Skip to main content

Konsep Sederhana Minimalism

Baru saja saya tertidur pada pkl satu dini hari setelah membaca artikel tentang Polyphasic sleep sebelum tiba-tiba terbangun pada 1.20 oleh entah apa. (Namun saya teringat belum sempat membaca doa sebelum tidur, jadi buru-buru dibaca setelahnya).

Hanya saja, seolah membuktikan artikel yg baru saya baca, saya sudah sangat segar dalam dua puluh menit terlelap barusan.

Polyphasic Sleep Society adalah orang-orang yang hanya tidur dua jam setiap harinya. Selebihnya mereka menggantungkan istirahat pada naps atau tidur siang dalam rentang waktu: dua puluh menit setiap dua jam. Alasannya, dengan waktu sesingkat itu, tubuh akan cepat memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Fase itulah yang membuat orang beristirahat dan menyegarkan fungsi-fungsi organ tubuh. Lewat dari fase itu, adalah fase regenerasi sel yang (katanya) tidak begitu dibutuhkan namun baik jika dilakukan.

Artinya, saat saya tertidur pada rentang waktu pkl 1.00 - 1.20, saya sudah langsung memasuki fase REM. Bangun pun mata sudah kembali segar dan tubuh sudah normal. Saya sebetulnya bisa melakukan apa saja saat ini, (termasuk solat tahajjud, yang rasanya kok berat sekali. Jujur saja. Hehe).

***

Minimalist pun tampaknya harus mengembangkan diri, bukan sekadar mengeliminasi benda-benda dan koneksi-koneksi yang tidak lagi memberi nilai. Tapi juga kebiasaan-kebiasaan buruk yang dipelihara karena terlalu nyaman jika ditinggalkan.

Sejatinya manusia bisa hidup dengan waktu tidur amat terbatas. Sudah banyak kisah sukses para milyarder dan jenius yang memukau dunia lewat kemauannya membatasi diri berleha-leha.

Ah.. Kerja kerja kerja!

Begitu kata presiden di negara saya tinggal. Hanya kerja kerja kerja! Tapi jangan sampai seperti kerbau yang sekedar kerja-kerja-kerja!

***

Pembicaraan yang saya lalui hari ini melelahkan sekali. Semua berputar tentang pernikahan.

Setelah bangun pagi-agak siang- dan mencuci baju sebanyak dua puluh pcs (ya, saya hitung tiap pcs nya agar tahu berapa uang yang saya hemat dengan mencuci baju tanpa laundry), saya masak lalu mandi untuk pergi ke tempat pengajian.

Adalah pernikahan besar yang akan dilangsungkan awal Oktober mendatang, berbagai rangkaian sebagian sudah dilaksanakan. Termasuk pengajian yang mengundang banyak kawan.

Saya dan belasan ibu-ibu lain ikut menangis terharu demi mendengar tutur kata calon pengantin dan kedua orang tuanya. Lantunan kasih, doa dan terima kasih meluluhkan hati siapapun yang mendengar. Saya tidak kuat jika membayangkan saya lah yang berada di posisi itu. Rasanya untuk berbicara pun tidak akan bisa, karena tertutup dengan air mata.

Selanjutnya adalah ceramah tentang pernikahan. Seorang Ibu berkerudung hijau tua memberi ceramah dengan suaranya yang lembut namun tegas menenangkan. Menjelaskan arti Sakinah, mawadah, wa rahmah dalam pemaparan yang amat panjang dan tak diduga.

Bahwa Sakinah adalah menenangkan, sejatinya pernikahan adalah sumber ketenangan. Ketika ada masalah, pelukan pasanganlah yang bisa meredam amarah, dan bukan justru sebaliknya.

Mawaddah adalah kelapangan dada, menerima keadaan pasangan. Tapi bukan berarti dapat meminta pasangan untuk menerima kita apa adanya, melainkan kita yang menerima pasangan apa adanya. Segala kekurangan yang ada pada diri kita, harus berusaha diperbaiki. Meng-upgrade sedetail mungkin fitur-fitur terbaik kita.

Agar jalannya pernikahan diberi Rahmah dan diberkahi Allah. Sebuah pernikahan harus punya visi. Bukan sekedar untuk hidup bersama hingga akhir hayat, namun lebih dari itu.

Bukan saja sampai maut memisahkan, tapi tujukan agar bisa sampai mau mempersatukan di alam yang kelak lebih kekal.

Jika sudah begitu, yakinlah semua akan baik-baik saja. Meskipun kelakuan suami yang awalnya rupawan dapat menjelma menjadi monster buruk rupa yang tidak kita kenal, yakinlah jika diniatkan untuk ladang pahala dan surga maka kasih sayang dan cinta itu akan tetap ada.

Ini lah surga ku, ucap seorang istri yang menolak dipisahkan dengan suaminya yang terserang stroke dan tidak bisa bergerak lagi. Seperti mati, namun masih tetap bernafas.

***

Minimalism sebagai gaya hidup, khususnya bagi seorang perempuan, akan memudahkan untuk menjadi seorang istri yang Sakinah. Karena terus menerus tergiur oleh benda-benda dan ambisi untuk membeli, tidak akan pernah memuaskan ego dan hanya mendatangkan keresahan.

Minimalism akan menjadikan kita tetap tenang, karena meskipun kita amat menginginkan suatu benda baru (terlebih ketika kita mampu membelinya), kita sanggup untuk meredam keinginan itu karena sudah amat cerdas memilah keinginan dan kebutuhan.

Seusai pengajian saya langsung bertolak ke stasiun kereta. Mengunjungi seorang teman yang baru saja melangsungkan pernikahan. Jelas ketiga kriteria tadi terlimpah pada mereka, tergambar dari cara mereka mencandai satu sama lain.

Tujuh hari menikah, dalam perkenalan yang amat singkat. Saya mafhum pada kawan saya (yang pria) kenapa menjatuhkan pilihan pada wanita bercadar pink yang duduk persis di depan saya.

Ia cerdas, baik hati, riang dan membuat senang siapapun yang berada di sekelilingnya. Saya yakin jika cadarnya dibuka, ia adalah seorang gadis muda cantik. Usianya jauh dibawah kami, namun sangat mampu membawa diri.

Ya.. Saya kagum dan ikut merasakan getar bahagia duduk se meja dengan mereka.

***

Ketika saya memilih untuk menjadi minimalist, dan menulis hal-hal tentang minimalism, yang saya inginkan hanya satu: ketenangan.

Dunia terlalu penuh hiruk pikuk jika tenang tidak diciptakan sendiri. Pun untuk pasangan, saya selalu berdoa dan menyerahkan keputusan hanya pada Sang Maha Memutuskan, saya percaya pada setiap pengaturan-Nya dan hanya bisa berharap untuk dapat bersiap diri menyambut kedatangannya.

Berhenti menginginkan apa yang tidak kita miliki, adalah apa yang minimalist percayai sebagai sebuah prinsip yang harus ditaati. Jangan berlebih-lebihan. Bahagia disini ada batasnya. Segala sesuatu ada batasannya. Dan hidup sebagai minimalist berarti hidup dalam batas-batas syarat yang sebetulnya sudah cukup untuk manusia. Agar bisa lebih punya waktu untuk mengeksplorasi hal-hal menarik dalam isi semesta.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …