Skip to main content

Rumah

"Observe nature, and let it teach you the art of patience.." 

***

"A man with no home, carries much baggage" 

***

Pergi ke Lumban Ruhap, Lumban Rau Barat dan Lumban Rau Selatan hari ini dikawal oleh empat pengawal muda. Mereka adalah karyawan perusahaan yang menjadi klien kami kali ini. Melewati jalanan sempit berpasir yang hanya cukup untuk satu mobil karena di sebelah kiri ada tebing, dan sebelah kanan jurang lebar menganga.

Hujan dan mendung mewarnai perjalanan yang dipenuhi oleh senandung lagu-lagu Batak, dan candaan khas Batak.

"Ah, kalau masih pacaran itu, kalau jatuh dibilangnya 'hati hati dong sayang'. Coba kalau sudah menikah, 'matamu kau tarok mana itu! pake lah!!" ujar salah seorang karyawan dengan logat Batak kental. Percakapan selanjutnya bergulir, berputar mengenai betapa mereka menyesal telah menikah, karena tidak lebih bahagia ketimbang waktu masih pacaran.

Energi kami masih banyak pagi itu. Bahkan siang pun, setelah di recharge dengan makan siang, kami masih bisa tertawa terbahak menertawai lelucon suami dan istri yang kian tak lagi romantis.

Bahwa perempuan menjadi amat garang, pemarah dan mata duitan, bagi laki-laki itu candaan biasa, dan nyata. "supaya Bu Hilma nanti tidak jadi seperti itu," kelakar karyawan yang sama. Saya hanya bisa menyambut tertawa.

Karena satu-satunya tanggapan saya terhadap obrolan dalam perjalanan ini hanyalah tertawa. Tertawa dan bergumam, karena itu yang paling mudah. Menertawai status yang masih sendiri, dan bahkan akan melakukan travelling pun sendiri.

"Hah? Sendiri? Gak Takut Bu???" Berulang kali mereka bertanya tentang kebiasaan saya meluangkan waktu setiap tahun untuk bepergian sendirian. Hanya sendirian, sengaja tidak ingin ditemani.

***

Wiper mobil tidak berhenti bergerak. Hujan deras sepanjang sore, mulai kami menyelesaikan tugas di desa terakhir, Desa Lumban Rau Selatan. Desa yang membuat saya menahan napas takjub nyaris di sepanjang jalan.

Hutan yang dipelihara masih lebat, udara sejuk langsung menerpa tak lama setelah saya keluar dari mobil yang penuh AC. Suhu di ponsel tertera sembilan belas derajat. Mengikut garis lurus dengan jalan tanah setapak yang dapat dilalui mobil, terbentang indah dan megah tiga lapis gunung. Dolok mereka sebutnya, atau bukit. Tapi tinggi bagaikan gunung.

Berdasarkan hasil wawancara, dari gunung sanalah sumber air mereka dapatkan. Gunung itu juga menjadi kawan hutan lindung yang dilindungi negara, di dalamnya dapat mereka kelola dengan menanam kopi, kemenyan, dan andaliman.

Mendengar kata terakhir, jantung saya berdegup kencang. Saya menyukai Andaliman sejak pertama kali mendengar tentang namanya. Sampai sekarang saya masih mencari cara untuk bisa mengolah Andaliman menjadi masakan yang hebat, yang tidak pernah terlupakan rasanya.

Sejuk udara membuat saya betah berlama-lama. Kami melakukan diskusi impromptu di halaman kantor desa, menggambar di atas tanah, dan menerangkan mengenai High Conservation Value dan High Carbon Stock. and I hate my self for doing that. (seems to me, I'm only selling other people lies to those who dont need that). 

Rimbun pepohonan mengumpul menjadi hutan sempadan sungai yang tidak akan pernah diserahkan pada pihak manapun. Aliran air nya bersih sekali. Suaranya bahkan terdengar hingga ke jalan setapak tempat kami lewat dengan susah payah. Sejauh mata memandang hanya hijau dan abu-abu yang terhampar. Deretan padi ladang, atau padi darat mereka sebutnya disini, dan awan mendung yang bergumul dekat sekali dengan daratan.

kenapa awan di Sumatera atau Kalimantan bisa terkesan dekat sekali, tapi di Bogor atau Jakarta tidak bisa? 

Kami menembus malam dalam hujan. Supir bertukar. Karyawan yang sedari kemarin paling aktif bercerita dan melakukan pendekatan, duduk di samping saya. Ia yang mengatur ritme kendaraan dengan gaya menyetirnya yang tenang. Terus terang saya menikmati perjalanan malam itu, karena diselingi oleh kisah-kisah pengalaman hidupnya yang unik dan menyenangkan, ditambah hujan gerimis dan laju kendaraan pelan-pelan, saya suka meskipun lagu yang diputar bukan lagu yang biasa saya dengar, tapi saya tetap suka dan menikmati suasana.

Usia kami terpaut sepuluh tahun, tapi berbeda sekali apa yang telah saya dan bapak itu alami. Itulah kenapa saya suka mendengar, karena saya bisa duduk diam tapi menjelajah lorong dan waktu.

Bapak itu akhirnya berkata, betapa menyesalnya ia setelah menikah, kenapa tidak dilakukan dari dulu. Apalagi kalau sudah punya anak. Pulang kerja, lelah dan penat pikiran, akan hilang seketika ketika disambut oleh pelukan anak. Mereka pun memastikan saya benar-benar akan pergi sendirian, yang ternyata itu dianggap tidak biasa oleh mereka. Meskipun solo traveller tidak asing bagi mereka.

***

Semakin saya masuk dan bertemu, berbincang dengan orang-orang di pelosok negeri, semakin saya ditanyai mengenai status pernikahan, semakin pula saya membatin.. betapa pentingnya 'rumah' bagi seseorang. Betapa itupun menjadi tolak ukur keberhasilan, ketika seorang ayah telah berhasil menimang cucu. Adalah kebanggan dan kehormatan tiada tara bagi Orang Batak yang sudah dapat tiga lapis gelar dibalik namanya, yaitu sampai menyematkan nama cucunya dalam sebutan nya sebagai opung.

Semakin saya menyadari bahwa peran perempuan itu penting. Hawa diciptakan untuk menemani Adam. Bukan untuk menjadi pemimpin dalam keluarga Adam dan Hawa. Adam sedih dan kesepian, untuk itulah Tuhan ciptakan teman.

Lantas mengapa kita sekarang tidak ingin bertemu dengan Adam dan menolak 'melayani' seolah-olah itu pekerjaan hina. Seolah-olah melayani adalah bukan tugas perempuan, karena terlalu menghinakan gelar sarjana yang sudah disiapkan bertahun-tahun.

The higher I fly, the more I realized there is no good thing from ego and ambition.

Minimalist women will learn how to eliminate egos and ambitions. 

Only dead fish follow the flow, but only stupid fish always swim against the odds. 

***
Lumban Rau Selatan,
Semoga hutanmu bisa terjaga, dalam jangka waktu lama.
Sebagaimana hati, yang bisa disimpan, untuk seseorang yang amat berharga.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert