Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2019

A Lesson from Nouman Ali Khan’s Video

I learn my big lesson today. Huge actually. That never will I ever.. buy fish from motorbike-vegetables-trader again. Beside the price, they don’t provide cleaning-service like what they do in traditional market or supermarket. Ngomong opo sehh.. ya intinya saya gak mau lagi beli ikan di tukang sayur karena dengan harga yang sama (dan agak lebih mahal), ikan nya tu gak di bersihin. Dan karena saya sakit sejak pagi, (gara-gara kebanyakan makan kripik balado), jadinya baru bisa ngurusin ikan itu jam sembilan malam. Sekarang saya mengerti kenapa orang-orang memilih jadi vegan. *** Allah never put something in your heart without giving you the ability to achieve that. He won’t make you wanting something, without giving you the willingness to change. Seharian dari pagi sambil melawan rasa sakit, saya memberesi rumah dengan sangaat lambat, sedikit-sedikit istirahat, sambil memutar video Nouman Ali Khan secara marathon. Biasanya setelah satu video saya akan pindah ke penceramah lain, entah it

Design: Road Path to Life

Everything about design is amazing. First you need to know who you are, then you have to picture the goal. How do you want the final output be. And you gotta play with some creativity, with shapes and lines and dots and colours. All with meanings. Oh how I loved to talk about design, see it watch it feel it, but could never create it. Yes I was born left brainer. My parents didn’t taught me any art, nor in the school-except for one hour or two each week. I never had any good score in drawing. I drew over lines all the time. I can’t wrap a gift. And I know NOTHING about music. I hate art class back in school., neither take any of the extra-class. I would prefer language over dance, speech competition over music performance, debate competition over poetry reading (but I did poetry reading once, though. In my first year in high school, my very first art performance). But I love art. I love music. I have diverse taste of music that my friends love my playlist, they often use it for their o

Decluttering a.k.a Beres-Beres Tengah Malam!!

Perlu diakui, 2019 adalah tahun yang bikin deg-degan bagi perempuan seusia/seangkatan saya. Walaupun usia saya setahun lebih muda dari angkatan, tapi tetap saja usia ini sudah masuk level mengkhawatirkan (bagi normal nya opini publik tentang usia menikah). Dan meski saya bahagia tiap hari, bukan berarti saya tidak was-was dalam hati. Tapi kalau saya sih lebih cepet baper kalau lihat anak bayi.. barusan pulang kantor, nonton youtube nya The Bramantyos, saya nangis nonton Bhai Kaba lari-lari muter-muter panik kegirangan liat mini cooper. Dalam hati saya membatin.. Ya Allah saya saja bahagia.. apalagi orang tuanya. Priceless ya.. itu bahagia yang benar-benar tidak bisa dibeli dengan uang.  Siang tadi juga saya dan nyonya manager di ruangan membahas hal yang agak sedikit berfaedah. Begini bunyinya: Saya : “aku tu mikir.. dalam setahun sebenernya kita tu bener-bener pake uang kita berapa kali.. 2017 aku bangun dapur, beli laptop.. 2018 aku gak bangun apa-apa dan gak beli apa-apa, makanya bi

Membangun Benteng

Bismillahirahmanirahiim..  Ini bukan undangan pernikahan  tapi mulai besok, Insya Allah saya akan mulai membangun benteng. Benteng ini akan saya beri nama, Benteng Konstantinopel. Kenapa Konstantinopel? Karena kisah ini dibacakan sejak saya masih kecil, dan sejak itu saya mengganti bacaan saya dari majalah bobo dan komik Monica dan buku Gulliver's Travel, ke buku-buku hadits milik Papa. Waktu itu Papa juga baru hijrah, baru beberapa tahun hijrah dan langsung membeli rangkaian buku-buku Islam, tafsir dan terjemahan Al-Quran, termasuk buku Sirah Nabawiyah. Favorit saya adalah buku hijau Sirah Nabawiyah (baru-baru ini saya melihat lagi buku ini di toko buku dekat rumah, saat memegangnya ada rasa haru pingin beli tapi takut liat price tag jadi saya simpan lagi ) dan buku hadits bersampul coklat. Saat itu umur saya sepuluh tahun, dan belum kenal Harry Potter. Dalam buku Sirah Nabawiyah, saya senang membaca bagian perjuangan Rasulullah SAW beserta para sahabat; yang dipanah saat sedan

Kode

Seseorang mengabulkan keinginanmu, tanpa kamu minta. Padahal dengan sengaja kamu menyebut-nyebut keinginanmu itu di depannya, berharap agar dia menangkap kode mu dan dia wujudkan. Kamu bahagia karena merasa tidak meminta, padahal boleh jadi dia memberi pun karena keberatan. *** Kode. Kenapa perempuan suka sekali main kode-kodean. Ingin beli tas, bilangnya duh tas aku udah mau copot resletingnya, berharap si laki-laki mendengarnya sebagai beliin aku tas dong, dan menganggap itu adalah cara tersantun. Katamu itu santun, kataku itu bahlul. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi peminta-minta, bahkan di dalam bahasa sekarang, minta ditraktir, minta dibayarin nonton, minta oleh-oleh pun sebetulnya tidak boleh. Pun meminta dalam bahasa kode. Apalagi meminta dalam bahasa kode. Nyusahinnya dobel itu.. sudah minta dia mengerti, memaknai, lalu membelikan keinginan kita. Islam tidak ingin umatnya menjadi umat yang menyusahkan. *** Tegas. Perempuan pun harus bisa tegas. Kalaupu

Insan Cendekia

Menginjakkan kaki kembali di sekolah yang dulu kami sebut sebagai holly jail, menghadirkan perasaan yg familiar di hati saya. Sore itu, selepas menghadiri acara pernikahan salah satu teman kami, saya dan tiga orang lainnya sepakat tuk mengunjungi Insan Cendekia. Sekolah yang dulu menggembleng kami, berusaha membekali kami dengan nilai dan ilmu agama. Pos satpam yang menjadi penanda pintu masuk sudah menunjukkan sedikit perubahan. Ada absen digital yang dulu hanya berupa lembaran-lembaran menakutkan. Mencatat pukul berapa seorang murid masuk kembali setelah berlibur di luar area kampus. Merekam nama-nama yang terlambat untuk diberi sangsi pada akhir pekan berikutnya. Tak tanggung, sangsi itu bisa berupa pencabutan hak pesiar (ijin keluar kampus) yang diberikan setiap dua minggu sekali. Kami melewati lapangan sepak bola yang luas di sisi kiri dan lapangan tenis, badminton dan basket di sisi kanan. Ada desir haru yang melintas di batin saya kala melewati Gedung Serba Guna yang ber

A Busy Mind from A Baby Vlogger (and her mommy)

Saya miris melihat anak kecil yang sedari masih belum bisa bicara sudah disodor-sodorkan kamera. Okelah kalau masih kamera ponsel yang adalah godaan terberat ketika melihat anak lucu untuk tidak direkam. Masih mafhum. Tapi ini.. kamera profesional, dengan yang besarnya seperti senjata, mengajak si anak berbincang sambil menghadapkan kamera ke arahnya. Si anak seperti sudah diajari tuk berbicara dengan robot sedari kecil. Ditanyai ini itu, dan dijawab dengan lucu. Ditonton oleh para netizen di channel youtube, banjir like dan subscribe, keesokan harinya diulang kembali. Pikiran ini datang setelah menonton video seorang youtuber terkenal, yang dulunya dia di Bandung bikin video-video lucu, setelah punya anak memutuskan untuk pindah ke Bali. Yep. Kayaknya sebagian orang sudah familiar dengan clue itu. Inisialnya Sa, belakangnya scha.  Bukan cuma itu.. trend anak SD jaman sekarang yang sudah kenal gadget, adalah bikin vlog. Kemana-mana menghadapkan ponsel ke wajah dan berbicara tanp

Random Thought

Terlahir sebagai hasil pencampuran suku-suku di Indonesia, membuat saya kadang iri dengan mereka yang punya identitas pasti. Aku orang Medan! Aku orang Sunda! Aku orang Jawa! Bisa dilontarkan dengan gamblang dan bangga. Saya masih harus memilah kata jika ada orang bertanya ' darimana asalmu?' karena di situ saya harus menganalisis secara cepat, apakah orang ini serius ingin tahu atau sekedar basa-basi membuka percakapan. Kalau hanya basa-basi kadang saya pilih salah satu kota yang paling dekat jaraknya dengan tempat kami berbincang. Atau berdasarkan asal si lawan bicara, kalau dia orang Sunda saya akan mengaku Gorontalo, kalau dia dari Sulawesi saya akan mengaku Sunda, pokoknya harus berbeda supaya tidak diajak pakai bahasa daerah. Ayah saya Gorontalo, asli. Opa dan Oma keduanya orang Gorontalo, namun sejak kecil, mereka sudah pindah di Manado dan besar di sana. Saya pun lahir di Manado, Gorontalo hanya seperti nama saja bagi kami, karena marga yang tidak boleh lepas. Keluarg

YOU

Apparently, in order to find God, first we need to remove each other from each other’s life. As it turns out, you’ve become somebody that blocked my way, and vice versa. -to the people who I have removed from my life. *** Tulisan kali ini terinspirasi dari serial thriller berjudul YOU yang dibintangi oleh Penn Badgley. Benar-benar seperti kelanjutan dari serial Gossip Girl yang berakhir 2012 lalu. Awalnya motivasi saya menonton ini tak lama setelah tayang di Netflix, hanyalah karena Penn Badgley. Rupanya setelah saya baca sinopsisnya, saya justru makin penasaran dengan alur ceritanya karena mengisahkan tentang seorang manajer toko buku yang jatuh cinta pada seorang (calon) penulis perempuan yang datang untuk membeli buku. Peran si wanitanya dimainkan oleh Elizabeth Lail (yang kalo diliat-liat malah mirip Dakota Johnson), dan lebih pas dipasangkan dengan Badgley ketimbang Blake Lively. Totalitas akting Penn Badgley di sini sungguh mengagumkan. Mungkin juga dia lebih mudah menghayati per

Simplicity

Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya menikah dengan orang yang sama sekali tidak mau memamerkan dirinya. Tidak melibatkannya di antara lingkaran pertemanan, tidak juga mempublish foto dirinya di media sosial. Tapi mereka hidup saling cinta. Ada orang-orang yang sepanjang hidupnya menikah dengan orang yang amat bangga pada dirinya. Memamerkan pada dunia bahwa dia punya pasangan paling hebat, isi media sosialnya pun hanya foto dirinya. Tapi mereka hidup hampa cinta. *** Soalan di muka bumi ini bolak balik itu-itu saja. Sederhana sebetulnya. Kita ingin yang sederhana. Tapi sulit ditemukan karena dunia semakin canggih dan serba bisa. Kita hanya ingin hal-hal sederhana, dan dicintai dengan cara sederhana. 

[Fiksi Mini] Pamit

“Jadi apa alasan sebenarnya kamu menolakku?” Dia bertanya pada akhirnya, di antara hening yang menyapa. Aku tersenyum, meski kutahu dia tidak bisa melihat senyumku ini. “Bukan menolak, aku hanya..” “Hanya menginginkan yang lebih tampan? Lebih muda?” Potongnya tak sabar. Hanya tidak bisa bersama dengan orang yang tidak mencintaiku, jawabku dalam hati. “Kenapa kamu masih ingin tahu? Bukankah kamu sekarang sudah jauh lebih bahagia?” Tanyaku berusaha membalik posisi. “Ya, tentu saja aku bahagia. Aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaran ini. Kamu tidak pernah memberi alasan, kenapa.. I bought you flowers! I can build you a city! I give you all..”  But I never felt loved when I’m with you.. lagi-lagi dalam hati. Aku masih diam sambil berpikir, berusaha menyusun kata-kata dalam menghadapi Singa yang tengah marah. Aku takut.. sejujurnya aku takut. Mereka mengenalku sebagai perempuan pemberani, tapi sejatinya aku penakut. Auman garang Sang Raja Rimba membuat nyaliku ciut. Selalu begitu. Dulu.

Maka Menikah Adalah...

Sore ini saya mendapat pesan singkat dari seseorang yang sudah bulat keputusannya untuk berpisah dari pasangan resminya. Pernikahan yang belasan tahun lalu diawali dengan kalimat syahadat, diikuti dengan ikrar komitmen, kini berakhir di meja pengadilan. Saya hanya bisa menarik napas dalam, membalas dengan doa-doa dan harapan kebaikan, lalu menyimpan ponsel di dalam tas.  Sore itu saya duduk sendirian di food court mall dekat kantor, menunggu hujan reda sembari menyeruput bubble tea tanpa gula. Pikiran saya campur aduk. *** “ Kenapa ya, orang mau berselingkuh?” tanya sepasang teman yang sudah menikah selama beberapa tahun dan dikarunia dua orang anak. Pertanyaan itu dilayangkan pada saya, yang belum berpengalaman sama sekali. Saya hanya tersenyum kecut, tahu bahwa pertanyaan itu akan berbeda jawabannya bagi setiap orang. Beruntung bagi teman saya ini, mungkin mereka berdua adalah sama-sama orang yang menjaga komitmen. Yang sepakat untuk meninggalkan petualangan cinta di m

Kereta Waktu

Kereta adalah cara menikmati waktu, tanpa perlu terburu-buru. Begitu yang saya tulis pada perjalanan Jakarta-Surabaya. Menikmati matahari tenggelam, atau terbit bersisian. Ya.. bandara sudah terlalu menjemukan untuk bisa dinikmati. Tempat yang disebut-sebut sebagai tempat cinta terkespresi sempurna, makin kesini makin terlihat membosankan. Kereta adalah cara menunda waktu, bagi saya yang ingin tidak cepat sampai di kota tujuan. Menunda waktu, dengan melihat atau bahkan sekedar berpikir. Hidup ini untuk apa,? Hidup ini tentang apa,? Pernah suatu ketika, bersama seorang kawan, saya melakukan perjalanan lintas negara. Menggunakan semua moda transportasi, udara, air, darat, termasuk kereta. Semalaman itu saya mendengarkannya bercerita tentang perjalanan mencari kebenaran Tuhan. Saya yang waktu itu belum sampai ke tahap pencarian tersebut, hanya diam mendengarkan. Sebagai referensi bahwa hal ini memang patut dipertanyakan. Bukan untuk diragukan, tetapi untuk semakin menambah keyakinan. ***