Skip to main content

Curcol backpacker #6: Menuju Raijua

Untuk bisa menuju Pulau Raijua, pulau kecil di paling selatan Indonesia, kamu bisa menempuh dua cara: naik pesawat Susi Air dengan kapasitas 12 orang, atau naik kapal. Ada dua pilihan kapal: Kapal Feri lambat, naik dari Pelabuhan Bolok dengan waktu tempuh kurang lebih 12-13 jam, atau kapal cepat Express Cantika dengan waktu tempuh kurang lebih 5-7 jam (kalau di referensi internet 5 jam, tapi menurut orang sini berangkat jam 11 sampai sana magrib).

But wait.. ini belum sampai Raijua, baru sampai Pulau Sabu. Pulau Sabu adalah induk dari Pulau Raijua, jadi pesawat dan kapal semua hanya sampai sini. Kalau tiba di Sabu magrib, berarti harus menginap semalam dulu untuk bisa ke Raijua, karena kapal yang membawa ke Raijua hanya ada setiap jam 11 pagi.

Kalau mau naik kapal Express Cantika, harus kuat mental dengan metode antrian orang lokal. Kamu bisa berdiri lima belas menit dan terus menerus diserobot orang. Jadi yaa, harus agak nyelonong juga kalau mau dapat tiket. Dan jangan mepet waktu, kalau berangkat jam 11, usahakan jam 9 sudah di loket untuk antri tiket. Harga tiket VIP Rp 261.000, ada juga tiket ekonomi, tapi saya gak berani. Baru lihat cara antrinya saja saya sudah keder.

Sambil menunggu, kalau belum sempat sarapan bisa sarapan dulu di warung-warung pelabuhan. Ada satu pedagang asal Jawa (told you I’ll eat Javanese food anyway), jual gado-gado, ikan bakar dan bakso. Saya beli ikan bakar kakap seporsi Rp 40.000, lumayan lah ya sudah pakai nasi.

Apa yang dicari di Pulau Raijua?
Well, selain itu adalah pulau kecil terluar Indonesia, mungkin tidak banyak yang bisa dilihat di sana. But we’ll see. Saya juga penasaran dan excited abis.

***
Pelabuhan Tenau, 10 Januari 2020
Oiya loket express Cantika langsung di dalam Pelabuhan Tenau, loket Ferry di depan pelabuhan, dan loket Bahari Express di samping warung makan artis.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal