Posts

Showing posts with the label sustainability

Mnimalist Millennial Talks about Sustainabilty

Image
Kami adalah millennial yang bingung. Termakan berita di media bahwa bumi sedang sekarat, ingin melakukan sesuatu tapi nampaknya dunia tak butuh tangan kami. Jika diibaratkan bunga mawar, maka kami ini tengah menguncup dan hendak mekar. Sejak masih benih, kami selalu dibisikkan kalimat-kalimat menyemangati, bahwa kelak jika sudah besar, kami akan menjadi bunga yang berguna. Yang membahagiakan banyak orang ketika mekar dengan indahnya. Namun tepat ketika kami hendak mekar, matahari berhenti bersinar. Seolah berkata: tak usah mekar , dunia tidak butuh parasmu . Ia butuh sari mu . Bekerjalah kamu . Bersusah payah lah di ruangan sana. Pesona mu tidak lagi ditunggu . Keringatmu lah yang kami mau . Lalu, ketimbang bermekaran dan memberi value bagi seisi bumi, kami berjalan beriringan menuju ruang ekstraksi. Yang penting sari, begitu kata matahari. *** Di awal penulisan blog ini saya bercerita tentang dua perempuan muda, at their thirties tapi sudah sangat menginspirasi. K...

Minimalist Food

Image
Saya tertawa membaca komentar dalam salah satu cuplikan tulisan Josh and Ryan the duo minimalist . Si penulis komentar bertanya, "bagaimanakah cara seorang minimalist makan?" Dan jawabannya sederhana.. We eat with our mouth, teeth and tongue. Beberapa orang mungkin terlalu berlebihan dalam menanggapi prinsip yang sedang digemari banyak orang ini. Yang skeptis pun banyak, sampai-sampai mengira bahwa minimalist adalah sufi yang benar-benar harus terlepas dari keinginan duniawi, termasuk makan. Bagi saya, tidak ada aturan baku yang mengatur bagaimana seorang minimalist makan. Karena minimalism adalah prinsip yang berdasar pada kebahagiaan, dan damai dalam diri. Jika terlalu banyak aturan, justru akan menghilangkan kebebasan. Dan itu, malah bukan mendatangkan bahagia melainkan rasa  cemas. Namun Marie Kondo, seorang konsultan di bidang penataan ruang-dan rumah, menyarankan untuk tidak menumpuk makanan secara berlebih. Dalam satu postingan yang ia publis di media sosial, Marie ...

Simplicity

Image
Sampai hari ini saya masih terus bertanya-tanya.. Untuk apa kita diutus kesini ? Untuk apa ruh kita ditiupkan ke jasad ini , dan menghuni satu bagian kecil dari semesta bernama bumi ? "Untuk mencari pahala," ujar seorang ustadz suatu ketika. Pahala? Untuk apa mencari pahala? "Agar bahagia" tulis seorang bijak pada satu media sosial. Bahagia? Bukankah disana kita sudah bahagia? Surga tempat semua manusia berasal, bukankah adalah tempat paling bahagia dan dirindukan oleh seluruh makhluk bumi? Bukankah surga, tempat semua kita berasal, adalah tempat yang 'tiket' masuknya adalah pahala? Lantas untuk apa kita dikeluarkan dari sana, untuk mencari sesuatu yang SUDAH kita dapatkan disana? *** Manusia adalah khalifah di muka bumi. Setidaknya itu yang agama saya ajarkan tentang keutamaan seorang manusia dibandingkan makhluk lain. Khalifah adalah pemimpin. Setiap pemimpin pasti mengemban tugas. Tugas? Apa tugas kita? Apa tugas saya disini? J...

Fighting the Old Habit: How to Deal with Stuff that Spark Joy in Store, but You Don't Need

Image
First of all, start to reduce the visits to the mall. Before you've mastered the art of minimalism, better not to go to the mall at all. Because I know how hard it is to refuse the big board of ALL ITEM SALE in the brand new shoes we like. Diawali dengan ' ah cuma liat ' diakhiri dengan 'ada lagi ? Kalau tambah satu jadi lima ratus ribu dan gratis member' yang kemudian galau berkepanjangan, antara menambah satu sepatu that we don't need atau melewatkan kesempatan emas tawaran yang katanya terbatas . *** Mungkin bagi sebagian orang jalan-jalan ke mall adalah satu bentuk melepas penat yang efektif, karena hutan jauh dan pantai apalagi. Uang bukan masalah, karena mereka punya akses berlebih dan bisa membeli apa saja sehingga mereka tidak akan keberatan untuk masuk ke toko-toko yang menjual benda-benda menyenangkan. Entah itu baju dengan bahan super lembut, design super lucu, atau sepatu yang super empuk, nyaman dan elegan untuk dipakai. Jika kamu terma...

Find Happiness in Minimalism

Image
Pagi ini semua orang dikejutkan dengan meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington. (Pantas saja semalam saya tidak bisa tidur hingga jam tiga pagi). Saya terbangun dengan suara televisi yang diputar keras, memberitakan kematian nya. Saya pun sedih. Mengingat betapa dulu semasa SMP hingga SMA saya begitu memuja lagu-lagu mereka semenjak kemunculan lagu Numb. Tapi lebih sedih lagi mengetahui alasan meninggalnya, yaitu bunuh diri karena stress oleh candu obat-obatan. Padahal, Chester memiliki seorang istri dan anak yang lengkap (laki-laki, perempuan, dan kembar). Jika dipikir dengan akal normal, bukankah semua itu mestinya sudah lengkap? *** Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist menceritakan tentang perjalanan mencari kebahagiaan. That the Soul of the World nourishes by people's happiness. (And other emotions). But happiness comes first. People are in constant search of happiness. Masing-masing dengan caranya masing-masing mencari jalan menuju kebahagiaan. Ada yang m...

Emperara

Image
Malam ini bisa dibilang untuk pertama kali dalam hidup, saya bersepeda motor membelah hutan di malam hari selama empat jam back and forth . Dari tiga desa yang kami tuju untuk ditemui kepala desanya, hanya satu kepala desa yang akhirnya dapat kami wawancara. Itupun desa terjauh, yang saya sudah hampir tidak punya tenaga lagi untuk turun dari motor. Sepanjang jalan, lumpur dan batu menjadi jalur yang ditempuh dengan kecepatan tinggi. Sesekali saya harus turun karena ban motor tertanam di lumpur, dan yah.. Saya harus puas membenamkan kaki kedalam genangan lumpur coklat yang lengket. Satu jam pertama saya bersemangat ajak ngobrol bapak yang membonceng saya. Beliau bekerja sebagai karyawan perusahaan, sebagai penjaga mess tempat kami tinggal. Istrinya yang memasak makanan sehari-hari untuk kami di mess. Mulai masuk jam kedua lutut saya mulai sakit. Karena jalur menurun menanjak dan berbatu membuat saya harus menahan beban untuk tidak menubruk si bapak yg di depan. Dua desa kami lewati, ...

Thing to Declutter Part Four: Social Life

Image
How often do we say: I need some space - to the one we love?  Little did we know, we've been surrounded by toxic people, toxic relationship, or toxic friendship. We never knew it would harm that much before we get some 'space' with our self. Everyone should need to distant them self for a little while. To think and re-arrange the plan to reach their goal. Or to create new goal. *** Hidup di jaman serba digital, dimana media sosial menjadi candu yang sulit untuk dilepas membuat orang kini semakin mudah stres dan tersinggung. Kemudahan berkomunikasi bukan membawa pada ketenangan, tetapi malah membuat orang semakin gampang bertentangan. Orang yang tadinya tidak saling mengenal, bisa berteman akrab di media sosial. Saling melempar joke bahkan saling menggoda. Lalu yang tadinya berteman, bisa menjadi berlawanan ketika beda pilihan calon presiden. Wise man once said: choose your friend wisely. They represent your self. Membersihkan diri dari hubungan sosial bukan berarti me...

Things to Declutter Part Three: Books

Image
I know. This one is impossible. Especially for the book maniac. Even today, I buy a book from amazon. One amazing book that I really need, but I decide to give it to a friend, as a birthday gift. Begitu salah satu cara saya meng-akali agar tetap bisa membeli buku - which has been my hobby since decades - dan menjaga jumlah agar tetap seimbang. Sulit sekali untuk mensortir buku-mana yang akan di simpan dan mana yang akan di keluarkan. Semua buku, rasanya ingin disimpan. Semuanya bahkan yang paling tidak pernah dibaca sekalipun. What if everything is my favorite thing? Should I get rid of it? What if everything add value to my life? Should I get rid of it too? Tergantung dari seberapa besar kebahagiaan mu ketika menyimpan buku-buku itu. Ya, saya bahagia menyimpan semua buku saya. Saya mencintai mereka seperti bayi-bayi yang tidak akan pernah tumbuh besar. Rasa sayang saya terhadap buku-buku yang tertumpuk itu, lebih besar dibanding rasa sayang saya terhadap baju-baju yang setiap har...

Things to Declutter Part Two: Mind

Image
Yesterday I decided to move out. There's nothing wrong with my current place, it just me.. want to challenge my self with the thing I fear the most: Change. Setiap orang pada masa transisinya pasti gelisah akan kehidupan yang berubah cepat sekali. Tanpa disadari, saya terhitung sebagai salah satu dari tiga penghuni terlama kost-kost an ini. Niatan untuk pindah sebetulnya sudah ada, karena saya sudah meminjam uang - sell my soul to the devil for debt - untuk membeli sepetak tanah beserta bangunan diatasnya yang kelak akan disebut sebagai rumah. Hanya saja sampai saat ini, -sebalnya- rumah itu belum rampung juga. Bulan lalu saya sampai geram sekali dengan sikap developer yang manis di awal, begitu dapat duit diam seribu bahasa. Salah saya juga sih, kurang memantau. (Sama sekali tidak pernah memantau) proses pembangunan rumah itu. Meskipun terselip rasa senang karena ada alasan untuk menunda kepindahan. Saya pikir, kalau rumah belum jadi, untuk apa pindah. Memang jarak ke kantor d...

Things to Declutter Part One: Clothes

Image
The most applicable thing to declutter in life is: Clothes. Every one - especially women - must have one or two clothes from their past, hanging in their closet and never wear it for years. Yeah. The 'just in case' thought is mostly the reason of that clothes stay there. Just in case there's special occasion. Just in case its trending again. Just in case .... And before we knew it.. Its been five years there without we ever wear them. Apalagi untuk perempuan.. Memang banyak yang mengira menjadi minimalist itu berarti bajunya harus kaos - polos - monokrom - gak banyak motif - dan seterusnya. Pada prinsipnya, menjadi minimalist dan menerapkan minimalism adalah untuk berdamai dengan diri sendiri. Menemukan kedamaian dari dalam hati, to find the inner peace so the crowd and messed up world out there won't disturb our emotion. Jadi sesungguhnya prinsip apapun, asalkan berfokus pada apa yang benar-benar berarti dalam hidup kita, itu sudah menjadi bagian dari minimalism. ...

How I Found Minimalism

Image
Seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, saya mengenal prinsip ini bermula dari kawan yang merekomendasikan buku Marie Kondo berjudul The Life - Changing Magic of Tidying Up. Sejak itu, saya mulai browsing disana-sini mengenai prinsip decluttering dan akhirnya sampai pada Joshua & Ryan pada salah satu topik Ted Talk. Minimalism is stress relieving. Tanpa saya sadari, selama ini saya sudah dikelilingi terlalu banyak benda yang saya simpan sejak lulus SMA dan kuliah. Buku dan diktat kuliah, bingkai foto beserta beberapa foto yang dicetak untuk kenang-kenangan, kado-kado perpisahan semasa menjelang kelulusan, semua tertumpuk di dua - tiga box container yang selama bertahun-tahun hanya diam di pojokan tanpa pernah digunakan. Saya tidak pernah tahu bahwa benda-benda itu meng-absorp energi positif sampai saya mengeluarkan nyaris setengahnya. I decluttered everything I could eversince. My digital life, friendships, commitments, work life, everything I purged felt like another...