Skip to main content

How I Found Minimalism

Seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, saya mengenal prinsip ini bermula dari kawan yang merekomendasikan buku Marie Kondo berjudul The Life - Changing Magic of Tidying Up. Sejak itu, saya mulai browsing disana-sini mengenai prinsip decluttering dan akhirnya sampai pada Joshua & Ryan pada salah satu topik Ted Talk.

Minimalism is stress relieving. Tanpa saya sadari, selama ini saya sudah dikelilingi terlalu banyak benda yang saya simpan sejak lulus SMA dan kuliah. Buku dan diktat kuliah, bingkai foto beserta beberapa foto yang dicetak untuk kenang-kenangan, kado-kado perpisahan semasa menjelang kelulusan, semua tertumpuk di dua - tiga box container yang selama bertahun-tahun hanya diam di pojokan tanpa pernah digunakan.

Saya tidak pernah tahu bahwa benda-benda itu meng-absorp energi positif sampai saya mengeluarkan nyaris setengahnya.

I decluttered everything I could eversince. My digital life, friendships, commitments, work life, everything I purged felt like another weight had been lifted. I felt calmer and more in control of my life. 

***

Langkah pertama yang saya lakukan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ketika saya hendak membersihkan kamar - weekly routine (since I broke up :p ). Tapi kali ini, saya mempersiapkan dua box kosong, 1 box container untuk barang-barang yang akan disimpan, dan 1 kantong sampah untuk barang-barang yang sudah tidak diperlukan.

Saya lalu membagi benda-benda yang berada di dalam box container kedalam tiga kategori: simpan, donate, buang. Yang disimpan tentu saja yang masih digunakan saat ini. Beberapa benda yang saya pikir akan saya gunakan nanti saya masukkan di kotak donate karena ternyata setelah bertahun-tahun tersimpan disana, saya pun tetap tidak menggunakannya. Jadi mugkin akan lebih berguna jika dimiliki oleh orang lain yang membutuhkan. Benda lainnya yang hanya saya simpan sebagai kenang-kenangan, dengan berat hati saya masukkan ke kantong sampah untuk dibuang (yang ternyata sebagian diambil oleh asisten rumah tangga yang biasa membersihkan bak sampah).

Di langkah awal ini saya belum memasukkan kategori sell karena selain masih belum pede, saya juga belum tahu kemana harus menjual barang bekas seperti ini.

Dari hasil mengeliminasi tersebut, diperoleh dua box besar - seukuran kardus rokok- yang saya donasikan untuk para pembantu rumah tangga. Sebagian besar isinya adalah baju-baju perempuan, dan bahagia sekali rasanya ketika keesokan hari saya mendapati mereka menggunakan baju-baju saya.

***

Sampai saat ini pun saya masih harus mengeliminasi beberapa benda, let's say dari hasil pembersihan tahap pertama tadi saya hanya berhasil mengeliminasi sekitar 40% benda di dalam rumah, sedangkan yang saya gunakan sehari-hari tidak lebih dari 20%. Artinya masih ada 40% lainnya untuk dikeluarkan, dan ini merupakan bagian tersulit. Ibarat lapisan, 40% yang telah dikeluarkan tadi adalah lapisan terluar, yang hanya sedikit attachment dalam kehidupan saya sekarang, sedangkan 40% yang berada di lapisan kedua, ini sedikit banyak masih saya manfaatkan sesekali untuk - entahlah - kadang mengisi waktu, kadang hanya untuk dilihat-lihat saja.

Untuk itu prinsip ini masih terus membutuhkan eksperimen-eksperimen, try and error. Seperti kata Marie Kondo, bahwa kita bukanlah harus mengeliminasi benda, tetapi memilih mana yang untuk disimpan.

Sejak saat itu saya memberi waktu bagi diri sendiri untuk merefleksikan keseharian. Apakah benda ini saya gunakan? Apakah benda ini kelak akan saya gunakan? Apakah benda ini akan lebih baik dan bermanfaat jika digunakan oleh orang lain? Apakah benda ini spark joy?

I promise I'll write it down when I get to second stage of decluttering.

Karena sejak saat itu saya menemukan sumber kebahagiaan baru, dan merasa lebih ringan ketika barang-barang itu didonasikan dan keluar dari ruangan. Hal-hal baik dan positif pun berdatangan seiring dengan meningkatkan positive vibe yang ada di dalam diri sendiri. Law of Attraction is working this way, the universe isn't do the revenge to you. It gives what you reflect. Positivity will come to you if you spread positivity to the world. 

Dan jika minimalism membantu anda menemukan positivity, then embrace minimalism. We don't need more stuff.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …