Things to Declutter Part Two: Mind


Yesterday I decided to move out. There's nothing wrong with my current place, it just me.. want to challenge my self with the thing I fear the most: Change.

Setiap orang pada masa transisinya pasti gelisah akan kehidupan yang berubah cepat sekali. Tanpa disadari, saya terhitung sebagai salah satu dari tiga penghuni terlama kost-kost an ini.

Niatan untuk pindah sebetulnya sudah ada, karena saya sudah meminjam uang - sell my soul to the devil for debt - untuk membeli sepetak tanah beserta bangunan diatasnya yang kelak akan disebut sebagai rumah. Hanya saja sampai saat ini, -sebalnya- rumah itu belum rampung juga. Bulan lalu saya sampai geram sekali dengan sikap developer yang manis di awal, begitu dapat duit diam seribu bahasa.

Salah saya juga sih, kurang memantau. (Sama sekali tidak pernah memantau) proses pembangunan rumah itu.

Meskipun terselip rasa senang karena ada alasan untuk menunda kepindahan. Saya pikir, kalau rumah belum jadi, untuk apa pindah. Memang jarak ke kantor dan tempat tinggal saat ini sangat jauh dan setiap orang yang bertanya pasti kaget mendapati jawaban saya dan bertanya "kenapa tidak pindah ke yg lebih dekat" yang biasanya hanya saya jawab singkat: malas.

Saya tidak perlu menjelaskan bahwa, tentu saya akan pindah. Ke rumah yang sedang dibangun agar tidak usah bolak balik angkut barang. Maka sebelum itu rampung, saya bertahan disini. Belum lagi perjalanan pergi dan pulang kantor yang ditempuh selama (rata-rata) 45-60 menit itu bagi saya romantis. Saya amat menikmati lantunan lagu-lagu sendu hingga riang sepanjang perjalanan.

***

It ended surprisingly well. God has already took something from my life. Something that I hold so dearly all this time. Something that I believe, if it doesn't end like I expected, I'll be extremely desperate.

Saya rasa setiap orang pun punya itu. Sebuah keinginan terbesar di dalam hidupnya. Harapan yang menjaga hari tetap indah, karena meskipun hari itu berakhir tidak sempurna, harapan itu masih utuh terjaga. Akhirnya akan seperti apa, memang masih misteri. Tapi justru ketiadaan jawaban itu yang menguatkan harapan itu semakin hari semakin kuat, hingga membuat kita takut.

Takut kalau-kalau tidak berakhir seperti yang diinginkan. Takut kalau-kalau ternyata kenyataan berkata sebaliknya. Takut kalau-kalau justru terwujud dan kita meledak saking bahagianya.

Keinginan yang saya pendam, sudah lama saya tahu akan seperti apa akhirnya. Namun ada saja yang memupuk harapan itu supaya tetap ada.

Sebelum beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menjadi seorang minimalist, dan mengeksplore sebanyak mungkin bahan bacaan tentang minimalist, harapan itu masih sebesar pohon beringin. Kuat dan kokoh.

Perlahan saya mencoba untuk berdamai. Melepas pelan-pelan apa yang masih saya pertahankan. Agar ketika itu semua tidak terwujud, rasa sakit yang datang masih bisa ditoleransi dalam batas wajar.

***

Hari ini saya habiskan waktu di perjalanan. Sembilan jam di pesawat, dan tiga jam di darat. Cukup bagi saya untuk berkontemplasi, dan mengevaluasi diri sendiri.

I did some stupid things. Then what? Everybody does. Saya tidak bisa terus menerus menyalahkan masa lalu. Menyalahkan yang telah lewat hanya akan membuat sedih tanpa merubah apapun. Worse thing worst: living in the past. Hal bodoh yang saya sesali hanyalah menjadi bukti bahwa saya masih hidup di masa lalu.

Ketika saya putuskan untuk meninggalkan itu semua, berterimakasih pada kebodohan, belajar lalu melangkah maju.. Bam! Saya merasa bebas.

Ternyata.. Hal yang paling saya takutkan di masa depan - ketika itu terjadi, tidak seburuk dan sesakit yang saya kira.

Saya takut ketika keinginan ini tidak terwujud, saya akan merasa.. Mati? Atau tidak akan pernah mempercayai apapun lagi? Kecewa? Terpuruk?

Padahal nyatanya, begitu pertama kali saya mengetahui jawaban dari harapan saya: i took it pretty well. Meskipun saat itu masih ada sedikit denial dan harapan bahwa kemungkinan melencengnya masih ada. Tapi ketika hal tersebut benar-benar terjadi.. Saya baik-baik saja.

Tidak marah, apalagi kecewa. Sedih sedikit, tapi lebih kepada menyesal tidak mengikuti kata hati. Yang hanya berlangsung selama satu malam, dan keesokan harinya saya merasa lebih.. Ringan.

***

Harapan, keinginan, kekhawatiran, mimpi, dan ekspektasi adalah bagian dari clutter yang membebani pikiran sehari-hari.

Khawatir disuntik akan sakit, ternyata begitu disuntik hanya sedetik langsung tidak terasa lagi.

It all came from our mind.

Maka detik itu juga saya memutuskan untuk segera meninggalkan yang saya sesali di belakang, dan melepaskan kekhawatiran saya akan masa depan. Berharap, tentu saja saya masih memiliki harapan, yang saya taruh pada tempat-Nya. Harapan itu menjaga saya untuk tetap berpikir positif dan memilih untuk bahagia.

Because the best things in my life.. Hasn't arrived yet. This is my best way to put some hope.

***

To live in the present time and have gratitude each and every day, is the biggest source of happiness. Living in peace means to mind-clearing from all negativity.

You can start by making a list of things that you wished for, or you worried the most. Write it all down and learn to release part by part everyday.

Do not let one day slipped without you releasing one particular part from the list. Karena setiap orang yang hidup, harus selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Menghapus satu demi satu kegelisahan, baik di masa lalu atau masa depan, akan membuat kita lebih menikmati hari ini. Menikmati waktu saat ini. Yang tidak akan terjadi kedua kali.

Comments

Popular posts from this blog

Three Miles a Day

Dwiwarna

Hygge: Enjoying Life's simple pleasure