Skip to main content

Sesuatu tentang Sore

Matahari bersinar kekuningan. Semakin menua, semakin lembut cahayanya. Mendekati garis batas satu putaran bumi mengelilinginya, semakin indah saja pemandangan yang dipamerkan.

Kilau keemasan menyiram lereng-lereng bukit yang telah ditanami berbagai tanaman. Padi, cabai, tomat, bawang, ditutupi mulsa perak yang memantulkan indah cahaya jingga.

Air sungai mengalir tak mau kalah. Memamerkan gemerlap pantulan kristalnya, diantara bebatuan yang menonjol menjulang.

Ada bukit dan gunung yang mempertontonkan lekukan seksinya dalam balutan hijau pepohonan. Ada sawah dan ladang terhampar luas yang seolah menari riang diterpa cahaya.
Dan ada para pengendara yang sibuk berlalu lalang mengejar apa yang mereka sebut rumah dan kebahagiaan.

Jauh di barat sana, matahari sudah bersiap melambai, berpamit untuk pergi. Memamerkan bentuknya yang bulat sempurna, jingga keemasan. Tidak ada satupun kecantikan di muka bumi yang sanggup menyaingi indah dan bahagianya matahari bundar meneduhkan, di sore hari.

Perpisahan yang niscaya itu tampak seperti pesta bahagia yang dilepas dengan tenang dan hati-hati. Tidak ada yang bersedih ketika matahari pamit pergi. Nyaris semua yakin ia esok akan kembali. Padahal, matahari pun tak pernah menjanjikan esok ia akan datang lagi.

***

Tidak sering saya menyadari betapa indah sore hari. Entah itu dalam latar pegunungan dengan deretan lereng-sawahnya, atau dalam balutan danau beserta biru dan hijaunya bukit-bukit, atau sekedar dalam hiruk pikuk kesibukan kota yang menjelang waktu beristirahat.

Sejak dua hari kemarin saya selalu menyempatkan diri berjalan kaki. Terlebih pada sore hari. Tujuan sudah ditentukan, tinggal dijalani dan dinikmati. Sambil sesekali mengambil gambar pada bangunan yang menarik, atau hanya pada seorang nenek yang masih giat berdiskusi. Saya amat menikmati, berjalan kaki sendirian di kota yang teramat asing ini. Meskipun hari pertama adalah nyasar, (tentu saja), dan berjalan lebih jauh dari yang saya kira.

Menikmati sore hingga matahari bersiap pergi, lalu saya kembali, untuk menuliskan semua ini.

Mungkin seseorang bisa begitu takjub pada hal yang sangat sederhana, adalah karena dia jarang menyadari hal itu pada kesehariannya.

Berapa dari kita yang sudah meninggalkan kantor pada saat sore sedang cantik-cantiknya? Saya yakin pasti jarang. Pun kalau sudah keluar dari kantor, sore tidak lagi memukau karena terhalang oleh kemacetan dan kekhawatiran persoalan di rumah.

Yah.. Apalagi yang tinggal di Bogor. Tempat dimana sebagian besar waktu sore nya digunakan untuk hujan atau mendung.

***

Belajar menghabiskan waktu sendiri, membuat seorang minimalist dapat dengan benar mengenali dirinya dan mencintai dirinya. Bukan dalam bentuk egoisme, tetapi dalam bentuk penghormatan pada satu-satunya teman sampai akhir hayat.

Saya lebih senang berjalan sendiri, meski sesekali demi sopan santun saya harus siap menerima kedatangan tamu. Karena ada kewajiban-kewajiban tertentu yang tidak bisa saya lepaskan sebagai makhluk sosial yang pernah dibantu.

If you want to be strong, learn to be alone. And I like it better when I alone.

***
Bukan berarti seorang minimalist harus penyendiri, tidak. Ia pasti akan menerima pasangan, belajar berjalan bersama, dan mengatasi kekakuan yang terjadi.

Justru, minimalists yang masih sendiri, menjadi punya banyak waktu untuk bisa mengeksplor dirinya sebelum diintervensi oleh orang lain. Ia sudah tau apa yang dia mau, sudah punya space nya sendiri untuk hal-hal yang ia lakukan. Sehingga hubungan yang terjalin pun bisa berjalan tanpa saling membebani. Pasangan bisa tetap melakukan aktifitasnya tanpa khawatir pasangannya akan bosan menunggu di rumah.

Saya yakin jika ada di antara kalian punya teman yg kelakuannya tidak bisa dimengerti, artinya ia sedang berusaha mengenali dirinya dan mencintai dirinya sendiri. Seorang teman yang baik semestinya tidak mempertanyakan kenapa begini dan begitu, hanya berusaha memahami, mengerti dan menemani ketika ia butuh kawan tuk mencari solusi.

Merupakan satu penyesalan bagi saya, bahwa kesadaran ini datang terlambat. Sebuah relasi pertemanan sudah terlanjur rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi hanya karena saya tidak bisa memahami konsep kenal-mengenal diri sendiri.

***
Kita tidak pernah tahu ada berapa kali lagi putaran bumi untuk menghadirkan sore-sore yang indah bagi kita disini.

Kita juga tidak pernah tahu apakah ada sore lain di semesta yang lain, yang juga seindah dan se menenangkan ini.

Menikmati yang ada saat ini, menjalani apa yang sudah ditentukan, serta bersyukur atas semua kesempatan, adalah cara bagi kita berterimakasih pada bumi yang tidak lelah berputar demi keberlangsungan hidup seisinya. Jangan dibayangkan apa yang akan terjadi jika bumi berhenti satu detik saja.

Selama ia masih terus berputar, selama itulah sang waktu masih tetap akan hidup. Dan selama itu pula, kita harus saling mencintai. Dalam skala micro dan macro cosmos yang mengitari.

***

Solo, 21 September 2017. 23.55

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …