Skip to main content

Decluttering Day 3: Reset Button

 


This is harder than I thought. When I discard mementos from ten-fifteen years ago, as it turns out, it's easier than when I found a letter from a friend from a year ago.


It was today when I finished my trip in Raijua. Hari ini saya juga selesai nyaris selesai dengan proses tidying-up. 


Tadi sore sudah mulai membersihkan ruang kosong di kamar depan. Barang-barang sudah siap pulang. Mereka yang dipulangkan adalah mereka yang memang masih saya ingat walau jarang dipakai: glue gun, hairdryer, songket Dayak buat cowok yang entah mau dikasih ke siapa padahal dulu dibeli tadinya buat Eyang. Sekarang Eyang sudah ga butuh lagi benda-benda seperti itu. Yang dia butuh hanya hadirnya kita di sana.


Saya terlarut oleh emosi saat membaca surat dari Basa. Betapa saat itu, mati-matian ingin membunuh perasaan, dan hingga saat ini sulit sekali untuk bisa berperasaan lagi. I've gone too far, I think. I just have to stay in the middle, gak terlalu deep soal berperasaan, tapi juga ga heartless juga. Balance. Imbang. Bukankah itu yang kau suka, Mim? Keseimbangan?


***

Awalnya saya mentargetkan hari ini minimal barang-barang sudah pulang semua ke rumah nya masing-masing. Sudah kembali ke tempat semula, menunggu giliran untuk digunakan. Sedangkan mereka yang terdiscard, menunggu dipojok hingga 5 Februari tiba. 


Tapi karena terlalu terlarut oleh perasaan, saya berusaha menghibur diri dengan nonton New Girl dari magrib sampai pukul.. setengah sepuluh malam. Susah memang jadi Arian. Apa-apa ga pernah setengah-setengah. Procrastinating pun sepenuh hati.


***

Sebuah kabar duka datang pagi ini, tentang meninggalnya seorang ulama terkemuka. Beliau pergi dengan senyum ikhlas dan wajah yang bersih. Saat mendengar kondisi wajah beliau seperti itu, seketika itu juga saya menangis (lagi). I cry too much today. Karena itulah yang seharusnya kita kejar selama di dunia ini. Tanda bahwa hidup kita sudah berhasil, sudah sukses. Yaitu ketika kita pergi dengan begitu tenang, ikhlas, tersenyum, dan berseri-seri.


Apakah.. kita akan termasuk golongan orang-orang yang demikian?

Dengan decluttering begini, saya seperti disodorkan cermin besar yang menunjukkan masa lalu yang begitu.. memuakkan. I was too busy looking for a man. Too  busy to find love, that my diary is only about boys. 


Tapi saya tahu Tuhan Maha Pemaaf, dan tiada yang lebih luas ampunannya selain Dia. Maka saya mohon ampun, semohon ampun-ampunnya. Karena kalau ditanya berulang-ulang, untuk apa decluttering ini? Untuk apa berlelah-lelah seperti ini? Untuk apa berlelah-lelah ke Raijua? Untuk apa berlelah-lelah bekerja? 


Kalau jawabannya selain Dia, maka itu artinya, saya sudah mendua dan punya Tuhan lain selain Dia. 

:(


Setipis itu sayang, jarak antara ikhlas dan menyangka ikhlas.

***

Ini nih sebenerya saya lagi menunda angkut barang  ke kamar depan. I love empty room. Kamar depan kosong dan bersih seperti itu, yang debunya sudah saya lap semua, sampai bersin-bersinnya bikin sakit pinggang, masih agak sayang kalau sudah harus diisi barang lagi. Mungkin saya biarkan dulu dia semalam bernapas lega ya.. Dari kemarin kan dia masih penuh debu. Tiga hari decluttering, baru hari ini banjir keringat karena bersihin satu ruang itu saja.


Ada banyak sekali hal berseliweran di kepala saya saat ini. Mungkin saya hanya akan duduk di tengah-tengah barang-barang ini semua malam ini. Makan yoghurt heavenly blush yang entah kenapa saya ambil rasa strawberry. I dont like strawberry.


***

Bogor, 14 Januari 2021

Hari ini setahun lalu, Basa menulis sebuah surat. Ada empat lembar menyertai, masing-masing dengan cerita hari per hari ku di Raijua. Aku suka angka dua, two is my lucky number. But four..? My double lucky number!


And so six, eight, ten, udah aja semua yang genap.

Tapi kusuka juga ganjil.

Kusuka semua lah 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal