan untuk dibahas dua orang muda yang clueless . Makanya dia bilang, saya bukan sumbe

Between the Needs and the Wants

  Tadi malam saya tidur dengan satu pertanyaan menggantung: Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan yang saya tulis di postingan sebelum ini, yang berasal dari akun anonim di twitter. Untuk alasan tertentu, kali ini saya lebih memilih bertanya pada orang asing ketimbang teman sendiri.  Saya terbangun dengan kecewa. Karena terputus dari mimpi yang begitu nyata. Rasanya saya benar-benar sedang berada di Gorontalo, menumpang taksi online menuju ke pantai, tapi minta dicarikan penjaja pisang goreng ter-enak di sana. Di mimpi itu saya lupa apa nama pisang gorengnya, jadi saya berulang kali bilang ' pisang goreng tipis yang ga manis, makannya pake sambel'. Saat bangun, saya menggerutu sendiri, ' pisang goroho kali, Mim'. Seharian ini pun pertanyaan itu masih terngiang di kepala. Sesibuk apapun pikiran saya bekerja, beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, saya masih terus mencari apa yang benar-benar saya inginkan? Dalam urusan karir, memang tidak semua orang seberuntung itu

Hal-hal yang mengganggu pikiran

  Sudah lama saya tidak punya jam tidur berantakan. Terlebih sejak pandemi, jam tidur saya begitu teratur. Skincare jam delapan malam, rebahan di kasur jam sembilan, langsung pulas hanya dalam hitungan menit. Sekarang, pola berantakan itu kembali lagi. Disertai dengan satu dua bintik jerawat, dan nafsu makan yang tidak biasa. Malam ini saya putuskan untuk curhat. Bukan ke teman, tapi ke akun anonim di twitter. Tentu saja tanpa ekspektasi curhatan itu akan dibalas, walau ternyata dibalas juga dalam hitungan menit. Curhatan yang dibalas pertanyaan: “Tujuan karir jangka panjang lo apa? Kalau belum kepikiran, minimal lifestyle yang ingin lo jalanin 5 tahun ke depan apa? It’s a long game, bukan cuma soal gaji gede vs gaji kecil, lingkungan toxic atau non toxic” Bijak banget, yah? Bikin mikir. Tujuan karir jangka panjang lo.. apa? ***

The key to minimalism: Nothing is Really Yours!

  Beberapa hari yang lalu, saya tersadarkan oleh satu fakta bahwa, kita tidak pernah berada di jalan yang benar-benar lurus. This road called life, wasn't designed to be a straight path. Pantas saja, dalam Islam kita diminta untuk mengulang kalimat ' tunjukkan kami pada jalan yang lurus,..' minimal 17 kali sehari. Sejak mengikuti ajaran minimalism empat tahun yang lalu, saya senantiasa berada dalam fase me-review diri. Menjaga agar prinsip ini tidak luntur, walau seringkali terlena, lupa, melenceng, untuk kemudian kembali lagi. Karena dilakukan berulang-ulang, saya pikir.. ah mungkin sekarang saya sudah sangat terbiasa dengan minimalism. Sudah sangat mudah melepaskan, tidak lagi terbebani dengan kenangan, tidak lagi berat jika harus merelakan sesuatu itu pergi atau diambil dari saya. Karena memang itulah yang selalu terjadi, apapun yang saya miliki, jika itu hilang atau saya harus merelakannya untuk dibawa orang lain, saya selalu mampu untuk menyingkirkan rasa sedih itu dal

What solitude has taught me.. (part kesekian whatever)

  There was time when I need everyone. I needed my mom to hear my stories as I came home during high school break, but she was too busy with my baby sisters so she barely see the boxes I brought home filled with stuff which I was thrilled to show. I needed my father to teach me how to drive, but he couldn't help his anxious mind and yelled at me way too much.. more yelling than teaching, so I decided to learn to live without his help at all. I needed my boyfriend to be there for me, until I realised what we had wasn't love at all. I needed to be around my friends so I can feel less alone, that I have to commute for two hours back and forth after office just to do some karaoke night. I used to need everyone, until I learned that even if they love me, I still have to put my shit together on my own. I have to learn to be just with my self. As I grow up as an independent, brave, resilient woman, I started to not needing anyone. That feeling is liberating, but also scary at the same