Skip to main content

You!

Menggali memori di Tanah Batak, seperti tidak habis cerita membahas masa lalu. Rumah jaman dulu, mobil jaman dulu, hutan jaman dulu. Semakin dibahas saya semakin tenggelam mendengarkan. Antusias bertanya jika pencerita mulai terdiam. Termasuk ketika kita dipanggil masuk ke dalam rumah Pengasingan Bung Karno semasa di tahan oleh Belanda, pasca kemerdekaan.

Rumah yang terkenal angker. Rumah yang konon hanya boleh ditempati oleh para pejabat tinggi. Pun pada saat kami datang, sedang ada seorang asisten bupati yang sangat ramah menyambut dan mempersilakan kami naik ke lantai atas. Silakan berfoto, hanya saja foto itu tidak diperkenankan tampil di media sosial. Begitu pinta penjaga rumah.

Ia menceritakan sejarah bagai pendongeng mendongeng untuk anak-anak. Untuk sesaat saya membayangkan jalanan aspal ini belum ada. Rumah-kios belum se ramai dan se rapat ini letaknya. Hamparan luas sayur mayur, padi, cabai dan tomat terbentang dimana-mana. Sang Presiden menempuh jalan darat menggunakan mobil chevrolet tangguh yang sangat kebapakkan. Dalam potret buram kekuningan, saya mencoba membayangkan itu semua.

***

Dari Balige hingga Prapat, sisa-sisa kejayaan Tanah Batak yang berdekatan dengan asal muasal orang Batak di Samosir ini masih tersimpan rapi. Sepanjang jalan yang terbentang sawah nan luas, nyaris selalu disertai perkampungan yang jaraknya lumayan jauh dari jalan utama. Kami tahu ada perkampungan disana, berkat julangan segitiga atap Rumah Batak. Satu-dua masih terpelihara meski sudah tidak digunakan. Satu dua rusak parah, karena semua keluarga sudah pergi merantau.

Toba Samosir mewakili nyaris seluruh desa yang ada di bumi kini. Sepi tanpa penghuni. Hanya orang tua dan anak-anak yang masih ada. Para pemuda diminta pergi ke kota. Melupakan masa lalu, melupakan identitas tentang siapa keluarga dan silsilah mereka. Hanya sedikit yang masih mau kembali. Itupun kurang amat dihargai.

Orang lebih suka tinggal di tanah orang. Karena tidak akan berkembang mereka yang tidak pernah merasakan perantauan. Pergilah mencari rejeki, seluas-luasnya berpencar di muka bumi. Dalam Islam pun merantau adalah dianjurkan.

Tapi pulang?

Ya.. Pulang. Ingatkah kita untuk pulang? Menanyai kakek-nenek tentang siapa dulunya ayah mereka.. Kakek mereka..

Semakin saya menggali masa lalu di tanah orang, semakin saya ingin tahu siapa dulunya orang-orang yang kini saya sebut eyang, nenek, oma dan opa.

***

Seringkali memang kita lupa, bahwa bumi berputar dalam siklus berbentuk lingkaran. Menggali histori adalah untuk bekal ke depan nanti. Karena jika anda tahu soal peradaban, maka saat ini sampailah kita pada ujung pergantian peradaban. Dimana jiwa-jiwa tua sedang menunggu untuk dilahirkan kembali. The old souls will be born from us. We are the generation who will raise them. They will come, to the chosen family. To create a new civilisation on earth. Peradaban yang matinya ditandai oleh bumi Atlantis yang kian dicari.

Percayalah bahwa semua akan kembali. Kita gali histori, pun untuk mencari sebuah makna yang sejati. Who are we? What we do?

Tanya. Tanya terus jangan bosan. Tanya hingga kau puas. Tanya hingga kau tahu.. Bahwa jawabannya, selalu ada di dalam micro cosmos called.. You!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …