Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

Hari Kesaktian Pancasila

Sengaja saya tulis sebagai judul, agar lugas menerangkan bahwa hari itu adalah istimewa. Dunia merayakan pergantian bulan dan Indonesia merayakan hari kesaktian lambang negaranya, tepat pada tanggal yang sama: 1 Oktober. Selain angkanya yang cantik, 110 - 1 Oktober menjadi istimewa karena diperingati sebagai hari bangkitnya semangat Pancasilais membela negara, mungkin setelah sekian lama tertidur, entahlah. Pemicunya sedang menjadi bahan perdebatan, saat ini. Gerakan pemberontakan, yang disebut-sebut tidak lebih keji daripada apa yang negara sudah lakukan.Sudahlah, saya tidak ingin ikut-ikutan berkecimpung dalam perdebatan tanpa ujung seperti itu. Bukan karena tidak penting, tapi karena saya sudah tau dimana harus berpijak. Dan jika orang lain berpendapat berbeda, kenapa harus saya paksakan keyakinan saya.***Hari Kesaktian Pancasila. Istimewa, meskipun aneh bagi saya, karena dari tiga ratus enam puluh lima hari hanya ada dua hari yang bisa membuat saya ingat akan kontribusi yang masih…

The Old Souls

Kita masih sepakat bahwa bumi ini bulat, dan bergerak memutar. Segala yang terkandung di dalamnya, pun bergerak melingkar. Sebagaimana jaman, yang semakin menuju titik awal. Ada orang-orang yang percaya pada reinkarnasi. Kelahiran kembali jiwa-jiwa yang sudah 'berpulang'. Ada yang tidak. Dalam agama yang saya yakini, memang tidak ada reinkarnasi, dan saya juga tidak mempercayai bahwa kita akan dilahirkan kembali. Kalau dibangkitkan kembali, iya saya percaya. Tapi bukan dilahirkan sebagai bayi lagi.Meski begitu saya tidak pernah menutup diri dan membatasi diskusi hanya pada hal-hal yang saya yakini. Justru saya senang mendengarkan orang-orang dengan keyakinan berbeda, sebagai satu dua insight baru agar saya tahu bahwa "oh.. Ada ya yang begitu" tanpa perlu menggadaikan keyakinan saya sendiri.Suatu hari saya bercerita dengan seorang teman, yang meyakini adanya reinkarnasi. Ia bilang, bahwa saat ini the old souls, jiwa-jiwa yang telah hidup ribuan tahun lalu, sedang menu…

Accessing Microcosmic

Sebuah artikel pernah menyatakan bahwa teknologi paling mutakhir di masa depan bukanlah dunia digital dan mesin seperti sekarang, melainkan kemampuan internal manusia. Oke, sebentar. Sebelum saya jelaskan apa maksudnya, ada baiknya kita tengok sebentar teori ini:Bumi itu bulat, dan semua orang percaya bahwa pergerakan bumi pun membentuk lingkaran. Oval, round, you name it. (This discussion is excluding flat earth believers) karenanya apa yang ada di seisi bumi, pun bergerak melingkar bahkan hingga partikel terkecil seperti atom dan inti atom.Tidak terkecuali bagi perubahan jaman. Berputar, mengeliling, hingga akhirnya kembali ke titik semula. Yang bisa jadi, adalah; ketiadaan. Teori ilmiah bukan untuk dibuktikan, seperti kata Dr Percy Seymour dalam bukunya yang mengatakan bahwa "one extremely important aspect of the scientific approach which is known to all scientists, but may not be so well known to nonscientists, is that there is no such thing as scientific proof. One can only …

A Villain in Peace

Despite of being all in peace and calm and minimalist, I only a woman in her middle twenties who try her best to adapt with the world.I saw a movie tonight, which I've waited long enough since it first came in. The first series? Was spectacular! An amazing plot twist which I tirelessly watched over and over again. (I even watch the first one before I go the theater) just to.. You know.. Refresh some detail. I like detail.***There is this villain, an actor of course, I like every movie of him even if mostly he die disrespectfully (cause he's a villain). That villain is now a good character in this movie. A good guy, a smart one, less move mostly talk. I loved the way he talk. In short: he dies. Not just his death that make me going home terribly sad. Its the song. The song they played while they blow his body from landmine. They're arrange the song beautifully with exquisite orchestra. And that.... Is also my favorite song. The one I chose as a 'going home' song.
Th…

Maaf

Pada sore hari yang penuh tawa, dan pertanyaan abang becak tentang dari mana kita berasal.
Terkenang, satu kota yang tentram bagai orang tua.
Pojok-pojok nya diisi dengan bangunan-bangunan khas, saksi bisu perubahan zaman yang terus bergerak, berputar.Ada sesal yang masih terselip, pada seorang kawan yang sudah begitu baik.
Ia ada, dan mendengar. Dengan seksama dan bertutur dengan bijak. Pada saya yang begitu kanak. Penuh emosi dan ego menjulang.Tentu saat itu saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Saya tidak paham dampak yang mungkin terjadi. Sebutlah saja bodoh yang membuat saya buta dan tuli. Hanya ingin berbicara tanpa mau mengerti.Betapa kawan saya pun mempunyai latar belakangnya sendiri. Ia ada bukan saja untuk mendengarkan saya menangisi kegamangan soal hati. Ia adalah teman, dan semestinya teman adalah interaksi.Saya yang terlalu tidak tahu diri.
Tidak mengerti situasi.
Bahwa ia ingin sendiri,
Karena urusan hati pun sedang dia alami.Saya terlalu angkuh untuk merengkuh,
Dan m…

A Tireless World, Inside your Bagage

Seorang petugas duduk di pintu penghubung kereta. Kepalanya tertunduk, dengan tangan dikalungkan di atas kepala. Ketika saya datang, hendak ke toilet, ia mengangkat wajahnya. Ekspresinya seolah mengisyaratkan bahwa toilet itu kosong. sambil mengangguk saya masuk tanpa berkata apa-apa lagi. Petugas itu sudah beranjak dari duduknya begitu saya keluar. Stasiun berikut, dan ia bergegas menunaikan tugasnya. entah apa itu.***Ekspresi seperti itu kerap saya lihat dimana-mana. Di kereta, di jalan, anak muda, orang dewasa, anak kecil.. Sampai sekarang saya masih terngiang pada seorang anak kecil yang duduk sambil memegangi kepalanya di dekat restaurant megah dan mewah. Saya masih ingat betul wajah petugas tadi. Matanya merah, ekspresinya lelah. Wajar jika lelah, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh. Sebagian besar penumpang sudah terlelap. ***Apa yang kini saya pahami, adalah bahwa setiap orang membawa 'baggage' nya masing-masing. ada yang berat, ada yang ringan. Tapi …

Changing

Ada hujan di penghujung pekan.
Bersama wangi rempah memanjakan.
Lengkap sudah perjalanan, yang akan memulai sekelumit cerita perubahan.Ya, orang akan terus menerus berubah.
Tak akan berhenti hingga ajal menyapa.
Terimakasih karena telah mengenal saya yang biasa, yang dulu senang bercengkrama dan bercanda tawa.Seorang kawan lama datang membawa cerita.
Maaf, bisiknya pelan.
Pada satu kesalahan yang sejatinya sudah saya tutup rapat.
Yang lalu sudah saya anggap gelap. Tertutup bersama rasa malu dan bersalah.Berkaca pada setiap orang yang saya jumpa, yang berlalu lalang seolah menampilkan kolase diri saya selama ini.
Ingin menolak namun sudah terlanjur.
Untuk itu saya memilih tuk menghapus semua memori, dengan membuat satu cerita baru.
Baru dan utuh.Yang saya ingat hanya satu:
Mereka ada saat itu.
Menemani malam-malam gamang yang penuh tangis sendu.
Begitu rapuh. Begitu pilu.Sudah saya tutup itu semua.
Saya ingin berterimakasih pada semua yang pernah ada,
Menemani, membimbing, menunt…

Sesuatu tentang Sore

Matahari bersinar kekuningan. Semakin menua, semakin lembut cahayanya. Mendekati garis batas satu putaran bumi mengelilinginya, semakin indah saja pemandangan yang dipamerkan.Kilau keemasan menyiram lereng-lereng bukit yang telah ditanami berbagai tanaman. Padi, cabai, tomat, bawang, ditutupi mulsa perak yang memantulkan indah cahaya jingga. Air sungai mengalir tak mau kalah. Memamerkan gemerlap pantulan kristalnya, diantara bebatuan yang menonjol menjulang. Ada bukit dan gunung yang mempertontonkan lekukan seksinya dalam balutan hijau pepohonan. Ada sawah dan ladang terhampar luas yang seolah menari riang diterpa cahaya.
Dan ada para pengendara yang sibuk berlalu lalang mengejar apa yang mereka sebut rumah dan kebahagiaan.Jauh di barat sana, matahari sudah bersiap melambai, berpamit untuk pergi. Memamerkan bentuknya yang bulat sempurna, jingga keemasan. Tidak ada satupun kecantikan di muka bumi yang sanggup menyaingi indah dan bahagianya matahari bundar meneduhkan, di sore hari.Perp…

Pada Sebuah Perjalanan

"Lu masih mau jalan? Gue naik bis!" Ancam teman seperjalanan saya, saat kami tiba di destinasi ke dua dari total tujuh destinasi di Asia-Tenggara. Dia kesal sebab saya terus menerus berjalan kaki, dan entah sudah berapa kilometer yang kami tempuh mulai dari penginapan di dekat Rama Bridge hingga Wat Pho  di Bangkok.

Saat itu pilihan untuk jalan kaki memang seperti satu-satunya bagi saya. Budget yang saya bawa untuk keliling lima negara sangat pas-pasan. Saya harus mengirit tabungan selama enam bulan dengan bekerja di studio film dokumenter agar bisa membeli tiket pulang. Saat itu ayah yang membelikan tiket berangkat, selebihnya saya tidak berani lagi meminta tambahan.

Ketika teman saya meloncat ke dalam bis, saya pun ikut masuk. Sebetulnya ongkos perjalanan pulang kami tidak mahal, hanya 11 baht atau sekitar lima ribu rupiah. Sangat tidak mahal. Tapi saya lebih memilih jalan kaki, kalau saja teman saya tidak protes.

Keesokan harinya, kami mulai berpencar. Sama-sama menolak u…

Minimalist Trip #1: Prapat - Balige - Porsea

Berkunjung ke Sumatera Utara rasanya tidak lengkap jika belum ke Danau Toba. Seperti yang diceritakan, dunia seperti kiamat ketika Danau Toba terbentuk, dan bagi para pemikir akan membaca betapa dibalik sebuah bencana mahadahsyat, terbentuklah panorama yang teramat indah. Sangat indah untuk dipuja dalam kata.

***

Kultur Orang Batak sudah lama menempati posisi spesial dalam hati saya, karena perilaku mereka yang cenderung percaya diri dan berkarakter membuat saya selalu senang bergaul dengan perantau-perantau Batak semasa kuliah dulu. Pertama kali saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tanah Batak, yaitu satu tahun yang lalu, saya langsung jatuh hati dan memutuskan untuk ingin kembali lagi.

Keinginan saya tersebut terkabul setahun kemudian, ketika perusahaan yang sama meminta perusahaan konsultan tempat saya bekerja untuk melakukan penilaian di areal berbeda. Meskipun masih dalam cakupan kabupaten yang sama.

Kembali terbang ke Bandara Silangit, menyaksikan julangan bukit-bukit dari je…

Konsep Sederhana Minimalism

Baru saja saya tertidur pada pkl satu dini hari setelah membaca artikel tentang Polyphasic sleep sebelum tiba-tiba terbangun pada 1.20 oleh entah apa. (Namun saya teringat belum sempat membaca doa sebelum tidur, jadi buru-buru dibaca setelahnya).Hanya saja, seolah membuktikan artikel yg baru saya baca, saya sudah sangat segar dalam dua puluh menit terlelap barusan. Polyphasic Sleep Society adalah orang-orang yang hanya tidur dua jam setiap harinya. Selebihnya mereka menggantungkan istirahat pada naps atau tidur siang dalam rentang waktu: dua puluh menit setiap dua jam. Alasannya, dengan waktu sesingkat itu, tubuh akan cepat memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Fase itulah yang membuat orang beristirahat dan menyegarkan fungsi-fungsi organ tubuh. Lewat dari fase itu, adalah fase regenerasi sel yang (katanya) tidak begitu dibutuhkan namun baik jika dilakukan.Artinya, saat saya tertidur pada rentang waktu pkl 1.00 - 1.20, saya sudah langsung memasuki fase REM. Bangun pun mata sudah ke…

Empat Huruf Mati

Bukan saja tentang jatuh hati,
Tapi tentang bagaimana kita menghadapi
Segala lika-liku yang kian tidak pasti
Padahal semua tau, yang paling pasti adalah mati.Satu dua angin bersuara,
Sebutnya, namanya lah yang bergema
Yang kau tolak dengan tega,
Hanya karena tak seirama.Jika kau bilang mereka aneh dan sama saja
Mengapa terus kau bunuh mereka dengan ego mu yang tidak pernah sempurna?
Kau anggap dirimu hebat, padahal sejatinya tidak ada sedikit pun yang dapat kau bangga.HahahaBumi terus berputar,
Mengorbit menjelma menjadi sang waktu yang berpendar
Menua hingga nanti tak ada lagi yang tersisa tuk bersandar
Kecuali Dia Sang Maha PenyabarApakah kau ingin tahu satu rahasia?
Yang terdalam yang hanya akan angin sampaikan pada hujan?
Rahasia yang pasti akan menusuk menghujam
Ego mu yang terlanjur butuh dirajam.Bahwa kau memang bodoh!
Teramat bodoh untuk dikatakan bodoh!
Mengapa tak kau bodohi saja ego mu yang tidak bisa berhenti menuduh orang lain bodoh?
Karena hanya kau disini Sang Bodoh!Kau…

Covering the Lies, as Standard Procedure of Living

That happy couple you see everyday from social media? Maybe not that happy. Maybe she's lonely, and he desperate of leaving the 'party'. That happy lady whose post you envy for, maybe she's not that happy. Maybe she's lonely, and desperate of having none to talk. That awesome guy who has incredible feed? Maybe he's not that awesome. Maybe he's lonely, and dying inside. See, that now things are easier to assume. From the moment we click 'send' button, we've already tell the world of who we are. Or at least, of who we want they think we are. People are getting so used to hiding, wearing a mask, pretending its all fine, or instead busy selling their misery. Misery loves company, still. We are all connected now, old friends, new friends. So easy to communicate, but not to understand. The easier people expose them self, the less they care about anybody else. We make friends, make an appointment, meet up at coffee shops, had a good laugh and a good ta…

The House of Energy

"Gue selalu percaya sama law of attraction" Kata Kak Bukhi beberapa saat setelah pesawat kami lepas landas. Garuda Explore yang membawa penumpang dari Bandara Silangit menuju Soekarno-Hatta bergerak menembus awan yang bergumpal padat. Saya memilih sebangku dengan Kak Bukhi ketika melakukan web check in semalam. Setelah apa yang dia lalui, setelah kebisuan saya membiarkannya menangis di kamar, dan setelah saya melihat sendiri caranya menghadapi beberapa kegagalan beruntun dalam minggu-minggu ini.

I admire a calm soul. The soul who get into trouble and still smiling so bright, and cover it well. Tidak banyak orang yang bisa menyembunyikan kegelisahan, kesedihan atau ketakutannya. Beberapa memilih untuk membicarakan secara verbal hal-hal yang menjadi kekhawatiran, yang sebetulnya tidak perlu (yah.. biasanya emak-emak lah ya, to be frank).

"Ketika kita mengeluarkan energi positif, maka energi itu akan terkumpul di dalam rumah energi. Yang jika kita fokuskan pada satu tujuan,…