Skip to main content

Find Happiness in Minimalism

Pagi ini semua orang dikejutkan dengan meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington. (Pantas saja semalam saya tidak bisa tidur hingga jam tiga pagi). Saya terbangun dengan suara televisi yang diputar keras, memberitakan kematian nya.

Saya pun sedih. Mengingat betapa dulu semasa SMP hingga SMA saya begitu memuja lagu-lagu mereka semenjak kemunculan lagu Numb. Tapi lebih sedih lagi mengetahui alasan meninggalnya, yaitu bunuh diri karena stress oleh candu obat-obatan.

Padahal, Chester memiliki seorang istri dan anak yang lengkap (laki-laki, perempuan, dan kembar). Jika dipikir dengan akal normal, bukankah semua itu mestinya sudah lengkap?

***

Paulo Coelho dalam bukunya The Alchemist menceritakan tentang perjalanan mencari kebahagiaan. That the Soul of the World nourishes by people's happiness. (And other emotions). But happiness comes first.

People are in constant search of happiness. Masing-masing dengan caranya masing-masing mencari jalan menuju kebahagiaan. Ada yang mencarinya dalam kehidupan percintaan, ada yang mencarinya dalam uang, dan ada yang mencari dalam kedudukan serta jabatan.

Kebahagiaan menjadi kunci penting yang diinginkan semua orang.

Lalu dimanakah letak kebahagiaan kita? Our own personal happiness factory?

***

Pada tahun 2010, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kalimantan. Danau Sentarum tepatnya. Taman Nasional yang berada di Kalimantan Barat.

Saat itu ada pertemuan Mahasiswa Pecinta Alam se-Indonesia dan saya menjadi perwakilan termuda dari organisasi saya, dan kebanyakan organisasi lain.

Selama satu minggu saya menjalani keseharian tanpa sinyal, berhamparkan cahaya bulan saat malam yang memantul indah diatas Danau Sentarum yang teramat luas. Saya memilih 'Divisi Lingkungan Hidup', sehingga kami ditempatkan di Balai Penelitian Taman Nasional Danau Sentarum.

Tidak banyak yang bisa saya bawa pulang dari materi-materi yang dipaparkan. Karena kami terlalu fokus dengan indahnya pemandangan, dan bahagianya berkenalan dengan banyak orang. Saya mendapat kawan baru, dan secara otomatis membentuk satu kelompok tersendiri yang hanya terdiri dari 'cewek-cewek mapala'. Ada yang dari UI, Trisakti, dan Universitas di Serang, Banten.

Dari sekian banyak materi, diskusi, hingga perdebatan mengenai lingkungan yang terjadi, hanya satu hal yang sampai sekarang masih saya 'bawa pulang'. Yaitu pesan dari Long Budi, untuk "follow your happiness".

Usia saya baru menginjak delapan belas tahun. Semester tiga perkuliahan. Belum paham betul tentang mengambil keputusan.

Maka pesan dari Long Budi, saya terapkan dengan salah kaprah. Yaitu: kuliah ketika saya mau kuliah, dan bolos kuliah ketika saya merasa bosan kuliah. Sampai pada satu fase tingkat akhir ketika saya sadar bahwa hidup tidak semudah pesan Long Budi, saya singkirkan kebahagiaan saya, dan berjuang untuk mendapat gelar sarjana. Meskipun itu artinya harus menulis sepuluh judul proposal berbeda dan membenamkan diri diantara buku-buku perpustakaan.

***

Tidak ada yang salah dari pesan Long Budi. Hanya waktu yang kurang tepat untuk mengaplikasikan pesan dalam baris kata yang amat luas itu.

Kebahagiaan.. Adalah pedoman utuh bagi seorang manusia, sesuatu yang saya yakini sekarang.

Bahagia itu kita yang buat. Kita yang pilih. Kita yang menentukan.

Bukan bahagia jika masih bergantung pada benda - faktor eksternal dari luar diri sendiri. Seperti televisi yang terus menayangkan iklan komersil 'untuk bisa bahagia.. Anda harus membeli produk A, B, dan C'.

