Skip to main content

Circle of Joy

If you live a fulfilling life, you have plenty of friends to laugh with but not to talk with, you're exhausted but you don't know why.. I think all I can say is.. I can feel you. And no matter what I do, no matter how busy I am, I won't check my schedule if you call me that you need me.
***
Punya teman bicara memang menyenangkan. Apalagi kalau mereka bisa mendengar sekaligus merasakan yang kita rasa, dan menyenandungkan lagu yang sama. Saya rasa, cukuplah teman bicara yang menjadi harta kekayaan seseorang yang tak ternilai harganya. Karena mereka tidak bisa dibeli, pun tidak bisa ditemukan dengan mudah.
***
Sejak memutuskan untuk menjadi minimalist, saya juga melepas beberapa lingkaran yang saya rasa tidak lagi membawa kebahagiaan pada hidup saya. Tidak memberi value lebih dalam selain untuk 'berjaga-jaga'. The just in case condition yang selalu dipegang erat oleh manusia, yang takut akan perubahan.
Bukan berarti saya memutuskan tali silaturahmi, karena jaman dulu pun silaturahmi tetap dibilang tersambung meski tidak berada di whatsapp grup yang sama. Ini bukan soal menutup diri, karena saya akan tetap ada sewaktu diminta. Ini hanya untuk menjaga pikiran saya, agar tetap damai dan waras, agar saya bisa terus mengambil keputusan-demi keputusan dalam hidup dengan tenang.
Kadang, diskusi dan perdebatan di whatsapp grup oleh sekelompok orang yang sempat berdiskusi dan berdebat sebelum jam makan siang, tidak lebih dari sekedar clutter yang harus cepat-cepat dibuang.
***
Kebaikan datang setiap kali kita mengambil keputusan yang paling kita takuti sekalipun. Sejak kecil saya adalah orang yang paling menghargai pertemanan. Meninggalkan sebuah lingkaran adalah hal yang paling tidak ingin saya lakukan karena itu melawan nilai-nilai yang selalu sy junjung tinggi: friendship.
Namun ketika pada akhirnya saya tumbuh dewasa dan menyadari banyak hal, saya memberanikan diri meninggalkan sebuah lingkaran yang hanya selalu menyakiti hati dan perasaan saya. Saya tahu sejak dulu bahwa bertahan di dalamnya hanya seperti bertahan di dalam ruang sauna selama lebih dari lima belas menit.
Hal-hal ajaib muncul bergantian semenjak keputusan itu saya ambil. Bisa dikatakan itu adalah salah satu keputusan paling berani bagi saya ditahun ini. Dan sejak itu, saya bisa fokus pada lingkaran-lingkaran yang membuat saya bahagia. Hanya yang membuat bahagia dan mendatangkan value bagi saya. The circle of joy.
***
Di tengah dunia yang semakin miskin akan empati, sulit menemukan orang yang bisa berbagi cerita dengan frekuensi dan antusiasme setara. Kebanyakan hanya mendengar, berusaha mengerti, dan menyamakan persepsi. Bukan mendengar, ikut mencoba merasakan, dan benar-benar merasakan.
Pertahankan hanya mereka yang benar-benar peduli pada kita. Yang bisa melihat sedih dibalik tawa kita yang sebegitu meriah. Yang bisa melihat sembab dibalik riasan mata yang begitu indah.
Fake friend, is a waste of time.
Saya pun akhirnya menyadari, bahwa bukan hanya teman yang bisa palsu. Kasih sayang dan sweetness pun bisa palsu. Bisa saja bertubi-tubi dia tunjukkan affection tanpa rasa malu apalagi gengsi, namun ternyata itu hanyalah sekedar menghabiskan waktu.
Jika hati ini kita latih untuk terus menebar kebaikan, namun semesta seolah berkonspirasi untuk terus mengecewakannya, bersabarlah. Tidak ada yang lebih indah ketimbang lorong gelap yang pada akhirnya disinari cahaya. Tidak ada yang lebih sejati ketimbang janji Allah Yang Maha Bijaksana.
Maka sampai waktunya tiba.. Pertahankan lingkaranmu hanya dengan yang bermanfaat. Berteman dengan orang baik, tentu akan terbawa baik dan sebaliknya. Even the skies will show its stars after a heavy storm. And the light that million years apart, can bring you joy, can bring that part of tiniest universe. Life is funny sometimes, as it works in an unexpected ways, free your mind with expectation, and share the joy with people in your circle.
Somebody Loves you.

***
Bonus: Group of Three Friends are always the Best


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert