Skip to main content

Hygge: Enjoying Life's simple pleasure

 



Menyederhanakan sesuatu bukan urusan sederhana, justru sebaliknya. Rumus matematika sederhana diperoleh dari proses berpikir yang teramat rumit, dan bukan dari proses berpikir orang yang nonton tiktok empat jam sehari (red; saya). Proses penyederhanaan apapun selalu harus melalui jalan paling rumit, sulit, yang sering kali bikin menyerah di tengah jalan.


Hygge adalah sebuah kata dari Bahasa Denmark, kata yang tidak sengaja saya temukan dan saya suka sekali. Waktu saya tahu ini adalah Bahasa Denmark saya makin suka lagi. Sejak lima tahun lalu saya memang terobsesi dengan kultur Danish (terlebih sejak nemenin rekan yang pernah mampir ke Bogor dan saya temani kemana-mana waktu itu. Sekarang dia sudah punya anak satu, masih bayi pula.. terharu banget betapa cepat waktu berlalu..) eh malah nostalgia.


Hygge adalah sebuah cara menikmati hidup dari hal-hal sederhana yang kita temui sehari-hari; keberadaan keluarga, teman, tubuh yang sehat, tempat tinggal yang nyaman,. prinsip hidup yang menjauhkan seseorang dari sifat natural manusia; Greed. 


Saya tidak sadar bahwa sekarang sedang diuji dalam hal menyederhanakan hidup. Awal tahun 2021 saya lalui dengan mengeluarkan separuh barang-barang yang ada di rumah. Menjelang akhir tahun 2021 saya justru harus mengemas barang bawaan seringkas mungkin untuk hidup selama... berapa lama yak di sini.. sebulan udah lewat.. dua bulan kali ya.. tapi rencananya sih tiga bulan.. ah liat nanti deh >.<


Pada setiap titik persimpangan kita memang harus mengevaluasi sudah sejauh man dan sudah berbuat apa di umur yang kita habiskan ini. Mungkin setiap purnama? Karena jika beruntung, anda bisa menyaksikan purnama bulat sempurna setiap bulannya, dan bisa duduk dalam diam memandangi sinar putih lembut nan menentramkan itu sebagai waktu terbaik untuk berpikir, berkontemplasi, refleksi, dan lain-lain.


Jika anda pun berprinsip ingin menyederhanakan hidup, jangan kaget kalau proses nya justru teramat rumit. Jangan kaget juga jika ternyata ongkos nya lebih besar ketimbang kalau hidup biasa-biasa saja. Kadang untuk menemukan benda berharga, kita harus rela merogoh kocek lebih dalam. Hygge memang sederhana, tapi bukan berarti yang sederhana itu murah.

***

Pemogan, 22 Oktober 2021

Comments

Popular posts from this blog

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam