Skip to main content

Day 7: Life After Tidying-Up

 



Saya tiba di rumah lewat pukul sepuluh malam. Disertai dengan rintik lembut, dan obrolan abang gojek malam tentang aplikasi yang eror hari ini. Padahal saya tidak bertanya, tapi abang itu seperti menjawab pertanyaan saya dengan kesalahan sistem yang terjadi sore tadi. Kejadian yang kami alami berada di waktu yang sama, sama-sama tidak bisa berkomunikasi antara pengemudi dan penumpang, dari sisi saya sebagai penumpang, kami hanya diberi notifikasi gagal tanpa tahu bahwa jika mengulang pesanan, saldonya terambil. Dari sisi pengemudi, pesanan itu masuk namun tidak bisa menghubungi penumpang dan tidak bisa juga membatalkan pesanan.


Kejadian sore tadi mengarahkan saya pada hal lain lagi, yaitu sebuah percobaan penipuan. Saya melapor ke twitter, lalu dibalas oleh akun serupa, yang tidak saya cek username nya. Dengan polosnya mengklik tautan menuju chat pribadi, dan diminta mengisi formulir keluhan. Harusnya saya curiga. Tapi kejadian sehari ini --ditelepon berulang kali oleh asuransi spam yang either saya reject atau saya biarkan-- sampai diberi pertanyaan tidak menyenangkan dari peserta training yang butuh kepastian pekerjaan. Kami kan penyelenggara pelatihan ya bukan agen pencari kerja, jadi tidak mungkin kami menjanjikan bahwa setelah ikut pelatihan ini, situ bisa langsung dapat kerja.


Badan juga baru terasa pegelnya setelah enam hari beberes rumah. Padahal selama enam hari kemarin, tiap bangun tidur selalu segar bugar dan bisa langsung angkut-angkut sana sini, pilah-pilah dan bersih-bersih. Setelah rumah bersih dan nyaris kosong, baru deh dia mulai, leher sebelah kanan, lengan kanan atas, pinggang kiri.. koyo.. koyo.. koyo.


Jadi saya tidak lagi sempat curiga dengan tautan form yang diminta oleh admin gojek bodong itu. Hingga muncul satu pertanyaan; nomor PIN gopay. Yah.. sudah ni jelas bodong. Sebelum saya submit, saya screenshot dulu dan kirim ke twitter. Ternyata setelah itu ada tiga orang asing yang memberi peringatan kalau itu akun palsu. 


Karena kesal, saya kembali ke whatsapp dan mengirimi pesan ke admin bodong itu.

'jahat ih' begitu saja yang saya tulis. Saya dibalas dengan emoticon terbahak yang banyak sekali. Lalu dia mengirimi foto-foto alat kelamin sampai banyak sekali. Akun tersebut langsung saya report dan block. 


Saya tidak sedih karena saldo saya hilang tersedot oleh sistem yang sedang eror, karena saya tahu itu akan kembali lagi kalau memang masih hak saya.

Saya tidak sedih juga karena nyaris ditipu, karena toh PIN itu tidak pernah saya ketik walaupun form nya tidak sampai di submit juga.

Saya sedih karena kok masih ada orang sejahat itu.. cari uang dari hasil menyengsarakan orang lain.


Yaa.. memang ya ini peringatan. Lagi-lagi saya kembali menjadi perempuan naive seperti yang kawan saya pernah bilang malam itu. 


Ingat ya, Nak. This world is real. Don't expect that everyone will have the same heart as yours. Bahkan rekan yang mungkin menunjukkan minat terhadap ide-ide mu, bisa saja suatu hari nanti ternyata bukan untuk membantu dan justru sebaliknya. Bisa saja. Jadi mulailah sekarang, bangun bentengmu lebih tinggi lagi, keluarkan semua rasa percaya mu terhadap orang lain yang belum pasti setianya. Jangan percaya apapun yang mereka katakan, hingga mereka benar-benar membuktikannya.


Sekarang bukan hanya ruangan rumah saja yang clear and empty, tapi pikiran saya juga jadi punya area kosong yang menyediakan cukup ruang untuk menelaah ulang. Terutama menelaah relasi yang sudah saya jalin selama ini. 


Sekali lagi Ibu kasih tahu ya, sayang.. jangan pernah percaya sama orang lain sampai dia betul-betul membuktikannya. 

***


Saya masih mempraktekkan memulangkan barang-barang ke rumah masing-masing sesaat setelah saya masuk ke rumah. Purse, wallet, kotak masker, sanitizer, powerbank, sajadah lipat, mukena, semua saya kembalikan ke tempat masing-masing. Tidak sulit rupanya, dan hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Kalau selama ini benda-benda itu selalu berada di dalam tas hingga nanti waktunya ganti tas, sekarang mereka akan selalu berada di dalam ruang masing-masing hingga nanti waktunya saya pergi lagi. Mungkin sekarang masih bisa karena saya jarang pergi-pergi, gak tahu nanti kalau setiap hari keluar rumah apa tetap masih bisa seperti ini. Tapi ya mudah-mudahan sih konsisten. Hanya tas dan cooler bag saja yang belum bisa pulang  ke rumah mereka, karena masih agak basah atau lembab, kena gerimis di luar tadi.


Mbak Marie pernah kehujanan gitu gak ya.. trus kalo kehujanan, isi tas basah semua, dia taro di mana ya barang-barangnya.. hmm..

***


Sedih saya hilang tadi setelah sholat. Begitu salam, hujan turun dengan agak deras. Saya suka sekali suara hujan. Apalagi kalau malam begini, atau pagi hari seperti tadi pagi. Saat itu juga saya berdoa, dan tak lupa saya ceritakan tentang kejadian tadi. Juga tentang penjual di toko online yang sudah tiga kali saya dikecewakan oleh tiga penjual berbeda.


'Kenapa ada orang jahat sekali ya.. Ya Allah..' 

Kemudian, sebetulnya saya memang biasa mengalokasikan waktu untuk Quran di antara Magrib-Isya, tapi biasanya kalau habis pergi-pergi gini saya selalu absen. Kecuali malam ini, saya tergerak dan sepertinya ada jawaban di situ. 

Dan benar saja, ayat pertama yang saya baca malam ini, tentang orang-orang jahat yang menerima hukumannya di neraka. Saya baca hingga paragraf selanjutnya, masih tentang percakapan orang-orang yang mendapat ganjaran di hari nanti. 


Saya tahu, Al-Quran punya makna yang sangat dalam, bahwa terjemahan saja tidak cukup. Tapi, bukan berarti terjemahan saja tidak perlu dibaca atau dijadikan pegangan. Kalau kata Nouman Ali Khan, Al-Quran itu seperti lautan, it's all sparkly and green and blue and beautiful on the surface, but the deeper the darker, and there are layers to uncover. Jadi meskipun permukaannya nampak indah dan gemerlap, bukan berarti dia tidak tepat. 


"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.

Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.


Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (QS Al-A'raf 40-42)


Saya tahu Surah Al-A'raf ini indah sekali, apalagi ayat 57 kalau dibedah kata per kata, pilihan grammar yang digunakan, susunan kata --kenapa tumbuhan ini disebut duluan ketimbang yang lain-- itu saya suka sekali walau tidak hapal semua. Tapi, karena saya belum mampu sampai ke sana, juga belum mampu mengingat ceramahnya, jadi saya gunakan saja terjemahan apa adanya. Segini saja sudah cukup bikin hati tenang.


Bahwa ada balasan untuk orang yang berbuat jahat, dan ada balasan untuk orang yang berbuat baik. Tadi siang juga saya nemu di twitter, video pendek tentang safron yang mahal sekali harganya. Itu buat saya jadi motivasi, untuk nanti bisa masuk surga. Supaya bisa pakai safron sepuasnya. Pun karena sakit hati sama seller essential oil, yang saya beli dengan harga lumayan plus saya pakai opsi ongkos kirim berbayar (bukan gratis ongkir) supaya datangnya lebih cepat, tapi ternyata dia mangkir dan justru baru mengirimkan pesanan saya dua hari kemudian. Jadi motivasi untuk mengejar surga, supaya bisa pakai essential oil sepuasnya dengan wangi apa saja yang saya mau. Thieves, peppermint, lemongrass.. kalah. Kalaah.


Jadi gapapa aku di dunia cukup puas dengan essential oil yang cuma beberapa botol, kalau mau beli ya harus perhitungan, ya gapapa. (Tapi kalau bisa nanti lebihin lah ya Ya Allah), asal kalau ku pulang nanti pulangnya ke surga. 

***

Pulang ke rumah setelah berinteraksi dengan begitu banyak orang, lantas mendapati dinding dan ruang kosong, memang sangat menentramkan. Waktu saya berangkat pun ada pikiran buruk sempat terlintas yang langsung saya tepis cepat-cepat. Namun, tetap saja ada rasa tenang, karena saya ingat bahwa rumah sudah tertata. Seperti memudahkan untuk pergi kalau-kalau waktunya tiba. Ternyata bebenah dengan teknik Marie Kondo ini juga bagian dari menyiapkan mati. Karena kita sudah terbiasa melepaskan kelekatan dengan barang-barang, jadi cuma sedikit keduniawian yang masih nyangkut di hati. Itu pun hanya yang benar-benar memberi kesenangan.


But if I die.. please for the love of God.. jangan bikin buku yasin with my picture on it please. Pertama, aku malu mukaku dicetak banyak, lalu dibawa-bawa orang. Kedua, mereka yang sayang samaku pasti sedih kalau lihat fotoku yang lagi senyum begitu, ku gak mau bikin mereka sedih, karena aku nya lagi senang-senang minum-minuman enak, wkwk. Ketiga, kasihan nanti mereka ga tega buang bukunya, tapi kalau disimpan juga gak praktis untuk dibaca. 


Bagiin makanan aja, yang banyak... Kasihin ke random people, anak yatim, mahasiswa rantau, dan kotaknya kalau bisa pake besek bambu aja. Trus isi makanannya yang spesial, jangan yang biasa-biasa aja. Nasinya yang pulen, aku pun gasuka kalo nasinya ga enak.


Speaking of rice, selain ratu procrastination dalam urusan pekerjaan, saya juga jago menunda-nunda makan. Seharian tadi keasikan juicing sampai gak sadar sudah siang dan belum siapin apa-apa untuk makan siang. Yang niatnya mau langsung berangkat dan makan di stasiun, malah jadi berangkat sore dan sudah ga sempat ngapa-ngapain lagi karena sudah terlambat. Akhirnya, dirapel di makan malam. Jadinya sekarang.. ya kumat. Karena si menu yang kumakan tadi, udah diminta ga pedes.. tetep dikasih cabe. haha


***


Btw saya mau menunjukkan ide brilian nan cemerlang yang akan mengundang standing applause di konvensi PBB yang saya ceritakan kemarin:

Sebelum tidying-up.

Setelah tidying-up tapi hanya sebelum tidur. Begitu bangun tidur, digeser lagi balik ke posisi awal.


Brillian ya? Cerdas ya? Sekarang saya jadi bisa punya waktu untuk kasih a second chance untuk buku-buku yang sudah dikeluarkan dari rak. Ada buku yang langsung saya masukkan kotak donasi, tapi banyak juga yang saya masukkan ke kotak second chance. Setelah saya baca ulang, baru akan diputuskan apakah masuk kotak donasi, atau kembali pulang dan bercengkrama dengan buku-buku lain. 

Maksudnya ini posisi lampu digeser sampai ke deket kasur kok ya baru kepikirannya sekarang gituloh 😅

***

Bogor, 18 Januari 2021
Hujan makin deras.. kusukaa. aku suka hujan.. sukaa sekali hujan. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Archived

Show more