Skip to main content

Berjalin Berkelindan

Saya pikir, kalau malam ini masih bisa nulis, berarti tulisan ini memang seniat itu.

***
Wise man once said, life is a scattered dot. It's never random at all.
Tuhan kita kerap memberi panduan dengan teka-teki, supaya manusia-Nya berpikir, berakal, dan mau memahami. Salah satu teka-teki yang Dia beri, adalah dengan 'acaknya' susunan ayat di dalam Al-Quran. Yang hanya jika kita lihat dan telaah lebih dalam, susunan acak itu ternyata saling terkoneksi satu sama lain, membentuk pola bangunan utuh. Seperti titik-titik yang tersebar, saling berjalin berkelindan satu dengan lainnya, hanya bagi mereka yang memiliki ilmu.

Seolah ingin mengatakan bahwa, hidup juga demikian. Satu kejadian dengan kejadian lain seperti acak dan tidak saling berkaitan. Tapi lama setelahnya barulah kita tahu, kenapa itu semua terjadi.

Salah satu teka-teki di dalam Al-Quran yang berhasil dipecahkan dan disambungkan scattered dot nya adalah di Surah Sad lihat di sini.

Malam ini, setelah hangout online jilid 2 sampai jam setengah dua (yang pertama sampai jam 1) pagi, saya jadi ingin menulis sesuatu tentang hal yang tampak acak, tapi ternyata saling berkaitan.

Dari satu cerita ke cerita yang lain, baik itu yang diceritakan di forum tadi atau cerita-cerita terpisah yang pernah disampaikan pada saya, ada satu kesamaan yang menghubungkan semuanya.
Semua cerita itu sama, sama-sama tentang keinginan yang belum terwujud. Entah apapun itu, mulai dari urusan percintaan sampai karir. Juga semuanya itu sama-sama punya masa lalu yang belum selesai.

Seolah ingin menandakan bahwa, jika ingin mendapatkan apa yang kita mau, maka kita harus bisa dulu menghadapi masa lalu yang kita lari darinya. Bukan itu mencari pahala, apalagi membahagiakan si masa lalu itu, tapi semata-mata untuk membuat diri kita lepas. Mungkinkah itu definisi ikhlas? Memberi ruang kosong pada hati, dengan melepas apa yang selama ini menjadi penghalang dan clutter yang tak kunjung dibuang?

Pertanyaannya adalah.. bagaimana cara menyelesaikan dan berdamai dengan masa lalu?
Jika itu hubungannya dengan orang lain yang berbuat salah pada kita, apakah dengan memaafkannya? Bagaimana jika dia tidak minta maaf?
Jika itu hubungannya dengan keinginan orang tua yang bertolak belakang dengan kita, bagaimana menyelesaikannya? Menasihati orang tua tentu bagaikan menggarami Danau Toba. Tapi untuk mengikuti keinginan mereka, hati ini juga terganjal dan tidak senang.

Apakah mengikuti senang nya hati, adalah hal yang paling utama dalam hidup?
Jika tidak, bagaimana jika kita harus terus menerus berkorban perasaan, menjalani hidup dalam kesedihan, hingga lupa caranya menikmati hidup dan harus terus menerus mengingatkan diri untuk bersyukur padahal syukur seharusnya menjadi aksi paling tulus yang tidak perlu dibuat-buat?

Ragam masalah itu, ternyata semua memiliki kesamaan jenis akar.
Sekarang yang terpenting adalah, bagaimana seseorang itu memanuver jalan cerita, karena tentu permasalahan itu tidak akan kunjung selesai kecuali memang sudah ajal.

***
Bogor, 7 Juni 2020
01.19
"Terima kasih wa so beken snang hati"
itu kalimat terakhir almarhumah untuk saya, yang tidak akan pernah saya lupa.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert