Skip to main content

Curcol Backpacker #1

Berangkat dari rumah pukul 12.15 dan sampai di Stasiun Bogor pukul 12.55, kereta commuter berangkat pukul 13.00 sampai pukul 13.20 baru sampai Stasiun Citayam. Saya tidur lagi, bangun-bangun baru sampai Pasar Minggu. Kereta baru tiba di Stasiun Gondangdia pukul 14.15, dengan asumsi perjalanan ke Stasiun Senen hanya akan memakan waktu selama lima sampai sepuluh menit. Di luar dugaan, ternyata macet juga, jadilah baru tiba di Pasar Senen pukul 14.40. Saya santai karena kereta saya baru akan berangkat pukul 15.45 jadi masih banyak waktu untuk makan cetak tiket dan sebagainya. Saya masuk ke gerbong bisnis yang nyaman tepat pukul 15.00, menunggu 45 menit di dalam gerbong rasanya lebih baik daripada makan dulu di warung es teler 77 yang rasa nasi gorengnya lumayan seadanya..

Ini saya kemana?
Yaa pokoknya naik Kereta Api Jarak Jauh lah. Selagi ada kesempatan dan alasan yang memadai, saya suka naik KAJJ. Ada nuansa magis tersendiri yang selalu saya tuliskan dari jaman dulu di blog-blog lama. Tentang Matarmaja, tentang Anggrek Malam, Jayabaya, dan kali ini.. Gumarang.

Sebenarnya berkali-kali saya kapok karena kelelahan naik kereta, tapi trus lupa dan berikutnya ngulang lagi, dan lagi.

Sengaja saya berangkat dari rumah agak siang, sengaja pula saya pilih kereta sore supaya bisa berangkat lebih siang. Pagi tadi masih bisa tidur dua babak, gogoleran di kasur tuk bilang selamat tinggal sampai jumpa, dan anxious parah sampai harus pup tiga kali, puke satu kali. Ini adalah trip paling tidak pasti yang pernah saya jalani. Dulu, enam tahun yang lalu saya pernah juga backpacking sendiri, tapi destinasinya punya banyak informasi di internet dan pilihan akses transportasi. Destinasi pilihan saya kali ini, cukup membuat kaget, jangankan orang lain. Saya saja kaget sendiri setelah mesin penjawab email otomatis mengirimkan lampiran tiket saya. Surprise..

Saya deg-degan, cemas, takut, dan bahkan agak sedikit dark berpikirnya... what if I die in this trip?

Karena gelombang sedang tinggi,
Angin sedang kencang, badai siklon dikabarkan akan bertandang, dan saya harus menyeberangi laut jika tujuan saya ingin tercapai.

Makanya sepagian tadi saya hadapi ketakutan saya sendirian, sebagaimana saya jalani perjalanan ini: sendirian. Dan karena sendirian itulah saya tidak merasa perlu repot-repot pakai riasan wajah, walaupun hanya bedak. BARE FACE! Adalah kebahagiaan dan kemerdekaan tersendiri, ketika saya keluar rumah, masuk ke taksi online yg saya pesan, dengan wajah tanpa bedak, lipstik, dan eyeliner. Sepanjang jalan, naik kereta, naik gojek, berjalan di stasiun, saya merasa.. BEBAS.

Apa yang saya cari dari perjalanan ini?
Tentu ada yang saya cari, termasuk saya juga ingin berpikir, ingin berdua dengan Tuhan saya karena dengan penuhnya ketidakpastian ini, saya tentu akan sangat membutuhkan Tuhan saya.
Kalau jaman dulu orang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, yang lalu difilmkan dengan perjalanan seekor kera mencari kitab suci.
Jadilah saya berdoa, agar dimudahkan bagi hati saya menemukan sesuatu pelajaran yang bisa saya gunakan kelak di kemudian hari, sebagaimana Tuhan saya memberikan makna dan pelajaran pada Nabi Musa dan Harun dalam perjalanan mereka melalui Khidr. Saya butuh itu untuk saya pegang. Untuk nanti, kelak jika anak-anak saya bertanya, tentang apa artinya kita hidup di sini, saya punya jawaban yang bisa mereka pegang, untuk menemukan arti hidup mereka masing-masing.

***
Pasar Senen, 8 Januari 2020 (15.38)
Sebentar lagi kereta berangkat..

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

P ertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'. Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya sepert