Tidak ada bahagia yang didapat dari perilaku konsumerisme. Membeli dan menumpuk barang sampai menjadi clutter justru akan menghadirkan energu negatif, dari benda-benda yang merasa diabaikan. Merasa tidak berguna dan sedih karena rusak berkarat.

***

Saya mengejar bahagia dalam prinsip minimalism. Dengan mengeluarkan benda-benda yang tidak terpakai lagi, sambil memberikannya pada mereka yang masih membutuhkan. Apresiasi tertinggi bagi sebuah benda adalah ketika digunakan, sehingga saya selalu memastikan bahwa apa yang saya berikan, membawa manfaat dan memang mereka butuhkan.

Mempertahankan ruang sempit rumah saya dengan seluas-luasnya, dengan cara meminimalisir benda-benda yang tidak begitu dibutuhkan adalah cara saya untuk merayakan kebahagiaan dalam porsi intens. Saya jadi punya ruang lebih untuk diri sendiri, dan sekaligus mengapresiasi benda-benda yang saya miliki.

Sebisa mungkin tidak ada benda yang saya simpan - terlupakan di dasar lemari atau box penyimpanan. Dengan menerapkan prinsip minimalism, saya hapal apa saja isi dari box, laci dan rak buku. Sehingga ketika saya membutuhkan sesuatu, saya tahu kemana harus mencari, tanpa perlu membuang waktu.

Di balik semua itu, saya pun mempraktekkan sesedikit mungkin membeli benda-benda secara impulsive. Saya yang tadinya bisa sangat gila when it comes to shopping, sekarang lebih senang sekedar melihat-lihat tanpa membeli. Ketika saya hendak membeli sesuatu yang tidak saya butuhkan, saya akan bertanya pada diri saya 'dimana akan saya simpan benda ini?' Jika masih ada ruang penyimpanan di rumah, dan jika benda itu membuat saya senang ketika menyentuhnya, maka pasti akan saya bawa ke kasir tuk dibawa pulang.

Tentu ada yang berubah dengan kondisi finansial pribadi saya. Tanpa belanja impulsive, saya bisa menekan pengeluaran hingga 50%. Tanpa saya sadari, saya menabung lebih banyak dalam tiga bulan terakhir ketimbang satu tahun kemarin. Terus terang saya baru bisa benar-benar menabung sejak saya memilih untuk menjadi minimalist.

Dan setiap kali saya mengecek jumlah simpanan di akun saya, saya merasa bahagia. It does spark joy. Bukan soal jumlah yang berhasil saya kumpulkan, tetapi kepuasan dalam mengendalikan diri yang diapresiasi melalui angka yang tertera disana.

***

Spark joy. Minimalism adalah tentang mengutamakan hal yang membuat kita bahagia. Membawa kesenangan ketika menyentuh dan memilikinya. Melepaskan benda yang disimpan hanya karena takut nanti akan dibutuhkan, atau merasa sayang pada kenangan yang menempel di dalamnya.

Kita hidup di masa sekarang. Mengkhawatirkan masa depan, atau menyesali masa lalu, hanya akan menyedot kebahagiaan dari diri sendiri.

Jika ingin bahagia, mulailah dengan 'hidup di masa sekarang'. Kita adalah manusia untuk hari ini. Bukan hari esok. Perilaku hari ini lah yang akan menentukan hari esok.

***

Bahagia kita, hanya kita sendiri yang tahu. Buku-buku dan kutipan motivasi, hanya bisa menunjukkan jalan membuka wawasan, tapi tidak untuk mengajarkan caranya bahagia.

Jika tidak sanggup sendiri, temukan orang yang menenangkan untuk dijadikan sandaran. Yang bisa menciptakan bahagia-bahagia kecil dalam momen sesederhana sekalipun. Sendiri memang lebih baik, tetapi tidak perlu mengelak juga jika toh pada akhirnya kita butuh teman dalam perjalanan.

Yang juga harus dipilih secara hati-hati, dengan jernih berpikir, dan tenang. Tidak ada yang salah dalam bersandar sebentar dan menjadi lemah jika dilakukan pada pundak yang tepat.

***

Minimalism adalah tentang perjalanan, bagian dari mengejar kebahagiaan. Menciptakan bahagia kecil, dengan kecukupan, bukan bermewah-mewahan.

Sintang, 21 July 2017, 21.25 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert