Skip to main content

Curcol Backpacker #8: Para Perantau

Pertama kali memasuki Kota Seba pikiran saya melayang ke Kota Merauke lima belas tahun silam. Ada segelombang perasaan yang serupa saat saya melihat kios-kios berjajar di sepanjang jalan pintu keluar pelabuhan, yang dimiliki oleh para pendatang dari luar pulau. Tapi sebetulnya mereka bukan pendatang, hanya penduduk keturunan luar pulau yang lama dan menetap di Seba. Bahkan sebagian ada yang kelahiran sini. Setidaknya begitu yang dijelaskan Henu, kawan baru yang saya temui di Pulau ini. Kami dikenalkan oleh mutual friend yang saat ini bertugas di Raijua. Dan ke sanalah saya akan berlayar pukul sebelas nanti.

Kota Seba sekarang sudah lebih maju jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Ibu pemilik penginapan pagi tadi bercerita sambil mengantar saya ke Pasar Rakyat dengan menggunakan sepeda motornya. Dulu jalanan masih rusak, turis tidak ada yang tahu Kelabba Maja. Sayur harus menunggu kapal, dan untuk bisa beli sayur dia harus berjalan kaki karena tidak ada kendaraan apalagi transportasi umum.

Jadi kalau mau bertandang ke Pulau Sabu, setidaknya harus ikut paket wisata atau minimal punya kenalan. Karena rental motor dan jalan-jalan sendiri? Big no no. Ini bukan di luar negeri yang segala macam petunjuk arah dan penjelasan mengenai tempat bersejarah terpampang rapi. Backpacking di negeri sendiri, tidak bisa sesendirian itu.

Sebelum ke Raijua saya mampir membelikan sayur mayur di pasar rakyat. Harganya fantastis, wortel setengah kilo seharga tiga puluh ribu. Sawi tiga ikat sepuluh ribu. Kangkung 3 ikat lima ribu, sedangkan di tukang sayur depan rumah yg disini seharga sepuluh ribu bisa didapat dengan tiga ribu saja. Tempe sekotak kecil harganya sepuluh ribu.. saya beli tanpa menawar, karena ibu penginapan juga tidak menyarankan untuk menawar. Memang harganya segitu, ujarnya maklum.

Dengan kondisi gelombang yang sedang tinggi-tingginya akhirnya saya memutuskan untuk berubah haluan juga. Tidak lagi kembali ke Kupang menumpang kapal malam, tapi langsung naik Pesawat Susi Air. Untungnya saya berubah pikirannya pagi ini, bukan Selasa nanti. Karena Susi Air kalau H-1 pasti sudah habis. Isi pesawatnya cuma 12 seat, tapi 2 seat dikhususkan untuk pasien rujuk rumah sakit. Hanya bisa dipakai oleh penumpang kalau tidak ada pasien.. (sumber: Henu).

Pukul sebelas nanti saya akan kembali berlayar ke Pulau Raijua. Ingin lihat bagaimana masyarakat di Pulau kecil terluar sana. Karena Pulau Raijua lah yang akan jadi inti perjalanan ini sebenarnya.

***
Seba, 11 Januari 2020
Habis beli tiket Susi Air dan bayarnya cash. Untung di sini ada ATM BRI.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …