Skip to main content

Decluttering Day 4: The Homeless in my House

 



Sebagaimana chapter dalam buku, hari ini saya masuk babak ke-empat dari keseluruhan proses tidying-up. This is the rightest way to begin the change of life --life changing experience doesn't have to be travel far to the outside world, travel far to the inside could also do-- and Marie Kondo is 90% right about this process.


Proses penyimpanan adalah memastikan semua benda memiliki rumah, karena sumber dari clutter adalah karena benda-benda itu tidak punya tempat khusus untuk mereka berteduh. Put items based on category, every single one of them should have a designated spot. 


Jadi saya mulai mengkategorikan benda-benda. Mudah untuk pakaian, sulit untuk komono atau printilan. Sekarang, masalah baru mulai datang. Dan benar kata Marie Kondo, ini seperti menyusun jigsaw puzzle yang butuh fokus mendalam. Kenapa saya bilang ini adalah masalah baru? Begini..


I have a thing with commitment, okay.

I can't even permanently nail the cables to the wall karena saya masih sering berpindah sesuai mood, kalau kerja di meja ruang tamu, ya kabel panjang itu saya julurkan sampai ke ruang tamu. Kalau saya kerja dari kamar, kabel panjang juga saya biarkan menjulur di kamar. Toh masih belum ada anak kecil yang rawan tersandung ini. The only person who will be harmed to that possibility is me, and I'm a very careful daughter so you really can count on me.


Untuk itu sejak pindah ke rumah ini, sedikit sekali furnitur yang saya beli. Saya hanya akan beli furnitur jika saya benar-benar tahu apa yang saya mau. When I have a clear vision on how I want it to be, then yes.. I'll have it. Seperti ranjang. Sudah jelas di kepala saya jenis ranjang seperti apa yang saya mau, ukurannya berapa, bentuk dudukannya seperti apa, bantalannya seperti apa, dan design nya (ini yang terpenting) seperti apa. Kalau sudah begitu, saya tidak bermasalah merogoh kocek lebih dalam untuk memesan lewat furniture custom. Dan biasanya, untuk setiap alasan pemilihan baik dari ukuran hingga design, saya punya alasan tersendiri.


Furniture selanjutnya yang saya beli adalah rak buku, karena ya jelas. Saya punya beberapa buku, dan sejak baca buku Marie Kondo empat tahun lalu itu saya jadi mau punya spot yang kalau dilihat bisa bikin hati senang. Memajang buku adalah salah satu cara menyejukkan mata, jadi saya tahu jenis rak buku seperti apa yang saya mau, dan langsung saya dapat di pandangan pertama waktu ke informa.


Setelah itu, nyaris tidak ada lagi furniture yang saya beli. Kecuali sepasang meja kerja dan meja kopi, itupun belinya impulsive karena patungan sama ex-housemate dulu. Tapi walaupun impulsive, saya sudah mengkalkulasi, kalau meja pasti terpakai. Dan design meja emang gimana sih, ya sudah angkut saja. Waktu itu karena lagi ada promo satu set dapat empat item; dua meja, satu rak buku dan satu meja tivi. Ex-housemate ingin rak buku dan meja tv, jadi saya pikir ya ga apa saya yang meja-meja. Bertahun kemudian, meja-meja itu masih sangat berfungsi dan terpakai hingga detik ini.


Membeli furnitur bagi saya seperti.. menikah membeli rumah itu sendiri. Karena, sekali dibeli sudah tentu tidak bisa dibatalkan. Kalau ternyata saya tidak suka, ya.. harus deal with that. Sampai hari ini saya belum punya lemari. Masih betah dengan menggunakan laci-laci bawah ranjang, di mana semua baju saya muat di situ dengan sedikit bantuan dari koper yang saya letakkan di sudut depan ranjang. Itulah kenapa saya sangat ketat terhadap urusan baju, dan proses decluttering baju tadi tidak sampai tiga puluh menit. Karena sekarang saya sudah tahu bahwa I changed a lot as a person, bukan changed in terms of ganti baju, tapi changed personality. Dan tiap kali saya sedang berada di level berbeda, selera berpakaian saya pun beda. Untuk itu saya tidak mau banyak-banyak menimbun baju. Because when I'm not that person anymore, those baby gotta find their new home (read in New Orleans' accent). So yeah, kinda change my clothes when I have a different level of personality.


Lagipula, entah berapa kali sudah saya tulis ini, saya suka ruang kosong. Dan furnitur hanya akan mengurangi ruang kosong itu. Kalau saya beli lemari, yang nantinya akan menggantikan posisi koper di depan ranjang, maka itu artinya, di depan mata saya sebelum tidur setiap hari, akan ada sekotak kayu yang memperpendek jarak pandang. Ugh.


Untuk storage system, saat ini saya hanya punya satu buah laci plastik. Itupuuun, yang dibeli 11 tahun yang lalu waktu baru lulus TPB. Glad that I bought the brown one instead of red or pink or some cheesy plastic colour. Setidaknya warna coklat masih cukup netral, dan walaupun tidak sesuai dengan tone design rumah ini ya cukuplah untuk menyimpan barang-barang. Laci plastik coklat itu kini berisikan barang per kategori yang benar-benar dipilah per itemnya. Beberapa benda sudah pulang dengan aman, dan sudah kembali memenuhi ruang kamar depan.


Tapi saya masih mengerutkan kening untuk beberapa item yang tidak punya kategori; helm dan jas hujan, misalnya. Dulunya, saya adalah pengendara motor ulung. Tapi sejak tiga tahun lalu, motor itu saya jual karena malas urus pajak dan saya beralih dengan kendaraan online. Sejak itu juga jaket dan raincoat ini tidak saya gunakan. Raincoatnya jelas lumayan pricey, karena dulu, ini selalu saya bawa untuk ke lapangan. Jenis raincoat yang bisa dibawa ke gunung dan hutan. Tentu tidak bisa saya discard, dan tidak juga spark joy sebetulnya. Tapi kan Mbak Marie tidak bisa juga memaksa saya untuk melepaskan yang belum mau saya lepaskan. I mean.. Mbak Marie selalu bilang, kalau nanti butuh kita bisa beli lagi, tapi buat saya, beli lagi ni yang paling peer. Saya sangat sangat picky terhadap membeli barang, picky terhadap design/modelnya, warnanya, daan yang terpenting, harganya. Ketemu satu yang paling pas itu rasanya.. ah udah deh lo aja sini gue bawa pulang.


Jadi walaupun mereka berdua ini tidak spark joy, tapi kalo disuruh beli lagi nanti ya males juga. Hanya saja saya harus mengerutkan kening lebih dalam untuk mengkategorikan mereka, dan meletakkannya di mana. 


Boneka. Big teddy Brown bear. Jelas dia tidak punya rumah di rumah ini. Saya juga tidak tahu, tempat untuk menaruh boneka sebesar ini harusnya di mana. Ini juga yang ngasih dulunya si ex. Tapi masih saya simpan bukan karena apa-apa. Saya dulu punya banyak sekali boneka, yang semua dikasih sama mantan yang sebelum yang kemaren.. (so like the previous ex), trus saya buang semua karena kita putus dan saya punya pacar baru. Lalu saya menyesal. Because I love teddy bear so much, dan harusnya gak saya buang hanya karena putus gitu. Makanya yang ini, yang satu-satunya boneka yang dibelikan selama lima tahun pacaran ini, masih saya simpan karena saya sukaa boneka.


That sad fat creature


Udah gitu lebih bagus teddy bear yang saya buang-buang itu semua pula.. lebih soft dan fluffy. lol.


Lalu saya juga ingin memindahkan meja kerja. Selama ini saya selalu berkurung diri di kamar, karena meja kerja nya hanya ada di sini. Saya ingin pindahkan ke ruang tengah, supaya kalau kerja bisa sambil lihat ke luar. Segala macam pengaturan sudah saya lakukan di dalam kepala, seperti jigsaw puzzle tadi, tapi tetap saja masih buntu. Ada satu persoalan yang belum berhasil saya pecahkan yaitu: meja kerja ini sekarang berfungsi juga jadi meja rias. Jadi ya saya kerja di situ, skincare-an di situ.. karena cermin yang saya punya saya letakkan di situ. Kalau meja ini saya pindahkan, berarti tidak ada tempat lagi untuk cermin dan harus digantung. And since I have a problem with commitment, dan tidak suka ada paku di dinding yang belum jelas peruntukkannya, atau hanya bersifat sementara.. jadi saya menghindari memaku cermin di dinding.


Sehingga, mau tidak mau pilihannya hanya; meja kerja tetap di tempat dan saya hidup seperti biasa, atau mengalami perubahan luar biasa dengan memindahkannya ke luar, dan beli meja rias sebagai gantinya.


Oh no. Meja rias is the last thing I want.

Akhirnya, sebagai procrastinator sejati, saya menunda memikirkan itu dan beralih ke decluttering pakaian. Yang tadi saya bilang tidak sampai tiga puluh menit. Lalu masalah lain lagi timbul: sekarang saya sadar bahwa pakaian saya semakin sedikit. Artinya memang yang saya punya hanya yang esensial saja, dan semua benar-benar saya ingat keberadaannya. Tidak ada lagi pakaian yang terlupakan di sudut penyimpanan. Hanya saja.. penggunaan koper jadi kurang efektif lagi. Karena apa yang berada di paling dasar koper, itu yang paling tidak pernah dipakai hanya karena susah diambilnya. Padahal masih oke kalau mau mix and match.


Jadi sekarang saya punya dua pilihan; bisa saja saya tetap pindahkan meja ke ruang tengah, dan untuk urusan rias dan lemari, ya tinggal beli set meja rias dan lemari.


But oh boy.. membayangkan nya saja saya sudah malas. That big fat wood inside my bedroom.. 

Belum lah. Belum. 

Nanti saja kalau memang sudah harus. Kalau masih single begini, saya ingin menikmati ruang kosong dulu. Terlalu beban kalau sudah harus punya barang sebesar itu sekarang.


Jadi saya habiskan satu dua jam scrolling. Fabelio. Dekoruma. IKEA. Informa. Tokopedia. You name it. Semua saya sambangi untuk mencari satu item; lemari yang bisa menggantikan posisi koper, tapi tidak mengganggu pandangan mata. Artinya, tingginya harus tidak terlalu tinggi, dan lebarnya juga tidak terlalu lebar. Karena space yang saya punya di situ hanya 66 cm (yes I measured it precisely), dan tidak mau menutupi tulisan today is a good day yang bikin senyum tiap pagi. 


And.. voila! Ketemu! Saya nyaris putus asa, karena rata-rata lemari kecil, bahkan lemari anak, lebarnya 80cm. Saat hampir menutup aplikasi dan menyusun ulang strategi baru, saat akhirnya saya menemukannya! Sebuah laci-lemari- apalah namanya, yang sebetulnya berfungsi untuk menyimpan mainan anak. Which is good by the way, karena walau saya tidak suka komitmen, saya tetap ingin punya anak suatu hari nanti. Jadi kalau saya pakai drawer set itu, nantinya pas beli lemari beneran, drawer set itu akan tetap berfungsi dan tidak terlupakan. Beda dengan kalau beli lemari kecil. Lemari kecil juga ada sih, tapi tingginya dua meter, jelas-jelas memperpendek jarak pandang, dan nanti kalau sudah punya lemari yang lebih besar, dia kalah saing. Kasian kan.


Kalau beli drawer set ini, dia tidak akan kalah saing dan akan tetap berguna. Insya Allah seperti laci coklat plastik yang bertahan belasan tahun. Saya sangat bersemangat karena walaupun harganya amat murah, diapun tetap stylish. Terhadap design, saya gak bisa dinego. Biar kata murah kalau design nya gak spark joy, I won't take that.


Lagipula sejak pertama kali baca buku Marie Kondo dan mempelajari minimalism, saya memang sudah berniat untuk mendesign sendiri lemari saya nanti. Ada space di kamar depan yang memang dikhususkan untuk lemari tempel, dan saya sedang berusaha menemukan formulasi yang tepat untuk penyekatnya. Baru ketemu hari ini, dan akan saya posting nanti gambarnya. Design yang sesuai dengan karakter saya yang tidak mau ada barang yang terlupa. Not in this house.

***

Namun di tengah-tengah proses itu, saat saya sedang pause untuk mengistirahatkan pikiran, ada satu pesan singkat yang datang dari seorang rekan, yang saya tahu dia sedang di lapangan. 

Hil, gimana caramu mengatasi orang toxic?


Saya tahu bagaimana ritme di lapangan. Paham betul apa yang dia rasa. Maka tanpa bertanya kenapa --apalagi siapa-- saya jelaskan dengan singkat apa yang saya lakukan sejak hari di mana saya bangun tembok yang tinggi sekali antara saya dan mereka.


Kadang saya berpikir, betapa teknologi kini sangat membunuh empati. Orang jadi bisa memberi instruksi, memarahi, di aplikasi yang juga ditonton banyak orang. Dipikirnya ketika tidak ada orang lain berkomentar, berarti tidak ada orang lain yang menyimak. Semua mata tertuju di situ, hanya dengan pikiran liar yang hanya disimpan oleh masing-masing. Namun pikiran itu tidak diam. Mereka bertelur menjadi image, menjadi brand, yang membuat seseorang itu menjadi figur yang sedemikian rupa di benak masing-masing.


Lebih ngeri sebetulnya ketimbang kalau disampaikan blak-blakan.


Saya temani mbak nya bercerita, sebutnya dia menangis padahal masih di tengah hutan. Saya seperti tersedot ke memori itu lagi, dan bersyukur berada di tempat yang ada saat ini; di kamar, cuti empat hari, dengan teh tarik panas, beli donat via gofood, siap nonton WandaVision yang sudah ditunggu-tunggu sejak Desember (apa November) lalu.


Tentu saya tidak akan lakukan apa yang orang lain lakukan pada saya; manas-manasin, ngomporin supaya si mbak ini makin benci ke orang yang jahatin dia. No.. I'm way better than that. That's their level, I'm wayy higher than them, for sure.


Tapi diomongin di blog..


That creepy brown fat guy keeps smiling at me, and I kinda freak out now, so I have to move him atau tengkurepin. 


Alright. Done.

My point is, sore tadi saya belajar satu hal; tidak peduli seberapa besar keinginan kita untuk mengubah hidup, kalau tidak disertai dengan satu langkah berani, maka kita gak akan pernah kemana-mana.


Decluttering, discarding, sudah mengajarkan saya untuk memilih. Mengambil pilihan demi pilihan, saat memilih adalah hal tersulit yang harus saya lakukan. I can't pick my own boba menu for Godsake. Sekarang proses organizing nya membuat saya harus kembali mengambil keputusan besar; untuk membeli furnitur misal. Walau akhirnya terkompromi oleh arahan semesta melalui a life saver drawer..


Apa yang mbak tadi alami, adalah apa yang saya alami dulu. She might be older than me, but I was on that step first, so I kinda know what will happen next. This is the pattern I need to break, at least for me. I just have to figure out how..

***

Setelah proses ini selesai, saya akan lanjutkan ke discarding kategori selanjutnya; skincare. Mungkin akan re-arrange beberapa box yang sudah bisa pensiun dan diganti dengan yang lebih baru. Siapa tahu setelahnya jadi dapat inspirasi untuk bagaimana mengatur peletakkan cermin, supaya tetap bisa dipertahankan dan tetap bisa pindahkan meja kerja ke ruang tengah.


Seperti di dalam buku, bab ke-lima adalah tentang mentransformasi hidup. 

Marie Kondo bukan hanya mengajarkan caranya berbenah, tapi juga mengingatkan bahwa hidup ini hanya sementara. Look at this stuff, seolah-olah saya hanya tinggal sebentar di sini. Sedari kemarin pun pikiran saya di set dengan dasar kalau saya pindah, apakah benda ini akan dibawa? Jadi mentalnya udah mental pindahan. Mudah-mudahan, ini juga salah satu cara meringankan proses berpulang, apalagi kalau meringankan azab nantinya.

Mudah-mudahan.


***

Kemarin kan saya bilang, I cry a lot lately. Hari ini pun masih sama. Perjalanan decluttering ini lebih ngebaperin daripada ke Raijua tahun lalu. Padahal sama-sama empat hari.

Masa nemu ginian randomly sore-sore di instagram aja nangis;


And I quote;

Even if your plans have changed, even if your timeline is different, even if nothing has unfolded the way you thought it would --you are not falling behind. Real growth is not always just constant forward motion. Growth is also staying still. Growth is deep rest. Growth is stopping to reconsider where you're headed before you arrive there. Growth is letting yourself settle, it's letting yourself blossom, it's letting yourself see how much good is already in your life before you hunger for more. Growth is processing. Growth is grieving. Growth is allowing yourself to be where you are while you're still there -Brianna Wiest 


Terlalu beautiful words.

***

Bogor, 15 Januari 2021

Why am I like this

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal

Archived

Show more