Berhenti Sejenak

 


Pada hari ini, 21 Januari 2021, masih kita dapati banyak sekali berita duka. Berita-berita kepergian sanak saudara, dari teman yang kita kenal melalui sosial media. Satu persatu memajang gambar wajah muda belia, cantik jelita, tampan rupawan, yang telah dipanggil duluan. Apakah pandemi yang merenggut mereka? Atau sebab lain, dan semua atas nama ajal? Entah. Tidak perlu kita tahu sebab kepergian dari orang yang bahkan namanya pun baru kita dengar hari ini, tapi cukup jadikan sebagai pengingat, bahwa waktu kita pun semakin dekat.


Belum habis sampai di situ, satu persatu berita bencana alam berdatangan. Banjir bandang di area pegunungan, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung.. belum habis duka setelah kepergian mendadak sebuah pesawat yang hilang kontak dan ditemukan dalam kepingan, kini kita harus menyaksikan gambar-gambar rumah yang luluh lantak diterjang alam.


Di sini, hari ini, di rumah ini, saya habiskan waktu seharian bekerja keras memeras otak. Dengan lantunan syahdu musik jazz tetangga (yang diputar setelah saya protes dangdutnya), gerimis tipis yang datang dan pergi, serta udara dingin namun lembut yang berhembus seharian. Tanpa televisi, dan jika saya tidak menengok isi berita, tentulah tidak akan tahu bahwa di luar sana, ada mereka yang tidur di dalam tenda, meringkuk kedinginan, mencari kartu identitas di sela reruntuhan, demi mengakses bantuan berupa mie instan.


Tulisan ini saya tulis, karena baru saja saya mendapat pesan dari sepupu di Gorontalo mengabarkan tentang gempa dahsyat yang baru saja mampir menyapa. Saya hanya merespon dengan doa yang sangat singkat, karena hanya itu yang bisa dilakukan. Di sini, sendiri, jauh dari mereka, jauh dari semua orang, bahkan jauh dari Eyang yang sedang mengungsi mengantisipasi bencana banjir.. yang membuat saya tidak tahu harus merasa apa.


Bersyukur kah karena mendapat udara sejuk dan cuaca romantis? Atau sedih berkepanjangan karena tidak bisa membantu siapapun secara signifikan.


Kita ini sangat kecil, sayang. Sungguh sangat kecil. Kita bahkan tidak punya kontrol terhadap waktu kita sendiri. Bangun tidur, lalu mempersiapkan bahan meeting. Waktu dihabiskan untuk meeting dan tahu-tahu hari sudah gelap. Jelang tidur kita belum selesai mencoret semua daftar yang ingin dilakukan hari ini, and before we know it.. boom.. we're old.


Kematian sedekat itu dengan keseharian, tapi kita pernah ingat untuk menyiapkan bekal untuk perjalanan nanti. Masih terus saja membuang waktu untuk hal tidak berguna, seperti memendam rasa sakit hati akibat lisan yang tidak dijaga. Sudah sudah. Sudahi semua. Sudah.


Fokus hanya pada apa yang penting untukmu. Apa yang mendatangkan tentram dalam jiwa, dan tidak usah peduli apa kata orang. Biarkan mereka berbicara, bergema dalam ruang-ruang kosong pikiran yang mereka bangga. Urusanmu hanya dengan Tuhanmu, hanya itu. Selama kau tidak merugikan orang lain di sekitarmu, dan terus menghadirkan kebaikan dalam segala bentuk yang kau mampu.


Pada bencana yang kian merajalela,

Pada berita duka yang terus kau baca dan kau dengar,

Pada waktu yang terus menerus melintas.

Sudah saatnya kita berhenti sejenak sekedar tuk mengeliminasi apa yang sebetulnya patut kita kejar.


Karena jika itu harta, bencana akan menyapunya dalam hitungan detik dan menit.

Jika itu bahagia, kematian akan merenggutnya tanpa pernah kau duga.

Pastikan apa yang paling patut untuk dikejar, karena dunia ini terlalu sementara untuk dijadikan tempat bersenang-senang belaka. 

Sadari bahwa yang paling patut untuk dikejar, bisa jadi tidak mendatangkan kebahagiaan yang terus menerus. Akan ada pahit yang menyertai, ketakutan, gelisah dan cemas. Akan ada lelah, keringat, ujian, air mata, dalam setiap tahap yang kau tempuh untuk mendapatkannya. Sadari bahwa dunia bukanlah tempat bersenda gurau, walau memang ini semua hanya lelucon tingkat tinggi. Bukan di sini tempat bahagia selamanya, sayang. Jadi jangan kau pikir akan kau dapati itu setiap hari sampai kau mati.

***


Kita hanya harus semakin terbiasa. Pada harapan yang tak pernah terungkap oleh lisan, namun juga tak kunjung nyata. Bahwa hati hanya bisa berharap, berdoa, merengkuh keinginan dalam-dalam, namun akal tetap dalam keberterimaan. Kita boleh berencana tuk hidup selamanya, namun semesta pun akan bosan melihat pongah manusia yang kian pelupa. 

***

Saya pikir, akan cukup adil jika kita mulai memperlakukan waktu sebagaimana ia layak diperlakukan.  Tidak membuangnya terlalu banyak hanya untuk menimbang sebuah keputusan besar yang dihantui ketakutan.

Oh yeah, baby, growing is painful indeed. Tidak ada yang lebih menyeramkan dari sebuah pertumbuhan. Bahkan saat bayi beranjak dewasa pun, dia akan selalu menangis kesakitan. Tumbuh gigi, menstruasi, gejolak emosi, semua berbaur menjadi sesuatu yang amat membingungkan. Tapi kan kau bukan bayi lagi. Kau adalah manusia dewasa sekarang. Yang sudah harus mulai memilih jalan hidup yang patut kau kejar, karena boleh jadi waktu yang kau punya, hanya sekarang.


***

Bogor, 21 01 2021

Jika datang padamu suatu masa, di mana kau harus membuat sebuah pilihan. Hati kecilmu bersuara lantang, memintamu mengambil satu yang paling menantang. Ambillah. Yakinlah bahwa dia tidak pernah salah. Suara di dalam dirimu, yang berteriak-teriak meminta perhatianmu, itulah yang benar yang patut kau kejar. Dia tahu ke mana kalian harus menuju. Jika bimbang datang menyapa, akal mu patut waspada, karena bimbang bisa saja datang dari bisikan mereka, yang tidak senang jika kau bahagia. O yeah, sayang. Orang-orang seperti itu, mereka ada. I learned it the hard way, but I never regret the choices I made when following that tiny little voice inside my head. 

Comments

Popular posts from this blog

Three Miles a Day

Dwiwarna

Hygge: Enjoying Life's simple pleasure