Skip to main content

Airport

Bandara bagi saya adalah gerbang. Kita keluar dari pintu satu kota, untuk masuk ke dalam pintu kota lain. Begitu seterusnya. Sejak sebelas tahun lalu saya 'meninggalkan' rumah dan hidup berpindah, bandara pun menjadi bagian dari 'rumah' bagi saya.

Lengkapnya emosi yang ditawarkan, membuat saya senang 'melamun' disana. Terlebih, dengan seringnya saya bepergian, most of the time I was traveled alone, melamun menjadi hiburan dan ajang berduaan ~ dengan diri sendiri.

Tidak banyak teman bicara yang dapat saya temui di bandara. Pun saya tidak begitu menyukai small talk dengan stranger.

***

I think its healthy to spend time alone. To evaluate our life, and re-decide the path. Why?

Because life is a constant change of plan.

Is this what we want? Is this what we truly want? Is this the life we chose?

And to me.. watching all these people come and go, hug with cry and laugh, nervous, excited, in rush, is the best time to contemplate.

A young business man ~ or an executive of a private company was once sit next to me in a waiting room. I was reading the book about economic hitman when he asked what book is that. I answered him politely, and keep reading. I can say he's only two or three years older than me. Then he started a conversation, so I close my book.. And listening to him.

He had a cool job, and he believes in astrology. We talked about his zodiac for a second, before his flight was opened. We say goodbye and thank to each other for having a good conversation.

I forgot his name.

I like how Airport can turn me into somebody am not. Because I told him my name ~ but its not my name ~ and I said I am a journalist! Ha. I go to remote area to cover them into magazine. I didn't tell him what magazine it was. And he buy my story.

I know its not honest, and its not good for me to do that. But its fun. And above anything in the world, our happiness should be the first priority.

***

There are hundred of people we've known that will never go back to our life again. Because we're different now. And so they are.

That's what Airport has taught me. About changes. Inevitable moment in life: changes.

People change, the world change, we couldn't be the same person as we are today.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal